Seorang CEO muda yang ambisius seperti Kenzo Praditya tidak pernah punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi dengan Anindya, janda dari kakaknya sendiri.
"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Aku melakukan ini hanya demi wasiat Kakak," ucap Kenzo dingin di malam pertama mereka.
Anindya hanya bisa menelan kepahitan. Ia bertahan demi satu alasan, buah hatinya yang membutuhkan perlindungan keluarga Praditya.
Namun, tembok es yang dibangun Kenzo perlahan runtuh saat ia melihat ketegaran Anindya menghadapi badai fitnah dari luar.
Saat rasa peduli mulai berubah menjadi obsesi, Kenzo dihadapkan pada satu kenyataan pahit. Ia mulai mencintai wanita yang seharusnya tidak boleh ia miliki.
Simak Kisah Selanjutnya di Cerita Novel => Turun Ranjang.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Gerimis tipis mengguyur Jakarta, seolah langit ikut berduka atas kepergian mendadak Arlan Praditya.
Di dalam rumah mewah keluarga Praditya yang biasanya hangat, kini hanya ada keheningan yang menyesakkan, aroma bunga kamboja, dan isak tangis yang tertahan.
Anindya duduk bersimpuh di depan foto besar suaminya yang terbingkai pita hitam. Wajahnya pucat pasi, matanya sembab hingga berwarna merah tua.
Di pangkuannya, putra kecil mereka yang baru berusia tiga tahun, Elang, tertidur karena kelelahan menangis, tanpa mengerti bahwa sosok "Ayah" yang biasa menggendongnya kini telah tertidur selamanya di balik tanah merah.
"Anin..."
Suara bariton yang berat itu memecah keheningan. Anindya tidak menoleh. Ia tahu siapa pemilik suara itu.
Kenzo Praditya. Adik kandung suaminya yang baru saja mendarat dari London dua jam lalu. Pria yang selama ini menjaga jarak dari kehidupan mereka, kini berdiri tepat di belakangnya.
"Makanlah sedikit. Kau bisa jatuh sakit," ucap Kenzo datar, namun ada getaran samar dalam suaranya.
Anindya hanya menggeleng pelan. "Bagaimana aku bisa makan, Ken? Sementara Arlan di sana ... dia pasti kedinginan."
Kenzo mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam saku celana kainnya. Ia menatap punggung Anindya yang rapuh.
Bagi dunia, Kenzo adalah CEO muda yang tanpa celah, tapi di depan wanita ini, dia selalu merasa seperti pengecut.
"Arlan tidak akan suka melihatmu hancur seperti ini," sela Kenzo, melangkah maju hingga bayangannya menutupi tubuh Anindya.
Tiba-tiba, Anindya mendongak. Matanya yang basah menatap tajam ke arah Kenzo. Detik itu, Kenzo terpaku.
Wajah itu... wajah yang selama ini hanya ia lihat dari jauh, kini begitu dekat dengan sorot penuh luka.
"Lalu apa yang harus kulakukan? Arlan pergi membawa seluruh duniaku, Kenzo! Dan sekarang ... orang tuamu ingin mengambil Elang dariku hanya karena aku tidak punya pekerjaan?"
Suasana mendadak menjadi tegang. Itulah konflik yang sebenarnya. Keluarga besar Praditya tidak ingin ahli waris tunggal mereka dibesarkan oleh seorang ibu tunggal yang dianggap tidak memiliki kuasa finansial.
~~
Malam itu, setelah tamu-tamu pulang, suasana di ruang makan terasa lebih dingin daripada es. Ayah Kenzo, Tuan Praditya, mengetuk meja dengan jarinya yang keriput namun penuh otoritas.
"Kita tidak bisa membiarkan masa depan Elang terombang-ambing, Anindya. Perusahaan Arlan membutuhkan pemimpin, dan Elang membutuhkan figur seorang Ayah," ujar Tuan Praditya tanpa basa-basi.
Anindya meremas serbet di bawah meja. "Saya Ibunya, Pah. Saya akan bekerja, saya akan melakukan apa pun untuk Elang."
"Dan kau pikir dunia bisnis akan ramah padamu? Tidak." Tuan Praditya melirik Kenzo yang duduk diam di seberang Anindya. "Hanya ada satu cara agar hak asuh Elang tetap di tanganmu dan posisi Elang sebagai pewaris tetap aman."
Kenzo mengangkat wajahnya. Ia sudah tahu arah pembicaraan ini, dan itu membuatnya muak sekaligus ... berdebar.
"Kenzo akan menikahimu."
Deg.
Jantung Anindya seolah berhenti berdetak. Ia menoleh ke arah Kenzo dengan tatapan tidak percaya. "Pah? Apa yang Papah katakan? Arlan baru saja dimakamkan! Bagaimana mungkin ..."
"Ini bukan tentang perasaan, Anindya! Ini tentang hukum dan warisan!" bentak Tuan Praditya. "Jika kau menolak, pengacara keluarga akan mulai mengurus hak asuh Elang besok pagi. Kau tahu kau tidak punya peluang menang melawan kami di pengadilan."
Anindya merasa dunianya runtuh untuk kedua kalinya dalam satu hari. Ia memandang Kenzo, berharap pria itu akan menolak ide gila ini.
Namun, Kenzo justru menyesap kopinya dengan tenang, meski matanya menatap tajam ke arah Anindya.
"Aku setuju," ucap Kenzo pendek.
Anindya terkesiap. "Kenzo! Kau gila? Aku ini kakak iparmu!"
Kenzo berdiri, merapikan jasnya yang sedikit kusut. Ia melangkah mendekati Anindya, membungkuk sedikit hingga napasnya terasa di telinga wanita itu.
"Aku melakukannya demi Elang, Anin. Bukan karena aku menginginkanmu," bisik Kenzo cukup rendah agar hanya Anindya yang mendengar. "Besok, pengacara akan datang membawa surat kontrak pernikahan. Siapkan dirimu."
Kenzo melangkah pergi, meninggalkan Anindya yang gemetar hebat.
Di dalam kamarnya, Kenzo mengunci pintu. Ia menyalakan lampu remang-remang dan membuka laci paling bawah meja kerjanya. Di sana, terselip sebuah foto lama yang sudah agak kusam.
Foto Anindya saat masih kuliah, sedang tertawa di bawah pohon kersen. Foto yang ia ambil diam-diam sebelum kakaknya, Arlan, mengenalkan Anindya sebagai kekasihnya bertahun-tahun lalu.
Kenzo mengusap wajah Anindya di foto itu dengan ibu jarinya. "Maafkan aku, Arlan ... aku tidak merebutnya darimu. Aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal."
Sorot mata Kenzo yang semula dingin kini berubah menjadi penuh obsesi yang kelam.
Pernikahan ini mungkin terlihat seperti keterpaksaan bagi orang lain, namun bagi Kenzo, ini adalah rencana yang sudah ia tunggu, bahkan jika ia harus menari di atas duka kakaknya sendiri.
~~
Malam semakin larut saat Anindya menyelinap masuk ke kamar mendiang suaminya untuk mengambil bantal. Namun, ia justru menemukan Kenzo di sana, sedang duduk di tepi ranjang tempat ia dan Arlan biasa tidur.
Kenzo sedang memegang kemeja terakhir yang dipakai Arlan, menghirup aromanya, lalu menatap Anindya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa kau di sini?" tanya Anindya dengan suara serak.
"Mulai besok, ini akan menjadi kamarku juga, Anin. Terbiasalah," jawab Kenzo dingin sambil berdiri dan berjalan mendekati Anindya.
Anindya mundur selangkah, namun Kenzo menarik pergelangan tangannya dengan kuat.
"Jangan pernah membandingkanku dengannya saat kita sudah menikah nanti. Karena kau akan segera tahu ... bahwa aku jauh lebih berbahaya daripada kakakku."
...----------------...
To Be Continue ....
***"Hadir dengan luka yang lebih dalam, karya terbaru Miss Ra siap menyapa kalian. Dibuat dengan penuh pengorbanan dan dedikasi tinggi, kisah ini adalah hadiah spesial bagi kalian yang selalu setia di sisi Miss Ra.***
***Tolong, jangan lewatkan satu bab pun hingga akhir nanti. Mari kita buat perjuangan ini menjadi kenangan indah yang tak terlupakan. Big Love untuk seluruh pembaca setia Miss Ra!"***
***"Sudah Siapkah hati kalian hancur bersama Miss Ra kali ini?"***
***Sampai jumpa di Up selanjutnya yaaa....***
***See You*** ....