NovelToon NovelToon
Zee Dan Kamera Tua

Zee Dan Kamera Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Mengubah Takdir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: _SyahLaaila

Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.

Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.

Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.

Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1.

Pagi itu, langit Kota K tampak, namun tidak dengan hati Zee Salsabila, Gadis berusia dua puluh dua tahun itu berdiri diam di depan jendela apartemennya, mantap hiruk-pikuk kota yang selama dua tahun terakhir menjadi bagian dari hidupnya. Dari tempat itulah semua perjuangannya dimulai hingga akhirnya Dia berhasil mencapai posisi yang bahkan diimpikan banyak orang yaitu seorang manager di perusahaan terbesar di kota K. Namun, di balik semua pencapaian itu, ada kekosongan yang tak pernah benar-benar terisi.

Zee adalah anak tunggal, Dia lahir dari keluarga sederhana tidak kaya, namun juga tidak kekurangan. Ayahnya seorang guru, sosok yang penuh kesabaran dan ketegasan, ibunya seorang perawat, lembut dan selalu mengutamakan orang lain. Hidup mereka sederhana tapi hangat, hingga satu tahun yang lalu, segalanya berubah, kedua orangtuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan saat perjalanan menuju kota K untuk menjenguk anaknya Zee.

Sejak saat itu, hidupnya seakan kehilangan arah, tidak ada lagi panggilan di malam hari, tidak ada pesan, dan hanya meninggalkan kesunyian.

Selama satu tahun terakhir, Zee mencoba bertahan. Dia menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Datang lebih awal dari siapapun dan pulang lebih akhir dari yang lain. Dia mengisi hari-harinya dengan kesibukan tanpa henti, seolah dengan begitu dia bisa melupakan rasa kehilangan yang terus menghantuinya.

Zee berhasil melakukan semuanya, buktinya kariernya meleset cepat dalam waktu dua tahun saja. Dia yang awalnya hanya karyawan baru berhasil dipercaya menduduki posisi manajer. Banyak senior yang telah bekerja lebih lama bahkan belum pernah menyentuh posisi tersebut.

Semua orang juga mengakui bahwa Zee cerdas, disiplin, dan pekerja keras. Namun, tidak ada yang benar-benar tau bahwa semua itu dia lakukan hanya untuk menghindari kesunyiannya.

Hingga akhirnya, dia membuat keputusan yang mengejutkan semua orang. Zee mengajukan pengunduran diri.

"Zee, kamu serius?" tanya salah satu rekan kerjanya, tak percaya.

Zee hanya tersenyum tipis. "iya... Aku sudah memikirkan ini sejak lama."

"Padahal banyak orang yang ingin berada di posisi kamu ini loh." sahut yang lain.

Zee mengangguk pelan, Dia sangat tahu hal itu, namun baginya, jabatan itu tidak lagi berarti apa-apa. Dia tidak mencari kesuksesan lagi karena semuanya sudah cukup. Dia hanya ingin pulang dan menjalankan kehidupannya dengan santai tanpa diperintah oleh orang lain.

Bahkan Bos di perusahaan itu sudah mencoba menahannya. "Zee padahal kamu salah satu orang terbaik yang kami punya, kalau kamu butuh waktu istirahat, ambil cuti panjang saja tidak pernah sampai resign begini." ucap Bos dengan nada serius.

Zee menunduk hormat dengan suara lembut namun tegas. "Terima kasih banyak Pak, tapi keputusan saya sudah bulat."

"Apa alasanmu sampai kamu sekeren ini pengen resign?" tanya Bosnya

Zee terdiam sejenak, lalu menjawab pelan. "Tidak ada Pak, saya hanya ingin kembali ke rumah orang tua saya."

Kalimat sederhana namun cukup menjelaskan segalanya, dan tidak ada lagi yang bisa menahannya.

Hari-hari terakhirnya di kantor dipenuhi berbagai reaksi ada yang menyayangkan keputusannya, ada yang tidak percaya dan ada pula yang diam-diam iri karena dia bisa memilih pergi dari posisi yang begitu diinginkan banyak orang. Namun di balik itu semua, ada banyak orang yang benar-benar peduli padanya karena di balik sifat profesional nya, Zee adalah sosok yang hangat dan tulus, dan kepergiannya meninggalkan ruang kosong.

Setelah semua urusan di kantor selesai, Zee kembali ke apartemennya. Tempat itu terasa lebih sunyi dari biasanya, Dia berdiri di tengah ruangan, menatap sekeliling dinding putih, sofa sederhana, meja kerja yang selalu rapi semuanya menjadi saksi perjalanan hidupnya selama di Kota K yang kini akan ditinggalkan.

Zee mulai membereskan barang-barangnya, Dia membuka koper besar lalu melipat pakaian dengan rapi dan dimasukkan ke dalam koper, barang-barang penting juga Dia simpan di dalam koper dengan hati-hati, sesekali, Zee terhenti melihat benda-benda yang menyimpan banyak kenangan namun, Dia tidak larut dalam kesedihannya.

Zee tahu waktunya tidak banyak untuk mengingat kesedihannya, barang-barang yang masih layak Dia pakai di pisahkan ada pakaian, peralatan rumah, dan buku-buku, semua itu akan Dia berikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Menjelang sore hari, semua barang yang diisinya hampir selesai, Zee duduk di tepi tempat tidur menatap koper yang sudah tertutup dan tas gendong yang sudah siap.

Besok sore, pesawat akan membawanya kembali ke Kota B tempat kelahirannya, dimana kenangan dengan kedua orangtuanya dimulai. Zee menarik napas panjang, lalu menatap ke arah jendela.

"Semoga perjalanan ini lancar sampai di rumah."

Menjelang sore, langit Kota K mulai berubah warna, semburat jingga perlahan menyelimuti cakrawala saat Zee Salsabila melangkahkan kakinya ke dalam bandara, koper si tangannya lumayan besar walaupun Dia tidak membawa banyak barang.

Setelah melewati proses check-in dan pemeriksaan, Zee akhirnya duduk di ruang tunggu. Ia menyandarkan punggungnya perlahan, menghela napas tipis. Matanya sesekali bergerak, mengamati orang-orang di sekitarnya, setiap wajah membawa cerita yang berbeda.

Di sudut ruangan, tawa seorang anak kecil pecah begitu lepas.

“Hahaha, Ayah, Ibu, lihat! Wajah Kakak penuh es krim!” serunya sambil menunjuk dengan riang.

“Ya Allah, Nak… wajahmu kenapa bisa begitu?” balas sang ibu, menutup mulutnya, berusaha menahan tawa yang hampir ikut pecah.

Zee hanya melirik sekilas, lalu kembali memandang lurus, namun suara lain menarik perhatiannya.

Tak jauh di depannya, seorang pria tengah berbicara melalui telepon, wajahnya tampak cerah.

“Ibu, apa kabar?” ucapnya lembut.

Di seberang sana, suara yang tak terdengar jelas seolah dijawab dengan penuh kehangatan, Pria itu tersenyum lebar.

“Ibu baik, Nak. Kamu jadi pulang hari ini, kan?”

“Iya, Bu! Oleh-oleh untuk keluarga sudah siap. Tunggu aku, ya!” katanya lagi, nada suaranya tak bisa menyembunyikan rasa rindu.

Zee menunduk pelan, keramaian itu terasa hangat, namun entah mengapa, hatinya justru semakin sunyi.

Tak lama kemudian, panggilan boarding terdengar, Zee berdiri menarik napas dalam lalu maju kedepan, ini bukan sekedar perjalanan biasa ini adalah arah langkahnya pulang

Di dalam pesawat, Zee duduk di dekat jendela, saat pesawat mulai bergerak dan akhirnya lepas landas, Dia tanpa sadar menggenggam ujung bajunya, Kota K perlahan mengecil di bawah sana gedung-gedung tinggi berubah menjadi titik-titik kecil lalu menghilang ditelan awan.

Zee menatapnya sampai benar-benar tak terlihat lagi, “Terima kasih…” gumamnya pelan, untuk semua yang pernah Dia lalui di sana.

Selama perjalanan, Zee lebih banyak diam, Dia membuka tas kecil di pangkuannya, mengeluarkan sebuah foto lama, foto dirinya bersama kedua orang tuanya, senyum mereka hangat begitu hidup.

Jari Zee menyentuh permukaan foto itu perlahan, matanya berkaca-kaca, namun kali ini tidak ada tangis yang pecah. "Aku pulang, Yah… Bu…”

Hanya rasa rindu yang dalam… namun lebih tenang, beberapa jam kemudian, suara pramugari terdengar lembut.

“Pesawat akan segera mendarat di Kota B…”

Zee menoleh ke luar jendela, lampu-lampu kota mulai terlihat, berkelap-kelip di tengah gelapnya malam, dadanya berdebar, perasaan yang sulit dijelaskan, campuran antara rindu… takut… dan harapan.

Setelah pesawat mendarat, Zee berjalan keluar dari bandara dengan langkah pelan, udara Kota B langsung menyambutnya, entah kenapa… terasa sangat familiar. Dia berhenti sejenak, menutup mata, seolah ingin memastikan bahwa Dia benar-benar sudah kembali.

Malam itu, perjalanan menuju rumahnya tidak terlalu ramai, mobil yang ditumpanginya melaju melewati jalan-jalan yang dulu sangat Dia kenal, beberapa tempat masih sama, beberapa sudah berubah.

Namun satu hal tetap sama, kenangan yang melekat di setiap sudut kota ini, hingga akhirnya mobil itu berhenti.

“Sudah sampai, Mbak.” ujar sopir taksi itu.

Zee terdiam beberapa detik sebelum membuka pintu dan melangkah keluar dari mobil. Dia berdiri didepan rumah minimalis dua lantai yang dulu penuh kehangatan, yang kini tampak sunyi.

Pagar beton tinggi masih mengelilinginya dengan kokoh, seolah menjaga semua kenangan di dalamnya, gerbang besi di bagian depan berdiri tegak sedikit berkarat, namun tetap kuat, lampu luar sudah mati.

Halaman terlihat gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu jalan, rumput liar tumbuh tak beraturan, memenuhi sebagian tanah yang dulu rapi.

Zee berdiri diam di depan gerbang itu, matanya perlahan memerah.

“Aku, kembali..."

Tangannya gemetar saat mengambil kunci dari dalam tas, suara gesekan logam terdengar saat Dia membuka gembok yang mulai kaku. Gerbang besi berderit pelan ketika didorong, langkahnya masuk terasa berat, setiap inci halaman itu menyimpan kenangan.

Di sinilah ibunya dulu merawat tanaman, ayahnya duduk santai di sore hari, Dia pernah pulang dengan hati ringan, Zee berjalan menuju pintu utama, kunci itu kembali berputar.

KLIK... KLIK...

Pintu terbuka perlahan, udara dingin dan pengap langsung menyambutnya, rumah itu gelap dan sunyi, Zee melangkah masuk, suara langkahnya sendiri terasa begitu jelas di dalam ruangan, Dia berhenti di tengah ruang tamu, menatap sekeliling.

Sofa masih ada, meja masih di tempatnya. Semua masih seperti dulu… hanya saja tidak lagi hidup.

Air mata akhirnya jatuh, namun kali ini, Zee tidak menutupinya.

“Aku pulang…” Zee menarik napas panjang, Dia menghapus air matanya, lalu menatap rumah itu sekali lagi.

“Sekarang… aku yang akan menjaga rumah ini.”

Suaranya pelan, tapi penuh tekad, untuk pertama kalinya sejak kepergian kedua orang tuanya Zee tidak merasa benar-benar sendirian, karena di tempat ini Dia masih bisa merasakan keberadaan kedua orang tuanya.

1
Ida Kurniasari
Doble up thorr
Ida Kurniasari
Doble up thor
Ida Kurniasari
Doble up dong thorr😍
keyza formoza
lanjut thoorr
Ida Kurniasari
sangat sangat menarik thor
SyahLaaila: siap kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
bagus banget thorr,lanjutt up😍
Ida Kurniasari
😍
Chen Nadari
The best Thorr
SyahLaaila: makasih kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
baru bab satu aja udah deg degan thor,ceritamu bikin penasaran
Musdalifa Ifa
menguji kesabaran
Andira Rahmawati
mau nabung dulu biar puas entar bacanya👍👍💪💪💪
Andira Rahmawati
trusss semangat💪💪💪 lanjuttt
Andira Rahmawati
lama amattt jadi penasaran...
Andira Rahmawati
hadir thorr
Twis G
semangat author 🌹🌹🌹
Narina
lanjut thor semakin penasaran 😍😍
Narina
cerita nya seru thor lanjut 🌷🌷🌷
SyahLaaila: siap kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!