NovelToon NovelToon
Noda Di Pangkuan Mas Kyai

Noda Di Pangkuan Mas Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Marlyn_2309 Lyna

"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.

"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.

Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.

Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Tak Diundang di Kamar 303

Malam di Jakarta tidak benar-benar tidur, namun bagi Shanum, malam ini adalah mimpi buruk yang terjaga.

Sepatu hak tingginya menghantam lantai marmer koridor penginapan dengan irama yang kacau. Nafasnya tersengal, meninggalkan uap tipis yang berbau alkohol dan ketakutan. Di belakangnya, suara langkah sepatu laras panjang terdengar menggema, berat dan penuh ancaman.

"Cari wanita itu! Jangan sampai dia lolos dari hotel ini!" teriakan parau itu milik salah satu anak buah 'Si Bajak Laut'.

Shanum memegang dadanya yang berdenyut menyakitkan. Kepalanya seolah dihantam godam raksasa. Kepalanya terasa seolah dihantam godam raksasa. Efek cairan kimia yang dipaksa masuk ke tubuhnya di meja bar tadi mulai bekerja secara brutal.

Penglihatannya mengabur, menciptakan halusinasi warna-warni yang menari di sudut mata, sementara panas yang menjalar dari rahimnya mulai membakar kesadarannya. Ia harus bersembunyi.

Jika malam ini ia tertangkap, ia tahu persis bagaimana nasib wanita-wanita yang berakhir di ranjang Si Bajak Laut—mereka tidak akan keluar dalam keadaan bernapas.

Dengan jemari yang gemetar hebat, Shanum mencoba membuka pintu kamar yang ia lewati.

Terkunci. Terkunci. Terkunci.

Keringat dingin mengucur di pelipisnya, melunturkan riasan matanya hingga ia tampak seperti malaikat yang hancur. Hingga akhirnya, tangannya menyentuh gagang pintu kamar 303.

Ceklek.

Pintu itu tidak terkunci sempurna. Tanpa berpikir dua kali, Shanum mendorongnya dan jatuh terjerembap ke dalam kegelapan yang tenang, sesaat sebelum bayangan para pengejarnya melintas di depan kamar tersebut.

Di dalam kamar yang sama, keheningan adalah sebuah kemewahan.

Rasyid Al-Habsyi baru saja bangkit dari sujud syukurnya. Di atas sajadah beludru hijau yang ia bawa jauh-jauh dari Mesir, ia menghirup napas dalam-dalam. Aroma kesturi dan air wudu yang segar masih tertinggal di kulitnya. Bagi Rasyid, kepulangan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan janji suci.

Ia berdiri tegak, sosoknya tampak tidak nyata di bawah cahaya lampu temaram. Rasyid lahir dengan kondisi yang membedakannya dari orang lain—seorang albino dengan kulit seputih porselen dan rambut yang nyaris berwarna perak berkilau.

Namun, permata sesungguhnya ada pada matanya; sepasang kristal biru yang jernih, yang selama ini hanya digunakan untuk menelaah kitab-kitab suci di Al-Azhar.

"Alhamdulillah..." bisiknya parau. Suaranya rendah dan berwibawa, tipe suara yang sanggup menenangkan badai.

Rasyid baru saja hendak melipat sajadahnya ketika suara pintu yang terbanting mengoyak kesunyian. Ia berbalik dengan gerakan anggun yang tenang, namun jantungnya seketika mencelos.

Sesosok wanita masuk dengan kondisi yang mengerikan namun provokatif. Shanum berdiri bersandar di pintu, dadanya naik turun dengan liar. Gaun sutra merah marun yang dikenakannya tampak sangat menyedihkan untuk disebut sebagai pakaian.

Kain itu transparan di bagian-bagian yang tidak seharusnya, memperlihatkan kulit kuning langsat yang mulus, basah oleh keringat, dan kini memerah karena pengaruh obat.

"Nona? Siapa Anda? Anda salah kamar. Silakan keluar sekarang juga," ujar Rasyid. Suaranya tetap tenang meski ada getaran ketidaknyamanan di sana. Ia segera mengalihkan pandangan, menatap lantai marmer dengan sopan.

Namun Shanum tidak mendengar peringatan itu sebagai perintah. Baginya, suara Rasyid terdengar seperti nyanyian surgawi yang mendinginkan api di kepalanya. Ia menatap Rasyid dengan mata yang sayu dan liar.

Pria di depannya ini... sangat tampan. Ketampanan yang suci, yang belum pernah ia temui di lubang-lubang dosa tempat ia biasa menghabiskan waktu.

"Dingin... tolong aku... di luar gelap," igau Shanum.

Tanpa peringatan, Shanum menerjang. Ia tidak berlari, ia melompat dengan insting predator yang sedang sekarat. Rasyid yang tidak pernah bersentuhan fisik dengan wanita mana pun selain ibunya, kehilangan keseimbangan. Punggungnya menghantam ranjang dengan keras.

Bruk!

Beban hangat dan harum mawar liar kini menindih tubuhnya secara total. Shanum mengunci pergerakan Rasyid, duduk di pangkuan pria itu sambil mencengkeram bahunya kuat-kuat. Rasyid membeku.

Otaknya seolah berhenti berfungsi saat merasakan lekuk tubuh Shanum yang hanya terlapisi kain tipis itu menempel sempurna pada baju koko putihnya.

"Nona! Astaghfirullah! Apa yang Anda lakukan?! Turun sekarang juga!" Rasyid mencoba mempertahankan wibawanya, namun suaranya pecah saat tangan panas Shanum mulai merayap di garis rahangnya.

"Kamu... tampan sekali," Shanum berbisik, jemarinya memuja setiap inci wajah pucat Rasyid. Gairah yang dipicu obat membuat Shanum kehilangan rasa malu. Baginya, Rasyid adalah oasis di tengah padang pasir.

Rasyid memejamkan mata rapat-rapat, namun itu justru membuat indra lainnya semakin tajam. Ia bisa merasakan setiap napas Shanum yang beraroma alkohol merayap di lehernya. Ia harus menjauh.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Rasyid meraih selimut tebal di samping ranjang. Dengan satu sentakan kuat, ia membungkus tubuh Shanum dan mendorongnya hingga wanita itu terguling ke samping.

Rasyid segera bangkit, mundur hingga ke sudut ruangan dengan napas memburu. "Pergilah! Ini adalah perbuatan nista! Anda telah melanggar kehormatan tempat ini!"

Namun, Shanum sudah kehilangan kewarasannya. Penolakan Rasyid justru menjadi tantangan. Ia melepaskan selimut itu seperti melepaskan beban, membiarkan dirinya kembali pada kondisi yang nyaris tanpa busana.

Ia merangkak di atas karpet, mendekati Rasyid yang kini terpojok di sudut tembok.

"Jangan lari, Pria Tampan... aku hanya ingin bernapas sebentar saja padamu," bisik Shanum.

Ia kembali berdiri, memojokkan Rasyid di tembok dingin. Tangan Shanum terkunci di sisi kepala Rasyid.

Ia merapat, membiarkan dadanya yang hanya terhalang kain berongga menekan dada Rasyid yang bidang.

Rasyid merasakan kancing teratas baju kokonya ditarik paksa.

Krak.

Kancing itu terlepas, jatuh ke lantai dengan suara berdenting kecil yang terasa seperti lonceng kematian bagi reputasinya.

Shanum menarik kerah bajunya, memaksa mata biru kristal itu untuk menatap langsung ke dalam kegelapan matanya yang haus.

"Layani aku... hanya malam ini," Shanum berbisik tepat di depan bibir Rasyid.

Rasyid merasakan dunianya berputar. Ingatannya melayang pada janji yang ia ucapkan di depan makam gurunya di Kairo beberapa hari lalu—bahwa ia akan menjadi pelindung agama, menjadi Singa yang menjaga martabat pesantren.

Namun sekarang, ia bahkan tidak bisa melindungi dirinya sendiri dari seorang wanita yang sedang mengemis dosa.

"Nona, pergilah sebelum aku bertindak kasar..." ancam Rasyid parau, namun tangannya tetap mengepal di samping tubuh, tidak berani menyentuh kulit Shanum yang terbakar gairah.

Shanum tertawa kecil, suara seraknya terdengar begitu intim dan merusak akal sehat. Ia memejamkan mata, memiringkan kepalanya perlahan, dan mengikis jarak yang tersisa di antara bibir mereka.

Rasyid bisa merasakan kehangatan napas Shanum yang kini sudah menyentuh sudut bibirnya.

Tepat pada detik di mana kesucian Rasyid berada di ujung tanduk...

Tok! Tok! Tok!

"Rasyid? Kamu sudah selesai istirahat? Ayo, para Kyai dan Mas Yusuf sudah menunggumu di bawah untuk makan malam sambutan."

Suara itu berat dan penuh wibawa. Yusuf, senior yang paling disegani di pesantrennya, sedang berdiri di balik pintu.

Darah Rasyid seolah berhenti mengalir. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Ketakutan akan kehancuran nama baik pesantren menghantamnya lebih keras daripada godaan Shanum.

Namun Shanum seolah tidak peduli pada gangguan itu. Ia justru semakin kuat menarik kerah baju Rasyid, memaksanya untuk menerima ciuman itu tepat ketika gagang pintu mulai bergerak.

"Rasyid? Kok pintunya tidak dikunci? Saya masuk, ya?"

Pintu itu terbuka perlahan, cahaya dari koridor mulai membelah kegelapan kamar 303, siap menelanjangi aib yang paling tidak mungkin terjadi pada seorang permata pesantren.

1
Dwiwinarni
saya suka karya author ini sangat menarik dari luar biasa....
Dwiwinarni: sama2 Kak ditunggu update selanjutnya kakak jangan lama ya😃
total 2 replies
Dwiwinarni
kebusukan najwa terbongkar juga, bidadari palsu🤭
Dwiwinarni
cantik iya wajahnya tapi hatinya tidak🤭
Dwiwinarni
rasyid jaga baik2 shanum banyak mengincarnya...
Dwiwinarni
ternyata shanum seorang putri dari turkey
Dwiwinarni
akhirnya muncul juga tuan bajak laut...
Dwiwinarni
masih jadi misterius simbol2 ditubuh shanum...
Dwiwinarni
shanum telah jatuh cinta sama mas kyai...
Dwiwinarni
mas kyai tidak fokus shanum tiba-tiba menciumnya🤭
Dwiwinarni
meraka hanya bisa menghakimi shanum aja...
Dwiwinarni
jahat banget saudaranya rasyid...
Dwiwinarni
cie-cie mas kyai bisa cemburu juga ya🤭
Dwiwinarni
mas kyai dah mulai bersikap baik...
Dwiwinarni
Mereka datang untuk menjemputmu shanum😃
Lyynn: bisa jadi tuhh
total 1 replies
Dwiwinarni
Shanum bukan orang sembarangan mungkin anak horang kaya...
Dwiwinarni: wkwkwkwk🤣🤣🤣
total 2 replies
Dwiwinarni
kasian bingit nasibmu malang bingit shanum...
Dwiwinarni
Shanum bukan orang sembarang kayaknya...
Dwiwinarni
Bagus rasyid sangat gercap menyelidiki Siapakah dalangnya, yg membuat shanum mabuk berat sampai nyasar kekamar rasyid..
Dwiwinarni
ibunya rasyid lagi berjuang antara hidup dan mati, rasyid menyalahkan shanum...
Dwiwinarni: pasti kakak semuanya terkejut...
total 2 replies
Dwiwinarni
Shanum kamu sudah terikat pernikahan sama rasyid...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!