Lyodra, bunga desa Wonosobo menanam tanaman herbal langka khas dataran tinggi. Namun, warga desa yang mayoritas petani tembakau tidak menyukainya. Karena tanaman tersebut memiliki manfaat yang membuat orang berpikir negatif. Afrodisiak pada akarnya. Padahal di dunia tehnologi modern, tanaman herbal ini dapat dimanfaatkan sebagai obat anti kanker dan anti bakteri yang berdaya jual tinggi.
Kemarahan warga makin menjadi-jadi setelah mendapati Lyodra bersama pria asing di lumbung desa. Warga menuduh mereka berbuat mesum.
Kesalah pahaman membuat kepala desa terpaksa meminta pria asing itu untuk menikahi Lyodra. Agar tidak mencoreng nama baik Lyodra. Namun, sebuah rahasia malah terkuak.
Rahasia apakah itu? Apakah rahasia itu akan mempengaruhi kisah cinta Lyodra ke depannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss DK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai yang Tidak Bersahabat
"A-apa itu?" Betapa kagetnya Lyodra saat matanya tak sengaja melihat sesuatu mengapung di sungai.
Sesuatu yang terlihat seperti kepala manusia. Bulat dan berambut hitam pendek. Tersangkut di akar-akar pohon pinggir sungai. Bergerak ke kanan kiri karena terombang ambing arus sungai yang deras.
Lyodra menajamkan pandangannya. Ingin memastikan lagi, apakah benda bulat itu bola sepak anak-anak di desanya atau kepala manusia yang hanyut di sungai.
"Tolong! Tolong saya!"
"Ya Tuhan. Dia manusia. Masih hidup!" Lyodra segera melompat dari jendela begitu benda bulat itu mengeluarkan suara minta tolong di tengah ganasnya badai.
"Sabar ya, tunggu aku! Tetaplah bertahan di sana. Aku akan segera datang menolongmu!" Lyodra berjalan dengan hati-hati di tengah hujan ke tepi sungai yang licin dan berlumpur.
Beberapa kali sepatu boots Lyodra tersangkut di lumpur hingga akhirnya Lyodra memilih untuk tak beralas kaki.
Setelah berada di dekat pohon tempat orang itu tersangkut, Lyodra berteriak keras.
"Pegang selendangnya! Aku akan menarikmu ke atas!"
Lyodra melempar ujung selendang lurik ke arah pria yang kedinginan dan sudah kehabisan tenaga itu.
Berkali-kali selendang lurik itu jatuh ke tempat yang jauh dari jangkauan tangan pria itu. Karena angin yang kencang seperti melarang Lyodra untuk menolong pria itu.
"Ya Tuhan, tolong bantu aku menolong pria itu. Dia bisa mati jika tidak segera keluar dari sungai. Kasihanilah pria itu, Tuhan."
Lyodra berdoa di tengah gempuran badai yang makin ganas sebelum memungut batu seukuran genggaman tangannya. Mengikat batu itu di ujung selendang dengan ikat rambutnya.
Agar ujung selendangnya lebih berat hingga tak mudah ditiup angin, juga lebih terarah tepat ke sasaran.
Rambut panjang Lyodra yang basah menjuntai tak beraturan. Tapi Lyodra tak peduli, ia harus segera menolong pria itu. "Tangkap ini!"
Hap! Pria itu akhirnya berhasil menangkap selendang lurik Lyodra. Dengan kekuatan yang tak seberapa itu, Lyodra terus menarik selendang lurik agar pria itu segera naik ke daratan. Tanpa lelah, Lyodra terus berusaha sekuat tenaga.
Setelah melalui perjuangan yang panjang dan melelahkan, pria itu akhirnya selamat. Terkapar tanpa tenaga penuh lumpur sungai. Napasnya tersenggal-senggal. Lyodra pun merasa lega dan mengucap syukur atas bantuan Yang Kuasa.
Lyodra menghampiri pria itu. Usianya tidak berbeda jauh dengan Lyodra. Masih sekitar dua puluh limaan.
Wajahnya tampan. Putih pucat kedinginan. Bibirnya membiru dan bergetar hebat. Ada memar dan luka sobekan di wajah tampan dan tubuh atletisnya.
Darah mengucur dari wajah dan lengan pria itu. Membuat Lyodra ikut mengernyit kasihan melihatnya.
"Kita harus berteduh di lumbung. Di sana ada perapian. Kamu bisa menghangatkan diri di sana," ajak Lyodra sambil membantu pria itu berdiri.
Perlahan tubuh langsing Lyodra menjadi penopang pria yang tubuhnya gemetar kedinginan dan kakinya terkilir.
Tak berapa lama, Lyodra berhasil membawa pria itu melompati jendela, masuk ke dalam lumbung padi.
Mendudukkan pria itu di tempat yang kering. Menyalakan perapian yang ada di area samping lumbung.
Memanaskan air di teko dan menuangnya ke dalam gelas kaca.
"Minumlah teh ini agar tubuhmu lebih hangat. Awas panas, tiup dahulu sebelum diminum."
Pria itu mengangguk perlahan.
"Terima kasih sudah menolongku," ucapnya saat menerima segelas teh pahit panas.
Lyodra tersenyum kecil. "Sama-sama."
Mereka berdua segera meneguk teh hangat hingga tandas. Setelah habis, mereka saling berpandang-pandangan.
Lyodra sibuk memperhatikan kemeja pria itu. Penuh dengan noda darah di sana sini.
Sementara pria itu mengagumi paras cantik si bunga desa juga kemiripannya dengan seseorang.
Mata bulat, bulu mata lentik, hidung mancung dan kulit yang bening untuk ukuran gadis pedesaan. Bertubuh mungil dengan rambut panjang hitam acak-acakan namun diliputi keberanian dan kekuatan.
Malaikat penyelamat yang mengangkatnya dari maut. Tanpa bantuannya, dia pasti sudah jadi mayat bertubuh dan wajah bengkak, yang digigiti hewan-hewan sungai hingga tidak bisa dikenali.
Mata bulat Lyodra melirik selendang luriknya. Ada banyak lumpur melekat di sana. Lyodra tak mungkin menggunakannya. Sedangkan baju lengan panjangnya bahannya bukan dari katun, terlalu tipis jika dipakai untuk membebat luka.
Tanpa pikir panjang, akhirnya Lyodra menyobek bagian bawah kaos putihnya hingga perutnya yang putih dan ramping terlihat.
Lalu memberikan potongan kaosnya pada pria itu.
"Bebat lenganmu dengan erat agar darahnya berhenti. Setelah hujan reda, kamu harus ke puskesmas. Beberapa jahitan di lengan dan wajah. Semoga tidak meninggalkan bekas di wajah."
Pria itu mendengus. Dia juga terlihat enggan sesaat menerima potongan kaos Lyodra, namun setelah melihat genangan kecil berwarna merah di tanah, pria itu mengangguk setuju.
Lyodra juga merobek kedua lengan bajunya lalu membantu menekan luka robekan di pelipis dan dagu pria. Hingga baju yang dikenakan Lyodra seperti kurang bahan.
Lyodra mulai memperhatikan pria itu lebih cermat dari dekat. Dilihat dari pakaian yang dikenakannya, Lyodra yakin pria tampan itu bukan penduduk desa di daerah tempat Lyodra tinggal. Sepertinya dari kota besar.
'Kira-kira dia ke desa terpencil ini untuk apa?' batin Lyodra.
***
Beberapa menit yang lalu.
Beberapa hari ini langit sering mendung. Angin juga berhembus cukup kencang. Membuat awan gelap lebih cepat berkumpul. Badai datang tanpa diundang saat tengah hari hingga larut malam.
Duar!
Petir yang begitu keras membuat Lyodra terpekik kaget. Bunga desa Wonosobo ini langsung berhenti memanen tanaman herbal khas daerah Dieng, Jawa Tengah.
Bentuknya kecil seperti semanggi gunung berakar putih panjang. Dicabut sekaligus dengan daunnya yang berwarna hijau kemerahan.
Lyodra memandangi bakul rotan yang tergeletak di atas tanah. Hanya terisi separuh saja. Masih banyak tanaman herbal yang belum sempat ia panen.
Ia khawatir badai akan merusaknya, namun hatinya berkata, 'Lebih baik dilanjut besok, daripada nanti kenapa-napa, malah repot.'
Lyodra berlari meninggalkan ladang pertaniannya yang tidak seberapa luas itu. Namun, belum juga sampai di ujung ladang, hujan deras sudah keburu turun membasahi tubuhnya.
"Ish!" geram Lyodra kesal setelah tubuhnya terdorong air dan angin kencang berulang kali ke belakang hingga hampir terjatuh. Jarak pandang juga tertutup kabut yang pekat. Jika nekat menerobos, dikhawatirkan berujung petaka.
Tanpa pikir panjang, Lyodra akhirnya membelokkan langkahnya ke lumbung padi desa.
Kriet!
Pintu kayu lumbung padi yang dicat merah, terbuka begitu Lyodra mendorongnya. Tanpa harus mengucapkan permisi lebih dahulu pada pemiliknya, Lyodra langsung masuk ke dalam.
Karena lumbung padi yang luasnya 10 kali 10 meter ini memang dibangun dengan dana desa, sehingga siapa pun diijinkan untuk menitipkan hasil taninya atau sekedar berteduh saat panas atau hujan.
Setelah memastikan lumbung padi kosong tak ada orang, Lyodra melepaskan selendang lurik, meletakkan bakul rotan di tanah. Lalu melepas baju lengan panjangnya yang basah kuyup.
Sekarang tubuh langsing Lyodra hanya dibalut kaos berwarna putih yang juga basah kuyup. Pakaian dalamnya warna hitam terlihat makin menonjolkan lekuk tubuhnya yang aduhai.
Lyodra berdecah kesal sambil memeras bajunya yang basah.
"Salah kostum," ucapnya singkat sembari berjalan ke area belakang lumbung padi. Dengan harapan area tersebut lebih aman untuk bersembunyi.
Tidak terlihat langsung dari pintu lumbung padi, jika ada penduduk desa yang datang ingin berteduh.
Di belakang lumbung terdapat sebuah jendela yang biasanya memperlihatkan keelokan pemandangan dataran tinggi Dieng dan aliran sungainya yang jernih, biasa dipakai warga desa untuk minum, mandi dan mencuci pakaian.
Namun sekarang, Lyodra hanya melihat badai yang makin lama makin ganas dan sesuatu yang aneh. Benda bulat berwarna hitam seperti ....