Di buang ke Desa Kenangan, tempat Oma-nya menghabiskan sisa umur. Nero Vano Christian malah tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis manis bernama Ainun Salsabila Adiakara. Gadis yang awalnya hanya sekedar mengusik hati.. Lalu menjadi alasan untuk Nero mulai mengenal Tuhan.
Ikuti kisahnya~
Happy Reading ><
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 25: NASI MANDI, LOGAT MEDAN, DAN TEGURAN "MAUT" SANG HABIB
Bulan pertama di Tarim, Yaman, adalah ujian sesungguhnya bagi seorang Muhammad Nero Vane Akbar. Kalau dulu di Jakarta dia pusing milih antara Sushi atau Steak, sekarang dia harus berhadapan dengan "kenyataan karbohidrat" yang luar biasa masif.
Siang itu, di asrama, Nero duduk bengong menatap nampan besar berisi Nasi Mandi dengan potongan daging kambing yang ukurannya segede helm proyek.
"Gila, ini nasi atau pasir pantai? Banyak banget, porsinya buat kuli angkut pelabuhan apa gimana?" keluh Nero sambil nyolek nasi yang kering itu.
Ucok, si Medan yang tatonya ditutup manset, ketawa ngakak sampe keselek tulang kambing. "Bah! Kau ini, Nero. Ini namanya keberkahan. Di Medan, nasi segini udah bisa buat pesta nikahan satu gang. Makanlah! Biar berisi badanmu itu, jangan lembek kali kayak kerupuk kesiram kuah soto!"
"Masalahnya, Ucok... ini daging kambingnya kok aromanya 'prengus' banget ya? Berasa lagi pelukan sama kambing hidup gue," balas Nero sambil nutup hidung.
Asep, si santri Bandung, langsung nimbrung sambil bawa sambal botol rahasia dari tasnya. "Sssttt! Kang Nero, kuncinya cuma satu: Visualisasi. Anggap aja ini Wagyu A5 yang lagi cosplay jadi kambing Tarim. Nih, pake sambel terasi sachet gue. Dijamin, rasa Yaman, lidah tetep Ciamis!"
Zul, si jenius IT Makassar, lagi sibuk sama laptopnya tapi tetep nyaut. "Nero, logikanya sederhana. Input nasi banyak, output hafalan Alfiyah lancar. Kalau kurang karbo, otakmu loading terus pas setoran hafalan nanti."
"Masalahnya bukan cuma perut, Zul," Nero frustrasi. "Tadi di pasar, gue mau beli sabun. Gue bilang ke penjualnya pake bahasa Arab buku. 'Ya Sayyidi, uridu an asytariya shobunan'. Eh, dia malah ketawa terus ngomong cepet banget kayak Eminem. Gue cuma bisa bilang 'Na'am, na'am' padahal nggak paham satu kata pun!"
Gus Aris yang sedari tadi kalem, akhirnya bersuara. "Sabar, Mas Nero. Bahasa Arab buku sama bahasa pasar di sini emang beda tipis kayak ban motor balapmu dulu. Jangan terlalu kaku. Di sini yang penting PD dulu, salah i'rab belakangan."
Lagi asyik-asyiknya mereka bercanda dan ngetawain logat Nero yang masih "Jaksel-Arabic", tiba-tiba pintu asrama terbuka. Sosok tinggi berwibawa dengan gamis krem dan sorban rapi masuk. Habib Ali, salah satu pengajar senior yang dikenal tegas tapi alimnya luar biasa.
Sontak, kelima pemuda itu (plus Nero) langsung kicep. Suasana yang tadinya kayak pasar malem mendadak jadi kayak kuburan.
"Apa ini? Berisik sekali sampai ke lorong. Kalian ini sedang belajar agama atau sedang latihan jadi syaiton yang kegirangan?" tanya Habib Ali dengan bahasa Arab yang fasih dan tajam, tapi ada binar jenaka di matanya.
Nero langsung nunduk. "Maaf, Ya Habib... kami tadi cuma... itu..."
Habib Ali mendekat ke nampan nasi mereka. Beliau melihat potongan daging kambing yang masih utuh di depan Nero. Beliau duduk bersila di antara mereka, bikin semua orang makin jantungan.
"Nero," panggil Habib. "Kenapa kambing itu masih menatapmu? Dia sudah syahid untuk memberimu energi belajar, tapi kau malah memusuhinya."
"Dagingnya... baunya kuat sekali, Habib," cicit Nero jujur.
Habib Ali tersenyum, lalu beliau mengambil secuil daging, mencelupkannya ke bumbu, dan menyuapkannya ke mulut Nero pake tangan beliau sendiri. "Bismillah. Di dalam bau yang kau benci ini, ada keberkahan bumi para Nabi. Makanlah. Ilmu itu nggak cuma masuk lewat telinga, tapi lewat apa yang kau syukuri di perutmu."
Setelah Nero menelan (dengan sedikit perjuangan), Habib Ali malah nggak beranjak pergi. Beliau malah ngambil potongan lemak kambing yang paling gede.
"Kalian tahu kenapa orang Yaman kuat-kuat hafalan dan fisiknya?" tanya Habib.
"Kenapa, Habib?" tanya Fikri penasaran.
"Karena kami makan lemak kambing ini seolah-olah ini adalah madu. Dan kalian, anak-anak Nusantara..." Habib Ali melirik botol sambal terasi Asep. "Kalian membawa 'api' dari Jakarta ke sini. Apa ini? Baunya menyengat sekali!"
"Ini sambal terasi, Habib. Biar nafsu makan," jawab Asep gemeteran.
Habib Ali mencicipi sedikit sambal terasi Asep pake ujung jari. Detik berikutnya, muka beliau yang tadinya berwibawa langsung berubah merah padam. Beliau buru-buru ngambil air minum.
"Masya Allah! Ini bukan makanan! Ini hukuman dunia!" teriak Habib Ali sambil mengipasi lidahnya, tapi beliau malah ketawa lebar. "Pantas saja kalian berisik. Ternyata kalian sedang memakan api neraka di siang bolong!"
Gelak tawa pecah. Habib Ali yang tadinya mau negur, malah akhirnya ikut nimbrung makan bareng mereka sebentar sambil nyeritain kisah-kisah ulama terdahulu yang juga pernah kesulitan adaptasi makanan.
"Ilmu itu cahaya, Nero," bisik Habib Ali sebelum bangkit berdiri. "Tapi perut yang terlalu manja bisa jadi penghalang cahaya itu masuk. Habiskan nasinya, baru kita bahas Nahwu nanti malam. Dan kau, Asep... simpan 'api' itu, atau aku akan melaporkanmu pada penjaga pasar karena membawa senjata tajam dalam bentuk saus!"
Nero tertawa lepas. Di tengah panasnya Tarim dan kerasnya adaptasi, dia ngerasa punya keluarga baru yang luar biasa. Dia makin yakin, melupakan Ainun sejenak adalah harga yang pantas untuk kedamaian dan ilmu yang dia dapetin di sini.