NovelToon NovelToon
Paradoks Dua Hati

Paradoks Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:436
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Lahir Kembalinya Sang Tiran

​Sinar matahari pagi yang menembus celah tirai vertikal ruang rawat VVIP BIMC Hospital sama sekali tidak membawa kehangatan tropis khas pulau Bali; alih-alih, cahaya itu jatuh menimpa lantai linoleum putih dengan warna kuning pucat yang terasa sangat dingin, steril, dan tidak bernyawa. Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa sangat ringan, kehilangan gravitasi berat dan menyesakkan yang semalam membuat napas Kanaya Larasati tersengal-sengal.

​Tidak ada lagi aroma anyir darah yang mengering. Tidak ada lagi sisa-sisa aroma parfum vetiver yang maskulin, menuntut, dan melindungi. Dan yang paling menyakitkan, tidak ada lagi presensi absolut dari seorang pria yang rela membakar kerajaannya hingga menjadi abu hanya demi memastikan jantung Naya tetap berdetak. Ruangan itu kini benar-benar kosong melompong, menyisakan Naya sendirian bersama bunyi dengung ritmis dari mesin elektrokardiogram dan rasa dingin dari selang infus yang menancap di punggung tangan kirinya.

​Naya membuka kelopak matanya perlahan. Matanya terasa membengkak, panas, dan lengket akibat sisa-sisa air mata semalam yang telah mengering di bulu matanya. Rasa sakit yang berdenyut hebat di bahu kanannya seketika menyapanya layaknya alarm pagi, sebuah pengingat fisik yang kejam bahwa ia masih hidup, dan bahwa rentetan kejadian emosional semalam bukanlah sekadar mimpi buruk yang diinduksi oleh pengaruh obat bius dan morfin.

​Ia memutar kepalanya dengan gerakan patah-patah ke arah kursi ergonomis di samping ranjangnya—kursi tempat Arjuna Dirgantara duduk berjam-jam dalam postur yang hancur, menggenggam tangannya seolah ia adalah tali penyelamat satu-satunya di alam semesta yang perlahan runtuh. Kursi itu kini kosong. Permukaan kulit sintetisnya terlihat sangat rapi dan mulus, tidak meninggalkan jejak lekukan tubuh pria itu sama sekali. Juna telah pergi. Sesuai dengan permintaan yang tidak bisa ditawar, atau lebih tepatnya, vonis mati yang Naya jatuhkan sendiri pada pria itu semalam.

​'Dia pergi. Dia benar-benar kembali ke Jakarta,' batin Naya. Sebuah rongga raksasa mendadak terbuka di dalam dadanya, menghisap seluruh oksigen di sekitarnya dan menyisakan rasa perih yang jauh lebih tajam daripada sayatan batu pualam mana pun.

​Naya menggigit bibir bawahnya yang pecah-pecah, menahan isakan yang tiba-tiba mendesak naik ke kerongkongannya. Tangannya yang bebas mencengkeram seprai putih rumah sakit hingga kuku-kukunya memutih. 'Inilah yang kau inginkan, Kanaya. Kau yang mengusirnya dengan paksa. Kau yang menyuruhnya kembali menjadi monster korporat. Kau yang memilih untuk memutuskan ikatan yang baru saja mulai terjalin ini demi menyelamatkannya dari amarah ayahnya, dan menyelamatkan dirimu sendiri dari rasa bersalah seumur hidup. Jadi, berhentilah menangisi ketiadaannya. Kau tidak punya hak untuk merasa kehilangan sesuatu yang sengaja kau buang dengan kedua tanganmu sendiri.'

​Pintu ruang rawat terbuka dengan suara klik yang sangat lembut, memecah lamunan Naya. Seorang perawat senior masuk dengan senyum ramah yang sangat terlatih, membawa nampan berisi sarapan pagi bernutrisi tinggi, beberapa ampul obat, dan sebuah iPad medis.

​"Selamat pagi, Nona Kanaya," sapa perawat itu dengan nada keibuan, melangkah mendekat untuk memeriksa tetesan cairan infus dan panel monitor. "Bagaimana kondisi bahu Anda hari ini? Skala nyeri dari satu sampai sepuluh, di angka berapa Anda menilainya?"

​"Tujuh," jawab Naya dengan suara yang sangat serak dan parau, tenggorokannya terasa seperti dilapisi debu marmer. "Tapi saya bisa menahannya. Suster... apakah... apakah pria yang semalam berjaga di sini..."

​Naya tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Mengucapkan nama pria itu terasa seperti menelan serpihan kaca tajam yang merobek pita suaranya.

​Perawat itu mengangguk dengan senyum penuh pengertian, menata nampan sarapan di atas meja lipat khusus pasien. "Tuan Dirgantara sudah bertolak ke bandara pada pukul tiga pagi tadi, Nona. Beliau meninggalkan instruksi yang sangat ketat pada direktur rumah sakit kami. Seluruh tagihan perawatan VVIP Anda, tindakan bedah, hingga jadwal rehabilitasi fisioterapi Anda nanti sudah diselesaikan secara penuh ke dalam sistem keuangan kami. Beliau juga secara khusus menempatkan empat petugas keamanan berpakaian preman di luar lorong ini, untuk memastikan tidak ada satu pun media atau orang tak berkepentingan yang mengganggu masa pemulihan Anda. Beliau sangat... protektif terhadap Anda."

​Naya memalingkan wajahnya ke arah jendela raksasa, menatap awan putih yang berarak sangat lambat di langit biru Bali yang cerah. 'Protektif. Kata yang sangat ironis untuk menggambarkan situasi kita, Juna. Kau melindungiku dengan uang, kekuasaan, dan pengawalmu, namun sebagai bayarannya, kau harus mengorbankan hatimu sendiri untuk kembali ke dalam kandang singa. Kita berdua kini adalah arsitek dari kehancuran dan penjara kita masing-masing.'

​Tiba-tiba, suara keributan yang cukup keras terdengar dari luar pintu.

​"Maaf, Tuan. Anda sama sekali tidak diizinkan masuk. Ini adalah instruksi absolut dari Tuan Arjuna Dirgantara," suara berat dan kaku seorang pria berjas hitam menembus dinding ruangan yang kedap suara.

​"Persetan dengan Arjuna dan instruksi sialannya! Saya teman pasien! Saya Site Manager di proyek tempat dia celaka!" itu suara Bastian, terdengar penuh dengan amarah, kepanikan, dan frustrasi yang tidak lagi bisa ditahan oleh etika kesopanan.

​Naya memejamkan matanya, meremas seprai rumah sakit dengan tangan kirinya semakin kuat. Kepalanya mulai berdenyut nyeri. Ia tidak ingin melihat siapa pun hari ini. Ia tidak ingin mendengar suara simpati dari siapa pun. Ia hanya ingin dibiarkan mati rasa dalam kesunyian yang membekukan ini.

​"Suster," panggil Naya dengan suara yang lemah namun memiliki frekuensi ketegasan yang mutlak, warisan dari hari-harinya berdebat di ruang rapat Dirgantara. "Tolong beritahu pihak keamanan di luar untuk mengizinkan pria itu masuk sebentar. Tapi tolong sampaikan padanya bahwa saya hanya punya waktu lima menit sebelum saya harus beristirahat kembali."

​Perawat itu mengangguk patuh, memaklumi situasi pasiennya, dan berjalan keluar. Beberapa detik kemudian, pintu didorong terbuka dengan kasar, menampilkan sosok Bastian. Pria itu masih mengenakan pakaian kerja lapangannya yang sama dengan semalam, kini terlihat kusut masai dan kotor. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran yang mendalam saat ia bergegas mendekati ranjang Naya, napasnya terengah-engah seolah ia baru saja berlari maraton.

​"Naya! Ya Tuhan, syukurlah kau sudah sadar," Bastian menghembuskan napas lega yang luar biasa, bahunya merosot turun. Ia meraih kursi yang semalam diduduki Juna dan menariknya mendekat dengan bunyi decitan kasar di lantai. "Pria gila itu menempatkan barikade pengawal di depan pintumu seolah kau ini tahanan politik negaranya. Apa yang sebenarnya dia lakukan padamu semalam setelah aku pergi? Apakah dia mengancammu? Apakah dia memaksamu menandatangani dokumen tutup mulut soal ledakan kecelakaan ini agar sahamnya tidak anjlok?!"

​Naya memutar kepalanya secara perlahan. Ia menatap Bastian dengan mata cokelatnya yang kini terlihat sangat hampa, sangat mati. Binar keberanian, idealisme, dan kehangatan yang biasanya selalu ia tunjukkan pada senior kesayangannya itu telah padam sepenuhnya, digantikan oleh lapisan pualam yang dingin, keras, dan tidak tertembus.

​"Tidak ada seorang pun yang memaksaku bungkam, Kak Bastian," jawab Naya dengan nada yang sangat datar, seolah-olah ia sedang membacakan spesifikasi teknis kekerasan sebuah material batu. "Kecelakaan semalam adalah murni kelalaianku karena memaksakan proses vakum polimer saat kondisi mentalku tidak stabil dan kelelahan. Pak Arjuna sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Beliau sudah kembali ke Jakarta pagi ini karena memiliki urusan yang jauh lebih krusial dan berskala triliunan dari sekadar mengurusi kecelakaan kerja staf juniornya."

​Bastian terbelalak. Mulutnya sedikit terbuka. Ia menatap Naya dengan ketidakpercayaan yang murni, seolah ia sedang melihat orang asing yang memakai wajah juniornya. "Naya, apa yang kau bicarakan? Semalam kau menangis! Semalam pria arogan itu hampir membunuhku karena aku mencoba membelamu! Kau pikir aku buta? Dia sedang memanipulasimu! Dia mengendalikan pikiranmu! Dia perlahan-lahan membuatmu menjadi robot korporat tanpa nurani sepertinya!"

​"Pak Arjuna adalah CEO Dirgantara Group yang memegang kontrak hidupku, Kak," potong Naya tajam, suaranya naik satu oktaf, sengaja mengabaikan rasa sakit yang merobek tulang rusuknya akibat berbicara terlalu keras. "Beliau adalah atasan tertinggiku, dan kau adalah vendor struktur dari perusahaannya. Batas kita hanya sampai di situ. Tidak lebih. Tolong, Kak, berhentilah bertingkah seperti ksatria berkuda putih yang mencoba menyelamatkanku dari naga yang sebenarnya tidak pernah ada."

​"Naya..." Bastian bergumam, suaranya pecah, matanya memancarkan rasa sakit dan pengkhianatan yang mendalam melihat perubahan drastis pada gadis yang selama ini ia kagumi dan lindungi secara diam-diam. "Kenapa kau tiba-tiba membangun dinding es yang begitu tebal ini? Kemarin di gudang teknis, kau menangis di pelukanku. Kau membiarkanku masuk. Kau menunjukkan kerapuhanmu. Apa yang bajingan itu katakan padamu semalam hingga kau berubah menjadi sedingin dan sekasar ini?!"

​Naya memalingkan wajahnya, kembali menatap tetesan cairan infus yang jatuh satu per satu di dalam tabung plastik. 'Karena jika aku tidak menjadi dingin, Kak Bastian, aku akan hancur,' jerit batinnya yang penuh luka. 'Dan jika aku menunjukkan kelemahanku padamu, aku akan memberikan alasan bagi Juna untuk kembali mengamuk, dan memberikan alasan bagi ayah Juna untuk menghancurkan kariermu.'

​"Di gudang teknis waktu itu, aku hanya kelelahan ekstrem, Kak. Aku sedang kalut dan emosional," ucap Naya, memaksa suaranya untuk tidak bergetar. "Tapi sekarang, setelah cairan infus ini menjernihkan pikiranku, aku sudah sadar. Aku sadar tentang di mana tepatnya posisiku berdiri di dunia ini. Aku hanyalah seorang desainer yang dibayar. Pualam tidak akan pernah bisa menyatu dengan kayu sederhana, sekeras apa pun kau memaksanya untuk disatukan. Mereka membutuhkan fondasi, perekat, dan perlakuan suhu yang berbeda."

​Naya kembali menatap Bastian. Kali ini, matanya memancarkan resolusi gelap yang absolut—sebuah replika sempurna dari tatapan Arjuna Dirgantara saat menyingkirkan lawan bisnisnya. "Kembalilah ke pabrik, Kak Bastian. Selesaikan struktur baja pilar itu sesuai jadwal. Jangan pedulikan aku lagi di luar urusan pekerjaan. Aku tidak butuh diselamatkan oleh siapa pun. Aku sudah membuat keputusanku untuk berada di jalur ini."

​Bastian berdiri perlahan dari kursinya. Ia menatap Naya dalam waktu yang cukup lama, mencari sisa-sisa gadis ceria yang dulu selalu ia bantu memperbaiki maket yang rusak di studio kampus. Namun yang ia temukan di ranjang rumah sakit putih itu hanyalah sebuah cangkang kosong—sebuah mahakarya yang telah dibentuk ulang oleh kekejaman dunia Dirgantara Group. Dingin, keras kepala, dan menyembunyikan luka mematikan di balik arogansi yang dipaksakan.

​"Kau benar-benar sudah terjebak terlalu dalam di dalam labirinnya yang gelap, Naya," ucap Bastian dengan suara yang sangat getir, sarat akan penyesalan karena ia tahu ia telah kalah dalam pertarungan memperebutkan hati gadis ini sebelum ia bahkan memulainya. "Aku hanya bisa berharap, saat kau berhasil keluar dari labirin pria gila itu nanti, kau masih memiliki sisa-sisa hati yang utuh untuk dirimu sendiri."

​Bastian memutar tubuhnya dengan langkah berat dan berjalan keluar dari ruangan VVIP tersebut. Pintu kayu solid itu tertutup perlahan dengan bunyi klik yang definitif, mengisolasi Naya kembali ke dalam kesunyian mutlak yang membekukan.

​Begitu pintu itu terkunci rapat, topeng pualam Naya seketika retak dan hancur berantakan. Ia menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang tertancap infus, meredam isak tangis histeris yang meledak dari dasar dadanya. Bahunya bergetar hebat, air mata membanjiri wajahnya yang pucat. Rasa sakit dari jahitan yang tertarik berpadu dengan rasa sakit yang ribuan kali lebih perih karena telah membuang dan melukai satu-satunya pria normal yang tulus peduli padanya.

​'Maafkan aku, Kak Bastian. Kumohon maafkan aku,' batin Naya menjerit dalam keheningan yang menyiksa, air matanya menetes di atas punggung tangannya. 'Tapi hanya dengan menjadi monster aku bisa bertahan hidup di dalam ekosistem Dirgantara ini. Aku telah memaksa Arjuna untuk kembali menjadi iblis demi melindungiku, maka aku pun harus mengorbankan diriku dan menjadi iblis yang setara untuk memastikan aku tidak pernah lagi menjadi titik kelemahannya.'

​Dua jam kemudian, Jakarta.

​Langit ibu kota tampak cerah dan terik, memantulkan panas dari aspal jalanan yang sibuk. Pemandangan itu sangat kontras dengan badai kelabu dan atmosfer membunuh yang berkecamuk di dalam kabin jet pribadi Gulfstream G650ER yang baru saja mendarat dengan mulus di landasan pacu VVIP Bandara Halim Perdanakusuma.

​Arjuna Dirgantara duduk mematung di kursi kulit kelas utama, tubuhnya sekaku patung monumen bersejarah. Ia masih mengenakan kemeja putih Bespoke yang dipenuhi noda darah kecokelatan milik Naya—noda yang kini telah mengering sempurna dan menempel di serat kain seolah menjadi tato dosa permanen yang tidak akan pernah bisa dihapus dari tubuhnya. Rambutnya yang biasanya klimis kini berantakan tak karuan, dan matanya dipenuhi urat merah akibat perpaduan antara kemarahan, kesedihan, dan kelelahan kronis.

​"Pak," Riko menghampirinya dengan langkah kaki yang sangat hati-hati, membawa sebuah kemeja sutra hitam bersih yang masih terbungkus plastik laundry dan sebuah jas abu-abu arang yang disetrika licin. "Kita sudah mendarat di Jakarta. Mobil konvoi Anda beserta tim pengawalan sudah siap di apron. Tapi... dengan segala hormat, Anda tidak bisa keluar dari pesawat dengan pakaian bernoda darah seperti ini. Media massa, reporter televisi, dan paparazzi gosip sedang mengepung gerbang luar bandara. Mereka sedang mengendus darah. Mereka mencari tahu alasan absurd Anda mangkir dari konferensi pers pertunangan Anda sendiri semalam."

​Juna menatap kemeja hitam yang disodorkan Riko selama beberapa detik. Tatapannya sangat kosong, menyerupai sebuah jurang tak berdasar yang siap menelan cahaya apa pun yang mendekatinya. Kalimat terakhir Naya dari ruang rawat semalam terus bergema di dalam tengkoraknya, menghantam dinding akal sehatnya berulang kali tanpa henti, menciptakan gaung yang menyiksa:

​"Bermainlah dengan aturan mereka, Arjuna. Sampai Anda memiliki kekuatan yang cukup absolut untuk mengubah aturan itu sendiri. Tetaplah berada di puncak rantai makanan. Tetaplah berkuasa."

​Juna memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam yang memenuhi paru-parunya dengan udara sirkulasi kabin yang disaring oleh filter HEPA. Saat ia kembali membuka matanya sepuluh detik kemudian, ada perubahan drastis yang mengerikan pada sorot matanya. Kehancuran, kepedihan, rasa bersalah, dan kerentanan seorang pria yang sedang patah hati telah mati dan dikubur sedalam ribuan kaki di dalam jiwanya. Yang tersisa di mata kelam itu kini hanyalah sebuah kekosongan yang membekukan—kedinginan absolut dari seorang predator puncak yang baru saja menyadari bahwa ia harus memakan kaumnya sendiri untuk bisa bertahan hidup di padang pasir kekuasaan.

​Juna berdiri dengan gerakan yang sangat presisi, sama sekali tidak mempedulikan rasa pegal dan kaku di seluruh persendiannya akibat duduk semalaman di rumah sakit. Ia melepas kemeja putihnya yang ternoda darah dengan gerakan mekanis, mengabaikan harganya yang puluhan juta, dan tanpa ragu melemparnya ke lantai karpet kabin seolah membuang sisi kemanusiaannya sendiri ke tempat sampah. Ia mengambil kemeja hitam dari tangan Riko, memakainya dengan gerakan luwes, dan mengancingkannya hingga ke leher dengan wajah sedatar tembok beton.

​Ia kemudian mengenakan jas abu-abu arangnya, menyesuaikan manset peraknya dengan presisi milimeter, dan menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya hingga tatanannya kembali terlihat rapi, kaku, dan tidak tertembus. Dalam waktu kurang dari lima menit, Arjuna Dirgantara yang hancur, rapuh, dan menangis memohon di Bali telah lenyap seutuhnya, digantikan oleh CEO Dirgantara Group yang paling kejam, paling licin, dan paling tanpa ampun yang pernah dicatat dalam sejarah keluarga konglomerat itu.

​"Riko," suara Juna tidak lagi serak. Suara itu kini memiliki resonansi bariton yang sangat jernih, berat, dan berwibawa, terdengar seperti denting dua bilah pedang baja yang beradu dengan balok es.

​"Ya, Pak Arjuna?" jawab Riko dengan cepat, secara otomatis berdiri lebih tegak karena terintimidasi oleh aura bosnya yang tiba-tiba berubah menjadi sangat mencekam dan menekan oksigen di sekitarnya.

​"Siapkan rilis pers resmi dari divisi komunikasi publik dalam waktu tiga puluh menit. Nyatakan bahwa ketidakhadiran saya di acara seremonial semalam murni karena saya selaku CEO harus melakukan inspeksi krisis mendadak pada indikasi sabotase material grade-A di pabrik Bali yang berpotensi merugikan perusahaan miliaran rupiah dan menunda jadwal peresmian hotel," perintah Juna dengan kelancaran seorang sosiopat ulung yang sedang merajut jaring kebohongan yang sempurna. "Dan atur pertemuan darurat dengan Chairman Dirgantara beserta seluruh anggota inti keluarga Wijaya di ruang rapat utama Penthouse beliau satu jam dari sekarang. Saya akan menyelesaikan masalah 'rumah tangga' yang remeh ini dengan cara korporat yang mereka inginkan."

​Riko menelan ludah, keringat dingin mulai sebesar biji jagung muncul di pelipisnya. "Baik, Pak. Segera saya laksanakan. Bagaimana... bagaimana dengan pembaruan status untuk Nona Kanaya di sistem HRD?"

​Mendengar nama itu disebut di dalam kabin, otot rahang Juna sempat menegang selama sepersekian milidetik yang tak kasat mata, namun wajahnya tetap tidak menunjukkan riak emosi apa pun yang bisa dibaca oleh asistennya.

​"Kanaya Larasati adalah aset operasional yang saat ini sedang dalam masa perbaikan (maintenance) akibat kelalaian lapangan di rumah sakit," instruksi Juna, matanya menatap tajam dan mengunci mata Riko. "Tutup seluruh akses informasinya. Jangan biarkan satu pun dokumen tagihan medis bocor ke sistem keuangan pusat. Gunakan dana taktis anonim dari rekening lepas pantai rahasia saya untuk seluruh kebutuhannya. Di atas kertas, Nona Kanaya saat ini hanyalah korban kecelakaan kerja biasa yang telah kita berikan kompensasi asuransi standar. Dia bukan siapa-siapa. Dia tidak memiliki nilai emosional atau strategis apa pun bagi saya maupun perusahaan ini. Mengerti?"

​"S-Saya mengerti sepenuhnya, Pak," Riko menunduk dalam-dalam, tidak berani membantah.

​Juna melangkah keluar dari kabin pesawat, menuruni tangga menuju mobil anti-peluru mewahnya yang sudah menunggunya di bawah pengawalan ketat. Udara panas dan berpolusi Jakarta menyambutnya, namun Juna merasa seluruh darah di dalam pembuluhnya telah berubah menjadi cairan hidrogen yang membekukan. Ia telah menerima peran yang diskenariokan oleh Naya. Ia akan menjadi kaisar yang kejam. Ia akan merebut kekuasaan mutlak itu, membakar siapa pun yang menghalanginya, apa pun harganya.

​Satu jam kemudian. Penthouse Eksekutif Kediaman Dirgantara, Jakarta Pusat.

​Ruangan mewah bergaya klasik Eropa dengan perabotan mahoni dan lampu kristal itu dipenuhi oleh ketegangan atmosferik yang begitu tebal hingga seolah bisa dipotong dengan pisau daging. Chairman Dirgantara duduk di kursi utamanya yang menyerupai singgasana raja, kedua tangannya bertumpu di atas tongkat kayunya, matanya memancarkan amarah yang sangat gelap dan tertahan. Di sofa kulit seberangnya, Aline Wijaya duduk bersama ayahnya, Tuan Wijaya (Taipan Properti Utara), dengan wajah yang ditekuk penuh keangkuhan dan rasa tersinggung yang mendalam karena merasa direndahkan di depan publik.

​Pintu ganda ruangan itu terbuka lebar tanpa diketuk. Arjuna Dirgantara melangkah masuk. Posturnya begitu tegak, langkahnya begitu terukur, dan auranya begitu mendominasi ruangan, hingga bahkan Tuan Wijaya yang biasanya sangat vokal pun sempat terdiam melihat kedinginan absolut yang memancar dari wajah calon menantunya itu.

​Juna berjalan lurus menuju kursi kulit kosong di seberang Aline dan duduk dengan keanggunan seorang aristokrat yang tidak memiliki rasa takut. Ia menyilangkan kaki panjangnya, meletakkan tangannya dengan santai di atas lutut, dan menatap mereka satu per satu tanpa sedikit pun rasa gentar, penyesalan, atau niat untuk meminta maaf.

​"Arjuna," suara Chairman Dirgantara menggelegar memecah kesunyian ruangan, tongkat kayunya menghantam lantai marmer dengan keras, menciptakan gema yang mengintimidasi. "Kau memiliki waktu tepat dua menit untuk menjelaskan kepada kolega bisnis kita, keluarga Wijaya, mengapa kau berani mempermalukan mereka, mempermalukan diriku, dan mempermalukan nama besar Dirgantara di depan dua puluh stasiun televisi nasional semalam."

​Aline langsung berdiri setengah membungkuk, menyilangkan tangannya di dada. "Kau kabur karena desainer rendahan itu, bukan?! Karena pilar bodohnya itu meledak di Bali dan melukainya! Kau mempertaruhkan reputasiku, merusak harga diriku sebagai wanita, demi seorang gadis miskin yang kau jadikan proyek amalmu?!"

​Juna menoleh ke arah Aline perlahan. Tatapannya begitu datar, begitu merendahkan, dan begitu meremehkan, hingga Aline tanpa sadar memundurkan tubuhnya kembali bersandar ke bantalan sofa karena nyalinya menciut.

​"Saya sarankan kau menjaga desibel dan nada suaramu saat berbicara padaku di ruang rapat ini, Aline," ucap Juna dengan bariton yang sangat halus, sangat pelan, namun bergetar oleh ancaman yang sangat nyata. "Kau duduk di sini sebagai tunanganku murni karena nilai strategis dari pembebasan lahan ayahmu di pesisir utara, bukan karena kau tiba-tiba memiliki hak suara untuk mempertanyakan otoritas manajerialku atas anak perusahaanku."

​Tuan Wijaya sontak berdiri dengan wajah memerah karena darahnya naik ke kepala. "Beraninya kau bicara kurang ajar seperti itu pada putriku di depanku! Kau pikir keluargaku akan diam saja setelah kau permalukan—"

​"Duduk, Tuan Wijaya," potong Juna dengan sangat tajam dan menghentak, mengalihkan tatapan matanya yang mematikan pada pria paruh baya itu layaknya elang yang mengincar kelinci. "Saya meninggalkan konferensi pers kosong itu karena saya baru saja menyelamatkan gabungan modal triliunan kita dari potensi tuntutan hukum dan kerugian yang tak terhingga."

​Juna mengalihkan pandangannya ke arah ayahnya, Sang Chairman. Ia mulai menenun jaring kebohongannya yang mematikan dengan tingkat presisi seorang arsitek sosiopat yang telah membuang seluruh beban moralnya ke tempat sampah.

​"Ledakan pilar di pabrik Gianyar semalam bukan kecelakaan operasional biasa," dusta Juna dengan ekspresi wajah yang sangat meyakinkan, tanpa ada satu kedipan pun yang salah. "Ada indikasi sabotase pada matriks tekanan gas honeycomb. Dan yang menjadi korbannya adalah Senior Designer kita. Gadis itu... Kanaya Larasati... dia mengetahui terlalu banyak hal tentang spesifikasi material grade-A kita yang dipaksakan di luar standar keamanan awal demi efisiensi desain."

​Sang Chairman menyipitkan matanya yang berkerut, minatnya mulai terpancing oleh umpan kata-kata manipulatif putranya. Tongkatnya berhenti mengetuk. "Lalu? Apa korelasinya dengan pelarianmu yang memalukan itu?"

​"Jika saya membiarkan kecelakaan itu ditangani oleh polisi lokal Bali atau serikat pekerja rendahan tanpa pengawasan langsung dari level direksi, Nona Kanaya akan bertransformasi menjadi senjata hukum yang paling mematikan bagi reputasi Grand Azure," lanjut Juna, nada suaranya seolah sedang membahas cara efisien untuk menyingkirkan wabah hama tikus di lumbung padi. "Dia bisa menuntut perusahaan kita atas dasar kelalaian industrial yang mengancam nyawa. Dia bisa membocorkan rahasia kelemahan struktur bangunan kita ke media. Skandal konstruksi itu akan membuat nilai saham konsorsium kita anjlok hingga lima puluh persen sebelum akhir bulan depan."

​Juna bersandar di kursi mewahnya, memasang senyum sinis yang sangat tipis di sudut bibirnya—sebuah ekspresi yang secara genetik sangat identik dengan ekspresi tiran milik ayahnya. "Saya terbang ke Bali bukan untuk menyelamatkannya karena sentimentalitas murahan, Ayah. Aline, tolong jangan menghina standar intelektual seleraku. Saya terbang ke sana secara eksklusif untuk memastikan bahwa gadis itu tutup mulut rapat-rapat."

​Juna mencondongkan tubuhnya ke depan, memainkan kancing lengan jasnya. "Saya mengisolasinya di ruang VVIP untuk memblokir aksesnya dari pihak jurnalis luar, dan saya telah memaksanya menandatangani Non-Disclosure Agreement yang mengikatnya secara hukum perdata dan pidana agar dia tidak bisa menuntut Dirgantara Group sepeser pun. Saya sedang mematikan sebuah bom waktu sebelum ia meledakkan proyek triliunan kita."

​Juna mengusap debu fiktif dari lengan jasnya dengan gerakan yang memancarkan arogansi tingkat tinggi. "Jika Tuan Wijaya dan Aline menganggap tindakan mitigasi risiko skala besar ini sebagai sebuah penghinaan pribadi, maka silakan batalkan pertunangan ini sekarang juga. Tapi saya ingatkan, jika kerja sama ini batal, saya akan memastikan proyek pelabuhan laut dalam yang kalian idam-idamkan di utara akan saya cabut investasinya secara sepihak besok pagi."

​Keheningan yang mematikan dan mencekik jatuh di dalam penthouse tersebut. Tuan Wijaya terdiam seribu bahasa, jakunnya naik turun menimbang-nimbang antara harga diri putrinya dan kerugian bisnis yang masif. Aline menatap Juna dengan perpaduan emosi antara ketakutan, rasa tidak percaya, dan kekaguman yang aneh; ia sangat membenci arogansi pria itu yang merendahkannya, namun ia harus mengakui secara naluriah bahwa Arjuna Dirgantara adalah pria alfa paling berkuasa dan berbahaya di ruangan ini.

​Sang Chairman menatap Juna dalam-dalam untuk waktu yang cukup lama. Di balik mata tuanya yang penuh dengan perhitungan algoritma bisnis, ia mencari retakan kebohongan atau sisa-sisa empati pada diri putranya. Namun ia tidak menemukan apa-apa. Juna telah berhasil mematikan setiap mikro-ekspresi kasih sayangnya pada Naya. Putranya kini tampak seperti monster yang sempurna—monster kejam yang selalu ia cita-citakan.

​Pria tua itu akhirnya menyandarkan punggungnya dan tertawa kecil, memecah ketegangan dengan suara tawa yang serak dan penuh kepuasan yang kejam.

​"Sangat pragmatis, Arjuna. Sangat brilian," ucap Sang Chairman sambil mengetukkan tongkatnya perlahan sebagai bentuk apresiasi kecil. "Tindakan yang cepat, efisien, brutal, dan tanpa melibatkan perasaan. Mengurung korban untuk menekan potensi gugatan hukum adalah langkah yang jenius. Kau benar-benar sudah belajar bagaimana cara memprioritaskan kelangsungan imperium di atas segalanya."

​Sang Chairman menoleh ke arah Tuan Wijaya. "Saya rasa penjelasan taktis putra saya sudah cukup rasional untuk diterima, Tuan Wijaya. Arjuna telah bertindak layaknya seorang pemimpin masa depan yang melindungi aset likuiditas bersama kita. Mengenai konferensi pers yang tertunda karena masalah operasional ini, kita akan menjadwal ulangnya minggu depan dengan skala yang jauh lebih megah. Apakah kita masih memiliki kesepakatan?"

​Tuan Wijaya menelan ludah, melirik putrinya sejenak untuk meminta persetujuan diam-diam, sebelum akhirnya mengangguk kaku. "Tentu, Chairman Dirgantara. Bisnis adalah bisnis. Tidak ada perasaan pribadi. Kesalahpahaman teknis ini sudah diselesaikan."

​Juna tersenyum tipis, sebuah senyum yang sama sekali tidak pernah mencapai matanya yang sedingin jurang kematian. Di dalam rongga dadanya yang kini terasa berlubang dan hampa udara, ia menyadari bahwa ia baru saja memenangkan pertarungan babak pertamanya. Ia telah berhasil meyakinkan sang tiran tua bahwa Kanaya Larasati hanyalah sebuah alat produksi rusak yang tidak berharga baginya. Ia telah berhasil menghilangkan target merah dari punggung wanita yang paling ia cintai.

​Namun, kemenangan epik ini datang dengan bayaran yang paling mahal di dunia: Juna baru saja membunuh sisi manusiawinya sendiri.

​'Aku akan terus bermain dalam lakon iblis ini demi dirimu, Kanaya,' batin Juna, menatap keluar jendela kaca penthouse ke arah langit Jakarta yang terik dan berpolusi, namun separuh hatinya tertinggal di bawah guyuran hujan Bali. 'Aku akan merobohkan singgasana pria tua ini bata demi bata, dari dalam ruangan ini. Kau yang memintaku menjadi kaisar yang absolut agar bisa mengubah aturan. Maka perhatikanlah... aku akan memberikanmu sebuah kerajaan yang hancur berantakan di bawah kakimu sebagai hadiah, saat aku kembali padamu nanti.'

​[KILAS BALIK ]

​Kamera bergerak dengan sangat lambat dan sunyi, menyusuri sebuah ruang kerja yang luas namun bernuansa suram. Dindingnya dilapisi rak buku mahoni gelap bergaya klasik Victoria di sebuah rumah mewah kawasan Menteng. Cahaya dari lampu gantung kristal hanya menyorot ke arah sebuah meja bundar kecil di tengah ruangan, tempat sebuah papan catur berbahan marmer putih dan onyx hitam digelar dengan sempurna.

​Tujuh belas tahun yang lalu.

​Arjuna Dirgantara, yang saat itu masih berusia sebelas tahun dengan rambut hitamnya yang tersisir rapi, sedang duduk berhadapan dengan ayahnya, Sang Chairman. Mereka sedang bermain catur di keheningan malam. Wajah Juna kecil terlihat sangat tegang dan fokus penuh keringat dingin, mencoba mengkalkulasi setiap langkah untuk melindungi bidak-bidak kesayangannya dari gempuran serangan.

​Juna kecil dengan ragu memajukan bidak Kuda-nya, sebuah manuver pertahanan yang jelas untuk melindungi bidak Ratu putih miliknya yang sedang diancam dari dua arah oleh dua bidak Benteng hitam milik ayahnya.

​Sang Ayah tersenyum meremehkan, seolah sedang melihat lelucon yang menyedihkan. Dengan satu gerakan tangan yang cepat, efisien, dan mematikan, ia menggeser bidak Menterinya dan dengan kejam memakan bidak Ratu putih milik Juna.

​Juna kecil terbelalak lebar, napasnya tertahan di tenggorokan. "Ayah... Ratu saya..."

​"Kau kalah telak, Arjuna," ucap ayahnya dengan suara bariton yang sangat dingin, menyandarkan tubuhnya ke kursi berlengan tinggi. "Kau tahu apa kesalahan paling fatal yang kau buat dalam permainan ini?"

​Juna kecil menggeleng pelan, matanya mulai berkaca-kaca menatap papan catur dengan sedih.

​"Kau terlalu sibuk mencoba melindungi bidak Ratu-mu, karena kau menganggapnya sebagai bidak yang paling berharga secara emosional," jelas sang ayah. Pria itu mengangkat bidak Ratu putih milik Juna, memutar-mutarnya di udara seperti barang murahan, sebelum akhirnya menjatuhkannya ke lantai karpet dengan rasa tidak hormat yang luar biasa.

​"Saat kau menunjukkan pada musuhmu bahwa kau sangat melindungi sesuatu, kau baru saja memberitahu mereka secara sukarela apa titik kelemahanmu," lanjut Sang Chairman, mencondongkan wajahnya ke depan, menatap Juna kecil dengan mata yang tajam seperti pedang algojo. "Lawanmu tidak perlu repot-repot menyerang Rajamu. Mereka hanya perlu menjebak Ratumu, dan konsentrasi serta mentalmu akan hancur dengan sendirinya."

​Sang ayah menunjuk ke arah papan catur. "Jika kau ingin menang dalam catur—dan dalam kehidupan nyata di dunia bisnis—kau harus memiliki keberanian dan kekejaman untuk mengorbankan Ratumu. Kau harus menggunakan bidak yang paling kau hargai itu sebagai umpan. Biarkan lawanmu berpikir bahwa kau sama sekali tidak peduli padanya. Biarkan mereka memakannya. Dan saat mereka sedang sibuk merayakan kemenangan bodoh mereka atas Ratumu... saat itulah kau menggerakkan bidak Rajamu dan menyembelih mereka dari belakang."

​Kamera melakukan close-up ekstrim pada wajah Juna kecil yang menatap papan catur yang hancur. Ia menelan ludah, perlahan-lahan menyerap pelajaran paling psikopat dari ayahnya: bahwa untuk mencapai kemenangan mutlak dan melindungi kerajaannya, ia harus berani mengorbankan orang yang paling ia cintai sebagai pion dalam permainannya sendiri.

​Kamera secara sinematik beralih (fade out), kembali berganti ke masa kini. Wajah Arjuna Dirgantara yang telah dewasa, keras, dan dingin di ruang rapat penthouse Jakarta, menatap ayahnya dengan senyum palsu yang sempurna. Sang Kaisar baru saja mengaplikasikan pelajaran catur mematikan itu di dunia nyata; ia baru saja menjadikan Naya—Sang Ratunya—sebagai umpan yang seolah tidak berharga di mata musuhnya, bersiap dengan penuh kesabaran untuk mengakhiri permainan dengan skakmat yang paling berdarah dalam sejarah keluarga konglomerat Dirgantara.

1
Arif Ansori
bagus banget loh ceritanya, kok bisa sepi sih. semangat ya thor 💪😍
Misterios_Man: lah gatau... saya juga bingung kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!