NovelToon NovelToon
Operasi Sandi Kala

Operasi Sandi Kala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Tentara / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

Kopi, Kabel Proyektor, dan Sebuah Bencana Bernama Lyra.

Hujan badai yang menghantam kaca jendela Markas Komando Pasukan Khusus malam itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan badai es di dalam Ruang Taklimat Utama (ruangan khusus yang difungsikan untuk pertemuan formal).

Udara di dalam ruangan itu terasa tegang dan steril. Di ujung meja oval, Kolonel Rayyan Aksara berdiri tegak. Postur tubuhnya adalah definisi mutlak dari presisi militer—bahu tegap, seragam taktis hitam yang melekat tanpa satu pun lipatan yang salah, dan sepasang sepatu bot kulit hitam yang disemir hingga mengkilap nyaris seperti cermin. Tidak ada setitik debu pun yang berani menempel pada pria itu.

Rayyan menatap tajam ke arah layar proyektor yang menampilkan citra satelit buram sebuah wilayah di jantung hutan hujan. Matanya yang sewarna batu obsidian menelusuri detail peta dengan kalkulasi dingin.

“Tiga puluh anggota sindikat bersenjata berat menjaga perimeter,” suara bariton Rayyan memecah kesunyian. Rendah, datar, tanpa intonasi keraguan. “Target berada di bawah reruntuhan kuil ini. Intelijen menduga menduga ada senjata biologis rahasia peninggalan era kolonial yang dikurung di dalam bunker kuno. Misi kita: infiltrasi, eliminasi target, amankan perimeter, dan netralkan bunker sebelum fajar.”

Satuan peleton elit yang duduk mengelilingi meja mengangguk serempak. Mereka tahu rekam jejak Kolonel Rayyan. Pria itu tidak pernah gagal. Baginya, variabel yang tidak bisa dikendalikan di lapangan adalah sebuah dosa.

“Namun, ada sedikit perubahan rencana, Kolonel,” sebuah suara berat menyela dari kursi sudut. Jenderal Haris, panglima tertinggi operasi ini, melipat tangannya. “Sandi di pintu bunker itu bukan brankas baja modern. Itu mekanisme jam pasir kuno dan sistem hidrolik batu. Kau meledakkannya, seluruh gua akan runtuh mengubur kalian dan melepaskan racunnya ke udara.”

Rahang Rayyan mengeras, sebuah tanda ketidakpuasan yang sangat jarang ia perlihatkan. “Kirimkan teknisi penjinak bom terbaik kita.”

“Bom bukan masalahnya, Rayyan. Sejarahnya yang menjadi masalah,” Jenderal Haris membalas tegas. “Kau membutuhkan seorang ahli epigrafi (spesialis yang meneliti, membaca, dan menafsirkan prasasti atau tulisan kuno) dan arsitektur kuno untuk membaca relief yang menjadi kunci pintu tersebut. Dan Badan Intelijen sudah mengirimkan konsultan terbaik mereka.”

Tepat saat kalimat Jenderal Haris berakhir, pintu baja Ruang Taklimat yang berat berderit terbuka.

Alih-alih langkah kaki yang tegap dan disiplin, yang terdengar adalah suara kertas gemeresik yang panik, bunyi benda tumpul yang membentur kusen, dan helaan napas yang putus asa.

Semua kepala di ruangan itu menoleh.

Di ambang pintu, berdirilah seorang wanita muda yang tampak seperti baru saja diterbangkan oleh puting beliung. Dr. Lyra Andini berusaha menyeimbangkan tiga tabung peta cetak biru di ketiak kirinya, memeluk sebuah buku ensiklopedia tebal yang tampak lebih berat dari tubuhnya di dada, sementara tangan kanannya dengan putus asa memegang segelas kopi susu hangat dari kantin bawah.

Rambutnya diikat asal-asalan ke atas, dijepit menggunakan sebatang pensil 2B. Kacamata bulatnya melorot ke ujung hidung. Ia tampak sangat mungil, nyaris tenggelam di dalam ruangan yang dipenuhi oleh tentara-tentara berotot dengan wajah garang.

“Ma—maaf saya terlambat!” Lyra mencicit. Suaranya terdengar terlalu melengking di ruangan yang biasanya hanya diisi oleh suara berat laki-laki. “Lift di sayap timur macet, lalu saya salah masuk koridor, dan—oh, astaga, ini berat sekali.”

Rayyan menatap wanita itu tanpa berkedip. Wajahnya sedingin bongkahan es. Ini konsultannya? Pikir Rayyan. Gadis ini bahkan tidak terlihat bisa mengikat tali sepatunya sendiri dalam keadaan darurat.

“Silahkan masuk, Dr. Lyra. Bergabunglah ke depan,” ucap Jenderal Haris sambil tersenyum tipis, tampak geli melihat wajah terkejut anak buahnya.

Lyra mengangguk cepat. Ia mencoba membetulkan letak kacamatanya dengan bahu, lalu melangkah maju menuju meja proyektor tempat Rayyan berdiri. Matanya terlalu sibuk menatap layar proyektor hingga ia sama sekali tidak memperhatikan lantai di bawahnya.

Rayyan sudah membuka mulut, hendak memperingatkan wanita itu tentang kabel daya proyektor setebal ibu jari yang melintang di lantai, tetapi terlambat.

Ujung sepatu kets Lyra tersangkut kabel tersebut.

Waktu seolah melambat bagi seluruh pasukan elit di ruangan itu. Mereka menyaksikan dengan napas tertahan saat tubuh mungil Lyra terhuyung ke depan. Buku tebalnya terlempar di udara, tabung-tabung peta berhamburan ke lantai dengan suara bergemuruh, dan yang paling mengerikan… gelas kopi di tangan Lyra melayang bebas dari genggamannya.

Byur!

Lyra jatuh berdebum ke lantai dengan lutut terlebih dahulu. Namun, bukan suara jatuhnya yang membuat seisi ruangan mendadak hening seperti kuburan.

Mata Lyra membelalak di balik kacamata yang kini miring di wajahnya. Perlahan, ia mendongak.

Tepat di hadapannya, berdiri Kolonel Rayyan Aksara. Seragam taktisnya memang hitam, sehingga noda tidak terlalu terlihat, tetapi celana bagian bawahnya basah. Dan yang lebih parah, sepatu bot kulitnya yang tadi mengkilap bak cermin, kini tergenang oleh campuran kopi kental, susu, dan gula aren. Tetesan cokelat gelap mengalir perlahan dari ujung sepatu itu ke lantai marmer.

Keheningan yang mencekam menyelimuti Ruangan Taklimat. Beberapa prajurit di meja tampak membuang muka, tidak berani melihat kemarahan sang “Mesin Pembunuh”.

Rayyan tidak bergerak. Ia tidak mengumpat. Ia hanya menunduk, menatap sepatu botnya selama lima detik penuh, sebelum memindahkan tatapan obsidiannya yang membeku ke arah gadis yang kini berlutut di bawahnya.

“Ma… maaf,” bisik Lyra, suaranya bergetar hebat. Wajahnya pucat pasi. Ia buru-buru menarik lengan bajunya yang kebesaran, berniat secara refleks mengelap sepatu Rayyan. “Saya tidak sengaja, saya bisa—“

“Jangan. Sentuh. Sepatu saya.”

Suara Rayyan sangat pelan, sangat tenang, namun memiliki ketajaman setara pisau bedah. Lyra langsung menarik tangannya seolah baru saja tersengat listrik.

Rayyan menegakkan punggungnya, menatap luruh ke arah Jenderal Haris tanpa memedulikan gadis yang masih bersimpuh di dekat kakinya. Udara di sekitarnya terasa turun beberapa derajat.

“Jenderal,” ucap Rayyan dengan nada mematikan. “Jika Anda memaksa saya membawa bencana berjalan ini ke zona perang, saya pastikan dia tidak akan kembali karena jebakan musuh, melainkan karena saya sendiri yang akan meninggalkannya di tengah hutan.”

Di lantai, Lyra menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdebar kencang antara rasa takut dan rasa malu yang luar biasa.

Misi mematikan di pedalaman hutan belantara pun belum di mulai, tetapi Lyra sudah tahu satu hal dengan pasti: laki-laki bertubuh tegap dihadapannya ini jauh lebih menakutkan daripada teroris bersenjata mana pun.

1
nur atika
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
nur atika
🥰🥰🥰up trus ya thorr mangattttt
nur atika
🥰🥰🥰
NP: 🥰🥰🥰🥰😍
total 1 replies
nur atika
lanjut author
NP: Inshaallah makasih semangatnya 🥰
total 1 replies
Lutfiah Tunnissa
kerenn Thor
NP: Makasih ya kak, ikuti terus ceritanya ya🥰
total 1 replies
nur atika
😍😍😍
nur atika
🤭🤭🤭🤭🤭
𝗝𝗔𝗧𝗜ᴾᵁᵀᴿᴼ
debar2 cinta
NP
Mas Rayyan, melindungi Lyra banget😍
Akbar Aulia
lyra kamu sangat beruntung dilindungi mas rayan
Akbar Aulia
beruntung lyra kamu direkrut jadi tim alpha,
Akbar Aulia
mungil mungil si cabe rawit tapi pedas rasanya,awas mas Rayyan nanti kamu tersepona
Akbar Aulia
aih...sepatu kesayangan mas Rayyan kena kopi,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!