NovelToon NovelToon
MEMBURU ATAU DIBURU

MEMBURU ATAU DIBURU

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Zombie
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Pemandangan mengerikan di langit itu langsung membangunkan seluruh indra Budi.

Tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya, jika ia ingin tetap hidup, ia harus segera meninggalkan tempat ini.

Dengan cepat ia memutar kemudi, menginjak gas dalam-dalam, dan membalikkan arah mobil. Jeep Pajero mengeluarkan asap hitam pekat dari knalpotnya dan melaju kencang di jalan raya.

Budi menoleh ke belakang. Wajah raksasa hijau itu tampak semakin besar. Kecepatannya luar biasa. Meskipun Budi mengemudi secepat mungkin, ia tetap tidak bisa menjauh dari bayangan mengerikan itu.

Dalam kepanikan, ia melirik ke kiri dan kanan, lalu membelokkan mobilnya menuju sebuah gedung pemerintahan di dekat sana.

Petugas keamanan di sana sudah bersembunyi di dalam gedung. Gerbang listrik ditutup rapat, tapi Budi tidak sempat lagi mengerem.

“Bang!”

Dengan suara keras, gerbang listrik itu hancur berantakan.

Jeep Pajero meluncur masuk dan berhenti mendadak tepat di depan gedung pendaftaran.

Budi tidak punya waktu untuk mengurus barang-barang di bagasi. Ia hanya menyambar pisau panjangnya dan melompat keluar dari mobil.

Pintu kaca gedung pendaftaran sudah dikunci dari dalam. Sekitar dua puluh orang pekerja menyaksikan kejadian di luar dengan wajah panik dari dalam lobi. Begitu melihat seseorang berlari mendekat, mereka langsung waspada.

Salah seorang pekerja tiba-tiba berseri-seri. Ia berbicara cepat dengan petugas keamanan, dan pintu pun dibuka.

Budi merasa lega dan segera masuk ke dalam lobi.

“Mas Budi, kamu kok ada di sini?” tanya seorang wanita muda berpakaian kantor abu-abu muda dengan suara tak percaya.

Budi sedikit terkejut. Ia berbalik dan berkata, “Mbak Jeni? Bukannya Mbak dulu polisi di kantor polisi daerah? Kok sekarang kerja di sini?”

Wanita itu adalah Jeni. Mereka pernah bertemu saat menangani kasus Joko dulu. Setelah itu, mereka tidak pernah berhubungan lagi.

“Keluarga menentang saya jadi polisi. Lagipula, insiden pelarian waktu itu entah bagaimana merusak karier saya, jadi saya memilih berhenti,” Jeni tertawa kecil mengejek dirinya sendiri. “Tapi di sini juga sepi. Hampir tidak ada yang mendaftar sekarang. Mungkin sebentar lagi saya akan dipindah ke bagian lain.”

Meski Jeni berbicara dengan nada acuh tak acuh, Budi tahu bahwa tanpa latar belakang keluarga yang kuat, sulit baginya untuk dipindahkan begitu saja.

“Kalian berdua ternyata teman lama yang baru bertemu lagi. Tapi, Mas, kamu baru masuk dari luar. Tahukah kamu apa itu wajah di langit tadi?” tanya seorang pria paruh baya berperut buncit yang tampak seperti pimpinan, dengan wajah cemas.

“Mas Budi, ini Pak Sandi,” Jeni memperkenalkan.

“Nanti saja ceritanya!” potong Budi cepat. Ia merasakan suara dengungan di luar semakin keras.

Wajah Sandi langsung berubah masam.

Budi berjalan mendekati pintu kaca, meletakkan telapak tangannya di permukaan, dan merasakan getaran yang menjalar. Pintu kaca itu bergetar hebat dalam frekuensi tinggi. Situasinya lebih buruk dari yang ia duga.

Ia menoleh ke Jeni dan berkata tegas, “Tempat ini tidak aman. Pintu kaca ini sebentar lagi akan pecah.”

“Mas, jangan bercanda. Ini pintu kaca antipeluru, mana bisa pecah begitu saja?” sela Pak Sandi dengan nada tidak percaya.

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, seekor serangga hijau besar mendarat seperti kilat di tangga depan gedung.

Pak Sandi ketakutan dan mundur selangkah.

Serangga itu berbentuk seperti pesawat ulang-alik, tubuhnya ditutupi kerangka luar yang mengkilap. Kedua pasang kaki belakangnya memiliki ujung tajam seperti empat bilah tipis dan runcing, sementara semua sambungan kaki depannya ditarik ke dalam dada. Dari sudut pandang Budi, kaki depan itu terlihat jauh lebih berbahaya.

Serangga sepanjang hampir satu meter itu terlihat indah seperti ciptaan Tuhan. Namun Budi tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya jika makhluk itu bergerak cepat.

Tak lama kemudian, semakin banyak serangga serupa mendarat di tangga. Dalam sekejap, seluruh area depan gedung dipenuhi oleh kawanan serangga hijau.

Dengungan di luar semakin keras. Getaran pada pintu kaca semakin hebat hingga seluruh permukaan kaca mulai berdenting. Tiba-tiba, retakan kecil berwarna putih muncul, lalu semakin banyak garis retak menyebar seperti jaring laba-laba.

“Ahhh! Tolong!”

“Lari!”

Orang-orang di lobi panik. Ruangan langsung kacau balau saat semua orang berusaha melarikan diri ke segala arah.

“Bantu saya, Mas Budi!” teriak Jeni panik.

“Ikuti saya!” bentak Budi keras. Ia tidak berani menarik tangan Jeni karena sudah belajar dari pengalaman sebelumnya hampir terseret mati.

Jeni segera menyusul. Selain dia, Sandi dan lima orang lainnya ikut berlari di belakang.

“Ada ruangan tertutup rapat di sini?” teriak Budi sambil berlari.

“Saya tidak tahu,” jawab Jeni gelisah. Ia baru mulai kerja di sini dan belum terlalu mengenal gedung ini. Lagipula, dalam keadaan ketakutan seperti ini, mana sempat ia mengingat detail?

“Lantai empat! Ada ruang pertemuan kecil di lantai empat!” jawab seorang gadis cantik di antara mereka.

Ketika Sandi melihat Budi berlari menuju pintu tangga, ia langsung mengingatkan, “Kenapa tidak naik lift saja? Di sini listriknya menyala terus.”

“Kita tidak bisa ambil risiko. Terlalu banyak ketidakpastian kalau naik lift. Lagipula, banyak orang pasti akan berebut masuk lift, pintunya bisa tidak tertutup!” jelas Budi cepat.

Sandi mengangguk setuju. Kalau banyak orang memaksa masuk ke dua lift sekaligus, itu justru akan menjadi masalah baru.

Tiba-tiba terdengar suara kaca pecah keras diikuti tembakan senjata dan teriakan mengerikan.

Budi tegang. Ia berlari menuju tangga dan hanya dalam beberapa langkah sudah mencapai lantai satu. Ia sengaja memperlambat langkahnya, kalau tidak, yang lain pasti tidak bisa mengikutinya.

Teriakan mengerikan dan permohonan tolong dari luar semakin memaksa mereka berlari lebih cepat menuju lantai empat.

Sandi sudah terengah-engah. Tubuhnya yang biasa minum alkohol sudah melemah. Biasanya ia sesak napas hanya karena berjalan sebentar, apalagi sekarang harus menaiki tangga. Begitu sampai lantai dua, ia sudah tertinggal jauh.

“Pak Sandi, biar saya bantu,” kata seorang pemuda yang melihat ke belakang, lalu berhenti untuk membantu.

“Bagus, bagus! Heru, kamu baik sekali. Syukurlah saya tidak salah menilai kamu,” kata Sandi terengah-engah sambil menepuk bahu pemuda itu.

Heru tersenyum senang mendapat pujian dan segera menarik Sandi naik tangga.

Tiba-tiba, jendela di lantai tiga hancur berkeping-keping. Pecahan kaca beterbangan seperti hujan deras di tangga.

Sandi tanpa sengaja menginjak pecahan kaca yang meluncur, tubuhnya oleng, dan ia terjatuh. Sesaat kemudian, ia meloncat seperti tersengat listrik karena pantatnya tertusuk pecahan kaca yang tajam hingga berdarah.

“Pak Sandi, Bapak tidak apa-apa?” tanya Heru sambil menahan tawa.

Pak Sandi melambaikan tangan dengan wajah kesakitan. “Kenapa jendela ini pecah tepat sekarang? Tolong, bantu saya keluarkan pecahan kacanya dulu. Aduh, sakit sekali.”

Heru mencabut beberapa pecahan besar sambil Sandi berteriak kesakitan. Kemudian Heru berkata, “Pak Sandi, kita lari dulu saja. Sisanya nanti kita urus.”

Heru melirik jendela yang rusak dengan cemas, takut serangga itu masuk kapan saja. Begitu selesai bicara, ia khawatir Sandi tersinggung dan buru-buru menambahkan, “Karena kita tidak punya obat sekarang, mungkin tidak bisa membersihkan semuanya.”

“Baiklah!” Sandi tahu ini bukan saat yang tepat. Melihat yang lain sudah jauh di depan, ia menjadi gelisah. “Ayo lebih cepat!”

Namun, tak satu pun dari mereka menyadari bahwa seekor kumbang raksasa telah diam-diam masuk melalui jendela yang pecah dan dengan cepat mendarat di lantai tangga di belakang mereka.

1
Jack Strom
Lanjut... 😁
Jack Strom
Lanjuuut... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Lanjut.. 😁
Jack Strom
Lanjut... 😁
Jack Strom
Mantap... Lanjut lagi!!! 😁
Jack Strom
Mantap... Lanjuuut!!! 😁
Jack Strom
Waktunya berburu... 😁
Jack Strom
Asah terus skillnya sambil bertahan hidup... 😁
Jack Strom
Asem... Kirain tadi yang namanya Jali itu manusia, eh ternyata seekor anjing... hahaha 😁
Jack Strom
Cih... Pura² jual mahal... 😁
Jack Strom
Eh... Blong??? 😁
Jack Strom
Hah??? 😁
Jack Strom
Bertahan... 😁
Jack Strom
Wow... Seram 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Chaos!!! 😁
Jack Strom
Lanjuuut... 😁
Jack Strom
Masih hmmm 🤔
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!