"Kamu menyebut slide kelima ini sebagai sebuah mahakarya, Naura?"
Suara bariton itu tidak keras. Namun, nadanya sanggup membuat pendingin ruangan di ruang rapat lantai lima Gedung Mahardika Group terasa beralih fungsi menjadi pembeku daging.
Arkan Mahendra mengetuk-ngetukkan pena Montblanc-nya ke atas meja marmer. Ketukan berirama konstan yang terdengar seperti hitungan mundur bom waktu bagi telingaku. Mata elangnya menatap lurus ke arah proyektor, sama sekali tidak sudi melirik ke arahku yang sudah berdiri selama empat puluh lima menit dengan tumit stiletto tujuh sentimeter.
"Tiga minggu, Pak Arkan. Saya dan tim melakukan riset pasar secara mendalam untuk kampanye produk ini—"
"Riset pasar atau menyalin tren murahan dari media sosial?" Arkan memotong cepat, dingin, tanpa riak. Jari telunjuknya yang kokoh terangkat, menunjuk layar besar di belakangku. "Target audiens kita adalah kelas A+. Konsumen yang membeli estetika, gengsi, dan eksklusivitas. Desain warna fuchsia bertabrakan dengan font neon ini? Ini bukan kampanye iklan mobil mewah. Ini pasar malam."
Gigi gerahamku bergemeletuk. Kuku-kuku jariku tertanam kuat di telapak tangan, meninggalkan bekas bulan sabit yang memutih demi menahan gejolak di dada. Di sebelah kananku, Riko—rekan satu timku—menunduk begitu dalam sampai dahinya hampir menyentuh permukaan meja. Pengecut. Dia yang bersikeras memasukkan warna fuchsia itu dalam rapat internal minggu lalu, tetapi sekarang mendadak menjelma menjadi pajangan meja yang bisu.
"Kita butuh sesuatu yang mencolok untuk menarik perhatian generasi muda, Pak," ujarku, mencoba mempertahankan sisa-sisa profesionalisme yang mulai terkikis habis. "Konsep *disruptive marketing* ini—"
"Saya tidak membayar mahal seorang Senior Copywriter hanya untuk mendapatkan konsep sekadar 'yang penting mencolok'." Arkan menyandarkan punggung tegapnya ke kursi kulit premium. Kemeja hitamnya yang terpasang sempurna tanpa cela sedikit pun seolah menegaskan bahwa pria ini memang tidak punya ruang untuk sebuah kesalahan. "Kamu tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini, Naura. Desain ini sampah. Dan jujur, saya mempertanyakan bagaimana kamu bisa lolos proses seleksi tiga tahun lalu."
Kata *tidak kompeten* dan *sampah* menghantam ulu hatiku, memicu sengatan panas yang langsung naik ke kepala.
Selama tiga tahun, aku bertahan di bawah kepemimpinannya. Aku menahan makian saat dia menelepon jam dua pagi hanya untuk mempermasalahkan satu tanda koma yang kurang estetis di takarir draf iklan. Aku menahan diri saat dia merobek proposal kerja keras timku tepat di depan wajah kami. Namun malam ini, di depan seluruh jajaran direksi yang menatapku dengan campuran rasa kasihan dan syok, bendungan kesabaranku jebol total.
Aku melangkah maju dua kali. Kupastikan hak sepatuku berbunyi nyaring di atas lantai granit, memecah keheningan ruang rapat yang mencekam.
"Cukup, Pak Arkan Mahendra yang terhormat." Aku melipat tangan di depan dada, membalas tatapan matanya yang sedingin es kutub. "Anda boleh mengkritik konsep saya, tetapi Anda tidak punya hak untuk menghina kompetensi saya secara personal."
Satu ruangan mendadak menahan napas. Direktur Pemasaran di ujung meja bahkan sampai menjatuhkan pulpennya hingga menggelinding ke lantai.
Arkan menaikkan sebelah alis tebalnya. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk seringai meremehkan yang membuat darahku makin mendidih. "Oh, jadi sekarang kamu punya nyali untuk mendikte saya?"
"Saya tidak mendikte. Saya hanya menyatakan fakta," ujarku dengan suara yang diusahakan tetap stabil walau dadaku bergemuruh hebat. "Faktanya, Anda adalah manusia paling menyebalkan yang pernah saya temui di planet ini. Anda perfeksionis yang sakit jiwa. Anda tidak punya hati, tidak punya empati, dan tahu apa? Dengan sifat Anda yang serupa robot rusak begini, Anda pasti akan mati sendirian tanpa ada satu orang pun yang sudi datang melayat!"
"Naura!" Riko berbisik panik, menarik ujung blender blusku. Aku mengibaskannya kasar.
Aku melepas tali ID card Mahardika Group dari leherku dengan satu sentakan tajam. Benda plastik itu mendarat dengan bunyi keras tepat di depan tumpukan dokumen dokumen Arkan.
"Mulai detik ini, saya mengundurkan diri. Silakan cari copywriter robot lain yang mau diperbudak oleh iblis seperti Anda."
Aku berbalik, menyambar tas kerja di atas kursi, dan melangkah lebar meninggalkan ruang rapat. Pintu kaca tebal itu kubanting hingga bergetar hebat, menimbulkan gema yang memuaskan di sepanjang koridor.
Udara malam Jakarta menyergap begitu aku keluar dari lobi gedung. Angin berembus kencang, menerbangkan beberapa helai rambutku yang terlepas dari jepitan. Adrenalin yang tadi membubung tinggi mendadak surut drastis, menyisakan kenyataan pahit yang perlahan merayap naik ke permukaan otak.
Cicilan KPR rumah di Tebet yang masih tersisa dua belas tahun lagi. Tagihan kartu kredit bulan ini. Biaya obat Ibu yang tidak murah.
"Bodoh, Naura! Mulutmu benar-benar tidak punya saringan!" aku memaki diri sendiri di dalam taksi daring yang membawaku pulang. Aku menyandarkan dahi ke kaca jendela yang dingin. Namun, di sela-sela kepanikan finansial yang mulai membayangi, ada rasa lega yang luar biasa. Beban tak kasat mata di pundakku selama tiga tahun ini menguap. Aku bebas dari cengkeraman bos iblis itu.
Kebebasan itu bertahan tepat tujuh hari.
Selama seminggu, kegiatanku beralih menjadi pengirim CV masal ke puluhan agensi iklan di Jakarta, memasak untuk Ibu, dan berpura-pura bahwa hidupku sedang sangat baik-baik saja. Aku sengaja belum memberi tahu Ibu kalau aku sudah menjadi pengangguran sukses. Jantung Ibu terlalu rapuh untuk menerima kejutan sedramatis itu.
"Naura, pakai baju yang rapi. Malam ini kita ada janji makan malam keluarga," suara Ibu terdengar dari balik pintu kamar sore itu, membuyarkan fokusku yang sedang menatap layar laptop.
Aku membuka pintu kamar, mendapati Ibu sudah rapi dengan kebaya modern berwarna salem. Wajahnya yang pucat tampak dipoles riasan tipis, tetapi binar di matanya tidak bisa berbohong. Ada kebahagiaan yang jarang kulihat sejak Ayah meninggal dua tahun lalu.
"Makan malam keluarga? Sama siapa, Bu? Kan keluarga kita cuma tinggal kita berdua," tanyaku sambil merapikan kaus rumahan yang sudah melar di bagian leher.
Ibu tersenyum misterius, lalu menepuk pipiku lembut. "Sahabat lama almarhum Ayahmu. Mereka baru kembali dari luar negeri minggu lalu dan ingin menyambung silaturahmi. Sekaligus... ada hal penting yang mau dibicarakan."
"Hal penting apa?" Firasatku mendadak tidak enak. Sesuatu yang dingin merayap di tengkukku.
"Sudah, jangan banyak tanya. Cepat mandi. Pakai gaun warna navy yang Ibu belikan bulan lalu. Jangan membuat Ibu malu di depan mereka." Ibu batuk kecil, tangannya menekan dada kirinya sejenak. Efek penyumbatan katup jantungnya makin sering kambuh belakangan ini, membuat kulitnya terlihat makin transparan di bawah lampu kamar.
Rasa cemas langsung mengalahkan rasa penasaranku. "Ibu tidak apa-apa? Obatnya sudah diminum, kan?"
"Sudah. Ibu bakal sembuh total kalau kamu penurut malam ini," bisik Ibu dengan nada setengah mengancam, namun matanya memancarkan permohonan yang teramat sangat.
Aku tidak punya pilihan lain selain mengangguk. Demi segenap senyum Ibu sebelum jadwal operasi besarnya bulan depan, aku rela memakai gaun paling tidak nyaman di dunia sekalipun.
Restoran privat di hotel bintang lima kawasan Jakarta Pusat itu bernuansa klasik Eropa yang kaku. Lantainya dilapisi karpet tebal yang meredam setiap langkah kaki, menciptakan atmosfer yang terlalu formal hingga membuatku makin gugup. Pelayan bersetelan jas membimbing aku dan Ibu menuju sebuah ruangan VIP di sudut paling ujung bangunan.
Di dalam ruangan, sepasang suami istri paruh baya berpenampilan elegan sudah menunggu di meja bundar besar. Pria itu, yang berwajah tegas namun memiliki gurat ramah di matanya, langsung berdiri saat melihat kedatangan kami.
"Danastri!" sapanya hangat pada Ibuku. "Sudah lama sekali tidak berjumpa."
"Surya... Amelia..." Ibuku membalas pelukan wanita paruh baya yang tampak anggun dengan untaian mutiara yang melingkar di lehernya.
Aku berdiri agak canggung di belakang Ibu, meremas tali tas tangan kecilku sambil memaksakan senyum terbaik yang kupunya.
"Ini Naura?" Tante Amelia menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Matanya berbinar tulus, tanpa ada kesan menghakimi. "Cantik sekali. Persis seperti yang sering diceritakan almarhum Wijaya semasa hidup."
"Terima kasih, Tante," ujarku sopan, melangkah maju untuk menyalami mereka berdua bergantian.
Om Surya terkekeh pelan, melambaikan tangannya di udara. "Jangan panggil Tante dan Om. Mulai malam ini, biasakan panggil Mama dan Papa."
Darahku mendadak berhenti mengalir ke otak. Jantungku melewatkan satu detak berharga. "Maaf?"
Ibuku langsung memegang tanganku erat. Jarinya yang agak dingin meremas jemariku dengan kuat, memberikan kode visual yang sangat jelas: *diam, ikuti saja, dan dengarkan*.
"Naura," Om Surya—atau pria yang menyuruhku memanggilnya Papa—berbicara dengan nada yang berubah serius namun penuh wibawa. "Dulu, saat perusahaan keluarga kami hampir hancur karena krisis besar, Ayahmu adalah orang pertama yang mengulurkan tangan tanpa berpikir dua kali. Dia menjual seluruh aset berharganya demi menyuntikkan modal ke perusahaan kami. Tanpa pengorbanan Wijaya, tidak akan pernah ada Mahardika Group hari ini."
*Mahardika Group?*
Nama itu menghantam dinding kesadaranku seperti godam tak kasat mata. Kepalaku mendadak pening secara instan. Nama itu terlalu familiar. Terlalu traumatis untuk didengar kembali setelah seminggu penuh masa pemulihan mental.
"Sebelum Ayahmu berpulang," lanjut Om Surya, matanya menerawang menatap barisan hidangan yang mulai disajikan pelayan, "kami berdua punya satu janji yang belum sempat terpenuhi. Kami ingin menyatukan dua keluarga ini secara utuh. Kami sepakat untuk menjodohkan kamu dengan putra sulung kami."
Tubuhku menegang kaku di atas kursi empuk restoran. Napas seolah tersangkut di tenggorokan, menolak untuk keluar. Perjodohan? Di era modern seperti ini? Yang benar saja!
Aku ingin langsung berdiri, memprotes keras, dan mengatakan bahwa ide ini sangat konyol. Namun, lirikan mata Ibu yang penuh harap di sebelahku, ditambah dengan napasnya yang terdengar agak berat dan tersengal, membuat seluruh kata protes itu membeku di kerongkongan. Ibu menaruh seluruh harapan sisa hidupnya pada momen malam ini. Aku tahu itu.
"Dia agak terlambat karena harus menyelesaikan rapat darurat dengan investor asing di kantor," ujar Tante Amelia sambil melirik jam tangan bertatahkan berlian di pergelangan tangannya. "Namun dia berjanji akan langsung menuju ke sini begitu selesai."
Tepat saat kalimat itu berakhir, pintu geser kayu ek ruangan VIP terbuka dari luar.
Langkah kaki yang tegas dan ritmis terdengar di atas lantai sebelum menginjak karpet. Aroma parfum mahal perpaduan kayu cendana dan *ambergris* yang sangat kukenal—dan teramat sangat kubenci hingga ke sumsum tulang—mendadak memenuhi ruangan, menggusur aroma melati yang sedari tadi menguar dari sudut meja.
Aku menoleh lambat-lambat, memejamkan mata sejenak untuk berdoa dalam hati agar ini hanyalah perwujudan mimpi buruk akibat sindrom pasca-trauma menghadapi atasan yang gila kerja.
Namun, doa itu tidak dikabulkan.
Seorang pria jangkung dengan setelan jas abu-abu gelap tiga potong berdiri tegap di ambang pintu. Rambut hitamnya tertata rapi tanpa ada satu helai pun yang mencuat salah tempat, membingkai wajah dengan rahang tegas yang kaku dan sepasang mata elang yang tajam luar biasa. Dia sedang melonggarkan ikatan dasi sutranya dengan satu tangan, tampak sedikit lelah namun tetap memancarkan aura dominasi yang pekat dan mengintimidasi.
Langkah pria itu mendadak terhenti di tengah ruangan.
Mata elangnya terkunci tepat pada wajahku yang membeku. Untuk pertama kalinya selama aku mengenalnya, aku melihat topeng datarnya yang sempurna itu retak. Kedua alis tebalnya bertaut rapat, menciptakan kerutan dalam di antara kedua matanya.
Arkan Mahendra.
Bos iblis yang baru seminggu lalu kukutuk di depan mukanya agar mati sendirian dalam kesepian, kini berdiri tiga meter di depanku dengan sebuah status baru yang tidak pernah terbayangkan dalam skenario terburuk hidupku sekali pun.
"Arkan, mari masuk. Kenalkan, ini Naura. Calon istrimu," suara Om Surya terdengar ceria, memecah keheningan yang mendadak mencekam dan sarat akan ketegangan tak kasat mata.
Arkan menatapku tajam, matanya menyipit berbahaya seolah-olah aku adalah penyusup yang sengaja merencanakan konspirasi tingkat tinggi untuk menjebak hidupnya. Sementara itu, di bawah taplak meja marmer yang mewah, aku mengepalkan kedua tinjuku hingga buku-buku jariku memutih sempurna, menahan keinginan kuat untuk melemparkan garpu perak di depanku tepat ke arah wajah tampannya yang menyebalkan itu.
Kiamat yang sesungguhnya baru saja resmi dimulai, dan iblis penguasanya kini sedang berjalan mendekat ke arah mejaku.
"Dia tidak memenuhi kriteria saya, Pa."
Suara Arkan memotong denting garpu dan pisau yang beradu dengan piring porselen. Kalimat itu meluncur begitu mulus, tanpa beban, seolah dia baru saja menolak proposal bisnis dari vendor kelas dua, bukan menolak seorang perempuan yang duduk tepat di hadapannya.
Aku meletakkan sendok dengan tekanan ekstra hingga menimbulkan bunyi *klang* yang cukup nyaring. Sumpah demi apa pun, kalau tidak ada Ibu di sebelahku, pisau daging di tangan kananku ini sudah melesat membelah dasi sutra abu-abunya.
"Arkan, jaga bicaramu," tegur Om Surya. Nada suaranya memberat, membuat suasana meja makan yang semula hangat mendadak turun beberapa derajat.
"Saya hanya realistis, Pa," Arkan memperbaiki posisi duduknya. Ia menyandarkan punggung, melipat tangan di depan dada, lalu melemparkan tatapan mata yang menyipit lurus ke arahku. "Pernikahan bukan transaksi amatir. Kami tidak punya kecocokan dalam hal apa pun. Visi, misi, bahkan... standar profesionalisme."
*Standar profesionalisme?* Brengsek. Dia sedang menyindir kejadian di ruang rapat seminggu lalu. Pria ini sengaja mengungkit luka lama untuk memancing amarahku di depan orang tua kami.
"Saya setuju dengan Pak Arkan—maksud saya, Mas Arkan," ujarku cepat sebelum Ibu sempat menyela. Aku memaksakan sebuah senyuman manis, jenis senyuman yang biasa kugunakan saat menghadapi klien paling cerewet di agensi. "Pernikahan itu sakral. Saya rasa, karakter Mas Arkan yang terlalu... dinamis dan perfeksionis, tidak akan cocok dengan saya yang sederhana ini. Kita seperti minyak dan air. Tidak akan pernah menyatu."
"Minyak dan air kalau dikocok keras-keras di dalam satu wadah juga bisa menyatu jadi emulsi, Naura," sahut Tante Amelia dengan tawa kecil yang terdengar dipaksakan untuk mencairkan ketegangan.
"Tapi hasilnya tidak akan pernah murni, Tante. Rasanya pasti aneh," balasku, tetap mempertahankan senyum palsu yang mulai membuat otot pipiku kram.
Arkan mendengus pelan. Suara dengusan yang sangat tipis, tetapi cukup untuk membuat telingaku panas. "Lagipula, Pa, Naura ini sangat sibuk dengan kariernya sebagai Senior Copywriter di Mahardika Group. Perempuan mandiri seperti dia pasti tidak punya waktu untuk mengurus rumah tangga."
Darahku mendadak berdesir dingin. Jantungku bergedup dua kali lebih cepat.
Arkan sengaja melempar umpan beracun. Dia tahu persis aku belum menceritakan perihal pengunduran diriku pada Ibu. Sudut bibir pria itu terangkat seulas, membentuk kurva kemenangan yang sangat tipis saat menyadari perubahan ekspresi di wajahku. Dia sedang memegang tuas kendali, dan dia tahu itu.
"Oh, kalau masalah kerjaan, Naura pasti bisa bagi waktu, kan Sayang?" Ibu menoleh ke arahku, menepuk-nepuk punggung tanganku. "Atau kalau sudah menikah nanti, Naura bisa kurangi jam lembur. Iya, kan?"
Napas berembus berat di dadaku. Kulit telapak tanganku mendadak basah oleh keringat dingin. Aku menatap Ibu, mendapati gurat lelah yang teramat sangat di bawah matanya, tetapi binar harapan itu masih menyala di sana. Ibu begitu menginginkan pernikahan ini.
"Sebenarnya..." Arkan menggantung kalimatnya, mengetukkan jari telunjuknya di atas meja marmer. Matanya tidak lepas dari wajahku yang mulai memucat. "Ada satu hal yang perlu Papa dan Tante Danastri ketahui tentang pekerjaan Naura—"
Di bawah meja yang tertutup taplak beludru panjang, aku mengayunkan kaki kananku ke depan dengan sekuat tenaga.
*Bakk!*
Ujung stiletto tujuh sentimeter milikku mendarat telak di tulang kering Arkan.
Pria itu langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Rahangnya mengeras seketika. Buku-buku jarinya yang mencengkeram pinggiran meja memutih, menahan rasa sakit yang luar biasa akibat hantaman mendadak itu. Namun, luar biasanya, tidak ada satu pun jeritan yang keluar dari mulutnya. Dia tetap mempertahankan posisi duduk tegapnya, walau matanya kini menatapku dengan kilat amarah yang siap membakar apa saja.
"Ada apa, Arkan?" tanya Om Surya yang menyadari perubahan mendadak pada ekspresi putranya.
"Tidak apa-apa, Pa," suara Arkan terdengar sedikit lebih rendah dan serak dari biasanya. "Hanya... sedikit kram kaki."
"Makanya, Mas, kalau duduk itu posisinya yang benar. Jangan terlalu kaku seperti robot," ujarku dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, lengkap dengan kedipan mata yang sengaja dibuat-buat untuk menyulut emosinya lebih dalam.
Ibu tiba-tiba terbatuk kecil. Awalnya hanya batuk ringan, namun sedetik kemudian berubah menjadi batuk kering yang panjang. Tangan kirinya mencengkeram dada bagian kiri dengan kuat. Wajahnya yang semula merona karena riasan tipis, mendadak berubah pucat pasi serupa kertas koran bekas.
"Ibu!" Aku langsung menggeser kursiku mendekat, merangkul bahunya yang terasa makin kurus. "Ibu tidak apa-apa? Obatnya di mana?"
"Di... di tas," bisik Ibu dengan suara terputus-putus. Napasnya memburu, pendek-pendek dan berat.
Aku dengan panik menggeledah tas tangan Ibu, mengeluarkan botol kecil berisi obat pelebar pembuluh darah, dan bergegas menuangkan segelas air putih. Setelah Ibu meminum obatnya, kepalanya bersandar lemas di bahuku. Tubuhnya gemetar kecil.
"Surya... Amelia..." Suara Ibu terdengar sangat lirih, hampir tenggelam oleh deru pendingin ruangan. "Maafkan saya. Jantung tua ini memang sudah tidak bisa diajak kompromi. Saya... saya hanya punya satu keinginan sebelum masuk ruang operasi bulan depan. Saya ingin melihat Naura ada yang menjaga. Saya tidak mau meninggalkan dia sendirian di dunia ini tanpa sandaran."
Air mata Ibu menetes, membasahi kain kebayanya. Hati ini seperti diiris sembilu melihat kerapuhan wanita yang selama ini membesarkanku seorang diri.
Om Surya menghela napas panjang, wajahnya penuh rasa bersalah. Ia menatap Arkan dengan pandangan yang tidak lagi menuntut, melainkan memohon. "Arkan... Papa tidak pernah meminta apa pun darimu selama ini. Semua fasilitas, posisi CEO yang akan kamu terima bulan depan, semua itu tidak ada artinya kalau Papa harus melanggar janji pada almarhum Wijaya."
Arkan terdiam. Matanya yang semula tajam dan penuh permusuhan, mendadak meredup saat menatap Ibuku yang terkulai lemas. Ada kebimbangan yang berkelebat cepat di kornea matanya sebelum kembali tertutup oleh topeng dinginnya.
"Permisi," Arkan berdiri dari kursinya, merapikan kancing jasnya yang sempat terbuka. "Saya perlu ke toilet sebentar."
Tanpa menunggu jawaban, dia melangkah lebar meninggalkan ruangan VIP.
Aku menatap Ibu yang mulai tenang setelah obatnya bekerja. Setelah memastikan Ibu beristirahat di bawah pengawasan Tante Amelia, aku meletakkan serbet di atas meja. "Saya susul Mas Arkan sebentar ya, Bu, Om. Mau bicara berdua."
Koridor hotel bintang lima itu sepi dan lengang, hanya menyisakan beberapa pelayan yang melintas dengan nampan perak. Aku menemukan Arkan sedang berdiri di area balkon terbuka di ujung koridor, bersandar pada pagar pembatas besi tempa sambil menatap gemerlap lampu jalanan Jakarta di bawah sana. Angin malam memainkan ujung rambutnya yang rapi.
Aku melangkah mendekat, sengaja menghentakkan tumit sepatuku agar dia tahu keberadaanku.
"Kamu sengaja memanfaatkan kondisi ibumu untuk menjebak saya, Naura?"
Pertanyaan itu terlontar bahkan sebelum aku sempat berdiri di sampingnya. Arkan tidak menoleh. Suaranya dingin, berbaur dengan deru angin malam yang menusuk kulit.
"Jaga mulutmu, Arkan Mahendra!" Aku berdiri di sebelahnya, mencengkeram pagar pembatas dengan emosi yang kembali menyala. "Kamu pikir aku sudi menikah dengan pria monster sepertimu? Kalau bukan karena kondisi jantung Ibu yang memburuk, aku lebih memilih menikah dengan tiang listrik daripada denganmu!"
Arkan memutar tubuhnya menghadapku. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma parfum *ambergris*-nya yang pekat. "Lalu kenapa kamu tidak menolak dengan tegas di dalam tadi? Kenapa malah menendang kaki saya?"
"Karena kamu hampir membocorkan rahasia kalau aku sudah resign!" desisku dengan suara tertahan, tidak ingin memancing perhatian pelayan hotel. "Ibu tidak boleh stres sebelum operasinya bulan depan. Kalau dia tahu aku menganggur dan luntang-lantung mencari kerja karena dipecat secara tidak langsung oleh anaknya Om Surya, penyakitnya bisa makin parah!"
Arkan menaikkan sebelah alisnya. "Oh, jadi sekarang kamu mengakui kalau kamu takut?"
"Aku tidak takut padamu. Aku peduli pada Ibuku. Sesuatu yang jelas tidak akan pernah kamu mengerti karena kamu tidak punya hati!"
Arkan terdiam sejenak. Matanya menatapku lurus, menyelidiki setiap inci ekspresi di wajahku untuk mencari kebohongan. Namun, yang ditemukannya hanya kilat kemarahan yang jujur dan kabut kecemasan yang mendalam tentang kondisi Ibuku.
"Kita sama-sama terjebak," ujar Arkan tiba-tiba. Suaranya melunak satu oktav, walau nadanya tetap sekaku papan tripleks.
Aku mengerutkan dahi. "Maksudmu?"
"Papa mengancam akan membatalkan pelantikan saya sebagai CEO Mahardika Group bulan depan jika saya menolak pernikahan ini," Arkan mendengus sinis, membuang muka ke arah jalanan. "Dia akan mengalihkan seluruh saham utama kepada sepupu saya yang tidak kompeten itu. Saya sudah membangun fondasi perusahaan ini selama lima tahun terakhir dengan darah dan keringat. Saya tidak akan membiarkan kerja keras saya hancur hanya karena masalah perjodohan kuno ini."
Aku tertegun. Jadi, si Bos Iblis ini juga sedang berada di ujung tanduk. Dia terobsesi dengan kontrol dan kesuksesan karena ketakutan terbesarnya adalah kegagalan di mata ayahnya sendiri.
"Jadi..." Aku mencoba mencerna situasi. "Kamu butuh status pernikahan ini untuk mengamankan posisimu?"
"Dan kamu butuh pernikahan ini untuk ketenangan pikiran ibumu sebelum operasi," sambung Arkan cepat. Dia kembali menatapku, matanya kini memancarkan binar kalkulatif seorang pebisnis ulung. "Satu tahun, Naura. Kita lakukan pernikahan kontrak selama dua belas bulan. Setelah ibumu sembuh dan posisi saya di perusahaan aman, kita berpisah secara baik-baik dengan alasan ketidakcocokan."
Ide itu terdengar gila. Menikah dengan pria yang paling kubenci di seluruh dunia selama tiga ratus enam puluh lima hari? Rumahku akan berubah menjadi medan perang harian.
Namun, bayangan wajah pucat Ibu dan tangisnya di dalam ruangan tadi kembali berputar di otakku. Ini adalah satu-satunya jalan keluar medis dan psikologis terbaik untuk Ibu saat ini.
"Ada syaratnya," ujarku, melipat tangan di depan dada, menantang tatapan matanya. "Kita buat aturan main yang jelas."
"Sebutkan," tantang Arkan.
> * **Pertama:** Tidak boleh ikut campur urusan pribadi masing-masing. Kamu dengan duniamu, aku dengan duniaku.
> * **Kedua:** Dilarang keras melibatkan perasaan. Tidak boleh ada yang jatuh cinta.
> * **Ketiga:** Di depan keluarga besar, kita harus berakting menjadi pasangan yang saling mencintai tanpa cela sedikit pun.
> * **Keempat:** Dan ini yang paling penting... Jangan pernah bawa urusan kantor ke dalam rumah. Di rumah, kamu bukan bos saya lagi.
>
Arkan mendengarkan dengan saksama, lalu menyunggingkan senyum miring yang menyebalkan. "Setuju. Dan saya tambahkan satu aturan lagi: spreadsheet pembagian tugas rumah tangga dan pengeluaran akan saya buat besok pagi. Saya tidak toleran terhadap rumah yang berantakan."
Aku memutar bola mataku jengah. "Terserah kamu, Tuan Perfeksionis. Yang penting kita sepakat."
"Deal," Arkan mengulurkan tangan kanannya yang kokoh ke arahku.
Aku menatap telapak tangannya sejenak, ragu sebelum akhirnya menyambut uluran tangan itu. Jabat tangan kami terasa kencang, formal, dan sarat akan ketegangan aneh yang mendadak menggelitik telapak tanganku. Ini bukan kesepakatan cinta, ini adalah pakta pertahanan bersama antara dua musuh bebuyutan.
"Mari kembali ke dalam dan selesaikan sandiwara ini," ujar Arkan, langsung melepaskan jabat tangannya dan berbalik menuju ruangan VIP.
Saat kami melangkah kembali ke dalam ruangan, suasana hangat langsung menyambut kami. Ibu tampak sudah jauh lebih segar, sedang meminum teh hangatnya sambil mengobrol dengan Tante Amelia.
"Bagaimana?" Om Surya menatap kami berdua dengan pandangan penuh selidik saat kami duduk kembali di kursi masing-masing.
Arkan berdeham kecil, memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih santai, lalu tiba-tiba meraih tangan kiriku di atas meja. Jari-jarinya yang hangat menyusup di antara jemariku, menggenggamnya dengan erat. Sentuhan mendadak itu membuatku hampir melompat dari kursi karena terkejut, namun aku berhasil menahannya dan membalas genggamannya dengan remasan yang cukup kuat untuk menyalurkan rasa kesalku.
"Setelah berbicara berdua di luar tadi..." Arkan menoleh ke arahku, melemparkan pandangan mata yang dibuat selembut mungkin—walau aku tahu itu murni akting kelas Oscar. "Kami menyadari kalau kami berdua sebenarnya salah paham. Kami sepakat untuk menerima perjodohan ini, Pa, Tante."
"Benarkah?!" Wajah Ibu langsung berbinar cerah. Warna kemerahan alami kembali ke pipinya. "Ya Allah, Naura... kamu serius?"
"Iya, Bu," ujarku dengan senyum termanis yang bisa kukeluarkan. "Naura mau menikah dengan Mas Arkan."
Tante Amelia hampir menjerit gembira, langsung memeluk Ibuku erat. Om Surya tertawa lebar, mengangkat gelas kristalnya ke udara. "Luar biasa! Ini kabar terbaik bulan ini. Kita tidak perlu menunda-nunda lagi. Pernikahan akan dilaksanakan minggu depan!"
"Minggu depan?!" Pekikan itu lolos dari mulutku dan Arkan secara bersamaan. Kami berdua saling pandang dengan mata membelalak sempurna.
"Iya, lebih cepat lebih baik," ujar Om Surya mantap. "Sebelum jadwal operasi Danastri, semua dokumen dan pesta pernikahan privat harus sudah selesai. Papa sudah menyuruh sekretaris Papa untuk mengurus semuanya."
Arkan mencoba mengendalikan keterkejutannya, rahangnya mengetat. "Tapi Pa, persiapan pernikahan tidak bisa seminggu—"
"Semua sudah Papa siapkan, Arkan. Kamu tinggal datang dan membawa mas kawin," potong Om Surya mutlak, tidak menerima bantahan apa pun. Pria paruh baya itu kemudian menatapku dengan senyum penuh arti. "Dan karena Naura sekarang sudah... bebas dari tugas-tugas beratnya, ada satu hal lagi yang sudah kami putuskan."
Firasat burukku kembali berdering nyaring. "Hal apa, Om... eh, Papa?"
Om Surya melirik Arkan, lalu kembali menatapku. "Arkan sudah menceritakan semuanya pada Papa kemarin lusa, Naura. Tentang surat pengunduran dirimu yang kamu banting di meja rapat malam itu."
*Deg.*
Aku menoleh patah-patah ke arah Arkan. Pria brengsek itu ternyata sudah mengadukan kejadian malam itu pada ayahnya bahkan sebelum perjodohan ini dimulai! Dia sengaja membuatku terlihat buruk di depan mertuaku sendiri.
"Papa justru senang kamu keluar dari sana," lanjut Om Surya, membuatku ternganga. "Arkan itu kalau bekerja memang seperti kesurupan iblis. Kamu pasti tertekan selama tiga tahun ini. Jadi, untuk mempermudah persiapan pernikahan yang mendadak ini..."
Om Surya menjeda kalimatnya, menyesap kopinya perlahan sebelum menjatuhkan bom atom yang sukses menghancurkan sisa-sisa harapan ketenanganku.
"Mulai besok pagi, Naura harus sudah pindah ke apartemen pribadi Arkan di Senopati. Kalian harus tinggal bersama mulai besok untuk mengurus berkas pernikahan dan... belajar saling mengenal lebih dalam sebelum akad nikah dilaksanakan minggu depan."
Kamarku di Tebet yang damai. Kasur empukku yang nyaman. Semuanya menguap dalam hitungan detik.
Aku menatap Arkan, dan di saat yang sama, pria itu juga sedang menatapku dengan pandangan mata yang bergolak penuh badai. Hidup serumah dengan musuh bebuyutan dalam kondisi belum menikah resmi, mulai besok pagi?
Pintu neraka jilid dua baru saja terbuka lebar, dan aku terpaksa melangkah masuk ke dalamnya dengan sukarela.
"Taruh kardus berbau minyak telon itu di luar, Naura. Atau saya sendiri yang akan memanggil sekuriti untuk membuangnya ke tempat sampah."
Arkan Mahendra berdiri tegak di tengah ruang tamu dengan melipat kedua lengan di depan dada. Kaus putih polosnya melekat sempurna pada tubuh tegap berototnya, serasi dengan celana kain abu-abu premium yang membungkus kaki jenjangnya. Bahkan dalam balutan pakaian santai di rumah, pria ini tetap memancarkan aura diktator yang siap memecat siapa saja dalam sekali jentikan jari.
"Ini bukan minyak telon, Pak Bos Iblis. Ini minyak kayu putih asli Ambon," aku mendengus keras, menurunkan kardus ketiga dari pundakku hingga menghantam lantai marmer putih bersih dengan bunyi *debuk* yang mantap. "Dan ini esensial untuk kelangsungan hidupku. Kamu tidak tahu rasanya masuk angin karena AC sentral apartemenmu ini disetel setara dengan suhu kulkas penyimpanan daging."
Aku menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat tinggal baruku untuk satu tahun ke depan.
Monokrom. Hitam, putih, dan abu-abu. Tidak ada foto keluarga yang hangat, tidak ada pajangan meja yang fungsional, bahkan tidak ada satu pun hiasan dinding yang berwarna selain lukisan abstrak garis-garis hitam yang tampak sangat suram di dekat televisi. Tempat ini lebih mirip galeri seni modern yang mati daripada sebuah hunian manusia yang memiliki detak jantung.
Aku membuka kardus teratas, mengeluarkan guling kesayanganku yang bermotif stroberi pudar—benda keramat yang menemaniku sejak zaman kuliah.
Mata elang Arkan langsung melebar sempurna. Kedua alis tebalnya bertaut rapat, menatap benda di tanganku seolah-olah aku baru saja mengeluarkan limbah medis berbahaya dari dalam kardus. "Benda kumal dan mengerikan apa itu? Buang."
"Sembarangan! Ini 'Si Pipi', guling keberuntunganku. Tanpa ini, aku bisa mengalami amnesia kreatif dan tidak akan bisa menulis naskah iklan lagi!" Aku mendekap Si Pipi erat-erat ke dadaku, menantang tatapan matanya yang menuntut kepatuhan mutlak.
Arkan tidak melanjutkan perdebatan bodoh itu. Sebagai gantinya, dia melangkah menuju meja bar dapur bersih yang dilapisi granit hitam, mengambil sebuah iPad Pro, lalu menggesernya dengan satu sentakan mulus ke arahku. Benda tipis itu mendarat tepat di depan ujung kakiku.
"Baca. Pahami. Patuhi," perintahnya singkat, dingin, tanpa bantahan.
Aku menurunkan Si Pipi ke atas sofa abu-abu besarnya—sengaja agar sofa mahalnya itu terkontaminasi—lalu memungut iPad tersebut. Di layar, terpampang sebuah dokumen Microsoft Excel yang disusun dengan tingkat kerapian yang sangat intimidatif. Judulnya tertulis tebal dengan huruf kapital: **STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) & PROTOKOL DOMESTIK KEDIAMAN MAHENDRA**.
"Kamu bercanda, kan?" Aku menatapnya dengan rahang yang hampir jatuh ke lantai. "Kamu membuat spreadsheet Excel untuk kehidupan pernikahan?"
"Ini pernikahan kontrak, Naura. Manajemen risiko adalah kunci keberhasilan sebuah proyek agar tidak terjadi tumpang tindih kepentingan," sahut Arkan tenang, wajahnya sedatar papan tulis. "Buka tab pertama. Pembagian wilayah kekuasaan."
Aku mengetuk layar dengan kasar.
> * **Zona Merdeka (Privat):** Kamar tidur utama merupakan hak milik mutlak Arkan Mahendra. Kamar tidur tamu sebelah kiri adalah Hak Guna Pakai untuk Naura Azzahra. Masing-masing pihak dilarang keras melintasi batas ambang pintu tanpa izin tertulis atau urgensi medis tingkat satu.
> * **Zona Bersama:** Ruang tamu, dapur bersih, dan balkon. Penggunaan dapur untuk memasak harus dijadwalkan agar tidak mengganggu waktu makan malam saya yang presisi pada pukul tujuh malam.
>
Aku berdecak remeh, lalu menggeser layar ke tab berikutnya yang berjudul: **JADWAL, KEBERSIHAN, & BATAS KEBISINGAN**.
> * **Pukul 06.00 - 06.30:** Penggunaan kamar mandi luar untuk Naura Azzahra. (Arkan menggunakan kamar mandi dalam kamar utama).
> * **Pukul 22.00:** Batas akhir kebisingan. Suara televisi, musik, atau panggilan telepon dilarang keras melebihi tingkat kekerasan 15 desibel.
> * **Poin Khusus:** Handuk basah tidak boleh ditinggalkan di atas kasur atau gantungan baju kamar lebih dari dua jam. Harus langsung dipindahkan ke area jemur belakang.
>
"Lima belas desibel? Kamu mau aku menonton televisi dengan menggunakan bahasa isyarat?" Suaraku meninggi, tidak habis pikir dengan isi kepala pria di depanku ini. "Dan apa-apaan ini? Kamu bahkan menghitung gramasi detergen yang harus digunakan untuk setiap kali mencuci pakaian? Kamu ini CEO atau mandor pabrik tekstil?"
Arkan melangkah mendekat, mengikis jarak di antara kami hingga aku terpaksa mendongak untuk tetap bisa menantang matanya. Aroma parfum *ambergris*-nya yang tajam langsung mengepung indra penciumanku.
"Saya tidak menoleransi kekacauan sekecil apa pun di dalam properti saya, Naura. Rumah ini adalah tempat saya beristirahat dari tekanan korporasi di luar sana. Jika kamu tidak bisa mengikuti ritme dan aturan main yang saya buat, silakan angkat kaki sekarang juga. Dan kamu bisa menjelaskan sendiri pada ibumu kenapa pernikahan ini batal sebelum dimulai."
Ancaman itu menghantam ulu hatiku. Selalu kondisi Ibu yang dijadikan kartu as untuk mengunciku. Aku mengepalkan tinju di sisi tubuh, menahan dorongan kuat untuk mencakar wajah simetrisnya yang menyebalkan itu.
"Oke. Aku terima tantanganmu, Tuan CEO Gila Kontrol," bisikku tajam, tepat di depan wajahnya hingga jarak kami hanya tersisa beberapa sentimeter. "Tapi jangan pernah salahkan aku kalau manajemen risikomu yang agung ini gagal total karena ada variabel alam yang tidak bisa kamu prediksi dengan rumus Excel bodohmu ini."
"Saya selalu memprediksi segala hal dengan akurat, Naura."
"Kita lihat saja nanti."
Malam harinya, apartemen itu terasa seperti medan perang yang dingin. Setelah makan malam yang canggung—di mana Arkan menghabiskan waktu sepuluh menit hanya untuk mengkritik potongan bawang bombay-ku yang katanya tidak simetris—pria itu langsung mengunci diri di dalam ruang kerjanya. Dari balik celah pintu, aku bisa melihatnya tenggelam di balik tumpukan berkas laporan keuangan kuartal perusahaan yang tebal.
Sebelum masuk ke kamar tamu, aku melintasi meja bar dapur bersih. Di sana, tergeletak ponsel kerja khusus milik Arkan. Ponsel pintar dengan casing kulit hitam kaku yang diletakkan sejajar dengan garis tepi meja—sangat khas penderita obsesif-kompulsif terhadap keteraturan.
Sebuah ide jahat bin ajaib mendadak melintas di kepalaku. Aku melirik ke arah koridor ruang kerja Arkan. Aman. Tidak ada tanda-tarian dia akan keluar dalam waktu dekat.
Dengan gerakan secepat kilat, kusambar ponsel itu. Untungnya, aku tahu pin cadangannya dari bisik-bisik sekretarisnya di kantor dulu yang pernah mengeluh karena harus mengganti sandi ponsel dengan tanggal berdirinya Mahardika Group. *Bip, bip, bip, bip.* Terbuka.
Aku langsung membuka aplikasi pengaturan suara dan kontak. Kucari kontak ayahnya, Om Surya. Dengan senyum kemenangan yang melebar di bibir, kuubah nada dering khusus untuk panggilan Om Surya menjadi lagu dangdut koplo klasik dengan tabuhan kendang yang sangat berisik dan menghentak-hentak. Tidak lupa, kunaikkan volume deringnya hingga ke tingkat paling maksimal yang bisa memecahkan gendang telinga.
Kukembalikan ponsel itu ke posisi semula, tepat di milimeter yang sama agar tidak menimbulkan kecurigaan si perfeksionis. Aku melangkah ke kamar tidur tamu dengan perasaan menang yang membuncah di dada. Satu sama, Pak Bos.
Pukul satu dini hari. Tenggorokanku terasa sangat kering dan panas, efek samping dari menu tumis ayam sore tadi yang tampaknya diberi garam terlalu banyak oleh Arkan. Aku membuka pintu kamar tamu dengan perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun.
Malam ini aku hanya mengenakan piyama satin tipis berwarna merah muda dengan potongan di atas lutut—satu-satunya pakaian tidur bersih yang tersisa karena daster longgar favoritku belum sempat kupindahkan dari rumah Tebet. Udara dingin dari koridor apartemen langsung menyergap kulit lenganku yang terbuka, membuat bulu kudukku berdiri seketika.
Suasana apartemen gelap gulita, hanya diterangi oleh temaram lampu kota Jakarta yang menembus jendela kaca raksasa di ruang tengah. Namun, siluet sesosok tubuh yang duduk di sofa panjang membuat langkah kakiku terhenti seketika di ambang pintu.
Arkan ada di sana.
Dia duduk bersandar dengan kepala menengadah menatap langit-langit apartemen yang tinggi dan sepi. Kemeja tidurnya terbuka pada dua kancing teratas, memperlihatkan tulang selangkangnya yang kokoh di bawah cahaya bulan. Di tangan kanannya, ada sebuah gelas berisi cairan bening. Matanya yang tajam tampak sayu dan lelah, dengan lingkaran hitam tipis yang menghiasi bagian bawah kelopak matanya.
Pria ini menderita insomnia kronis. Sinopsis hidupnya tidak berbohong. Di balik kesuksesan dan kekuasaannya yang absolut di kantor, dia adalah pria kesepian yang tidak bisa menutup mata saat malam tiba.
"Sedang apa kamu berkeliaran jam segini?"
Suara Arkan memecah keheningan malam, terdengar lebih rendah, serak, dan berat dari biasanya. Dia bahkan tidak menoleh ke arahku, tetap menatap lurus ke langit-langit beton di atasnya.
"Minum," jawabku singkat, melangkah cepat menuju dispenser di sudut dapur tanpa memedulikan kehadirannya.
Namun, saat aku membalikkan badan setelah meneguk segelas air dingin hingga tandas, aku tersentak. Arkan sudah berdiri tepat dua langkah di belakangku. Gerakannya begitu senyap tanpa suara, serupa hantu yang muncul dari kegelapan. Mata elangnya tidak lagi menatap kosong, melainkan terkunci sepenuhnya pada penampilanku. Pandangannya turun secara perlahan, menelusuri piyama satin tipis yang mencetak siluet tubuhku dengan jelas di bawah temaram cahaya lampu dispenser.
Udara di sekitar kami mendadak terasa pekat, berat, dan berubah panas, mengalahkan embusan AC sentral yang sedari tadi menusuk kulit. Genggamanku pada gelas kaca di tangan mengerat.
"Pakaian macam apa itu?" suara Arkan merendah hingga ke titik terendah, bergetar kecil dengan intonasi yang terasa sangat berbahaya di telingaku. "Kamu sengaja melanggar protokol kesopanan di rumah ini untuk memancing perhatian saya, Naura?"
Aku mendongak, memaksakan diri untuk menantang tatapan matanya meski jantungku mulai bertalu tidak karuan di dalam rongga dada seperti ada konser musik cadas di sana. Jarak kami begitu dekat, hingga aku bisa merasakan kehangatan yang menguar dari tubuh tegapnya.
"Memancing katamu? Ini apartemenku juga untuk satu tahun ke depan berdasarkan kesepakatan kita. Aku berhak memakai pakaian apa pun yang membuatku nyaman saat tidur. Kalau kamu merasa terganggu, itu artinya pikiranmu sendiri yang kotor dan mesum, Pak Bos!" ujarku berani, walau suaraku sedikit bergetar di ujung kalimat.
Arkan melangkah maju satu tapak lagi. Gerakan agresifnya mengurung tubuhku sepenuhnya di antara dada bidangnya dan pinggiran meja bar granit yang dingin. Kedua tangannya bertumpu di sisi kiri dan kanan pinggangku—tidak menyentuh kulitku, tetapi menutup seluruh jalur bagiku untuk meloloskan diri.
"Jangan pernah bermain api dengan saya, Naura Azzahra," desisnya tepat di depan bibirku. Napas hangatnya yang beraroma mint menerpa wajahku, membuat seluruh saraf di tubuhku menegang kaku. "Kamu tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh seorang pria yang kurang tidur selama tiga hari berturut-turut saat dihadapkan pada gangguan... seperti ini."
Aku menelan ludah dengan susah payah. Sisi dominan dan obsesifnya yang biasa kulihat di ruang rapat kantor kini berpindah ke ruang domestik, menciptakan *sexual tension* yang begitu kuat hingga rasanya satu percikan kecil saja bisa meledakkan seluruh tempat ini. Lidah pedas yang biasanya menjadi senjataku mendadak kelu tak berfungsi.
Tepat ketika ketegangan di antara wajah kami mencapai puncaknya hingga hidung kami hampir bersentuhan, sebuah bunyi elektronik memecah kesunyian malam dengan sangat kasar.
*Pip-pip-pip-bip.*
Suara dari panel digital pintu utama apartemen. Seseorang di luar sana sedang memasukkan kode akses masuk.
Aku dan Arkan membeku seketika dalam posisi intim kami. Kepala Arkan menoleh cepat dengan sentakan tajam ke arah pintu lobi apartemen yang berada beberapa meter di samping area dapur bersih. Kerutan dalam kembali muncul di antara kedua alisnya.
*Klik.*
Pintu besi tebal itu berayun terbuka dari luar. Lampu koridor gedung yang terang benderang langsung merangsek masuk, menyinari sesosok wanita bertubuh sintal yang berdiri anggun di ambang pintu. Wanita itu mengenakan gaun malam desainer berwarna merah menyala yang melekat ketat di tubuhnya, dibalut mantel bulu mahal di pundaknya. Sepasang stiletto-nya mengetuk lantai marmer dengan irama yang sangat percaya diri. Rambut gelombang panjangnya yang sewarna cokelat madu tergerai indah, membingkai wajah cantiknya yang tampak sedang mengerucut sebal.
"Arkan, Sayang... kamu kok ganti password pintunya sih? Untung saja sidik jari lamaku belum kamu hapus dari sistem memori pintunya," suara manja, berlagak kekanak-kanakan, namun sangat familier itu menggema keras di dalam apartemen yang sunyi.
Wanita itu melangkah masuk tanpa permisi, lalu dengan sekali sentak menyalakan sakelar lampu utama ruang tengah.
*Ctaakk!*
Cahaya terang benderang seketika menerangi seluruh sudut ruangan, termasuk menerangi kami berdua yang masih berada dalam posisi sangat mencurigakan di depan meja bar dapur—Arkan yang sedang mengurung tubuhku, dan aku yang hanya mengenakan piyama satin tipis kurang bahan berwarna merah muda.
Mata wanita itu membelalak sempurna saat pandangannya jatuh pada pemandangan di depannya. Bibir berlipstik merah tebalnya terbuka lebar karena syok. Tas tangan Hermes tiruan edisi terbatas di cengkeramannya merosot begitu saja, jatuh menghantam lantai marmer dengan bunyi keras.
"Arkan... siapa perempuan murahan yang tidak punya urat malu ini?!"
Mantan tunangan Arkan telah kembali dari luar negeri. Dan perang domestik di apartemen ini resmi naik tingkat menjadi kiamat jilid dua yang siap menghancurkan segalanya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!