NovelToon NovelToon

Takhta Di Balik Seragam

Siswa Baru yang Salah Tempat

Matahari pagi bersinar terik, memantulkan cahayanya pada atap-atap bangunan SMA Merdeka, sebuah institusi pendidikan yang berdiri kokoh di tengah kota, dikenal luas bukan hanya karena prestasi akademisnya yang membanggakan, tetapi juga karena sejarah panjang kekerasan dan dominasi yang melekat pada namanya. Dari luar, sekolah ini tampak seperti tempat pendidikan biasa dengan pagar tinggi berwarna abu-abu, lapangan upacara yang luas, dan gedung-gedung kelas yang rapi. Namun, bagi mereka yang telah berada di dalamnya selama bertahun-tahun, SMA Merdeka adalah sebuah kerajaan kecil yang diatur oleh hukum rimba, di mana kekuatan fisik dan pengaruh sosial menentukan posisi seseorang dalam hierarki sosial yang tak tertulis namun sangat dipatuhi.

Rio Adhitama mematikan mesin sepeda motornya di depan gerbang utama. Ia duduk diam sejenak di atas kendaraannya, mengenakan helm berwarna hitam pekat yang menutupi sebagian besar wajahnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang sedikit meningkat. Bagi sebagian besar siswa, hari pertama masuk sekolah di tempat baru adalah momen yang penuh dengan kegembiraan atau kecemasan biasa. Namun bagi Rio, hari ini memiliki beban yang jauh lebih berat. Ia telah berjanji kepada ibunya yang sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit, bahwa ia akan bersikap tenang, menjauhi masalah, dan fokus sepenuhnya pada pendidikannya. Janji itu adalah harga mati, sesuatu yang harus ia pegang teguh demi kebahagiaan dan ketenangan hati ibunya.

Dengan gerakan perlahan, Rio melepas helmnya dan menggantungkannya di stang motor. Wajahnya terlihat biasa saja, namun ada kilatan tajam di balik matanya yang gelap, sisa-sisa dari masa lalu yang berusaha ia kubur dalam-dalam. Rambutnya yang hitam sedikit berantakan tertiup angin pagi, dan seragam putih abu-abu yang ia kenakan terlihat agak longgar di bagian bahu, menutupi tubuhnya yang sebenarnya berotot dan kekar hasil latihan bela diri bertahun-tahun lamanya. Ia turun dari motor, menguncinya dengan hati-hati, lalu melangkah masuk melewati gerbang utama yang dijaga oleh beberapa petugas keamanan.

Begitu melangkahkan kaki melewati gerbang itu, Rio seolah masuk ke dalam dunia yang berbeda. Suasana di dalam sekolah jauh lebih riuh dan padat dibandingkan jalanan di luar. Siswa-siswa berjalan berkelompok, tertawa, berbicara, atau sekadar berdiri bergerombol di koridor. Namun, mata Rio yang jeli segera menangkap sesuatu yang lain. Ada pola dalam keramaian itu. Ada ruang-ruang tertentu yang secara otomatis dikosongkan oleh siswa lain ketika sekelompok anak laki-laki berjalan melintas. Ada tatapan hormat, takut, atau sekadar waspada yang terlempar ke arah individu-individu tertentu. Di sinilah hukum rimba itu bekerja. Di balik senyum dan tawa, terdapat ketegangan yang terasa menekan udara di sekelilingnya.

"Gila sih, rame banget di sini," gumam Rio pelan, suaranya hampir tak terdengar. Ia menyesuaikan letak tas punggungnya yang berat, berisi buku-buku pelajaran yang belum sempat ia baca. "Semoga aja gue bisa lewatin tahun-tahun ini tanpa bikin keributan apa pun."

Ia berjalan menuju ruang tata usaha untuk mengurus administrasi dan mendapatkan jadwal serta nomor kelasnya. Sepanjang jalan, ia merasa sepasang mata mengawasinya. Bukan sekadar tatapan penasaran terhadap siswa baru, melainkan tatapan pengamatan yang penuh penilaian, seperti seekor mangsa yang baru masuk ke dalam sarang pemangsa. Rio berusaha bersikap biasa saja, menunduk sedikit dan berjalan lurus ke depan, berusaha tidak menatap mata siapa pun. Ia tahu betul bahwa kontak mata yang salah di tempat seperti ini bisa diartikan sebagai tantangan atau penghinaan.

Setelah selesai mengurus berkas-berkasnya dan mendapatkan nomor kelas, yaitu X-3, Rio berjalan menuju gedung kelas. Lorong-lorong sekolah ini panjang dan bercabang-cabang, seolah menjadi labirin yang mudah menyesatkan orang yang belum mengenalnya. Di dinding-dinding terpasang papan pengumuman, piala-piala penghargaan, dan foto-foto kegiatan sekolah, namun di sudut-sudut yang tersembunyi, masih terlihat sisa-sisa coretan atau tanda-tanda simbol tertentu yang kemungkinan besar adalah lambang dari kelompok-kelompok yang menguasai sekolah ini.

Ketika melewati koridor lantai satu yang agak sepi, langkah Rio tiba-tiba terhenti. Di ujung lorong, ada sekelompok pemuda berjumlah sekitar lima orang yang berdiri menghalangi jalan. Mereka mengenakan seragam yang tidak rapi, kemeja dikancing setengah, lengan digulung, dan rambut yang ditata sedemikian rupa agar terlihat garang dan menonjol. Salah satu dari mereka, pemuda yang bertubuh agak gemuk dengan bekas luka kecil di dekat alis, sedang bersandar santai di dinding sambil memutar-mutar sebatang rokok di jari-jarinya, meskipun ia tidak menyalakannya. Siswa-siswa lain yang berjalan dari arah berlawanan memilih untuk memutar jalan masuk ke kelas lain atau menundukkan kepala sambil berjalan cepat melewati pinggiran dinding, jelas-jelas takut menarik perhatian kelompok tersebut.

Rio menghela napas pendek. Ia tidak ingin berputar arah, itu akan membuang waktunya, dan ia juga tidak ingin terlihat takut secara berlebihan. Ia memilih untuk tetap berjalan lurus, namun menjaga jarak aman dan berusaha melewati sisi paling pinggir dari lorong itu.

Sayangnya, takdir seolah tidak berpihak padanya hari itu. Saat jaraknya tinggal beberapa langkah lagi melewati kelompok itu, salah satu pemuda yang bertubuh tinggi besar dengan wajah yang terlihat sombong, tiba-tiba mengulurkan kakinya ke depan, tepat di jalur langkah Rio.

"Woi, anak baru!" seru pemuda itu dengan nada suara yang keras dan menantang, disusul dengan tawa rekan-rekannya yang lain. "Mata lo ada di mana, hah? Gak liat ada orang lewat di sini?"

Rio mengerem langkahnya tepat pada waktunya, ujung sepatunya hampir saja menyentuh kaki pemuda itu. Ia mengangkat kepalanya perlahan, menatap pemuda itu dengan tatapan datar dan kosong, tanpa emosi apa pun. "Maaf, gue buru-buru mau ke kelas. Boleh gue lewat?" jawab Rio dengan nada tenang, berusaha menahan diri sekuat tenaga agar tidak terpancing emosi.

Pemuda itu, yang ternyata bernama Dimas, anggota inti dari kelompok yang menguasai wilayah lantai satu gedung A, tertawa mengejek. Ia menarik kembali kakinya lalu melangkah maju, mendekatkan wajahnya ke arah Rio, menatap tajam tepat ke dalam mata Rio. Bau tembakau dan keringat bercampur aroma parfum murah tercium samar oleh hidung Rio.

"Buru-buru apaan sih, lu? Baru dateng udah sok sibuk banget," ucap Dimas sambil menyeringai. Tangannya yang besar dan kasar tiba-tiba menyentuh kerah baju seragam Rio, menariknya sedikit ke atas agar tubuh Rio lebih condong ke arahnya. "Denger ya, anak baru. Di sini ada aturan mainnya. Lu baru masuk, jadi lu belum bayar 'uang jajanan' buat kami, kan? Kalau mau lewat sini atau mau sekolah tenang-tenang, ada biayanya. Ngerti gak, lu?"

Jantung Rio berdebar kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa marah yang mulai merayap naik ke ulu hatinya. Ia sangat benci diperlakukan seperti ini, direndahkan dan dimintai uang perlindungan yang tidak masuk akal. Ingatannya melayang kembali pada wajah ibunya, pada janji yang ia ucapkan dengan sungguh-sungguh di rumah sakit sebelum berangkat pagi tadi. Tenang, Rio. Jangan cari masalah. Demi Ibu.

Rio melepaskan pegangan tangan Dimas dari kerah bajunya dengan gerakan halus namun tegas, tidak kasar namun cukup kuat untuk membuat Dimas sedikit terkejut. "Maaf banget, Kak. Gue gak bawa uang lebih hari ini. Kalau boleh, gue mau lewat aja ya, nanti kalau ada rezeki lebih gue kasih deh," jawab Rio, berusaha menggunakan nada yang paling sopan dan pasrah yang ia mampu.

Respon santun Rio ternyata tidak membuat Dimas puas, malah membuat egonya terinjak. Bagi para penguasa lorong ini, kepatuhan saja tidak cukup, mereka butuh ketundukan mutlak dan rasa takut yang nyata. Dimas merasa bahwa sikap tenang Rio adalah bentuk kesombongan.

"Eh, lu nih ya, mulutnya enak banget ngomong," ucap Dimas dengan nada yang meninggi, tangannya kembali bergerak, kali ini mendorong dada Rio cukup keras hingga tubuh Rio mundur selangkah ke belakang. "Lu kira kami ini pengemis yang nunggu rezeki lu hah?! Denger baik-baik ya, kalau lewat sini gak ada uangnya, berarti ada bayaran lain. Atau... lu mau gue cacatin muka lu biar lu inget siapa yang punya tempat ini?"

Suasana lorong mulai terasa semakin tebal dan menyesakkan. Siswa-siswa yang ada di sekitar menjauh, pura-pura tidak melihat apa-apa, karena terlibat atau sekadar menjadi saksi mata bisa berakibat fatal bagi keamanan diri mereka sendiri. Rekan-rekan Dimas tertawa renyah, menikmati tontonan pemalakan rutin yang berjalan di depan mata mereka. Bagi mereka, mengintimidasi anak baru adalah cara paling ampuh untuk menunjukkan eksistensi dan kekuasaan kelompok mereka.

Tertolong tapi bukan menolong

Rio mengatupkan kedua tangannya di sisi celana, kuku-kukunya menancap ke telapak tangan hingga terasa nyeri, berusaha mengendalikan setiap otot di tubuhnya agar tidak meledak. Napasnya mulai sedikit memburu, namun ia tetap berusaha menjaga tatapannya tetap rendah.

"Kak, tolong ngertiin gue ya. Gue beneran lagi gak mau cari masalah. Cuma mau sekolah, itu aja. Kasih jalan ya, Kak," ucap Rio lagi, suaranya sedikit bergetar, bukan karena ketakutan, melainkan karena pertempuran batin yang sedang ia alami saat itu juga.

Dimas seolah tidak mendengar permohonan itu. Ia malah mengangkat tangannya tinggi-tinggi, bersiap untuk menampar pipi Rio di depan umum demi memberikan pelajaran yang berbekas. "Dasar anak kampung gak tau diri! Diem aja sana dengerin omongan Kakak lu ini!"

Tepat saat telapak tangan Dimas hampir menyentuh pipi Rio, sesuatu terjadi. Sebuah suara berat dan rendah terdengar dari ujung lorong yang lain, memotong ketegangan yang ada.

"Udah, Dim. Berisik amat sih lo pagi-pagi udah bikin rusuh di wilayah sini."

Semua kepala menoleh serentak. Di sana, berdiri seorang pemuda bertubuh tegap, berkulit sawo matang, dengan rambut yang dipotong pendek rapi namun tetap terlihat liar. Ia mengenakan seragam yang terlihat mahal dan pas di badan, dengan lengan kemeja yang digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kekar. Di belakangnya, berdiri dua orang pemuda lain yang juga berpenampilan gagah dan berwibawa. Wibawa yang terpancar dari pemuda yang baru datang ini jauh berbeda dengan Dimas yang kasar dan beringas. Ada aura kekuasaan yang tenang namun mematikan mengelilinginya. Itu adalah Bara Lesmana, salah satu dari lima pemimpin tertinggi SMA Merdeka, anggota dari kelompok yang disebut 'Lima Raja' yang menguasai seluruh wilayah sekolah.

Wajah Dimas yang tadinya penuh kemarahan dan kesombongan, seketika berubah menjadi pucat. Tangannya yang terangkat tadi perlahan turun kembali ke samping tubuhnya dengan gerakan canggung dan kaku. Ia membalikkan badan menghadap Bara, senyum kaku terukir di bibirnya.

"Waduh, Bang Bara... Ada apa nih Bang pagi-pagi udah muter wilayah? Eh ini... cuma lagi ngajarin dikit anak baru yang kurang ajar nih Bang, gak tau aturan main di sini," jawab Dimas, nadanya berubah menjadi sangat halus dan penuh rasa hormat, bahkan sedikit gemetar.

Bara berjalan mendekat dengan langkah santai namun pasti, seolah tanah tempat ia berpijak adalah wilayah kekuasaannya mutlak. Ia berhenti tepat di samping Rio, lalu menatap Dimas dengan pandangan yang tajam namun dingin, tanpa senyum sedikit pun.

"Ngajarin apaan? Ngajarin minta uang? Atau ngajarin kasar sama orang yang gak ngelawan lo?" suara Bara terdengar datar namun mengandung tekanan yang membuat tulang belakang siapa saja yang mendengarnya terasa dingin. "Inget ya, Dim. Aturan kita itu, kekuatan dipake buat jaga wilayah dan ngelawan musuh dari luar. Bukan buat nindas anak sekolah sendiri yang cuma mau lewat doang. Kalau gue liat lo ngulangin lagi, lo tau sendiri kan nasibnya kayak gimana?"

Dimas menelan ludah dengan susah payah, wajahnya kini merah padam karena malu dan takut. Ia mengangguk cepat berkali-kali. "Siap, Bang! Maaf Bang, gue salah. Gak bakal gue ulangin lagi deh, janji Bang."

"Bagus kalau gitu. Sekarang minggir. Ganggu pemandangan aja," perintah Bara singkat.

Tanpa menunggu perintah diulangi, Dimas dan teman-temannya yang tadinya berlagak gagah, seketika menyingkir ke pinggir dinding, memberi jalan lebar untuk Bara maupun untuk Rio. Mereka menundukkan kepala, tidak berani menatap mata Bara lebih lama lagi.

Bara kemudian menoleh ke arah Rio, menatap pemuda yang berdiri diam di sebelahnya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Matanya yang tajam seolah bisa menembus pikiran dan rahasia yang disembunyikan Rio. Rio pun membalas tatapan itu, kali ini tidak lagi menunduk, namun juga tidak menantang. Ada rasa penasaran yang tumbuh di hati Rio. Siapakah pemuda ini? Mengapa ia berani menegur anak buahnya sendiri demi orang asing seperti dirinya?

"Terima kasih..." ucap Rio pelan, memecah keheningan sesaat. "Kalau nggak ada Kakak tadi, mungkin gue udah kena masalah."

Bara tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. Ia menepuk pelan bahu Rio. "Gak usah makasih. Gue bukan nolongin lo karena baik hati atau apa. Cuma gue gak suka cara mereka kerja. Kasar banget, gak ada gayanya sama sekali." Bara berhenti sejenak, lalu menatap Rio lebih dalam lagi. "Nama lo siapa? Siswa pindahan dari mana?"

"Rio... Rio Adhitama. Pindahan dari kota sebelah, Kak," jawab Rio jujur.

"Panggil aja Bang Bara kalau ketemu gue di mana-mana. Jangan Kakak, kedengaran tua banget," jawab Bara santai, lalu ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Rio, suaranya mengecil dan terdengar lebih serius. "Dengerin ya Rio. Sekolah ini kelihatannya aman, bersih, dan beradab. Tapi aslinya? Ini sarang serigala. Di sini, kalau lo lemah, lo bakal dimakan hidup-hidup. Kalau lo pinter nyembunyiin kekuatan lo kayak tadi... bagus. Tapi inget satu hal, kalau lo udah masuk ke sini, susah banget buat tetep netral. Pasti ada aja masalah yang nyamperin lo, mau lo cari atau enggak."

Rio diam mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Bara. Kata-kata itu terdengar seperti peringatan, namun juga terdengar seperti sebuah tantangan. Ada sesuatu dalam nada bicara Bara yang membuat Rio merasa bahwa pemuda ini mungkin satu-satunya orang yang memahami situasi sebenarnya di sekolah ini.

"Gue cuma mau sekolah biasa aja, Bang. Gak mau ikut-ikutan geng-gengan atau ngelawan siapa-siapa," jawab Rio tegas, menegaskan niatnya yang sesungguhnya.

Bara tertawa kecil, suara tawanya bergema di lorong yang mulai sepi itu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya seolah mendengar lelucon paling lucu sedunia. "Banyak yang ngomong gitu pas hari pertama masuk, Rio. BANYAK banget. Tapi percaya deh sama gue, lama-kelamaan, lo bakal nyadar sendiri kalau posisi netral itu gak ada di sini. Lo bakal dipaksa milih: jadi penguasa, jadi pengikut, atau jadi korban. Sampe ketemu lagi ya, Rio. Gue harap lo bisa bertahan lebih lama dari anak-anak baru lain yang cuma seminggu udah nangis minta pindah sekolah."

Setelah mengucapkan itu, Bara melambaikan tangan sedikit lalu berjalan pergi diikuti oleh kedua pengawalnya, meninggalkan Rio yang masih berdiri terpaku di tengah lorong. Tatapan Rio mengikuti punggung Bara yang menjauh hingga menghilang di tikungan koridor. Pesan yang disampaikan Bara sangat jelas dan mengerikan. Di SMA Merdeka ini, kedamaian adalah kemewahan yang mahal harganya.

Rio menghela napas panjang sekali lagi, menyadari bahwa hari pertamanya saja sudah dimulai dengan kesalahpahaman dan ancaman. Ia menatap ke arah Dimas dan teman-temannya yang masih berdiri di pinggir dinding dengan wajah masam dan penuh kebencian ke arahnya. Jelas sekali, meskipun Bara sudah menegur mereka, dendam atas kejadian tadi pasti akan mereka simpan dan bayarkan di lain waktu. Rio tahu, musuh pertamanya di sekolah ini sudah terbentuk bahkan sebelum ia duduk di bangku kelasnya.

"Masih panjang jalan lo di sini, Rio," bisiknya pada diri sendiri. "Tahan diri lo. Demi Ibu."

Dengan tekad yang kembali dikumpulkan, Rio melanjutkan langkah kakinya menuju kelas X-3. Lorong yang tadinya terasa mengerikan kini terasa sedikit lebih jelas. Ia sadar, pertempuran sesungguhnya belum dimulai. Pertemuan dengan Dimas dan Bara hanyalah pembuka tirai dari drama panjang yang akan ia jalani. Di balik seragam putih abu-abu yang sama-sama mereka kenakan, tersembunyi ambisi, kekuasaan, dendam, dan pertarungan untuk bertahan hidup yang jauh lebih kejam daripada apa yang bisa dibayangkan oleh dunia luar.

Sesampainya di depan pintu kelas X-3, Rio menarik napas dalam-dalam, merapikan kemejanya yang sedikit kusut akibat tarikan tangan Dimas tadi, lalu membuka pintu kayu itu perlahan. Suasana di dalam kelas langsung hening seketika saat ia melangkah masuk. Puluhan pasang mata menatapnya, penuh rasa ingin tahu dan penilaian. Di sudut belakang kelas, Rio melihat sekelompok anak laki-laki yang duduk bergerombol sambil tertawa pelan, sesekali melirik ke arahnya dengan tatapan yang sama persis seperti yang ia temui di lorong tadi.

Di tengah ruangan, ada seorang gadis yang duduk tegak di dekat meja guru, memegang buku catatan dengan rapi. Gadis itu memiliki wajah yang cantik dan cerdas, dengan tatapan yang tajam namun teduh. Itu adalah Dinda, yang kelak akan menjadi salah satu sosok paling penting dalam perjalanan hidup Rio di SMA Merdeka. Saat mata mereka bertemu sekilas, Dinda hanya mengangguk sopan, lalu kembali fokus membaca bukunya.

Rio berjalan mencari kursi kosong di bagian tengah belakang, berusaha tidak terlalu mencolok namun juga tidak terlalu jauh dari jangkauan pandangan guru. Saat ia melewati meja-meja siswa lain, ia mendengar bisik-bisik pelan yang sampai ke telinganya.

"Itu anak baru yang katanya ngelawan Dimas tadi ya?"

"Iya katanya sih, tapi terus diselamatin sama Bang Bara. Aneh banget sih nasibnya."

"Muka dingin banget, kayak gak ada rasa takutnya sama sekali. Hati-hati tuh, nanti jadi sasaran lagi."

Rio pura-pura tidak mendengar apa-apa. Ia meletakkan tasnya di atas meja, duduk dengan tenang, lalu mengeluarkan alat tulisnya. Di luar jendela, suara bel masuk berbunyi panjang dan nyaring, menandakan dimulainya jam pelajaran pertama. Namun di dalam hati Rio, ia tahu pelajaran sesungguhnya tentang SMA Merdeka baru saja dimulai. Pelajaran tentang kekuasaan, tentang kekuatan, dan tentang betapa tipisnya garis antara menjadi pelindung dan menjadi penindas.

Ia menatap lurus ke depan, ke arah papan tulis yang masih bersih, berjanji dalam hati bahwa apa pun yang terjadi, ia akan tetap berpegang pada prinsipnya. Namun di sudut matanya, ia menangkap kilatan mata seseorang dari barisan belakang. Seseorang yang menatapnya dengan kebencian murni, seseorang yang menunggu kesempatan kecil saja untuk menjatuhkannya. Itu adalah awal dari segalanya. Awal dari kisah seorang siswa biasa yang terpaksa harus naik takhta di balik seragamnya sendiri.

Hierarki yang Tak Terlihat

Jam pelajaran pertama berlangsung dalam suasana yang relatif tenang, namun bagi Rio, ketenangan itu terasa semu dan penuh tekanan. Di depan kelas, Bapak Guru Matematika sedang menjelaskan persamaan kuadrat dengan nada suara yang datar dan monoton, menuliskan rumus-rumus panjang di atas papan tulis putih. Suara kapur yang bergesekan dengan papan tulis itu terdengar nyaring di telinga Rio, namun pikirannya sama sekali tidak terserap ke dalam materi pelajaran. Matanya menatap lurus ke depan, namun kesadarannya tersebar ke seluruh ruangan, mengamati setiap gerak-gerik teman-teman sekelasnya.

Di sini, di dalam ruangan berukuran sekitar tujuh kali delapan meter ini, terdapat cerminan kecil dari struktur kekuasaan yang menguasai seluruh SMA Merdeka. Rio menyadari hal itu seiring berjalannya waktu. Ada pembagian wilayah yang tak tertulis namun sangat jelas.

Di bagian depan, tepatnya di bawah sorot cahaya lampu dan jangkauan pandangan guru, duduklah para siswa yang dikenal sebagai "kelompok aman". Mereka adalah anak-anak yang hanya ingin belajar, berprestasi, dan lulus dengan nilai tinggi tanpa mau tahu urusan dunia bawah tanah sekolah. Sebagian besar dari mereka adalah anggota OSIS, pengurus kelas, atau siswa berprestasi yang sering kali dilindungi oleh status akademis mereka. Di antara mereka ada Dinda, gadis yang dilihat Rio saat pertama masuk tadi.

Ia duduk tegak, mencatat setiap poin penjelasan guru dengan rapi, wajahnya serius dan fokus, seolah tidak ada hal lain di dunia ini selain pelajaran matematika. Namun sesekali, saat guru membalikkan badan untuk menulis di papan tulis, mata Dinda melirik sekilas ke arah belakang kelas, ke arah meja-meja yang lebih gelap dan sepi, dengan pandangan yang sulit diartikan campuran antara kewaspadaan dan ketidaksetujuan.

Berbeda jauh dengan bagian depan, bagian belakang kelas adalah wilayah yang berbeda dunia. Di sana, di mana bayangan lebih gelap dan pengawasan guru lebih lemah, duduklah mereka yang menganggap sekolah ini bukan tempat belajar, melainkan medan kekuasaan.

Di sudut paling belakang kanan, berjejer tiga bangku yang diduduki oleh empat orang siswa laki-laki. Mereka tidak mencatat, tidak membuka buku, bahkan ada yang menyandarkan kepalanya di atas meja seolah sedang tidur, namun mata mereka tetap terbuka sedikit, mengawasi segalanya. Pemimpin kelompok kecil di kelas ini adalah seorang siswa bernama Kevin.

Tubuhnya tidak terlalu tinggi, namun kekar dan padat, dengan otot-otot lengan yang terlihat jelas meski tertutup kemeja seragam. Rambutnya dipotong pendek dengan gaya undercut, dan di lehernya terlihat tali kalung tipis yang ujungnya masuk ke dalam kemeja konon katanya itu adalah kalung pemberian salah satu anggota Lima Raja, tanda bahwa ia berada di bawah perlindungan kelompok tertentu.

Sejak Rio masuk ke dalam kelas tadi, mata Kevin tidak pernah lepas dari tubuhnya. Setiap kali Rio bergerak sedikit saja, sudut mata Kevin akan mengikuti, bibirnya menyeringai tipis seolah sedang merencanakan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Rio bisa merasakan getaran permusuhan yang kuat datang dari arah itu, sama persis seperti apa yang ia rasakan saat berhadapan dengan Dimas di lorong tadi. Ia tahu, berita tentang insiden di koridor dan pertemuannya dengan Bara pasti sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah dengan kecepatan kilat. Di dunia seperti ini, kabar tentang orang baru yang berani tidak melawan namun tetap dihormati oleh salah satu penguasa, adalah berita paling panas.

"Psst... hey, anak baru!"

Sebuah bisikan pelan terdengar jelas menembus keheningan kelas, berasal dari arah belakang Rio. Rio tidak menoleh. Ia tetap berpura-pura memperhatikan papan tulis, jari-jarinya mengetuk pelan buku tulis yang kosong di atas mejanya.

"Eh, lo nih! Rio atau apa namanya? Gue panggil kok pura-pura tuli ya?" Suara itu terdengar lagi, kali ini sedikit lebih keras dan menantang, disertai dengan suara tawa tertahan dari teman-teman Kevin yang lain.

Beberapa siswa di bagian depan menoleh sekilas dengan wajah cemas, lalu buru-buru kembali memandang ke depan, tidak ingin terlibat. Dinda yang duduk di barisan ketiga, sempat berbalik badan sedikit, menatap tajam ke arah kelompok Kevin, lalu menatap punggung Rio dengan tatapan khawatir, sebelum akhirnya kembali menghadap ke depan saat guru berbalik badan.

Kevin yang merasa diabaikan, mulai kehilangan kesabarannya. Ia mengambil sepotong kecil karet penghapus dari mejanya, lalu dengan gerakan cekatan dan akurat, menjentikkannya ke arah punggung Rio. Plak! Suara benturan kecil terdengar saat benda itu mengenai bagian tengah punggung Rio, lalu jatuh ke lantai.

Rio menghela napas panjang, menahan rasa kesal yang mulai memuncak di tenggorokannya. Ia tahu jika ia diam saja, mereka akan semakin berani dan terus mengganggunya sampai ia bereaksi. Namun jika ia bereaksi sekarang, di dalam kelas di depan guru, ia bisa saja terkena hukuman dan dicatat dalam buku pelanggaran, hal yang pasti akan membuat ibunya kecewa berat. Ia terjebak di antara dua pilihan yang sama buruknya.

Dengan gerakan sangat lambat dan terkontrol, Rio memutar kursinya hingga setengah menghadap ke belakang. Ia menatap Kevin dengan wajah yang sama sekali tanpa ekspresi, datar dan dingin. Tatapan itu bukan tatapan takut, bukan pula tatapan marah, melainkan tatapan kosong yang membuat Kevin merasa seolah-olah dirinya tidak dianggap ada.

"Ada apa?" tanya Rio pelan, suaranya rendah agar tidak terdengar sampai ke meja guru, namun cukup jelas didengar oleh Kevin dan anak buahnya.

Kevin tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang rapi namun senyumnya terasa sangat mengancam. Ia bersandar santai di kursinya, melipat kedua tangan di dada.

"Gila, dingin banget sih lo. Beneran anak baru ya? Berani juga lo ngelawan Dimas tadi, terus malah ngobrol akrab sama Bang Bara. Wah, sepertinya lo punya 'koneksi' keren nih ya di sekolah ini?" kata Kevin, nada bicaranya penuh sarkasme dan nada bertanya yang menuduh.

"Gak ada koneksi apa-apa. Cuma kebetulan ketemu doang. Dia lewat, selesai," jawab Rio singkat, berusaha memotong pembicaraan itu sesingkat mungkin.

"Yeee... bohong banget," sela salah satu teman Kevin di sebelahnya, anak yang bertubuh kurus berkacamata dengan wajah licik. Namanya Rian, tangan kanan Kevin di kelas ini. "Orang Dimas itu kan anak buahnya Bang Raka, lho. Siapa aja tau kalau Bang Raka sama Bang Bara itu hubungannya gak akur. Terus tadi Bang Bara nolongin lo? Wah-wah, berarti lo udah masuk kubu Bang Bara dong? Atau... lo mau jadi perantara atau apa?"

Mata Rio sedikit menyipit mendengar nama baru yang disebutkan: Bang Raka. Nama itu disebut dengan nada yang lebih rendah, lebih dihormati namun juga lebih ditakuti dibandingkan nama Bara. Rio mulai menyadari apa yang Bara katakan tadi tentang Lima Raja. Di antara mereka sendiri pun ada persaingan dan permusuhan yang mendalam. Sekolah ini bukan hanya sekadar satu kelompok besar, melainkan perpecahan kekuasaan yang rumit dan berbahaya.

"Gue gak masuk kubu siapa-siapa. Gue cuma mau sekolah, belajar, terus pulang. Titik," jawab Rio tegas, menegaskan kembali prinsipnya.

Kevin tertawa kecil, suara tawanya terdengar mengejek dan meremehkan. Ia mencondongkan badannya ke depan, mendekatkan wajahnya ke arah Rio, jarak di antara meja mereka hanya sekitar satu meter.

"Denger sini ya, Rio. Apa pun alasan lo, mau lo netral, mau lo anaknya siapa, atau mau lo temen deketnya Bang Bara sekalipun... di kelas ini, aturannya tetep gue yang bikin. Ngerti? Di sini, gue hukumnya. Kalau lo mau tenang, kalau mau gak diganggu, lo harus tau posisi lo di mana. Jangan sok jual mahal cuma gara-gara sekali kejadian lo diliat sama Bang Bara. Di sekolah ini, banyak banget anak baru yang pede terus akhirnya nangis minta pulang karena gak kuat nahan sakitnya."

Kevin berhenti sejenak, matanya meneliti setiap inci wajah Rio, mencari tanda-tanda ketakutan atau ketundukan yang biasa ia dapatkan dari siswa lain. Namun yang ia temukan hanyalah ketenangan yang mengerikan. Rio tidak gemetar, tidak menunduk, dan tidak terlihat terintimidasi sedikit pun. Hal itu justru membuat rasa benci Kevin semakin bertambah. Bagaimana mungkin anak baru yang belum tahu apa-apa ini berani bersikap setenang itu di hadapannya?

"Nanti jam istirahat pertama, ke belakang gedung olahraga. Sendirian. Jangan bawa-bawa nama Bang Bara atau siapa pun ke sana. Kita bahas 'uang masuk' dan aturan main di kelas ini secara mendetail. Kalau lo gak dateng... atau kalau lo lapor ke guru... siap-siap aja seumur hidup lo di sekolah ini bakal jadi neraka. Ngerti lo?" ancam Kevin, suaranya berubah menjadi berat dan dingin, tidak ada lagi nada bercanda di dalamnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!