NovelToon NovelToon

MAS BAHLIL GANTENG

Ganteng Tapi Miskin

Puann sudah tiga bulan menjalani kehidupan rumah tangga bersama Bahlil. Pasangan itu selalu menjadi pusat perhatian karena ketampanan wajah dan tubuh yang dimiliki Bahlil.

"Nah, itu suamiku. Ganteng banget kan?" ujar Puann bangga pada tetangga sebelah.

"Iya sih ganteng, Puan. Tapi cuma modal cakep doang, cukup buat makan sehari-hari?" jawab tetangga sambil terkekeh.

Hati Puann terasa sesak mendengar ucapan itu. Kenyataan ekonomi rumah tangga mereka sedang berada di titik terendah dan tidak bisa disembunyikan. Mereka hanya menempati kontrakan kecil berukuran dua kali tiga meter dengan peralatan seadanya.

"Memang kami masih berjuang. Yang penting kan saling sayang," jawab Puann berusaha membela diri, meski suaranya lemah.

"Sayang nggak bikin kenyang, Puann. Nanti kalau kamu udah capek hidup pas-pasan, baru deh ngomong lagi sama aku," sahut tetangga lalu berjalan pergi.

Hari itu diadakan pertemuan arisan keluarga besar. Puann dan Bahlil hadir dengan pakaian sederhana, sangat berbeda dengan kerabat lain yang tampil rapi dan mewah.

Begitu masuk ruangan, semua pasang mata langsung tertuju pada kehadiran mereka berdua.

"Wah, ada Puann sama suaminya, katanya sih paling ganteng satu kampung," seru seorang bibi dengan nada menyindir halus.

Banyak orang tertawa pelan dan berbisik satu sama lain. Mereka menyoroti sepatu Bahlil yang sudah kusam serta baju Puann yang terlihat sudah lama dipakai.

"Kamu tuh gimana sih, Puan? Dulu kan kamu anak kesayangan, pintar, cantik pula. Kok malah pilih suami nggak punya apa-apa sih?" tanya seorang paman dengan wajah heran.

"Iya bener, lihat sepupu yang lain dong. Suaminya ada yang PNS, ada yang punya usaha. Lah suamimu ini apa? Kerjaannya aja nggak jelas, orang tua dulu nyebutnya numpang hidup," tambah kerabat lain dengan nada makin kasar.

Bahlil hanya berdiam diri di samping Puann. Wajahnya tetap tenang, bahkan ia menyunggingkan senyum tipis seolah tidak mendengar segala hinaan yang ditujukan kepadanya.

Sikap itu justru membuat hati Puann semakin panas dan perih. Ia sangat ingin membela suaminya, namun kenyataan kondisi ekonomi yang buruk membuat segala pembelaannya terasa sia-sia.

"Mas Bahlil diam aja ya kalau dihina gitu? Kamu nggak sakit hati lihat aku dipermalukan gara-gara keadaan kita?" tanya Puann pelan, berharap orang lain tidak mendengar.

"Biarin aja mereka ngomong apa aja, Puann. Mulut orang emang nggak ada yang bisa ditutup. Senyumin aja, nanti kalau kita marah malah dibilang nggak punya etika," jawab Bahlil santai sambil menepuk bahu Puann sebentar.

Ketenangan berlebihan yang ditunjukkan Bahlil membuat Puann semakin kesal. Baginya, sikap itu bukan tanda kedewasaan, melainkan bukti bahwa suaminya tidak memiliki harga diri untuk membela diri sendiri maupun istrinya.

Tak lama kemudian, ibu Puann mendekat ke arah mereka. Wajah wanita itu terlihat sangat kecewa dan malu. Ia langsung menarik tangan Puann menjauh dari kerumunan orang.

"Puann, Ibu ngomong ini demi kebaikanmu sendiri," ucap ibunya dengan nada dingin dan serius.

"Ada apa lagi, Bu? Memangnya kami berbuat salah apa?" tanya Puann, hatinya sudah dipenuhi rasa lelah dan sedih.

"Salahmu itu nikah buru-buru padahal belum kenal dia beneran. Lihat nasibmu sekarang, baru tiga bulan aja udah harus malu begini. Ibu malu banget punya menantu miskin dan nggak mapan kayak dia," jawab ibunya tegas.

Puann menundukkan kepala, berusaha menahan air mata yang siap menetes. Ia ingin sekali membela Bahlil, namun ia sadar ibunya memiliki pendapat yang sulit dibantah.

"Dengerin baik-baik ya. Sebelum kamu punya anak sama dia, mending kamu pikir ulang. Mending cerai aja sekarang, daripada nanti hidupmu makin susah dan menderita seumur hidup," bisik ibunya lalu pergi meninggalkan Puann yang diam terpaku.

Kalimat peringatan itu terus berputar di dalam kepala Puann.

...***...

Pintu kontrakan didorong dengan kasar saat hari masih pagi. Ibu Puann berdiri di ambang pintu dengan wajah masam, menatap seluruh isi ruangan sempit itu dengan pandangan penuh rasa tidak suka.

Puann baru saja selesai merapikan tempat tidur. Ia langsung menegakkan badan saat melihat ibunya datang tanpa pemberitahuan sebelumnya.

"Bu, kok datang pagi banget? Ngabari dulu napa," sapa Puann pelan, berusaha tersenyum meski hatinya berdebar kencang.

"Buat apa ngabari? Rumah sekecil ini, mana ada ruang buat basa-basi segala," jawab ibunya ketus lalu masuk dengan langkah berat.

Bahlil yang sedang duduk di kursi kayu tua langsung berdiri menyambut. Ia menundukkan kepala dengan sopan seperti biasa, wajahnya tetap tenang tanpa jejak kemarahan sedikit pun.

"Selamat pagi, Bu. Silakan duduk dulu," ucap Bahlil lembut sambil menarik kursi kosong di dekat meja.

Ibunya duduk di kursi itu dengan kasar. Ia menatap tajam ke arah Bahlil dari ujung kaki hingga kepala, seolah melihat benda tidak berguna di hadapannya.

"Aku nggak mau banyak omong sama kamu. Aku ke sini cuma mau bilang, kamu itu cuma numpang hidup sama anakku. Kamu sadar nggak sih, selama ini Puann yang lebih banyak berkorban buat kamu?" ucap ibunya dengan suara keras dan tajam.

Puann menoleh dengan cemas ke arah Bahlil. Ia berharap suaminya mau menjawab atau membela diri, namun Bahlil hanya diam dan tetap tersenyum tipis.

"Maaf ya kalau kami bikin Ibu kecewa. Kami lagi berusaha perbaiki keadaan pelan-pelan," jawab Bahlil tenang.

"Berusaha apaan? Kerja aja kamu nggak pernah tetap. Jangan-jangan kamu nikah sama Puann cuma nyari tempat enak doang ya?" sergah ibunya makin sengit.

"Hati-hati ngomongnya, Bu. Mas Bahlil itu suamiku, bukan sembarang orang," potong Puann, meski suaranya terdengar ragu dan lemah.

"Kamu diam aja! Ibu ngomong gini kan demi kamu juga. Kamu tuh bodoh banget, Puan. Dulu Ibu udah ingetin, jangan tergiur cuma gara-gara ganteng. Lihat sekarang hasilnya," bentak ibunya.

Setelah wanita itu pergi dengan perasaan belum puas, suasana di dalam kontrakan menjadi hening dan kaku. Puann duduk di lantai sambil memijat kening yang terasa pening. Ia sudah sangat lelah mendengar hinaan yang terus-menerus ditujukan kepada suaminya.

Belum sempat Puann menenangkan diri, ia teringat sisa uang belanja yang disimpannya di laci meja. Uang itu adalah satu-satunya bekal mereka untuk makan selama dua hari ke depan. Ia langsung membuka laci tersebut dan terkejut mendapati isinya kosong sama sekali.

Wajah Puann memerah karena menahan amarah. Ia berbalik badan dan menatap tajam ke arah Bahlil yang berdiri di dekat jendela.

"Mas, uang yang aku taruh di sini mana? Itu duit satu-satunya kita buat makan besok lho!" tanya Puann dengan suara gemetar.

Bahlil menoleh perlahan ke arahnya. Wajahnya sama sekali tidak terlihat bersalah, malah terlihat lega.

"Aku kasih ke Bu Siti tetangga sebelah, Puann. Anaknya sakit parah, mereka butuh uang buat beli obat. Kasihan kalau dibiarin gitu aja," jawab Bahlil santai.

Siapa Citra?

Darah Puann terasa mendidih seketika. Ia tidak menyangka suaminya akan seceroboh itu memberikan uang pas-pasan kepada orang lain, padahal kebutuhan ekonomi rumah tangga mereka sendiri belum terjamin.

"Kamu bercanda ya? Kamu sadar nggak sih kita juga butuh uang itu? Kita ini juga susah, Mas! Kamu mau kita makan apa besok? Angin?" bentak Puann, suaranya meninggi karena tidak tahan lagi.

"Nanti aku cari kerjaan lain, cari tambahan. Santai aja, rezeki pasti ada jalannya kalau kita mau berbagi," jawab Bahlil mencoba menenangkan lalu melangkah mendekat.

"Jangan deketin aku dulu! Aku udah malu dihina keluarga, aku udah sabar hidup di rumah sempit, tapi kalau kamu sendiri yang bikin keadaan makin parah, aku nggak terima!" potong Puann sambil mengibaskan tangan menjauh.

"Ini bukan soal mau berbagi atau nggak. Masalahnya kamu itu nggak pernah mikir panjang! Kamu denger kan tadi Ibu bilang kamu numpang hidup? Sekarang lihat kelakuanmu, bener kan kata Ibu? Kamu beneran nggak punya tanggung jawab!" tuduh Puann, air mata mulai menetes di pipinya.

Bahlil terdiam mendengar tuduhan itu. Senyumnya hilang diganti raut wajah sedih. Ia tidak terlihat marah mendengar kata-kata kasar itu, namun ia tetap menatap Puann dengan pandangan yang sulit dimengerti.

"Aku lakuin itu karena aku mau berbuat baik, Puann. Kamu jangan sejahat itu sama aku," ucap Bahlil pelan.

"Berbuat baik tapi malah bikin istri sendiri kelaparan? Itu namanya bodoh, bukan baik!" balas Puann tajam.

Pertengkaran itu berlangsung cukup lama. Puann meluapkan segala unek-unek yang selama ini dipendamnya diam-diam, sedangkan Bahlil hanya menjawab seperlunya dan lebih banyak berdiam diri. Rasa lelah dan kekecewaan bercampur menjadi satu di hati Puann.

Saat suasana mulai agak tenang dan Puann berbalik badan hendak mengambil gelas minum, ponsel tua milik Bahlil yang tergeletak di meja bergetar sebentar lalu mati lagi. Karena rasa penasaran dan emosi yang masih membara, Puann mendekat dan mengambil benda itu.

Tangan Puann gemetar saat membuka layar ponsel tersebut. Terdapat satu pesan masuk yang belum sempat dibaca oleh Bahlil. Saat matanya menangkap nama pengirim pesan itu, napasnya terasa terhenti. Di layar tertulis jelas nama pengirim: Citra.

Isinya singkat, tapi cukup membuat darah Puann dingin seketika.

"Mas Bahlil, makasih ya atas bantuannya tadi. Kamu emang paling bisa diandalkan, Sayang."

Puann menatap nama itu berulang kali. Hatinya yang sudah rapuh kini retak semakin dalam. Siapa perempuan bernama Citra itu?

Dan berani-beraninya dia memanggil suaminya dengan sebutan Sayang?

Puann menggenggam ponselnya dengan erat. Ia menatap nama pengirim dan isi pesan dari Citra berulang kali, sementara dadanya terasa sesak.

“Siapa perempuan ini, Mas? Berani banget panggil kamu sayang, ada-ada aja,” sergah Puann sambil mengarahkan layar ponsel ke wajah Bahlil.

Bahlil terkejut sejenak. Ia menggaruk kepalanya, lalu berusaha mengambil kembali ponsel itu dengan wajah tenang dan tanpa beban.

“Itu cuma kenalan doang, Puann. Dia emang gitu ngomongnya, kebiasaan aja kok, nggak ada apa-apa,” jawab Bahlil santai.

Puann menepis tangan suaminya. Ia tidak mempercayai penjelasan yang seadanya itu karena panggilan sayang tidak mungkin diucapkan sembarangan kepada orang yang bukan siapa-siapa.

“Kebiasaan? Kamu kira aku anak TK yang gampang dibohongin? Nggak ada cewek panggil cowok lain sayang kalau nggak ada apa-apa. Jujur deh, siapa dia sebenernya?” desak Puann, suaranya bergetar menahan amarah.

“Aku udah bilang, dia cuma teman. Kamu jangan kebanyakan mikir deh,” jawab Bahlil ketus, lalu berjalan keluar rumah seolah urusan telah selesai.

Perlakuan dingin itu membuat kecurigaan Puann semakin besar. Ia yakin suaminya menyembunyikan hal yang besar, dan nama Citra terus terbayang di pikirannya sepanjang hari.

Saat sedang membereskan tas kerja Bahlil pada sore itu, selembar bukti transfer jatuh ke lantai. Ia memungut kertas itu dan terbelalak melihat nama penerima tertulis jelas: Citra. Jumlah uang yang tercantum pun besar, jauh lebih banyak dibandingkan uang yang kemarin diberikan kepada tetangga.

Darah Puann mendidih seketika. Ia gemetar membayangkan kemungkinan terburuk yang terjadi di belakangnya.

“Jadi uang itu bukan cuma buat Bu Siti, tapi juga buat dia? Kita hidup pas-pasan, eh kamu malah ngasih uang ke cewek lain?” batin Puann pedih.

Malam itu, Bahlil pulang lebih larut dari biasanya. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam saat ia masuk ke kontrakan dengan penampilan rapi, serta wangi sabun yang tercium samar dari tubuhnya.

“Kamu dari mana aja? Jam segini baru nongol?” tanya Puann dingin, sudah menunggu di dekat pintu.

“Ada urusan sama teman, tadi kelarnya lama dikit,” jawab Bahlil sambil meletakkan tas, lalu langsung melangkah ke kamar mandi.

“Teman? Teman yang mana lagi? Jangan bilang itu teman biasa ya. Tadi aku nemu bukti transfer ke Citra. Coba jelasin ini maksudnya apa?” sergah Puann mengikuti langkahnya, berusaha menahan diri agar tidak meledak emosinya.

Bahlil berhenti sejenak, tetapi tidak berbalik menatap. Ia diam beberapa saat, lalu masuk ke kamar mandi dan menutup pintu dengan rapat.

“Mas Bahlil! Aku tanya nih! Jangan diem aja gitu dong! Aku berhak tahu yang sebenernya!” seru Puann sambil mengetuk pintu berkali-kali.

Hanya suara air yang terdengar dari dalam kamar mandi. Bahlil sama sekali tidak memberikan respons, dan sikap dingin ini membuat rasa curiga Puann semakin kuat. Ia merasa suaminya lebih menjaga perasaan Citra dibandingkan dirinya sendiri.

Keadaan menjadi semakin buruk selama beberapa hari berikutnya. Bahlil makin sering pulang malam, bahkan kadang baru muncul hingga tengah malam, dengan alasan yang selalu sama: ada urusan, ada pekerjaan, atau ada teman yang butuh bantuan. Semua alasan itu hanya terdengar sebagai ungkapan kosong di telinga Puann.

...***...

Pagi itu Puann melihat Bahlil berpakaian sangat rapi. Ia mengenakan kemeja bersih dan celana panjang yang disetrika licin, dengan wajah tampak bersemangat. Penampilan ini sangat berbeda jauh dari raut lelah yang biasa ditunjukkannya saat hendak mencari pekerjaan serabutan.

“Mau ke mana sih? Rapi banget gayanya,” tanya Puann hati-hati, mencoba membaca gerak-gerik suaminya.

“Ada urusan dikit, mungkin pulangnya sore atau malem. Kamu jangan nyari-nyari aku ya,” jawab Bahlil cepat, lalu bergegas keluar pintu.

Puann berdiri terpaku di depan pintu. Perasaannya tidak enak dan firasat buruk membuat pikirannya kacau. Ia teringat kembali pesan singkat, kiriman uang, dan panggilan sayang dari Citra, di mana semua petunjuk itu mengarah pada satu kesimpulan yang menyakitkan.

“Kalau aku diam aja, aku nggak bakal tahu apa-apa. Aku harus lihat sendiri kamu pergi ke mana sama sama siapa,” tekad Puann dalam hati.

Tanpa ragu lagi, Puann mengunci pintu kontrakan. Ia berjalan menjauh, lalu mengikuti langkah Bahlil dari jarak aman agar tidak diketahui. Ia wajib mengetahui ke mana tujuannya dan siapa sebenarnya perempuan yang berani memanggil suaminya dengan sebutan sayang itu.

Jantungnya berdebar kencang sebagai campuran rasa takut dan cemas menanti hal apa yang akan ia saksikan.

Bahlil berjalan cukup jauh hingga sampai ke pinggiran kota. Ia berhenti tepat di depan bangunan besar yang tampak mewah dan megah, sangat jauh beda dengan kontrakan sempit tempat mereka tinggal.

Puann bersembunyi di balik tiang listrik yang berada tidak jauh dari lokasi itu. Ia tidak percaya melihat Bahlil melangkah masuk ke area lobi hotel tersebut dengan sikap yang santai dan akrab.

“Ngapain dia ke tempat semewah ini? Ada urusan apa sih di sini?” batin Puann makin gelisah.

Pikirannya langsung tertuju pada hal-hal buruk. Ia mengingat kembali pesan singkat, kiriman uang, dan panggilan sayang dari Citra, di mana semua hal itu semakin mendukung dugaan terburuknya.

Cemburu Buta

Tak lama kemudian, tampak seorang perempuan cantik berpenampilan rapi dan terlihat kaya berjalan menghampiri Bahlil. Perempuan itu tersenyum ramah lalu menyalami suaminya. Bahlil membalas senyuman itu, lalu keduanya melangkah masuk lebih dalam ke gedung.

“Itu pasti Citra ... Pasti cewek yang ngaku-ngaku sayang itu,” batin Puann rasanya ingin runtuh di tempat.

Kepalanya terasa panas dan pening. Semua bukti yang telah dikumpulkannya kini terasa semakin nyata, dan menurut pemikirannya, tidak ada alasan lain bagi seorang suami untuk masuk ke hotel mewah berdua bersama perempuan cantik selain melakukan hal yang kotor.

“Jadi bener ya ... kamu selingkuh, Mas. Kamu diam aja selama ini, ternyata udah dapet cewek lain yang lebih cantik dan kaya dariku,” gumam Puann pelan, air matanya mulai menetes membasahi pipi.

Ia memberanikan diri mendekat ke arah pintu kaca lobi yang sedikit terbuka. Dari celah itu, ia dapat melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi di dalam. Napas Puann tertahan, bersiap menyaksikan pemandangan yang akan menghancurkan pernikahannya.

Namun, apa yang dilihatnya justru membuatnya terkejut. Bahlil tidak sedang duduk berduaan dengan mesra, melainkan berdiri di atas sebuah kursi. Tangan dan gerak-geriknya sibuk mengutak-atik bagian dalam dari sebuah mesin pendingin ruangan yang besar.

Perempuan cantik itu berdiri di sampingnya sambil memegang buku catatan, sesekali berbicara dan memberikan arahan. Wajah perempuan itu tampak penuh rasa hormat dan percaya saat menatap Bahlil.

“Jadi ... dia lagi servis AC? Bukan lagi ngapain-ngapain?” batin Puann agak lega, meski rasa curiganya belum hilang sepenuhnya.

Tak lama kemudian, Bahlil turun dari kursi sambil mengelap keringat di dahinya. Perempuan itu langsung menyodorkan sebotol air minum sambil tersenyum lebar kepadanya.

“Makasih banyak ya, Mas Bahlil. Kalau nggak ada kamu, kita pasti udah pusing ngurusin ini. Kamu emang paling jago deh soal ginian,” ucap perempuan itu keras sampai terdengar ke luar.

“Sama-sama, Mbak Citra. Kan emang tugas saya kalau ada alat rusak di sini,” jawab Bahlil santai sambil menerima air itu.

Puann menahan napas saat nama itu disebut. Benar, perempuan itu memang Citra. Dari percakapan barusan, Puann baru menyadari bahwa Citra ternyata adalah manajer di hotel ini. Pekerjaan Bahlil selama ini yang sering membuatnya pulang malam ternyata adalah memperbaiki alat-alat yang rusak di tempat tersebut.

Rasa curiganya berkurang, tetapi rasa sakit hati masih terasa ada di sana. Ia belum melupakan pesan singkat yang dikirim Citra dulu, yang memanggil suaminya dengan sebutan sayang.

Puann berniat beranjak pulang, merasa cukup lega setelah mengetahui kebenarannya. Namun, ucapan yang diucapkan Citra selanjutnya membuat langkah kakinya terhenti kaku di tempat.

“Tapi serius deh Mas, kamu itu cakep, pinter, dan baik banget. Sayang banget lho kamu udah ada yang punya. Kalau misal kamu lajang, aku pasti bakal ngejar kamu mati-matian deh sampai dapet,” kata Citra terus terang sambil tertawa kecil, matanya menatap Bahlil penuh kekaguman dan harapan.

Bahlil hanya tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala, menganggap itu cuma candaan biasa. Tapi buat Puann yang mendengar dari balik pintu, ucapan itu bukan bercandaan. Itu adalah pernyataan perang. Perempuan kaya dan cantik itu benar-benar berniat merebut suaminya.

Sejak hari itu, kehadiran Citra semakin sering mengganggu pikiran Puann.

Citra mencari berbagai alasan untuk bertemu Bahlil, baik di tempat kerja maupun hingga ke kontrakan mereka. Ia sering datang membawa makanan, pakaian baru, atau barang kebutuhan rumah tangga yang jarang dapat dibeli oleh Puann.

"Mas Bahlil, aku lewat sini kebetulan bawa nasi kotak lebih. Ini buat kamu dan istri kamu ya, lumayan buat tambah makan," kata Citra sambil menyodorkan bungkusan makanan mahal di depan pintu.

Puann yang sedang menyapu halaman kecilnya langsung berhenti bergerak. Ia menatap bungkusan itu, lalu menatap Citra yang berpenampilan mewah, sangat berbeda dengan dirinya yang hanya mengenakan daster lusuh.

"Makasih banyak ya, Mbak Citra. Tapi maaf banget, kami masih ada lauk kok di dalam," jawab Puann cepat, berusaha tersenyum meski hatinya terasa perih.

"Ya ampun, Puann. Jangan sungkan dong. Aku kan anggap Mas Bahlil itu teman baikku. Lagian ini cuma makanan biasa, bukan apa-apa. Jangan terlalu dibawa perasaan ya," ucap Citra santai sambil melirik ke arah Bahlil yang baru keluar dari kamar mandi.

Bahlil hanya tersenyum dan mengangguk. Ia langsung mengambil bungkusan itu dari tangan Citra tanpa keraguan sedikit pun. Sikap itu membuat harga diri Puann terasa terinjak-injak.

"Kan tadi aku bilang masih ada makanan, kenapa kamu terima aja sih?" tanya Puann pelan saat Citra sudah pergi menjauh.

"Pamali kalau ditolak, Sayang. Itu makanan enak lho, sayang kalau dibuang. Kita kan lagi irit-irit uang," jawab Bahlil santai sambil membuka bungkusan itu.

"Urusan kita irit atau enggak, bukan berarti kamu boleh terima pemberian dari perempuan yang terang-terangan mau ngerusak rumah tangga kita! Kamu nggak lihat dia tatap-tatap kamu terus?" bisik Puann dengan suara bergetar menahan tangis.

Bahlil berhenti mengunyah sejenak, lalu menatap Puann dengan ekspresi tidak mengerti.

"Kamu kok jadi aneh sih? Dia kan cuma baik sama kita. Kamu jangan mikir yang macem-macem ya, nanti malah jadi masalah sendiri," jawab Bahlil singkat, lalu kembali makan seolah tidak ada apa-apa.

Puann menghela napas panjang. Ia merasa kalah telak dibandingkan Citra yang cantik, kaya, berpenampilan bagus, dan memiliki jabatan.

Sebaliknya, Puann hanyalah istri sederhana yang tinggal di kontrakan sempit dan kerap dihina keluarganya karena memilih suami yang dianggap tidak mapan. Rasa rendah diri itu makin kuat setiap kali Citra datang.

Setiap kedatangan Citra membuat Puann merasa kecil dan tidak berharga. Rasa takut kehilangan Bahlil kini menjadi kekhawatiran yang selalu menghantuinya.

Suatu sore, Puann pergi ke tempat kerja Bahlil untuk mengantar bekal makan siang. Ia berjalan masuk ke area belakang hotel dengan hati-hati, berniat memberi kejutan kecil bagi suaminya.

Dari kejauhan, Puann melihat Bahlil berdiri dekat sebuah meja kerja. Citra berdiri sangat dekat di hadapannya sambil berbicara dengan senyum manis.

Tangan kanan Citra perlahan bergerak naik dan menyentuh pergelangan tangan Bahlil.

"Mas Bahlil, tangan kamu kotor banget sih. Sini aku lapin dulu ya," ucap Citra lembut sambil memegang erat pergelangan tangan itu, matanya menatap lurus ke manik mata Bahlil.

Gerakan itu terasa akrab dan penuh makna. Jarak tubuh mereka begitu dekat, tidak ada ruang kosong di antara keduanya. Bahlil diam saja dan tidak menarik tangannya menjauh. Ia membiarkan tangan wanita lain itu menyentuh kulitnya dengan santai.

Puann yang melihat kejadian itu dari balik dinding merasa sangat terpukul. Bekal yang dibawanya hampir terlepas dari tangan, napasnya tersendat, dan matanya memanas menahan rasa sakit luar biasa.

Kenyataan itu membuktikan bahwa Citra bersungguh-sungguh. Puann pun bertanya-tanya mengapa Bahlil diam saja dan tidak menolak?

Apakah suaminya juga mulai tertarik pada wanita kaya itu?

Kakinya terasa lemas, namun ia terpaku di tempat. Ia menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya dengan hati yang makin hancur berkeping-keping.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!