NovelToon NovelToon

Yang Tersisa Di Kota Mati

Bab 1 - VIDEO YANG HARUSNYA NGGA ADA

​Aroma solar pembakaran bus kota yang bercampur dengan debu jalanan masih menempel erat di jaket denim lusuh milik Damar Prakoso. Ketika ia melangkah turun dari pintu belakang bus, hal pertama yang menyambutnya adalah langit kota yang aneh. Langit sore itu tidak meluruh menjadi warna jingga keemasan yang hangat seperti yang biasa ia saksikan di atas hamparan sawah bapaknya di desa. Sebaliknya, warna di atas sana tampak keruh; kelabu pekat yang memar di tepi-tepinya, seolah-olah awan sedang menahan beban yang terlalu berat untuk dicurahkan menjadi hujan.

​Damar membenarkan letak tali tas ranselnya yang terasa berat berkat tumpukan baju dan harapan-harapan sederhana yang ia bawa dari kampung. Ia merogoh saku, mengeluarkan selembar kertas lusuh berisi alamat kos murah yang sudah ia sepakati dengan pemiliknya dua hari lalu via WhatsApp. Sesuai petunjuk, kakinya membawanya menyusuri gang sempit yang diapit oleh dinding-dinding beton tinggi tanpa plesteran. Udara di dalam gang itu terasa pengap, terjebak di antara aroma selokan tersumbat dan sisa minyak gorengan dari warung pinggir jalan.

​Langkah kaki Damar berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai dengan cat hijau lumut yang sudah mengelupas di sana-sini. Kamar nomor empat belas berada di sudut paling ujung lantai dua. Begitu anak kunci kuningan yang berkarat itu diputar dan pintu kayu tripleksnya terbuka, bau apek khas ruangan yang lama ditinggalkan langsung menyengat hidungnya.

​"Ya... namanya juga kota," gumam Damar pelan, mencoba menghibur diri sendiri.

​Ia menghempaskan ransel gembung itu ke lantai semen yang dingin tanpa ubin. Serta-merta, pundaknya terasa ringan, namun di saat yang bersamaan, ada kekosongan yang mendadak menghimpit dadanya. Tubuhnya remuk redam. Duduk di kursi bus ekonomi berhimpitan dengan penumpang lain, kepulan asap rokok ilegal, dan tangisan bayi yang tak kunjung reda—telah sukses membuat seluruh persendiannya kaku dan kepalanya berdenyut nyeri.

​Namun, Damar segera menepis rasa lelah itu. Di desa, bekerja sampai punggung serasa mau patah bukanlah pilihan hidup, melainkan satu-satunya cara agar dapur tetap mengepul. Kini, ia sudah berada di Ibu Kota. Kota ini, dengan segala keangkuhan bangunan pencakar langitnya yang mulai menyala di kejauhan, adalah ladang baru yang harus ia taklukkan. Kota berarti peruntungan baru.

​Damar mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Kasur busa tipis berselimut seprai biru pudar itu terasa keras, seolah-olah ia sedang duduk di atas tumpukan kardus bekas. Ia mengedarkan pandangan, mengabsen isi kamar berukuran tiga kali tiga meter tersebut: sebuah lemari pakaian plastik yang salah satu pintunya sudah copot, sebuah kipas angin dinding kecil yang berdebu, dan satu colokan listrik yang tampak agak longgar. Semuanya sangat minimalis, bahkan cenderung menyedihkan. Namun bagi Damar, ini sudah lebih dari cukup untuk memulai segalanya.

​"Yang penting dapet kerja dulu. Apa aja, yang penting halal," bisiknya pada keheningan kamar, mencoba menyuntikkan optimisme ke dalam hatinya sendiri.

​Ia merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel. Layar retak sedikit di bagian atas, tapi masih berfungsi normal. Dia membuka aplikasi lowongan kerja yang sudah dia simpan sejak di desa.

​Dengan sabar, Damar mengusap layarnya ke bawah, memindai daftar pekerjaan yang tersedia. Ia tidak punya ijazah sarjana, pun tidak memiliki keahlian khusus di bidang teknologi. Jari telunjuknya berhenti pada beberapa lowongan: kuli gudang logistik di daerah Kota, penjaga toko kelontong 24 jam, dan buruh harian lepas untuk proyek bangunan. Semuanya ia masukkan ke dalam daftar favorit tanpa berpikir panjang. Saat ini, ia tidak berada dalam posisi bisa memilih-milih makanan. Selama fisiknya mampu, ia akan mengambilnya.

​"Besok pagi-pagi bener, mending langsung keliling masukin lamaran fisik," gumamnya, menyusun rencana di dalam kepala.

​Namun, tepat sebelum Damar sempat mengetuk detail persyaratan lowongan kerja kuli gudang, layarnya mendadak macet. Ponselnya bergetar panjang, sebuah notifikasi muncul.

VIDRO VIRAL — KEJADIAN TIDAK WAJAR DI PUSAT KOTA, WARGA DIHIMBAU WASPADA

​Damar mengernyitkan dahi. "Vidro? Maksudnya video kali ya? bikin judul aja belepotan," gerutunya pelan.

​Biasanya, Damar akan langsung mengusap notifikasi seperti itu ke samping demi menghemat kuota internetnya yang sudah sekarat.

​Namun, entah mengapa, kali ini matanya seperti terpaku pada layar. Ada sesuatu yang janggal dari gambar pratinjau (thumbnail) video tersebut yang blur. Warnanya terlalu kelam, dan kalimat "Kejadian tidak wajar" kalimat itu terasa mengganggu.

​Setelah ragu selama beberapa detik, Damar akhirnya mengetuk tautan video tersebut.

Awal rekaman video normal. Jalanan kota yang rame, orang - orang lalu lalang ada juga yang sedang berburu makan. Motor - motor ​penuh di jalan raya, suara klakson kendaraan, ada juga pedagang kaki lima.

​Kamera bergoyang agak parah, menandakan si perekam sedang berjalan atau memegang ponselnya dengan cara disembunyikan di dekat dada—seperti seseorang yang sedang merekam kejadian secara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan.

​Damar menggeser posisi duduknya, bersandar pada dinding kamar yang terasa dingin. Ia mendengus pelan. "Halah, paling-paling juga prank orang gila baru, atau promosi film horor marketing murahan," gumamnya santai.

​Namun, spekulasinya langsung runtuh tepat pada detik kesepuluh.

Seseorang masuk Frame. Seorang pria dewasa, langkahnya aneh. Kepalanya terkulai lunglai ke depan, sementara kedua bahunya terangkat kaku.

​Damar otomatis mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit menatap layar yang retak. "Ini orang kenapa? Mabuk kecubung apa gimana?"

​Pria itu tiba-tiba berhenti tepat di tengah pembatas jalan yang ramai. Ia menoleh ke arah kamera. Matanya kosong, bukan kosong lelah atau mabuk tapi kaya engga ada orang di dalemnya.

​Damar mendadak menegakkan punggungnya. "Eh... ini beneran bukan akting?" bisiknya, mulai merasa ada yang tidak beres.

​Di dalam video, pria itu bergerak cepat. Menerjang orang di depannya, orang itu jatuh. Terdengar suara teriakan dari video itu, kamera juga bergoyang sangat keras. Damar refleks berdiri dari tempat tidur, kedua kakinya gemetar tanpa ia sadari. "Woy! Woy! Itu orang diapain?!" serunya pada layar mati, seolah-olah orang-orang di dalam video bisa mendengarnya.

​Apa yang terjadi selanjutnya di dalam rekaman tersebut adalah mimpi buruk yang menjadi nyata. Pria dalam video itu menggigit korban, bukan memukul atau berkelahi. Video makin kacau, orang - orang berlari, beberapa terjatuh tapi beberapa juga bangun lagi. Tapi cara bangun mereka beda, terlalu lambat, terlalu patah dan matanya kosong.

​Damar merasakan seluruh darah di tubuhnya mendadak surut ke kaki. Tangannya yang memegang ponsel bergetar hebat. "Anjir... ini gila. Ini pembunuhan beneran?!"

Video tiba - tiba jatuh, hanya terlihat langit namun tidak lama gelap, sinyal hilang.

​"Editan. Pasti editan digital. Orang kota kan pinter-pinter bikin video tipuan kayak gini buat nyari viewers," cetusnya pelan, suaranya terdengar sangat rapuh di tengah kesunyian.

​Ia mencoba memaksa dirinya untuk tertawa, menyindir betapa bodohnya dia karena sempat memercayai rekaman tersebut. Namun, tawa itu tertahan di tenggorokan, menjelma menjadi gumpalan rasa takut yang menyumbat jalan napasnya. Logikanya mencoba menolak, namun insting hewani yang tertanam jauh di dalam dirinya berteriak bahwa apa yang baru saja ia lihat adalah sebuah kebenaran yang mutlak dan mengerikan.

​Damar berjalan mendekati jendela satu-satunya di kamar itu. Jendela kaca kecil yang dilapisi teralis besi berkarat. Ia menyingkap gorden kain semenit, lalu melemparkan pandangannya ke luar, ke arah gang dan jalanan utama di ujung sana.

​Di luar, semuanya masih tampak normal. Beberapa pengendara motor masih melintas dengan kecepatan sedang. Orang-orang masih berlalu-lalang di trotoar.

​"Tuh, kan. Hoaks. Cuma video sampah," kata Damar, kali ini dengan nada yang dipaksakan lebih tegas demi meyakinkan dirinya sendiri. Ia melepaskan pegangannya pada gorden, membiarkan kain itu kembali menutup kaca.

​Damar berbalik, berniat mengambil botol air mineral dari ranselnya untuk membasahi tenggorokannya yang kering kering kerontang.

​Namun, ia gagal mengelabui pikirannya sendiri. Bayangan sepasang mata kosong milik pria di video tadi seolah telah tercetak permanen di dinding matanya.

​BRAK!!!

Suara keras dari luar membuat Damar menoleh.

"Apaan itu?!"

​Ia tidak berani bergerak dari posisinya. Kamar itu mendadak terasa seperti kotak jebakan. Suara langkah kaki. Ini adalah suara entakan kaki yang terburu-buru, berat, dan tidak beraturan. Jumlahnya bukan hanya satu atau dua orang, melainkan banyak tidak beraturan.

​Damar perlahan-lahan melangkah mendekati pintu kamarnya. ​Tepat saat jemarinya menyentuh permukaan gagang pintu, suara jeritan manusia pecah dari luar gang, menembus sela-sela pintu kayu kamarnya yang tipis.

​"JANGAN KELUAR! JANGAN KELUAR DARI RUMAH!!!"

​"PANGGIL POLISI! ANJIR, ADA ORANG GILA GIGITIN ORANG-ORANG DI DEPAN GANG!!!"

​Mendengar kata "gigit", Damar merasa seluruh persendiannya mendadak lemas bagai dilolosi. "Gigit...? Enggak, enggak mungkin..." bisiknya dengan bibir yang mendadak kelu.

​Suara-suara di luar bertambah kacau dalam hitungan detik. Terdengar suara pintu-pintu kamar kos lain di koridor luar dibanting dengan keras. Sesuatu yang berat—mungkin rak sepatu atau motor yang diparkir di lorong—tumbang menyentuh lantai dengan bunyi kelontangan yang bising. Ada juga suara seretan yang berat, disusul oleh pekikan tertahan dari seorang wanita yang tinggal di kamar sebelah Damar, sebelum akhirnya suara itu lenyap digantikan oleh suara kunyahan yang basah dan mengerikan.

​Damar menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa seperti menelan pecahan kaca. ​Melalui celah sempit berjarak dua sentimeter di bagian bawah pintunya, Damar bisa melihat bayangan kaki-kaki manusia yang berlarian kesetanan di koridor kos yang remang-remang. Beberapa pasang kaki berlari melewati kamarnya begitu saja dengan kecepatan penuh. Namun, ada satu pasang kaki yang tiba-tiba berhenti tepat di depan kamar nomor empat belas.

​Bayangan kaki itu tampak aneh. Posisinya tidak simetris; salah satu pergelangan kakinya tampak menekuk ke dalam dengan sudut yang mustahil bagi manusia hidup, seolah-olah tulang pergelangan kakinya telah patah total namun tetap dipaksa untuk menumpu beban tubuh. Kaki itu bergeming di sana, tidak bergerak selama beberapa detik, sebelum akhirnya mulai terseret maju-mundur dengan gerakan yang sama sekali tidak sinkron dengan biomekanika tubuh manusia normal. Gerakan itu... sangat tidak manusiawi.

​"EVAKUASI! SEMUA WARGA DIHARAPKAN KELUAR SEKARANG JUGA! MENUJU KE JALAN UTAMA!"

​Sebuah suara pria paruh baya—mungkin pak RT atau pemilik kos—berteriak menggunakan pengeras suara dari ujung lorong luar. Suaranya penuh dengan keputusasaan dan ketakutan yang mencekam.

​Evakuasi? Damar mengernyitkan dahinya, dilanda kebingungan yang luar biasa. Haruskah ia membuka pintu dan ikut berlari keluar bersama massa yang panik? Ataukah ia harus tetap mengunci diri di dalam kamar sempit ini? Di tengah pergulatan batinnya yang hebat, ponsel di genggaman tangannya kembali bergetar dengan ritme yang konstan dan panjang.

​Kali ini, getaran itu berasal dari sistem Peringatan Darurat Nasional yang otomatis memotong seluruh fungsi ponsel. Layarnya berubah menjadi merah menyala, memamerkan teks tebal yang berkedip-kedip:

​PERINGATAN DARURAT: VIRUS MUTASI TINGKAT TINGGI TERDETEKSI DI BEBERAPA TITIK KOTA. GEJALA MELIPUTI KEHILANGAN KESADARAN, PERILAKU AGRESIF EKSTREM, DAN KANIBALISME. SELURUH WARGA DIMINTA UNTUK TETAP BERADA DI DALAM RUANGAN ATAU SEGERA MENUJU TITIK EVAKUASI TERDEKAT. JANGAN MENDEKATI INDIVIDU YANG MENUNJUKKAN GEJALA!

​Jari-jari tangan Damar mendadak kehilangan sensasi rasa, terasa sedingin es balok. Ponselnya tergelincir dari genggamannya, jatuh berdebum di atas kasur.

​Virus mutasi.

Video itu muncul lagi di kepalanya. Orang itu. Gigitan itu. Matanya.

​Tok... tok... tok...

​Suara pintu diketuk dengan pelan tapi jelas.

​Damar mendadak mengunci rapat-rapat mulutnya, bahkan menghentikan aliran napasnya sendiri agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Jantungnya berdegup begitu kencang di dalam rongga dadanya, berdentum sangat keras hingga ia takut makhluk di balik pintu bisa mendengarnya.

​"Si... siapa?" tanya Damar dengan suara yang nyaris tidak berupa bisikan, tercekik oleh rasa takut yang luar biasa.

​Tidak ada jawaban kata-kata dari balik pintu. Kesunyian malam mendadak terasa begitu pekat dan menekan.

​TOK!!!

​Kali ini lebih keras, gagang pintu juga bergerak seperti seseorang memaksa masuk dengan pintu masih terkunci.

​Damar refleks melompat mundur sejauh dua langkah, matanya melebar menatap gagang pintu yang bergerak-gerak liar tersebut.

​Dari celah udara di pinggir pintu, suara itu akhirnya terdengar. Bukan suara sapaan manusia yang meminta perlindungan. Itu adalah suara embusan napas yang sangat berat, serak, dan basah, disusul oleh suara geraman rendah yang bergetar di tenggorokan—sebuah suara berlendir yang lebih mirip dengan suara binatang buas yang sedang mengendus aroma daging segar daripada suara seorang manusia.

​Damar menatap pintu tripleks hijau itu tanpa berani berkedip barang satu milidetik pun. Keringat dingin kini sudah membanjiri pelipis dan punggungnya, membuat kaosnya basah kuyup. Dan pada detik itulah, akal sehat Damar akhirnya dipaksa untuk menerima kenyataan pahit yang paling mengerikan.

​Apa pun yang berdiri di balik pintu kamarnya saat ini... sudah bukan lagi makhluk yang bisa disebut sebagai manusia.

​BRAAAKKK!!!

​Pintu kamar kos itu dihantam dengan kekuatan penuh dari luar, hingga menyebabkan kayu di sekitar area selot pintu mulai retak dan mengeluarkan serpihan kayu kecil.

​Damar langsung mundur hingga punggungnya membentur dinding semen di sudut belakang kamar.

​"Anjir... anjir... demi apa ini..." umpat Damar dengan suara gemetar, air mata keputusasaan mulai menggenang di sudut matanya.

Gagang pintu bergerak lagi​ kali ini lebih kuat dan lebih liar. Dari luar tidak ada lagi suara manusia, hanya suara nafas mengerikan yang terdengar. Malam yang seharusnya menjadi awal dari perjuangan Damar untuk mengadu nasib di kota, kini mendadak berubah menjadi panggung perjuangan paling primitif: perjuangan untuk tetap hidup.

​Saat engsel pintu kamarnya mulai mengeluarkan bunyi patah yang nyaring, Damar tahu bahwa dunia lamanya telah berakhir. Dan di luar sana, dalam kegelapan malam kota yang terinfeksi, peradaban manusia sedang retak dan hancur berkeping-keping.

BAB 2 - PINTU YANG TIDAK LAGI AMAN

Pintu kayu itu masih bergetar. Ketukannya tidak sekeras tadi, tapi konstan. Cukup untuk membuat isi kepala Damar mendadak kosong.

*Tok… tok… tok…*

Pelan sekali. Seolah sesuatu di luar sana sedang memastikan apakah makhluk di dalam kamar ini masih bernyawa.

Damar merapatkan punggungnya ke dinding. Dingin semen terasa menembus kausnya, berbanding terbalik dengan telapak tangannya yang basah oleh keringat dingin.

“Siapa itu…?” bisiknya, suaranya tercekat di tenggorokan.

Sama sekali tidak ada jawaban. Keheningan itu justru digantikan oleh suara napas yang berat, basah, dan serak—seperti suara tenggorokan yang tersumbat lendir. Suaranya konstan, seperti seseorang yang habis berlari maraton tapi dipaksa terus berdiri.

Mata Damar terpaku pada gagang pintu. Perlahan, logam bulat itu bergerak turun.

*Kreeek…*

Suara gesekan kayu yang tertekan membuat Damar refleks menahan napas. "Ini bukan orang biasa," gumamnya lirih.

*BRAK!*

Hantaman mendadak itu begitu keras hingga membuat seluruh kusen pintu bergetar. Damar spontan melangkah mundur. Di bagian bawah, tripleks pintu mulai retak dan mencuat retakannya.

“Anjir…” umpatnya pelan, jantungnya mencelos.

Dari luar kamar, suara-suara aneh mulai bersahutan. Ada teriakan histeris, derap langkah kaki yang serong, dan bunyi barang-barang yang terguling. Suasananya kacau, seolah-olah seluruh penghuni kosan sedang kehilangan akal sehat mereka secara bersamaan.

Di tengah hiruk-pikuk itu, satu teriakan melengking terdengar paling jelas dari arah koridor:

“JANGAN GIGIT GUE!!”

Lalu, jeritan itu terputus begitu saja. Senyap seketika.

Hanya jeda beberapa detik sebelum suara mengerikan itu terdengar: suara kunyahan basah dan robekan kain—atau mungkin kulit.

Tubuh Damar kaku seketika. “Enggak… enggak mungkin…”

Pikirannya buntu. Tangannya gemetar hebat saat matanya bergerak liar dari pintu ke arah jendela kamar, mencoba menimbang pilihan. Kalau dia nekat membuka pintu, dia tidak tahu kengerian apa yang sudah menunggu di luar. Tapi kalau dia tetap diam di sini, pintu itu jelas tidak akan bertahan lama.

*BRAK!*

Hantaman kedua jauh lebih brutal. Gagang pintu langsung dol dan miring ke bawah.

"Aing kudu kaluar!"

Panik, Damar melompat ke arah jendela dan membuka paksa pengaitnya. Angin malam langsung menerpa wajahnya. Dia melongok ke bawah; ini lantai dua kosan lamanya, jarak ke tanah sebenarnya cukup tinggi dan rawan bikin patah kaki kalau mendaratnya salah. Ditambah lagi, ventilasi jendelanya ternyata terlalu sempit untuk ukuran badannya. Mustahil bisa lolos cepat.

​BRAK! Pintu di belakangnya jebol. Separuh engselnya terlepas.

​Damar menoleh cepat. Di celah pintu yang miring itu, sebuah tangan merangsek masuk. Kulitnya pucat kelabu, kaku, dengan kuku-kuku yang menghitam pecah.

​Sial, jalurnya buntu. Tidak ada waktu untuk mikir lagi. Damar meraih guling di kasurnya, melemparkannya ke arah pintu untuk menghalangi pandangan makhluk itu, lalu dia nekat menerobos keluar lewat celah pintu kamarnya sendiri yang sudah setengah menganga, memilih bertaruh nyawa di koridor.

​Koridor kosan yang biasanya sepi kini mendadak seperti neraka kecil. Pintu-pintu kamar terbuka lebar, barang-barang berserakan di lantai, lambaran kertas, dan sandal-sandal teronggok tak beraturan.

Di dekat tempat sampah, seorang Mbak-mbak penghuni kamar ujung terduduk sambil menangis histeris. “Mas… tolong, Mas…”

Damar sempat memperlambat langkah, berniat menarik tangan perempuan itu. Namun langkahnya terhenti total saat mendengar suara raungan dari arah belakang.

Seorang cowok berkaus kutang ambruk ke lantai, lalu bangkit lagi dengan gerakan yang sama sekali tidak manusiawi. Kepalanya patah ke samping, matanya putih pudar tanpa pupil, dan mulutnya berlumuran darah segar.

“Ini beneran…” Damar mundur teratur, bulu kuduknya meremang.

Dia berbalik dan langsung lari sekencang-kencangnya menuju ujung lorong, mengabaikan segala hal di sekitarnya. Yang ada di otaknya cuma satu: turun ke lantai bawah dan keluar dari bangunan ini.

Tangga kosan dilewatinya dengan melompat dua-tiga anak tangga sekaligus. Beberapa kali dia hampir terseret dan jatuh, tapi adrenalin membuatnya terus melaju. Di area lobi bawah, gerbang kosan sudah terbuka lebar. Orang-orang berlarian keluar dengan panik; ada yang sempat menyampirkan tas ransel, ada yang bertelanjang kaki, dan ada yang berlari tanpa arah seperti ayam kehilangan induk.

Begitu berhasil menginjakkan kaki di aspal jalanan, udara terasa lebih lega, tapi suasananya tidak lebih aman. Suara sirine ambulans atau polisi terdengar bersahutan dari kejauhan, tapi bunyinya tenggelam oleh kekacauan yang ada di depan mata.

Motor-motor bergelimpangan di jalan. Orang-orang saling berteriak dan menabrak satu sama lain. Tak jauh dari sana, seorang bapak-bapak berlari pincang sambil menekan lengannya yang robek dan bersimbah darah.

“INI BUKAN HOAX! LARI ANJING!” teriak seseorang.

Damar mematung di tepi jalan. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan dengan cepat. Sial, semuanya kacau. Tidak ada sudut yang kelihatan aman. "Urang harus ke mana...?"

“HEI!”

Sebuah tepukan keras di bahu membuat Damar hampir melayangkan jotosan karena kaget. Seorang cowok berjaket jinjing lusuh dengan napas memburu sudah berdiri di sampingnya.

“Lo dari kosan itu, kan?” tanya cowok itu cepat, matanya awas menatap sekeliling.

Damar hanya bisa mengangguk kaku. “Iya…”

“Kalau lo diem aja di sini, lo mati.”

“Sebenarnya ini apaan sih?!” tuntut Damar, suaranya mulai meninggi karena stres.

Cowok itu malah terkekeh geli—sebuah tawa getir yang lahir dari rasa panik yang teramat sangat. “Gue juga lagi nyari tahu jawabannya.” Dia kemudian mengedikkan dagunya ke arah belakang Damar. “Lo liat tuh.”

Di tengah temaram lampu jalan, sesosok tubuh berdiri membelakangi mereka. Posisinya terlalu tegak, kaku, dan diam di antara manusia lain yang berlarian.

Lalu, kepalanya berputar ke arah mereka dengan gerakan patah-patah yang lambat. Matanya keruh, kosong, dan sejurus kemudian, makhluk itu mulai menyeret langkahnya. Targetnya jelas: mereka berdua.

Damar otomatis melangkah mundur, "Anjir..."

Cowok di sebelahnya langsung menarik napas dalam-dalam. “LARI!”

Mereka berdua membelah kegelapan, berbelok tanpa arah yang jelas. Merangsek ke dalam jalan tikus di samping kosan, lalu memotong lewat gang sempit yang gelap. Di belakang mereka, gemuruh suara langkah kaki justru terdengar makin ramai. Bukan cuma satu atau dua, tapi belasan.

Damar tidak berani menoleh ke belakang. Namun, telinganya menangkap ritme langkah yang aneh. Langkah-langkah kaki itu tidak seperti orang berlari cepat, tapi juga bukan jalan santai. Bunyinya berat dan terseret, seperti segerombolan mayat yang dipaksa bergerak.

“Maneh...Saha?” tanya Damar terengah-engah, dadanya mulai terasa terbakar.

“Rendi,” jawabnya singkat tanpa mengurangi kecepatan. “Gue udah mantau keganjilan ini dari pagi.”

“Maksudnya gimana?”

“Orang-orang berubah jadi aneh setelah digigit.” Rendi melirik sekilas. “Dan ini jelas bukan karena virus flu biasa.”

Langkah mereka melambat begitu sampai di sebuah gang buntu yang dijepit dinding batako. Rendi segera menarik sebuah pintu besi berkarat di sana, lalu memposisikan badannya untuk menahan pintu itu dari dalam.

“Dengerin gue,” kata Rendi, suaranya ditekan serendah mungkin. “Jangan pernah kepikiran buat nyari tempat rame atau posko penyelamatan.”

“Kenapa emangnya?”

“Karena di tempat kayak begitu, penularannya bakal jauh lebih cepet. Area komunal itu tempat paling pertama yang bakal hancur.”

Damar menyandarkan kepalanya ke dinding gang, mencoba mencerna rentetan kejadian gila ini. “Tapi yang tadi itu… apa? Orang gila? Efek narkoba?”

Rendi menatap Damar lurus-lurus dengan tatapan dingin. “Kalau itu cuma orang gila, kita berdua nggak bakal lari seketakutan ini, Mas.”

Dari arah jalan raya, suara sirine terdengar makin melengking, bersahutan dengan gema jeritan histeris yang entah datang dari sudut kota sebelah mana.

Damar akhirnya tersadar. Kota yang dia tinggali sekarang bukan lagi kota yang sama dengan yang dia kenal kemarin. Semuanya sudah runtuh. Dan sialnya, dia baru terlambat beberapa jam saja untuk menyadari bahwa kiamat kecil sudah dimulai.

BAB 3 - KOTA MULAI BERUBAH

Gang sempit itu terasa jauh lebih pengap dari sebelumnya. Bau got tua bercampur keringat dingin membuat dada Damar makin sesak. Di sampingnya, Rendi masih menahan bobot tubuhnya pada gerbang besi kecil, memastikan grendel karatan itu benar-benar mengunci jalur yang baru saja mereka lewati.

*CLANG!*

Rendi memukul pelan besi itu sebelum akhirnya menegakkan tubuh sambil mengembuskan napas panjang. "Setidaknya ini bisa nahan mereka beberapa menit," ujarnya lirih.

Damar menoleh cepat, napasnya masih memburu. “Beberapa menit buat apa?”

Rendi tidak langsung menjawab. Sepasang matanya justru bergerak awas, menatap lurus ke arah jalan besar di ujung gang. Dari sana, suara-suara jahanam itu masih terdengar jelas: lengkingan klakson yang tertahan, sirine yang meraung konstan, dan derap langkah kaki yang kacau-balau—seperti kepungan massa yang bergerak tanpa arah.

“Ya buat kabur, lah,” sahut Rendi akhirnya, nadanya terdengar ketus karena lelah.

Damar mengernyitkan dahi. “Kabur ke mana?!”

Rendi terkekeh kecil. Bukan tawa renyah, melainkan tawa getir dari orang yang nyaris putus asa. “Kalau gue tahu tempat yang aman, gue nggak bakal peloncoan bareng lo di gang ini.”

Damar mengusap wajahnya yang basah oleh keringat kasar. Logikanya masih menolak untuk menerima semua kegilaan ini. Baru beberapa jam lalu dia menginjakkan kaki di kota ini, membawa tas dan harapan baru. Sekarang? Dia justru terperangkap di gang gelap, lari bersama orang asing yang baru dikenalnya lima menit lalu, dikejar oleh sesuatu yang—kata orang di sebelahnya ini—bukan lagi manusia.

“Ini beneran nggak masuk akal…” gumam Damar, suaranya bergetar.

Rendi menoleh, menatap Damar dengan pandangan menusuk. “Mau masuk akal atau enggak, faktanya lo masih napas sekarang, kan? Simpen dulu herannya.”

Damar bungkam. Itu tamparan fakta yang tidak bisa dia bantah.

*BANG!*

Hantaman keras pada pintu besi di belakang mereka membuat keduanya spontan melompat mundur. Rendi langsung memasang posisi siaga, tangannya mengepal.

“Sial, cepet banget…” bisik Rendi.

*BANG! BANG!*

Pelat besi itu mulai meliuk ke dalam. Struktur kusennya yang sudah tua berderit protes. Damar semakin panik, langkahnya surut beberapa jengkal. “Katanya bisa nahan beberapa menit?!”

“Gue bilang *setidaknya*, anjir!” semprot Rendi kesal.

*BRAK!*

Sambungan engsel bagian atas jebol seketika. Dari celah yang menganga itu, sebuah tangan merangsek masuk. Kulitnya kelabu kotor penuh bercak tanah, jemarinya bergerak kaku mencakar-cakar udara kosong dengan liar. Suara kuku yang bergesekan dengan permukaan besi berkarat sukses membuat kulit kepala Damar merinding disko.

Rendi langsung menyentak jaket Damar. “Nggak usah ditonton, lari!”

Mereka berdua menghambur keluar dari mulut gang, memotong ke jalan samping yang lebih lebar. Namun, begitu pandangan Damar menyapu area jalan utama, langkah kakinya mendadak terkunci.

Kota ini sudah runtuh. Bukan runtuh perlahan, melainkan seperti dihantam sesuatu yang masif dalam satu waktu.

Di jalanan, mobil-mobil berhenti melintang tanpa aturan, beberapa di antaranya ringsek karena saling tabrak. Sebuah motor matic tergeletak miring di aspal dengan mesin yang masih meraung dan roda belakang berputar sia-sia. Manusia-manusia berlarian kesetanan. Ada ibu-ibu yang memeluk anaknya sambil menangis, ada pria yang berteriak histeris memanggil nama seseorang, dan yang paling mengerikan… ada beberapa orang yang mendadak kalap, menerkam orang di sebelah mereka tanpa peringatan.

Damar terpaku di tempatnya. “Ini… ini sebenernya apa…?” suaranya nyaris tenggelam oleh kebisingan sekitar.

Rendi menyambar lengan Damar, menyeretnya paksa. “Jangan bengong, bodoh! Mau mati?”

Tepat di lajur kanan mereka, seorang pria paruh baya ambruk setelah ditabrak lari. Namun, belum sempat ada yang menolong, pria itu sudah bangkit lagi. Gerakan berdirinya janggal—terlalu kaku, seolah engsel lututnya dipaksa lurus. Begitu kepalanya menoleh ke arah kerumunan, matanya putih total, kosong tanpa ekspresi.

“Aing… aing liat yang kayak gini di video …” gumam Damar, matanya membelalak.

Rendi terus menyeretnya maju tanpa menoleh lagi. “Sekarang fiksi itu lagi nyoba buat makan lo. Fokus!”

Tiba-tiba, histeria pecah dari arah kiri mereka.

“ITU MEREKA!! JANGAN DEKET-DEKET, KELUAR LO KABUR!!”

Seorang pria berjaket kulit berlari sambil menyikut siapa saja yang menghalangi jalannya. Di belakangnya, tiga orang dengan pakaian robek-robek dan mulut berlumuran cairan pekat merangsek maju. Mereka tidak berniat menjarah atau menolong—mereka langsung menjatuhkan pria berjaket kulit itu ke aspal dan mulai mencabik-cabiknya.

Langkah Damar kembali goyah. “Gila… ini beneran gila…”

Rendi menarik napas kasar, wajahnya makin tegang. “Penularannya udah nggak terkendali. Lewat sini!”

Mereka berbelok lagi, menerobos masuk ke jalan pemukiman yang lebih sempit dan minim penerangan. Napas Damar sudah terasa putus-putus, dadanya seperti terbakar karena kehabisan oksigen.

“Mane… Maneh yakin kita nggak bakal mati konyol di sini?” tanya Damar di sela sisa tenaganya.

Rendi melirik sekilas dari balik bahunya. “Gue nggak bisa jamin apa-apa. Jamin diri lo sendiri!”

Jawaban jujur itu justru membuat Damar panik. Tepat saat mereka melewati sebuah tikungan di dekat bak sampah besar, sesosok tubuh berdiri tegak di tengah jalan.

Diam. Sama sekali tidak bergerak.

Damar langsung mengerem langkahnya. “Jangan bilang…”

Sosok itu menoleh perlahan. Gerakan lehernya patah-patah, seolah otot-ototnya sudah kaku berhari-hari. Tatapan matanya yang mati langsung mengunci ke arah mereka, dan sedetik kemudian, dia mulai menyeret kakinya, mempercepat langkah ke arah Damar dan Rendi.

Rendi spontan pasang badan, mendorong Damar ke belakang punggungnya. “Jangan liat matanya terlalu lama!”

Damar tersentak. “Kenapa?!”

“Gue nggak tahu! Tapi rata-rata orang yang sempat tatapan sama makhluk-makhluk ini bakal membeku karena panik duluan!” seru Rendi.

Damar menelan ludah dengan susah payah. “Berarti… fix nular lewat gigitan?”

Rendi tidak menjawab lewat kata-kata, tapi helaan napasnya yang berat sudah cukup menjadi penegasan.

Mereka terpaksa berputar balik, mengambil jalur alternatif yang memutar. Kali ini, gemuruh di belakang mereka terasa berlipat ganda. Suara seretan kaki, jeritan melengking yang terputus, dan bunyi benda-benda roboh saling bersahutan. Damar tidak lagi memikirkan ke mana arah tujuan mereka; otaknya hanya memerintahkan kakinya untuk terus bergerak.

Sampai akhirnya, mereka tiba di sebuah persimpangan berbentuk pertigaan kecil. Rendi mendadak berhenti total, membuat Damar hampir saja menubruk punggungnya.

“Kenapa berhenti lagi?!” protes Damar panik.

Rendi tidak menjawab, melainkan mengarahkan telunjuknya ke sudut kiri tembok pembatas. “Masih ada yang selamat.”

Damar mengikuti arah pandang Rendi. Di sana, di balik bayangan tiang listrik, seorang gadis mahasiswi sedang berjongkok memeluk lututnya. Napasnya pendek-pendek, wajahnya sembap oleh air mata, dan seluruh badannya bergetar hebat karena syok.

“Mas…” isak gadis itu begitu melihat siluet mereka. “Tolongin saya, Mas…”

Damar sempat ragu, dia melirik Rendi. “Ren…”

Rendi menoleh ke belakang, memastikan jarak aman dari kejaran makhluk di belakang mereka, lalu mengangguk cepat. “Ambil dia. Tapi gerak cepat, kita nggak punya waktu banyak!”

Damar langsung menghambur ke arah gadis itu, berjongkok di depannya. “Kamu bisa jalan? Bisa lari?” tanya Damar bertubi-tubi.

Gadis itu mendongak dengan tatapan nanar, lalu mengangguk lemah. “B-bisa…”

“Pegang tangan aing, ayo berdiri!” Damar menarik lengan gadis itu dengan paksa tapi hati-hati, membantunya menegakkan tubuh.

Tepat pada saat itu—

*RAAARGH!!*

Sebuah raungan parau yang memekakkan telinga menggema dari arah lorong yang baru saja mereka tinggali. Damar menoleh refleks. Sesosok makhluk bertubuh kurus kering sedang berlari kencang ke arah mereka dengan kecepatan yang sama sekali tidak wajar untuk ukuran manusia normal.

“LARI, SEKARANG!!” teriak Rendi lantang.

Mereka bertiga langsung memacu langkah membelah sisa koridor gang. Kini Damar tidak lagi lari sendirian, beban di pundaknya bertambah. Namun, alih-alih merasa tenang karena mendapat teman baru, rasa was-was di dadanya justru kian berlipat ganda.

Satu kesadaran baru menghantam kepala Damar dengan telak: di dunia yang baru ini, kalau dia sampai jatuh atau lengah sedikit saja, taruhannya bukan cuma kehilangan nyawa.

Dia bisa saja berakhir menjadi salah satu dari *mereka*.

Di kejauhan, raungan sirine kota masih terdengar lamat-lamat. Namun malam ini, kota yang padat itu tidak lagi terasa seperti tempat bernaung. Kota ini terasa seperti sebuah organisme raksasa yang sedang sekarat, membusuk dari dalam. Dan sialnya, Damar masih terjebak tepat di tengah-tengah proses pembusukan itu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!