Master Yang Penuh Misteri

Tekad Lucas untuk membalas dendam kini membimbingnya. Ia meninggalkan reruntuhan akademi yang menyisakan kepedihan mendalam di hatinya. Di tangannya, pisau dengan lambang spiral gelap itu terasa dingin, namun bagi Lucas, itu adalah kompas menuju kebenaran. Ia harus memulai dari awal, mencari jejak di kota-kota terdekat, menyelidiki organisasi bawah tanah, dan mendengarkan bisik-bisik yang mungkin membawanya pada dalang di balik semua ini.

Dalam perjalanannya, Lucas menyadari bahwa dunia di luar akademi jauh lebih kejam dari yang ia bayangkan. Setiap langkahnya penuh bahaya, namun ia tak gentar. Setiap pertemuan baru, setiap informasi yang didapatkannya, sekecil apa pun itu, terasa seperti pecahan teka-teki. Ia perlahan merangkai kepingan-kepingan itu, membentuk gambaran yang semakin jelas tentang jaringan gelap yang telah menghancurkan hidupnya.

Lambang spiral gelap itu ternyata bukan sekadar ukiran biasa. Lucas mulai menemukan jejak-jejaknya di berbagai tempat, kadang tersembunyi sebagai tanda rahasia di dinding gang sempit, kadang muncul sebagai tato di lengan para penjahat. Semakin ia menyelidiki, semakin jelas bahwa ia telah tersandung pada sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih menakutkan dari sekadar serangan mendadak biasa.

Suatu malam, di sebuah kedai minum remang-remang yang penuh sesak dengan orang-orang berwajah keras, Lucas duduk di sudut. Matanya yang tajam menyapu setiap wajah, mencari tanda sekecil apa pun yang berhubungan dengan simbol spiral. Telinganya menangkap percakapan singkat dari dua pria di meja sebelah, salah satunya mengenakan gelang kulit dengan ukiran yang samar menyerupai lambang itu.

"Sudah lama tidak melihat orang itu di markas," kata salah satu pria.

"Markas di mana? Bukannya dia selalu di tempat biasa?" sahut temannya.

"Bukan, dia pindah ke tempat baru, dekat bekas pelabuhan lama. Katanya ada urusan penting." Bisikan itu cukup jelas dan membuat Lucas tegang.

Lucas perlahan mendekat. Ia meraih gelas minuman kosong dari meja di dekat mereka. Pria bergelang itu menatapnya curiga.

"Ada apa?" tanyanya dengan suara serak.

Lucas tersenyum tipis. "Maaf, aku tidak sengaja mendengar. Kalian menyebut pelabuhan lama? Aku sedang mencari pekerjaan di sana. Siapa tahu ada yang bisa direkomendasikan."

Pria itu menyipitkan mata, seolah membaca niat Lucas.

"Bukan urusanmu," kata pria itu dingin.

Temannya yang lain menimpali, "Jangan usil, bung. Kami tidak kenal siapa pun di sana."

Lucas tidak menyerah. "Begitu ya? Sayang sekali, padahal aku dengar banyak kesempatan bagus di sana, terutama bagi orang-orang dengan 'tanda' seperti milikmu," ucap Lucas sambil melirik gelang di pergelangan tangan pria itu.

Ekspresi pria itu berubah tegang. Ia menarik lengannya menjauh, menyembunyikan gelang itu di balik meja. "Kau tahu terlalu banyak, kawan," bisiknya, memberi isyarat pada temannya. Lucas tahu ia telah menekan terlalu jauh, namun ia juga tahu ia sudah mendapatkan petunjuk berharga.

Pria bergelang itu bangkit tiba-tiba, menendang kursinya hingga terbalik. "Kau cari masalah rupanya!" bentaknya, melayangkan tinju ke arah Lucas.

Lucas dengan cepat menunduk, menghindari pukulan itu. Tangannya sudah siaga di balik jaket. "Aku tidak ingin berkelahi," kata Lucas pelan, "aku hanya ingin tahu siapa yang punya tanda spiral itu."

Teman pria itu ikut berdiri, meraih sebotol bir kosong. "Jangan coba-coba mengancam kami, bocah! Kami bukan orang sembarangan di tempat ini!" teriaknya, mengayunkan botol itu.

Lucas tersenyum sinis. "Oh, benarkah? Kalau begitu, buktikan." Ia melesat seperti bayangan, menghindari ayunan botol dan sekaligus menendang lutut pria pertama. Pria itu tersungkur sambil mengerang kesakitan.

"Sialan!" umpat pria satunya, lalu dia mencoba menusuk Lucas dengan pecahan botol.

Lucas menepis tangan itu, memutar pergelangan tangannya, dan merebut pecahan botol itu. "Kau tidak belajar, ya?" Lucas bergumam, "Aku hanya butuh informasi. Aku tidak ingin membunuhmu."

"Apa yang kau inginkan dari kami?" teriak pria bergelang itu, mencoba bangkit.

Lucas menempelkan pecahan botol di leher pria itu. "Aku ingin tahu siapa yang punya gelang seperti punyamu. Siapa pemimpinmu? Dan mengapa mereka menyerang akademi?" Lucas bertanya dengan suara rendah yang mengancam.

"Aku tidak tahu apa-apa soal akademi! Kami hanya bawahan kecil!" jawab pria itu ketakutan, napasnya tercekat.

"Bohong!" sahut Lucas, menekan lebih kuat. "Siapa nama bos kalian di pelabuhan lama itu?"

Pria bergelang itu gemetar. "Baiklah! Baiklah! Namanya Raven! Dia yang mengendalikan semua di sana!" serunya, suaranya tercekat.

"Dia yang punya lambang spiral itu?" Lucas memastikan, matanya menatap tajam.

"Ya, dia! Dia juga punya banyak pengikut dengan lambang yang sama!" Lucas mengangguk pelan, informasi ini penting.

"Lalu, apakah kalian tahu tentang serangan di akademi Bayangan Utara?" Lucas bertanya lagi, suaranya kini dingin seperti es.

Pria satunya, yang terbaring mengerang di lantai, tiba-tiba memejamkan mata. "Aku tidak tahu apa-apa!" ucapnya lirih. "Kami hanya diperintah untuk menjaga wilayah, bukan menyerang siapa pun!"

Lucas menatap mereka bergantian, memikirkan apakah mereka berkata jujur atau tidak. "Aku rasa kalian memang tidak tahu apa-apa tentang akademi itu. Tapi kalian sudah tahu terlalu banyak tentangku." Lucas berbisik pelan, sebuah pernyataan yang dingin dan mematikan.

Tanpa peringatan, Lucas bergerak cepat. Pecahan botol di tangannya melesat. Darah muncrat saat ia mengakhiri hidup pria bergelang itu dalam sekejap. Lalu, dengan gerakan secepat kilat, pisau yang ia sembunyikan di balik jaketnya sudah berada di tangan, menghunjam ke jantung pria yang satunya. Tubuh keduanya ambruk tak bernyawa, tergeletak di lantai kedai minum yang remang-remang. Lucas berdiri tegak, tak ada emosi di wajahnya. Hanya tekad yang semakin membara.

Lucas melangkah keluar dari kedai yang sunyi itu. Ia meninggalkan dua mayat di belakangnya. Malam itu dingin, namun amarah dalam dirinya lebih dingin. "Raven," gumamnya pelan, mengulang nama yang baru saja ia dapatkan. "Kau selanjutnya." Ia merasa sedikit pun tidak bersalah atas apa yang baru saja ia lakukan, karena para penyerang itu memang pantas mendapatkan hukuman atas perbuatan mereka.

"Hanya soal waktu," Lucas berkata pada dirinya sendiri. Ia menatap langit malam yang gelap, di mana bintang-bintang berkelip samar. "Aku akan menemukanmu, Raven, di mana pun kau bersembunyi." Tekad itu menguat di setiap tarikan napasnya, membuatnya melangkah lebih cepat menuju tujuannya.

"Dan ketika aku menemukanmu," Lucas melanjutkan, "kau akan menyesal telah lahir. Ini bukan sekadar balas dendam, ini tentang keadilan yang kalian renggut dari Master Loe dan Niama." Ucapannya terdengar seperti sumpah yang diucapkan ke angin malam, sebuah janji yang tak akan pernah ia lupakan.

Sementara itu, di Sekte Pedang Berbunga, Diana berdiri di balkon kamarnya. Ia menatap bulan purnama yang bersinar terang. Wajahnya yang biasanya tenang kini diliputi kegelisahan. "Kabar itu," bisiknya pada dirinya sendiri. "Kabar tentang Akademi Bayangan Utara yang rata dengan tanah. Itu tidak mungkin." Sebuah desahan berat keluar dari bibirnya.

Seorang murid senior, Ellyza, menghampirinya. "Kau baik-baik saja, Diana? Kau terlihat cemas sekali," tanyanya, suaranya lembut.

Diana menoleh, matanya terlihat muram. "Aku tidak tahu, Ellyza. Aku baru saja mendengar berita buruk dari ibu kota. Katanya, Akademi Bayangan Utara diserang dan hancur total."

Ellyza terkesiap. "Apa? Hancur total? Bagaimana bisa?"

Diana menggelengkan kepala pelan. "Aku juga tidak tahu detailnya. Tapi aku memikirkan Lucas. Dia masih di sana. Apakah dia selamat? Aku khawatir sekali." Ia mengepaskan tangannya erat. "Aku harus tahu keadaannya. Aku harus pergi ke sana."

Ellyza menenangkan. "Tenang dulu, Diana. Mungkin ini hanya rumor yang dilebih-lebihkan. Kita tidak bisa langsung pergi tanpa izin."

Diana mendesah. "Tapi, Ellyza, bagaimana kalau itu benar? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada dia?"

Tiba-tiba, Master Brian, pemimpin Sekte Pedang Berbunga, muncul di belakang mereka. Suaranya terdengar berat dan tegas.

"Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya.

Diana tersentak. "Master Brian! Maafkan kami, Master. Kami hanya—"

Master Brian mengangkat tangannya, menghentikan Diana. "Aku sudah tahu tentang berita itu, Diana. Dan aku juga tahu apa yang ada di pikiranmu." Matanya menatap Diana lurus.

"Aku melarangmu pergi ke Akademi Bayangan Utara," kata Master Brian tanpa basa-basi. "Wilayah itu berbahaya sekarang. Ada kekuatan gelap yang bergerak di sana. Kau harus tetap di sini."

Diana terkejut. "Tapi, Master! Lucas mungkin dalam bahaya! Dia sendirian di sana!" Nada suaranya meninggi, menunjukkan keputusasaan.

Master Brian menghela napas. "Aku mengerti kekhawatiranmu, Diana. Tapi kau tidak bisa bertindak gegabah. Sekte ini memiliki aturan. Dan di tengah situasi seperti ini, keselamatan setiap anggota adalah prioritas." Ia menepuk pundak Diana pelan. "Percayalah padaku. Jika dia selamat, dia akan menemukan jalannya sendiri. Tugasmu sekarang adalah mengasah kemampuanmu di sini."

Diana menatap Master Brian dengan mata berkaca-kaca. "Tapi, Master, bagaimana Master bisa begitu yakin dia akan baik-baik saja? Master Loe dan Niama... mereka mungkin juga ada di sana." Suaranya bergetar, penuh ketidakpastian.

Master Brian membalas tatapannya, ada kilatan aneh di matanya yang nyaris tak terlihat. "Diana, kekuatan yang menyerang akademi itu sangat besar. Mereka... mereka tidak akan membiarkan jejak apa pun tertinggal. Siapa pun yang mencoba mencari mereka, akan menghadapi risiko yang sama." Nada suaranya sedikit terlalu yakin, seolah dia tahu persis bagaimana kelompok penyerang itu beroperasi.

"Jadi, Master tahu siapa mereka?" Ellyza memberanikan diri bertanya, nadanya penuh selidik.

Master Brian menoleh ke arah Ellyza, ekspresinya kembali tenang, namun ada aura dingin yang menyelimuti. "Itu bukan urusanmu, Ellyza. Cukup kalian tahu bahwa situasi ini lebih rumit dari yang terlihat. Ada jaringan yang sangat kuat di balik semua ini, dan melawannya seorang diri sama saja bunuh diri." Ia menegaskan kembali larangannya, menatap Diana dan Ellyza bergantian.

Diana mengepalkan tangan, frustrasi. "Tapi bagaimana jika Lucas mencoba mencari mereka? Dia tidak akan menyerah, Master Brian, dia tidak akan!" Suaranya penuh keputusasaan.

Master Brian hanya mengangguk pelan. "Itu keputusannya, Diana. Tapi di sini, di Sekte Pedang Berbunga, kau harus mematuhi perintahku. Kau punya potensi besar, jangan sia-siakan dengan bertindak gegabah." Ia mengakhiri percakapan, meninggalkan Diana dan Ellyza dengan kekhawatiran yang masih menggantung.

Malam itu, setelah Diana dan Ellyza kembali ke kamar masing-masing, Master Brian masih berdiri di balkon. Ia menatap bulan yang sama, namun dengan ekspresi yang berbeda. Ia menggerakkan tangan kanannya perlahan, merapikan jubahnya yang sedikit tersingkap. Dalam gerakan itu, terlihat sekilas sebuah tato kecil di pergelangan tangannya.

Tato itu membentuk spiral gelap, persis seperti lambang yang Lucas temukan di pisau penyerang. Brian tersenyum tipis, senyum yang tidak terlihat oleh siapa pun. "Anak itu," gumamnya pelan, suaranya rendah dan penuh perhitungan. "Dia memang keras kepala. Tapi dia akan mengerti nanti."

Ia kemudian meraih sebuah gulungan perkamen yang tersembunyi di balik lengan jubahnya. Gulungan itu diikat dengan tali kulit yang juga dihiasi ukiran spiral. "Raven akan mengurus yang lainnya. Semuanya sesuai rencana," bisiknya, sebelum menghilang ke dalam kegelapan lorong, meninggalkan misteri yang semakin dalam.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!