Kehangatan Dari Seorang Rival

Lucas yang sejak tadi terfokus pada Diana, tiba-tiba melihat sesuatu yang ganjil. Ada jeda sangat kecil di antara ayunan pedang pertama dan kedua gadis itu. Sebuah celah yang hanya bisa ditangkap oleh mata seorang pembunuh bayaran seperti dirinya.

Kemudian Lucas menyadari bahwa Diana, meskipun terlihat sempurna, ternyata memiliki pola serangan yang berulang. Ini adalah kunci untuk mengalahkannya di masa mendatang.

Setelah menemukan celah itu, Lucas merasa semangatnya kembali membara. Ia mulai mempraktikkan gerakan serupa, berusaha menemukan cara terbaik untuk mengeksploitasi celah tersebut. Sesekali ia menggerakkan tangannya di udara, seolah sedang memegang pisau. Lalu membayangkan dirinya menghadapi Diana, mencoba beragam skenario untuk bisa melewati pertahanannya yang kokoh.

Niama yang melihat Lucas begitu serius, hanya bisa menggelengkan kepala. Karena Lucas memang selalu terobsesi pada setiap detail, terutama dalam hal pertarungan.

Meskipun latihan telah usai, Lucas masih tetap di lapangan. Ia terus menganalisis dan berlatih dalam pikirannya. Setiap gerakan Diana seolah terekam jelas dalam benaknya. Ia pun sudah memiliki rencana untuk menguji teorinya tentang celah Diana.

Ia tahu bahwa mengalahkan Diana bukan hanya soal kekuatan, tetapi juga tentang kecerdasan dan kemampuan untuk membaca lawan. Lucas merasa yakin bisa menemukan titik lemah Diana dengan elemen airnya yang fleksibel.

Seiring berjalannya waktu, tekad Lucas untuk menantang Diana tidak pernah surut. Ia selalu mencari setiap kesempatan untuk mengukur kemampuannya melawan gadis itu. Pertandingan demi pertandingan terus terjadi di antara mereka.

Lucas selalu mengerahkan seluruh kemampuannya. Sementara Diana dengan elemen esnya yang menakutkan selalu berhasil mematahkan setiap serangan Lucas. Namun, setiap kekalahan justru semakin memicu semangat Lucas untuk terus belajar dan tumbuh. Mereka berdua pun akhirnya tumbuh dewasa menjadi petarung terkemuka di akademi tersebut.

Kini, setelah bertahun-tahun berlatih dan bertarung, Lucas kembali berdiri di hadapan Diana di arena latihan utama. Kali ini bukan sekadar latihan biasa, melainkan sebuah pertandingan terakhir yang akan menentukan siapa di antara mereka yang benar-benar menjadi yang terbaik. Ini adalah kesempatan terakhir Lucas untuk membuktikan dirinya. Karena ia selalu kalah dalam setiap pertarungan melawan Diana, sehingga ia merasa harus memenangkan pertarungan ini.

Atmosfer tegang menyelimuti seluruh arena.

Diana berdiri dengan anggun di seberang Lucas. Rambut peraknya terurai indah melewati bahunya, menonjolkan kecantikan alami yang memesona. Kulitnya yang bersih dan halus memantulkan cahaya dari lentera di sekitarnya. Siluet tubuhnya yang ramping dan proporsional tampak sangat ideal di balik seragam latihan. Ia terlihat tenang dan percaya diri. Sebuah pemandangan yang selalu membuat Lucas merasa tertantang dan pada saat yang sama mengakui keindahan lawannya.

Peluit berbunyi nyaring, mengawali duel epik itu. Diana segera melesat maju dengan kecepatan luar biasa. Kedua pedang esnya mengayun dalam busur mematikan, berusaha menekan Lucas dengan rentetan serangan tanpa henti.

Namun, Lucas yang sudah mempelajari setiap gerakannya, bereaksi dengan kelincahan yang mengejutkan. Setiap serangannya begitu cepat dan kuat, menciptakan bayangan ganda yang membingungkan. Seolah dia berada di banyak tempat sekaligus, menyulitkan Diana untuk melacak keberadaannya.

Pertarungan mencapai puncaknya ketika Lucas berhasil menemukan celah yang selama ini ia incar. Saat Diana melancarkan kombinasi pedang gandanya, Lucas dengan sigap memanfaatkan jeda sepersekian detik itu untuk melancarkan serangan balasan yang mematikan.

Ia melesat dengan kecepatan air yang mengalir, menghindari ujung pedang es Diana. Lalu mengunci salah satu pergelangan tangan Diana dengan gerakan memutar yang kuat. Ini membuat pedang di tangan Diana terlepas dan melayang di udara.

Diana terkejut dengan kecepatan dan kekuatan Lucas yang jauh melebihi dugaannya. Ia tidak pernah menyangka bahwa Lucas akan menjadi sekuat dan secepat ini. Sementara itu, Lucas dengan gerakan cepatnya mengakhiri pertarungan dengan menempelkan bilah pisaunya di leher Diana.

Sebuah gerakan final yang membuktikan dominasinya. Ini memaksa Diana untuk mengakui kekalahannya dengan napas terengah-engah dan sorot mata kagum yang terpancar jelas di wajahnya.

Setelah Lucas mendeklarasikan kemenangannya, Diana tersenyum tipis. Sebuah ekspresi yang jarang sekali terlihat di wajahnya yang biasanya dingin. Lalu ia mengulurkan tangannya ke arah Lucas sebagai tanda persahabatan dan rasa hormat yang mendalam. Karena selama ini hanya Lucas yang mampu mendorongnya melewati batas kemampuannya.

Lucas menyambut uluran tangan itu dan sambil membantu Diana berdiri, ia menatap mata Diana dengan sorot lembut. Kemudian berbisik pelan.

"Diana," Lucas memulai dengan nada yang sedikit berbeda dari biasanya. "Besok adalah kelulusanmu, mungkin aku akan merindukanmu."

Diana yang mendengarnya, merasa pipinya menghangat dan rona merah samar muncul di sana. Sebuah reaksi yang sangat jarang ia alami.

Tetapi ia berhasil menyembunyikan keterkejutannya dengan cepat. Ia tetap mempertahankan ekspresi tenangnya seolah tidak terjadi apa-apa. Karena diam-diam ia menyimpan perasaan khusus untuk Lucas yang selama ini selalu menjadi rivalnya.

Diana menarik napas dalam-dalam, berusaha menguasai perasaannya yang bergejolak. Lalu ia memberanikan diri untuk bertanya kepada Lucas dengan suara datar.

"Apa kau akan mengikutiku ke Sekte Pedang Berbunga?" Sebuah pertanyaan yang tersirat harapan besar di baliknya.

Ia berharap Lucas akan ikut bersamanya, melanjutkan petualangan mereka di luar akademi. Lucas hanya terdiam sesaat, memikirkan jawaban yang tepat. Ia tahu bahwa pilihan ini akan mengubah segalanya bagi masa depan mereka.

Setelah berpikir sejenak, Lucas tersenyum tipis. Senyum yang jarang sekali terlihat di wajahnya yang serius. Lalu ia menjawab dengan keyakinan penuh.

"Aku berjanji aku akan menyusulmu ke sana, Diana." Kata-katanya mengalir dengan mantap, menegaskan komitmennya untuk tidak membiarkan mereka berpisah terlalu lama. Karena ia tahu bahwa petualangannya di luar akademi tidak akan lengkap tanpa kehadiran Diana di sisinya, baik sebagai rival maupun sebagai teman dekat.

Janji yang baru saja diucapkan Lucas itu sontak membuat Diana reflek tersenyum lebar. Senyum yang begitu tulus dan murni hingga membuat wajahnya terlihat semakin cantik. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya yang meluap.

Lalu ia pun membalas dengan suara bersemangat.

"Aku menantikannya." Ini menunjukkan bahwa ia sangat menghargai janji Lucas, dan berharap bisa segera bertemu kembali dengannya di Sekte Pedang Berbunga.

Melihat ekspresi Diana yang begitu cerah, Lucas merasa ada kehangatan yang menjalar di dadanya. Sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kemudian ia melanjutkan dengan nada yang lebih santai dan akrab.

"Malam ini aku ingin menghabiskan waktu bersamamu." Ajaknya. Karena ia tahu bahwa ini mungkin akan menjadi malam terakhir mereka berdua sebelum Diana meninggalkan akademi. Lucas ingin membuat setiap momen berharga bersama Diana tidak terlupakan.

Malam itu, mereka berdua menghabiskan waktu di taman akademi yang sunyi, di bawah sinar rembulan yang temaram, berbagi cerita dan kenangan pahit manis selama mereka berlatih bersama, sebuah momen langka di mana dinding formalitas di antara mereka runtuh, digantikan oleh kehangatan dan rasa nyaman yang mendalam, karena malam itu bukan hanya perpisahan, melainkan juga awal dari janji yang terukir di hati mereka.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!