Di panggil Pak Bos

Hari itu aku pikir ketika aku pulang aku akan terlepas dari si Ketua Kelas dan akan baik-baik saja, namun...

"... Boleh aku tahu kenapa kamu malah ikut aku pulang?" Orang aneh ini malah ikut aku pulang entah kenapa.

Apalagi dia mengikuti tepat di belakangku seperti ekor saja dan mungkin ia juga menginjak tempat yang sama dengan yang aku injak sepanjang jalan ini.

"Yah, aku pikir kita akan cocok karena kita punya rahasia yang sama di sini!" Aku makin heran dengan apa yang dia ucapkan itu. "Ha!?..."

"Coba kamu pikir. Aku ini vampir dan kamu adalah pendekar misterius dengan kekuatan yang misterius juga!"

"Kalau kamu pikir-pikir bukanya kita cocok untuk selalu bersama dan berusaha untuk membantu menyembunyikan indentitas bersama!" Makin lama anak ini makin gak waras.

Tanpa banyak bicara lagi aku langsung pergi sedangkan dia terus bicara sambil memejamkan matanya.

"Kenapa kamu malah diam saja? Apa yang aku katakan tadi benar bukan, kita akan cocok sebagai rekan kan... Lah!?" Ia baru sadar ketika aku sudah jalan cukup jauh.

"Hey! Tunggu aku!?" Ia segera mengikutiku dari belakang sedangkan aku terus jalan tanpa menghiraukannya.

Bahkan setelah sampai di rumah pun ia masih saja nyerocos dengan hal-hal yang tidak masuk akal yang dia pikirkan itu.

Aku segera beres-beres dan ganti baju karena aku harus pergi bekerja sekarang.

"Eh. Kita baru saja sampai dan kamu mau pergi lagi?!" Lagi-lagi ia mengikuti aku tapi kali ini dari samping.

"Aku harus pergi bekerja jadi tentu saja aku harus pergi sekarang. Kamu sendiri apa tidak ada kerjaan di rumahmu sampai-sampai mengikuti aku kemana-mana!?".

Tiba-tiba suasana jadi senyap dan sunyi dimana pada waktu itu ketika aku menoleh aku melihat si Ketua Kelas terlihat sedih. 'Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?...'

"Tidak ada. Kalau di rumah aku selalu sendirian dan tidak ada yang mau bicara padaku karena semua pembantu di rumah takut padaku!"

"Aku kira mereka menganggap kamu aneh saja ketimbang merasa takut!" Si Ketua Kelas langsung menoleh ketika aku mengatakan itu dengan nada yang datar.

"Kamu jangan bercanda. Aku yakin kalau mereka semua takut padaku!".

'Terserahmu sajalah, aku gak mau bicara lagi.'

Setelah itu kami pun terdiam untuk beberapa saat tapi tak lama si Ketua Kelas bertanya. "Kamu gak mau menghiburku?"

Aku makin malas menanggapi orang ini.

"Haahh... Yang sabar ya, ini hanya sementara!" Aku berkata dengan datar.

"Maksa sekali! Kamu ini benar-benar tidak tidak kasihan sama aku!?" Ia mulai menunjukan raut wajah yang menyedihkan.

Kini malah aku yang terlihat jahat dan bersalah.

"Haahh... Jujur aku kasihan, tapi bukan pada kamu yang selalu sendiri. Kamu tahu kenapa begitu?!" Ia langsung menggelengkan kepalanya.

"Itu karena alasan kamu sendirian itu ulahmu sendiri, kamu terlalu banyak berkhayal tentang sesuatu yang tidak ada hingga membuat orang lain merasa aneh!"

"Itu mungkin penyakit seperti delusi atau apalah. Tapi setahuku penyakit seperti itu masih bisa di sembuhkan dengan cara terapi teratur!"

"Kamu harus tahu kalau semua yang kamu rasakan dan pikirkan itu hanya ada di dalam kepala kamu, itu tidak nyata sama sekali dan jika kamu tidak berusaha melawan... Selamanya kamu akan terjebak di dalam khayalan kamu sendiri!".

Ia terdiam kebingungan.

Aku tidak berharap dia akan menerima alasan yang aku ucapkan juga sih, hanya saja mungkin akan sangat bagus kalau si Ketua Kelas bisa keluar dari khayalannya itu.

Kan sayang sekali ya kalau cewek secantik ini suka berkhayal dan mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal.

Beberapa saat kemudian tibalah kami di tempatku bekerja jadi tukang bersih-bersih selama ini.

"Loh! Ini kan kantor punya Papaku. Kenapa kita ke sini?!" Ia bertanya padaku dan aku menjawabnya. "Karena di sinilah aku bekerja!"

'Oh... Jadi waktu itu yang aku lihat benar-benar orang ini ya. Pantas orang yang membawa sampah itu familiar.' Ia teringat ketika melihatku membawa sampah.

Langsung aku masuk ke dalam dengan si Ketua Kelas yang terus mengikutiku.

"Oh, begitu... Kamu kerja di bagian mana?!" Setelah masuk ke dalam si Ketua Kelas akhirnya melepaskan tudung kepalanya.

"Di bagian kebersihan. Singkatnya aku jadi tukang bersih-bersih di sini!" Aku pergi ke ruangan dimana para tukang bersih-bersih berkumpul.

Mereka semua terlihat sedang siap-siap juga untuk bekerja.

"Kenapa kamu jadi tukang bersih-bersih?!" Pertanyaan macam apa itu coba...

"Ya karena hanya ini pekerjaan yang bisa aku lakukan dengan pendidikanku yang masih SMA ini!" Segera aku mengambil sapu dan yang lainnya untuk mulai bekerja.

Kemudian setelah itu aku pergi lagi untuk naik ke lantai dimana tempat aku di tugaskan.

Tempat ini sangat luas jadi setiap lantainya akan di urus oleh satu orang dan tempat yang akan aku bersihkan adalah lantai paling atas yaitu tempat si bos berada.

Aku naik lift dan tepat di samping si Ketua Kelas masih mengikuti sambil bersenandung.

'... Haahh... Semoga saja tidak ada masalah yang terjadi hari ini apalagi kalau itu sampai membuatku di pecat dari pekerjaan ini.'

Singkat cerita aku langsung bersih-bersih ketika aku tiba di lantai paling atas.

Selama beberapa menit aku menyapu dan si Ketua Kelas masih saja memperhatikan aku dengan sangat seksama.

Karena sudah tidak tahan akupun berkata. "Nona, apa kamu benar-benar segabut itu hingga memperhatikan tukang bersih-bersih sedang menyapu!?"

Ia kemudian menjawab dengan jawaban yang sudah tidak aneh lagi di telingaku. "Aku tidak gabut, aku memperhatikan kamu karena aku mau belajar beberapa hal dari orang sakit yang misterius!".

Saking seringnya aku mendengar hal-hal yang tidak masuk akal aku sudah terbiasa.

Tak lama kemudian datang seseorang yang tidak lain adalah sekertaris di tempat. "Loh. Nona ngapain ada di sini mondar-mandir!?".

"Tidak ngapa-ngapain!" Ia terlihat panik ketika menjawab.

Mungkin pikirnya karena kejadian itu identitasku sebagai orang sakti dan misterius akan terungkap.

Bahkan ia sesekali melirik ke arahku seakan minta bantuan.

"Kalau begitu ayo ikut saya. Pak bos sedang menunggu di dalam!" Si Ketua Kelas pun ikut dengan si sekertaris.

Akhirnya aku bisa punya waktu yang tenang untuk bekerja.

Di ruangan si pak bos.

Terlihat si Ketua Kelas baru saja masuk ke dalam ruangan di mana pada saat itu si pak bos sedang sibuk bekerja.

"Ada apa Papa memanggilku ke sini?!" Tanya si Ketua Kelas ketika ia baru saja masuk.

"Harusnya Papa yang tanya. Kamu ada di sini ada perlu apa?!" Ia langsung tahu kalau anaknya ada di sini.

Tentu saja itu karena ada yang melapor padanya.

"Yah... Aku cuma ikut dengan temanku saja ke sini!" Si pak bos terlihat terkejut hingga matanya melotot.

"Kamu bilang apa? Kamu punya teman?!" Si Ketua Kelas mengangguk dengan kepala yang sedikit terangkat seakan dia merasa sombong akan sesuatu.

"Kamu serius kamu punya teman?..." Tiba-tiba ia yang tadinya terkejut berubah jadi curiga. "Tunggu... Kamu tidak sedang membahas teman khayalan ataupun kelelawar kan!?" Tampaknya di rumahnya pun si Ketua Kelas masih suka ngehalu.

"Enggak. Kali ini temanku adalah orang dan namanya Dimas!" Si pak bos masih tak percaya dengan apa yang di katakan si Ketua Kelas.

"... Kamu bilang kamu ikut dia ke sini jadi dia masih ada di sini bukan?!" Ketua Kelas langsung mengangguk. "Ya, dia masih ada di sini. Memang ada apa?!".

"Kalau begitu panggilan dia ke sini, biar Papa bicara sama dia!" Alis mata si Ketua Kelas seketika tertekuk.

"Papa gak akan tanya yang macam-macam sama dia akan? Asal Papa tahu saja kalau orang ini punya rahasia, dia adalah orang misterius yang punya kekuatan besar!" Kini alis mata si pak bos yang tertekuk.

'Apa orang yang berteman dengan anakku ini punya penyakit yang sama yaitu suka ngehalu?...'

Akhirnya aku pun di panggil ke ruangan yang mana pada saat itu aku sudah panik sekali karena berpikir aku akan di pecat.

Apalagi dengan tatapan pak bos yang begitu tajam seakan sedang mencurigai sesuatu.

"Um... Ada apa ya pak bos saya di panggil ke sini!?" Aku bertanya dengan keringat yang bercucuran.

Dan aku semakin di buat panik ketika si pak bos tidak bilang apa-apa.

Tatapannya itu loh membuatku merinding.

"Siapa nama kamu?!" Nah kan. Aku di tanyai nama oleh atasan hanya ada dua kemungkinan.

Pertama dapat pujian dan yang kedua di berhentikan.

"Nama... Nama saya Dimas pak!" Aku sudah pasrah di sini kalau pun akan di pecat.

"Jadi Dimas... Apa kamu orang normal!?" Pertanyaan macam apa itu?...

Itulah apa yang aku pikirkan pada saat itu.

"Normal?... Normal dalam bentuk apa itu ya pak?!".

"Tentu saja normal dalam pandangan masyarakat!" Wajahku seketika menjadi serius.

"Wah, ini pertanyaan sulit pak. Soalnya kan yang di sebut normal dalam pandangan masyarakat itu bisa berubah tergantung berapa banyak yang bilang itu normal!".

"Kalau begitu berikan satu contoh antara yang normal dan tidak normal!?..." Makin pusing aku di sini.

"Hm... Misalnya bapak datang ke pelosok dan melihat mereka makan sesuatu yang tidak biasa anda makan maka anda akan berpikir kalau itu tidak normal!".

"Contohnya makan apa?...!".

"Um... Mungkin makan ikan mentah?... Kan di tempat kita yang namanya daging-dagingan itu harus di masak dulu baru bisa di makan. Jadi karena anda mereka asing dan tidak tahu anda pun menganggap itu tidak normal bagi diri anda sendiri!".

"Oke... Teruskan...!" Ini kita sedang sekolah atau bagaimana pake minta tambahan jawaban segala?.

"Ya tentu karena di tempat itu makan daging mentah itu hal yang biasa dan normal jadi jika anda koar-koar bilang makan daging mentah itu tidak normal maka orang-orang setempatlah yang akan bilang anda yang tidak normal!".

Si pak bos hanya mengangguk-angguk saja yang mana aku sendiri tidak paham kenapa dia mengangguk seperti itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!