Ketika itu aku melihatnya begitu sengsara dan terengah-engah.
"Haahhh... Yasudah, aku akan belikan kamu air jadi tunggu di tempat yang teduh itu!" Ia mengangguk kemudian berjalan dengan langkah yang tidak seimbang.
Ia sempoyongan hingga hampir saja jatuh tapi untungnya dia tidak jatuh.
Untung di dekat sana ada warung kecil yang menyediakan air jadi aku langsung membeli dua botol untuk di minum.
"Ambil ini!" Aku memberikan satu botol pada si Ketua Kelas dan ia pun menatapku dengan tatapan heran.
"Apa maksud tatapan itu?!" Aku tanya dengan wajah tak puas karena pikirku anak orang kaya ini mungkin tidak akan suka dengan air murahan.
"Ti... Tidak ada, aku hanya merasa kamu terlalu baik padaku meksipun aku vampir!" Ia kemudian tersenyum padaku dan mengambil airnya.
Serius deh...
Pikirannya yang mengira kalau dia ini adalah vampir tampaknya sudah terlalu mengakar di otaknya.
Setelah istirahat beberapa saat kami pun mulai melanjutkan perjalanan hingga sampai di kantor tempatku bekerja.
"Akhirnya... Sampai juga!" Ia berkata dengan terengah-engah dan terlihat seperti sangat menderita padahal cuma kecapean saja.
Tak lama kemudian datang seseorang yang tidak lain adalah sekertaris dari pemilik perusahaan ini yang langsung menanyai si Ketua Kelas.
Kala itu ia panik melihat wajah si Ketua Kelas menjadi pucat serta terengah-engah.
Kemudian datang lebih banyak orang dengan ekspresi khawatir berkumpul di sekitar si Ketua Kelas untuk caper.
Mereka tidak melakukan apa-apa selain berkata-kata seolah mereka peduli dan khawatir.
Tentu saja pada saat itu aku langsung di abaikan.
'Yah. Memang seperti inilah yang aku inginkan, tidak terlalu di perhatikan jadi masalah yang tidak perlu tidak akan datang.'
Berhubung aku tidak kerja pada hari ini aku langsung balik badan untuk pergi dari sini.
Selang beberapa saat kemudian si Ketua Kelas baru sadar kalau aku hilang hingga ia bertanya-tanya pada semua orang.
Tapi mana mungkin ada yang sadar dengan keberadaanku ini.
Mereka semua berkata kalau mereka tidak lihat siapa-siapa yang datang bersama si Ketua Kelas hingga muncullah kesalahan berpikir di otak si Ketua Kelas.
'Dimas ini... Apa mungkin ia bukan orang biasa? Apa ia sebenarnya adalah orang hebat yang punya kekuatan super hingga ia tidak takut padaku yang seorang vampir?'
'Ya, pasti itu. Kalau tidak bagian bisa ia bisa tidak terlihat oleh orang sebanyak ini kemudian hilang tanpa ada yang sadar?'
Semetara itu aku yang sedang liburan cuma jalan-jalan cari makan kemudian pulang untuk belajar.
Pada keesokan harinya aku berangkat ke sekolah seperti biasa.
Namun ketika sampai di depan gerbang aku melihat ada orang misterius... Gak, sih itu lebih seperti orang aneh yang mengenakan jubah panjang.
Ia tertutup dari ujung kepala sampai ujung kaki dan dia berdiri tepat di gerbang seakan menunggu seseorang.
"Kenapa akhir-akhir ini makin banyak orang aneh yang muncul di sekitarku?..." Tak mau ambil pusing atupun memperhatikan orang itu. Aku langsung saja masuk.
Tapi ketika aku melewatinya orang itu malah memegang tanganku. "Tunggu!" Ternyata orang aneh itu tidak lain dan tidak bukan adalah si Ketua Kelas.
Ia kemudian membuka tudung yang menutupi kepalanya sambil tersenyum. "Dimas! Apa kamu pendekar sakit!?".
"Ha!?..." Pertanyaan itu langsung membuat otakku berhenti berpikir untuk sejenak.
Untuk beberapa saat aku stuck di tempat karenanya.
"... Kamu ini ngomong apa coba? Aku gak ngerti!" Dengan nada suara yang sudah capek aku berkata.
Tapi si Ketua Kelas yang suka berkhayal ini malah berkata. "Jangan bohong. Aku tahu kamu adalah orang hebat yang punya ilmu tinggi".
"Buktinya kemarin saja tidak ada yang melihat kamu ketika mengantarkan aku ke kantor Papaku kemudian ketika kami hilang tidak ada yang sadar juga!".
"Dengan semua bukti itu mana mungkin aku percaya kalau kamu ini bukan orang hebat dan sakti. Aku yakin kamu sangat hebat bukan? Ayo, jujur saja sama aku!" Ia tersenyum menjengkelkan seakan dia benar-benar telah mengungkapkan identitasku.
Belum apa-apa tapi aku sudah capek sekali pagi ini.
Aku sampai langsung jalan pergi dan tidak mau menggubris perkataan orang ini lebih lanjut.
"Hey, tunggu!" Ia langsung menyusul dan jalan di sampingku.
"Ayolah, jangan acuh begitu. Aku janji kalau aku tidak akan membocorkan rahasia kamu karena kamu orang baik!".
"Lagipula kamu juga telah memegang rahasia aku yang seorang vampir ini. Jadi apa tidak bisa kita saling percaya saja!?" Gak denger dan gak peduli.
Itulah apa yang aku lakukan dimana aku tetap jalan dengan tatapan lurus namun datar.
Dan sepanjang perjalanan itu si Ketua Kelas ini tidak mau diam.
Ia terus menerus nyerocos tanpa henti.
Bahkan ketika di lorong ia terus bicara seakan ia sangat dengan dengan dan itu... Membuat orang-orang yang jalan di lorong salah paham tentang kami.
"Apa mereka saling kenal? Mereka terlihat sangat akrab menurutku!?" Bisik seorang siswi pada temannya.
"Iya. Aku jarang loh lihat ketua kita bicara pada orang lain seperti itu!" Tempat temannya.
"Setahuku Ketua Kelas kita ini sangat dingin dan jarang bersosialisasi dengan orang lain bahkan dengan cocok terganteng sekalipun!" Timpal siswi yang lain.
"Mungkinkah mereka ini sahabat atau malah pacar?!" Dari sini gosip gak jelas pun muncul dimana yang menyebarkannya tentu saja adalah orang-orang yang ada di lorong sekolah waktu itu.
Siang hari kemudian ketika jam istirahat tiba.
Tentu saja pada waktu itu para siswa-siswi yang ada di kelas langsung berhamburan keluar untuk cari makan dan bermain.
Sedangkan aku hanya diam di kelas.
Selain daripada aku yang penyendiri aku juga selalu membawa makanan sendiri karena makanan di sini mahal-mahal.
Tadinya aku berpikir kalau aku benar-benar sendiri di kelas ini sampai pada akhirnya si Ketua Kelas yang suka ngehalu ini pun datang.
"Kok kamu bawa makan sendiri?!" Ia bertanya dengan tatapan heran padaku yang membawa makan sendiri.
Aku langsung menjawab sambil membuka kotak makanan. "Ya karena aku orang biasa jadi aku harus bawa bekal untuk menghemat biaya pengeluaran!".
"Oh...!" Kemudian ia pergi tanpa mengatakan apa-apa yang mana aku pikir dia mau makan di kantin.
Ternyata apa yang aku pikirkan pada saat itu adalah sebuah kesalahan karena setelah si Ketua Kelas pergi dia malah balik lagi bawa makanan yang sangat banyak.
Tentu saja dia itu di bawakan oleh anak buahnya karena anak orang kaya sekolah pun tetap di kasih pelayan untuk membantunya.
"Kalau begitu ayo kita makan bersama!" Semua makanan itu malah di letakan di atas mejaku dan si Ketua Kelas juga mengambil kursi dari bangku sebelah agar bisa duduk bersamaku.
Setelah semuanya di hidangkan para pelayan si Ketua Kelas pun pergi dari sini meninggal kami hanya berdua saja.
"Ayo buka mulutnya!" Si Ketua Kelas mengangkat sendoknya untuk menyuapiku yang mana aku langsung menolak.
"Gak. Makan saja sendiri karena aku punya makanan juga di sini!" Ketika aku mau makan aku melihat si Ketua Kelas tampak sangat kesal hingga pipinya menggembung.
"Kamu ini kenapa sih selalu saja menolak aku!?" Langsung aku jawab.
"Ya karena aku gak butuh!" Ia kemudian semakin marah dan kesal.
Tapi aku abaikan hingga ia pun akhirnya menyerah dan makan apa yang dia punya tapi tidak banyak.
Entah karena nafsu makannya memang kecil atau karena kesal jadi tidak mood untuk makan.
Dan tanpa aku sadari ternyata ada seseorang yang sedang mengintip kami kemudian memfoto yang mana momen ketika kami di foto itu tepat sekali ketika si Ketua Kelas hendak menyuapiku.
"Hehehe. Ini akan jadi gosip yang bagus sekali!" Ia pun pergi dan kemudian menyebarkan gosip tentang kami.
Dan itu tersebar cepat sekali.
Sepanjang waktu istirahat berita tersebut tersebar ke seluruh penjuru sekolah seakan tidak ada yang tidak tahu.
Pantas saja ketika jam pelajaran selanjutnya di mulai tatapan satu kelas tertuju padaku dengan cara mereka menatap yang sangat aneh.
'Feelingku gak bagus nih...'
Sepulang sekolah aku lagi-lagi melihat ada orang-orang yang memperhatikanku kemudian berbisik-bisik dengan sangat pelan.
Ada beberapa dari mereka yang terlihat marah namun ada juga yang malah menyeringai misterius.
Bulu kudukku seketika merinding karena tatapan satu kelas pada waktu itu.
Dan aku semakin di buat merinding ketika si Ketua Kelas menyusul dengan mengenakan jubah panjangnya itu.
"Dimas tunggu aku!" Jantungku seakan berhenti berdetak untuk sejenak karena aku tahu ini akan jadi masalah yang semakin besar.
"Kamu mau pulang ya!?" Aku menjawab dengan ketus sambil lanjut jalan. "Enggak. Mau terbang!".
"Kamu bisa terbang? Itu hebat banget!" Ia malah semakin antusias bicara padaku.
'Tolonglah. Ada banyak orang di sini kalau kamu sedekat ini denganku aku bisa kena masalah ke depan.
Apalagi secara tidak sengaja aku samar-samar mendengar ada yang bilang kalau kami mungkin pacaran.
"Eh. Menurut kalian mereka ini pacaran atau enggak sih?!" Temannya kemudian menjawab. "Itu pasti. Lihat saja Ketua Kelas kita yang jadi lebih banyak tersenyum itu, dia tidak pernah terlihat seperti itu selama ini bukan?!".
"Iya, dia biasanya selalu memasang wajah datar dan paling-paling cuma tersenyum ramah dan itu di lakukan sama rata untuk semua orang!".
"Ia bisa seperti itu menandakan kalau laki-laki itu sepesial baginya jadi kemungkinan mereka pacaran itu seratus persen!" Semua orang mengangguk pada saat itu.
Tatapan mereka semakin terlihat penasaran saja ketika menatapku.
Dan dari sekian banyak tatapan penasaran ada satu tatapan tidak senang dan marah di antaranya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments