Pertemuan Menyebalkan

Siang yang cerah dan tak terlalu panas. Tapi, tak biasanya Jia dehidrasi seperti ini, ia pun mampir ke kantin untuk membeli sebotol minuman dingin sebelum memasuki kelas.

“Na, kamu duluan aja ya, aku mau beli minum dulu.”

“Oke ...”

Setelah membeli minuman, Jia tak sengaja menabrak seorang laki-laki yang sedang terburu-buru sehingga minuman yang dibawanya bertumpahan.

“Aduh ...” teriak Jia.

“Heh gimana sih? Kalau jalan tuh lihat-lihat!” ucap laki-laki itu geram.

“Sorry-sorry, aku gak sengaja.”

“Lihat nih! baju gue jadi basah,” ucap kembali laki-laki itu sembari mengusap-ngusap bajunya yang basah.

“Iya maaf, bajuku juga basah.”

“Makanya kalau jalan tuh yang bener!” bentak laki-laki itu membuat Jia tersontak.

“Loh kok jadi marah sih, aku kan udah minta maaf.”

“Ah sudahlah, gue lagi buru-buru,” ucapnya sambil berlalu meningalkan Jia.

Jia sangat kesal, rasanya ingin sekali ia memukul kepala laki-laki itu yang amat keras. “Ih ... siapa sih tuh orang, nyebelin banget deh!” gerutu Jia lalu bergegas pergi ke kamar mandi untuk mmbersihkan bajunya.

Saat dikelas.

“Jia, baju kamu kenapa basah?” tanya Nana.

“Barusan di kantin aku di tabrak orang sampe minumanku tumpah,” jawab Jia yang masih sangat kesal.

“Sama siapa Ji?”

“Aku juga gak tahu Na.”

Beberapa menit kemudian dosen mereka datang dan di ikuti oleh seorang laki-laki, dia memakai baju kaos dan kemeja terbuka, menggunakan celana yang sedikit robek dan penampilannya sedikit berantakan, akan tetapi parasnya mampu mengalihkan penampilannya.

Kulit sawo matang dengan rahang dan pahatan hidung yang sempurna, rambutnya yang hitam berkilau dan semakin manis dengan sedikit poni. Membuat semua perempuan terkagum dengan parasnya.

“Selamat siang, mohon perhatiannya teman-teman. Kelas ini ada kedatangan mahasiswa baru, silahkan untuk perkenalkan diri!” ucap dosen menyambut kehadiran laki-laki itu.

“Halo, nama saya Alvino, panggil aja Al,” ucap laki-laki itu dengan singkat.

Jia sangat terperanjat dengan kedatangan Alvino. Begitu pun dengan Bima, dia terkejut saat melihat Alvino namun dia berusaha menutupi rasa itu. Jia pun sangat tak percaya bahwa laki-laki berkepala keras itu akan satu kelas dengannya.

“Loh kok dia ada disini sih?” gumam Jia.

“Kenapa Ji?”

“Itu Na, itu orang yang udah nambrak aku tadi.”

“Dia yang udah nambrak kamu Ji? beruntung banget sih, ganteng banget tahu! aku juga mau dong di tabrak sama dia,” respon Nana yang sudah terpesona melihat Alvino.

“Iih Na ganteng dari mana sih? yang ada dia tuh nyebelin tahu!” ketus Jia dengan wajah kesalnya. Jia terus menatap Alvino dengan tajam, sedangkan Alvino menatap tajam kearah Bima dan Bima hanya memasang wajah coolnya.

“Hai Al, salam kenal ya ...” ucap salah satu wanita di sebrang Jia.

Dia adalah Cantika. Biasa di panggil Caca, orang yang selalu merasa dirinya yang paling keren dan paling cantik. Dia mempunyai dua orang teman yang selalu mengikutinya, yaitu Syeli dan Viola yang senantiasa mendukung dan selalu membelanya. Jika ada yang mengusik kehidupannya, pasti dia akan membuat rencan agar dirinya bisa menang.

“Mulai caper dia,” ucap Nana kesal.

“Sutt Na, nanti kedengeran loh,” sahut Jia.

Nana pun semakin kesal. Bagaimana mungkin gak berurusan dengan Cantika, kalau Cantika sendiri-lah yang selalu berbuat ulah sehingga banyak orang yang selalu membicarakannya meskipun dari belakang. Karena ya, mereka tidak mau berurusan dengan perempuan seperti itu.

Begitupun dengan Jia yang tak mau sahabatnya memancing urusan denagn Cantika. Nana yang mempunyai emosional yang tinggi tidak bisa menahan kejengkelan Cantika. Kelas pun berlangsung sampai sore.

Hari ini Jia, Nana, dan Bima meliburkan jadwal belajar tambahan mereka karena jadwal kelas hari ini sangat padat hingga sore. Saat berjalan menuju parkiran, Jia bertemu lagi dengan orang yang menambraknya tadi siang di kantin. Namun kali ini Jia di serempet oleh motor yang di tumpangi Alvino.

“Aww ...” jerit Jia yang kaget.

“Kamu!? Sengaja ya mau nyelakain aku? Kalau aku jatuh gimana?”

“Gak jatuh kan?” jawab Alvino dengan santainya. Membuat Jia semakin kesal.

“Ya, iya. Tapi aku kaget,” sahut Jia berusaha membela diri.

“Ya salah sendiri, karena lo jalannya ditengah.”

Belum sempat Jia membalas ucapannya, Al langsung menancapkan gas motornya dan langsung pergi jauh meninggalkan Jia. Jia pun semakin geram dengan kelakuan Al yang selalu membuat dirinya kesal.

Jia benar-benar tak mengerti, baru saja bertemu sudah membuat emosinya naik, apalagi bertemu setiap hari. Dan sialnya Jia harus bertemu kembali dengan Al di ruangan kelas yang sama.

Sesampainya di rumah, Jia langsung menceritakan apa yang terjadi padanya tadi sore pada Nana lewat telepon.

“Seriusan Ji?” respon Nana terkejut.

“Ya seriuslah Na, untung aja aku gak kenapa-kenapa. Dan yang paling nyebelinnya tuh dia malah pergi gitu aja Na tanpa bilang maaf,” jelas Jia.

“Ya ampun, syukur deh kalau gak kenapa-kenapa. Udahlah Ji, mungkin dia lagi buru-buru.” Nana beruhasa menenagkan sagabatnya itu.

“Ya gatau juga sih, tapi kan setidaknya bilang maaf gitu.”

“Iya Ji aku ngerti, sabar aja dulu mungkin dia belum sempat minta maaf.”

“Iya deh. Udah dulu ya Na, assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Keesokan harinya.

Jia pergi ke kantin sendiri karena Nana sedang pergi ke toilet terlebih dahulu. Saat sedang menunggu makanan, tiba-tiba Al duduk di depan Jia dan mengambil minuman milik Jia lalu spontan meminumnya. Jia langsung memandang Al dengan wajah kerungnya. Kelakuan Al yang seperti itu mampu membuat Jia terusik dan geram.

“Kamu lagi? Ngapain sih ganggu aku terus?” Jia berusaha menahan emosinya.

Al yang masih meminum air Jia dan langsung menghabiskannya sampai tak menjawab pertanyaan dari Jia. Jia pun semakin kesal dengan sikap Al yang menurutnya tak sopan. Dan baru kali ini Jia bertemu dengan orang yang seperti itu.

“Sorry,” singkat Al dengan memasang wajah datarnya tanpa dosa.

“Sorry? Hah, kamu tuh gak tahu sopan santun ya?”

“Thank juga minumannya,”

Lagi-lagi Al tak menjawab pertanyaan Jia.

Dia malah mengabaikannya dan membahas hal yang membuat Jia semakin kesal dan marah.

“Mending kamu pergi deh, dan jangan ganggu aku lagi!” usir Jia.

“Loh kenapa?”

“Pergi sekarang, atau aku yang pergi?” ancam Jia.

“Oke-oke gue pergi, tapi lo jangan marah ya!” sahut Al yang merayu Jia dengan wajah usilnya lalu berlalu meninggalkan Jia.

Jia hanya terdiam, berusaha untuk mengontrol emosinya dan menguatkan kesabaranya. Karena kalau tidak, dia akan terus berurusan dengan Al dan Jia berharap tak akan pernah lagi bertemu dengan orang seperti Al.

Dari kejauhan Nana melihat Jia sedang menggerutu. kerutan kening dan wajah merah pun masih terlihat jelas di wajah Jia. Sepertinya tidak semudah itu meredakan emosi yang ditimbulkan oleh lelaki itu. Nana pun langsung menghampiri Jia dengan rasa penasaran.

“Ji, kamu kenapa?”

“Aku kesal banget Na sama kelakuan Al.”

“Al? dia kesini? Terus sekarang dimana?”

“Aku usir.”

“Loh kok diusir? Aku kan mau ketemu juga.”

Jia hanya membisu melihat respon sahabatnya. Bukannya menenangkannya, Nana malah menanyakan Al yang selalu membuat ulah. Pandangannya dengan Nana sangat berbeda haluan. Jia tak mengerti apa yang dilihat sahabatnya dari laki-laki itu, sampai-sampai tak memperdulikan sahabatnya sendiri.

“Iih Nana ... aku lagi marah tahu, kok kamu nanyain orang itu mulu sih?” kesal Jia.

“Eh iya sorry Ji, tapi kamu gak kenapa-kenapa kan?”

“Engga sih.”

“Yaudahlah dia kan gak ngapa-ngapain kamu, mungkin yang ada dia caper kali sama kamu ...” goda Nana.

“Ih sembarangan, gak mungkinlah!”

“Kalau iya, gimana?” Nana masih berusaha menggoda Jia.

“Udahlah jangan bahas itu! Mending kita makan aja.”

“Iya deh iya, awas loh ya kalau baper.”

“Gak akan mungkinlah Na.”

Terpopuler

Comments

Dianapunky

Dianapunky

Cocok di hati nih.

2025-08-03

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!