KTML002~Duplikat Alena

Di toko peralatan sekolah...

Pak Alex dan anaknya tengah melihat-lihat barang yang terpajang rapi.

"Pa, anak perempuan tadi siapa? Papa kenal?" tanyanya.

"Xan, kenapa kamu penasaran?" Pak Alex bertanya balik.

Axan, putra Pak Alex, ia memiliki wajah rupawan dengan kulit persis pak Alex, cerah dan bersih.

"Soalnya baru ini aku lihat Papa dekat dengan anak kecil selain Xan, Pa." jawabnya.

Pak Alex tersenyum tipis.

"Suatu saat Papa akan cerita padamu, Xan."

Xan hanya menghela napas, Ayahnya ini sungguh sering pelit informasi padanya.

"Ayo pilih bukunya, Xan. Kita belum beli peralatan yang lain." titah Pak Alex.

"Iya, Pa."

Mereka berdua berdiri di tumpukan buku tulis, banyak motif yang menarik untuk anak kecil, Pak Alex tertarik pada buku dengan cover yang khas dengan anak perempuan, ia menyentuh buku itu dan teringat pada Ziya.

"Papa, Xan kan laki-laki, jangan disuruh pakai buku jelek itu." kata Xan yang salah paham.

Pak Alex menatap Xan.

"Papa tidak pernah mengajarimu seperti itu,"

Xan tertunduk.

"Maaf, Pa."

"Tidak ada karya manusia yang jelek, terkadang hanya tidak sesuai selera kita. Jangan pernah ulangi kesalahan seperti tadi,"

Axan mengangguk patuh.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Usai berbelanja perlengkapan sekolah, Axan dan Pak Alex segera menuju mobil. Tepat di lampu merah Pak Alex menghentikan mobilnya saat rambu lalu lintas menunjukkan warna merah, ia menoleh ke kanan tanpa maksud apa-apa, tidak disangka ia akan mendapat kejutan.

Mata Pak Alex membulat sempurna, jantungnya berdegup dengan cepat saat melihat mobil disamping, kaca mobil itu terbuka setengah sehingga terlihat dengan jelas siapa pengemudinya.

"Alena," ucapnya lirih.

Axan yang asik memainkan ponselnya tiba-tiba menyadari Ayahnya menyebut nama seseorang, ia langsung mengangkat kepalanya dan mendapati Ayahnya tengah menatap mobil lain, ia melihat pengemudi mobil itu seorang perempuan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

"Papa," panggil Axan, Pak Alex buru-buru mengalihkan pandangan.

"Siapa Alena?" tanya Axan.

"Papa belum bisa menjelaskannya sekarang padamu." jawab Pak Alex, sungguh jawaban yang tidak memuaskan bagi Axan.

"Hmmmm."

"Oh iya, Papa ikut hadir kan besok ke sekolah?" tanya Axan, Pak Alex mengangguk.

"Sepertinya nanti akan Papanya teman-teman akan banyak yang datang, Papa harus tampil keren ya."

Pak Alex menoel pipi Axan.

"Memangnya Papa jelek?"

Axan hanya tertawa kecil.

Lampu merah berganti warna hijau, mobil Alena melaju lebih dulu, Pak Alex sebenarnya penasaran ingin mengikutinya, namun ia malas berurusan dengan Axan.

"Papa," panggil Axan.

"Kenapa?"

"Ini kan bukan jalan pulang, Papa mau kemana?"

Pak Alex mengerjap, ia melihat sekelilingnya dan benar saja ini bukan jalan pulang ke rumahnya, ia melihat ke depan ternyata tanpa sadar ia mengikuti mobil Alena.

Pak Alex menepuk pelan jidatnya, ia segera mengambil arah lain.

"Papa kenapa?" tanya Axan yang khawatir pada Ayahnya.

"Papa mengikuti mobil perempuan tadi itu ya?" tanyanya lagi.

"Memangnya dia siapa? Apa dia yang Papa sebut Alena tadi?"

"Xan, mulutmu sejak kapan suka banyak bertanya?"

Axan mengerucutkan bibirnya, niatnya hanya ingin memberi perhatian pada Ayahnya, namun bagi Pak Alex lain.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Alena tiba di rumah mertuanya, ia mengetuk pintu beberapa kali hingga akhirnya muncullah seorang perempuan yang seumuran dengan dirinya datang membukakan pintu.

"Eh, Kak Alena. Kenapa tidak kasih kabar dulu mau kesini?" sambutnya dengan senyum ramah.

"Iya, Mira. Aku lupa tadi hehe. Papa ada nggak?"

"Ada, Kak. Ayo masuk." ajak Mira.

Saat masuk ke dalam rumah, terpampang sebuah foto pernikahan Ali dan Mira. Akhirnya Ali berhenti mengejar Alena setelah terus mendapat penolakan, ia dan Mira menikah 6 tahun lalu, namun hingga kini mereka belum dikaruniai momongan.

"Papa ada di kamar, Kak Alena mau langsung kesana?"

"Iya,"

"Ziya ikut, Ma." kata Ziya yang enggan melepas tangan Alena.

Alena menggandeng Ziya menuju kamar mertuanya.

"Kakek tumben di kamar, Ma." celetuk Ziya.

Mereka tiba di kamar Ayah Ahen, diketuknya pintu kamar karena tidak ingin langsung menerobos masuk.

'Tok tok tok'

"Pa, ini Alena."

"Masuk, Nak." sahut dari dalam, Alena pun membuka pintu, mereka masuk ke dalam kamar dan melihat mertuanya terbaring di tempat tidur.

"Papa kenapa?" tanya Alena yang khawatir, ia langsung menghampiri mertuanya dan mencium punggung tangannya.

"Uhuk, biasa. Penyakit orang tua." jawab mertuanya dengan tenang.

"Kakek." Ziya ikut mencium punggung tangan kakeknya, kecupan hangat langsung mendarat di kening Ziya.

"Cucu Kakek ini sudah tidak sayang Kakek ya? Lama sekali tidak kesini."

"Mana ada, kemarin lusa kan aku seharian main sama Kakek. Masa udah pikun sih."

Alena ternganga mendengar cara bicara Ziya terlebih dengan gamblangnya ia mengatai kakeknya pikun, sontak Alena menoel lengan Ziya.

"Nggak sopan, Ziya."

"Eh, maaf Kakek." kata Ziya sembari merayu kakeknya dengan pelukan erat.

Ayah Ahen memeluk erat Ziya, cucu satu-satunya.

"Kakek, tadi aku diomelin Mama tau." Ziya mulai mengadu.

"Oh ya? Kenapa?" tanya Ayah Ahen.

"Gara-gara aku beli Es krim nggak izin dulu, hehe."

Ayah Ahen mencubit pelan pipi Ziya.

"Jangan di ulangi ya, Mama kamu itu khawatir sama kamu. Jangan buat Mama kamu marah-marah ya, kasihan Mama kamu."

Ziya menunduk dengan raut wajah sedih.

"Iya, Kakek. Ziya salah."

Ziya langsung memeluk kakeknya lagi dengan manja.

"Kakek, besok Ziya mau sekolah loh, kelas satu SD. Ziya udah mau besar!" ucap Ziya dengan gembira.

"Nanti Ziya punya temen-temen baru," imbuhnya.

"Cucu Kakek sudah besar," Ayah Ahen menitikkan air mata, melihat bentuk mata dan bentuk mulut Ziya yang benar-benar seperti duplikat Ahen.

"Iya dong! Nanti bilangin sama Mama, tambahin uang jajan Ziya, gitu ya."

Alena menggaruk alisnya, mau heran atas sifat Ziya yang suka uang, tapi dirinya juga sama saja dengan Ziya.

"Papa, aku udah berusaha didik Ziya biar jadi orang sederhana, tapi ya masih begini aja nih anak." ucap Alena yang sungkan pada mertuanya, Ayah Ahen hanya tertawa kecil.

"Tidak apa-apa, Nak. Nanti Papa akan tambah uang sakunya."

Mata Ziya berbinar, sedangkan Alena menepuk jidatnya pelan.

"Yang penting uangnya tidak digunakan untuk hal yang tidak baik, kalau sampai Kakek tahu, nanti Kakek yang akan menghukum Ziya."

Ziya berdiri dan langsung memberi hormat layaknya melaksanakan upacara.

"Siap Kakek! Ziya akan mengatur uang yang benar dan tidak akan buang-buang Kakek." ucap Ziya dengan penuh semangat.

"Pintarnya cucu Kakek."

"Iya dong, aku juga baik kayak Kakek."

Alena menggaruk tengkuknya.

"Kakek! Tadi aku ketemu om ganteng loh, dia baik juga."

"Oh ya? Coba cerita."

Dengan penuh semangat Ziya langsung bercerita.

Terpopuler

Comments

kalea rizuky

kalea rizuky

si ahen mana mati kaj

2025-08-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!