Bab 3.Kontrak Gelap Antara Sahabat

Apartemen Tebet — 02.17 WIB

Hujan meraung seperti hewan liar di balik jendela, memukul kaca dengan amarah yang konstan. Udara lembap menyelinap ke celah-celah dinding tua, menusuk tulang dan hati. Lampu neon di dapur bergeming dalam kerlip lelah, memantulkan cahaya muram pada ubin yang sudah retak di beberapa sudut.

Aku dan Kalea duduk di atas karpet kumal yang jadi saksi ratusan malam seperti ini—malam setelah misi, setelah kita menggoda dunia tanpa ampun, lalu pulang dengan tawa palsu dan mi instan sebagai hadiah murahan atas kelicikan kami.

Tapi malam ini… tak ada tawa. Hanya sunyi, menyesakkan dan tajam.

Ponselku mati suara, tergeletak di sudut ruangan. Di layar terakhirnya, masih ada pesan dari Tristan yang belum kubuka. Aku bahkan tak berani menyentuhnya. Takut kalau dengan satu ketukan jari, aku akan menenggelamkan diri lebih jauh dalam jurang yang tak kukenal.

Kalea bicara pertama. Suaranya pelan, tapi mengiris.

“Aurora.”

Satu kata. Tapi terasa seperti gempa kecil di bawah dadaku.

“Kau paham apa yang kau lakukan tadi?”

Aku menoleh, tapi bibirku kelu. Yang terpantul di matanya bukan hanya kekecewaan—melainkan ketakutan. Ia takut kehilanganku. Sama seperti aku takut kehilangan… siapa aku sebenarnya.

Tatapan Tristan kembali menghantui, tatapan yang menelanjangi semua ilusi yang selama ini kubangun rapat-rapat. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa bukan sebagai pemain… tapi pion. Dan yang lebih menakutkan, aku rela jadi pionnya.

“Kau tidak mengerti,” bisikku akhirnya, nyaris tak terdengar.

“Buat aku mengerti.” Suara Kalea dingin. Tenang. Terlalu tenang. Dan aku tahu, Kalea yang bicara begini bukan marah—ia sudah sampai ke titik tak percaya.

Aku memaksa mata menatapnya. Mata yang selama ini jadi jangkar hidupku. Di sana, kulihat pantulan diriku: goyah, retak, letih. “Dia… bukan sekadar target. Saat dia menatapku, rasanya... aku dilihat. Bukan sebagai pemikat murahan. Tapi sebagai Aurora. Dan itu…” napasku tercekat, “menakutkan. Tapi juga—menenangkan.”

Kalea bangkit perlahan. Langkahnya tenang menuju rak kayu di dekat kulkas. Ia membuka sebuah laci kecil dan mengeluarkan benda yang tak asing: sebuah kotak pensil Hello Kitty yang usang, warnanya pudar dimakan waktu.

Dari dalamnya, ia menarik selembar kertas. Kertas itu kusam, sedikit terlipat, tapi tinta di atasnya masih jelas.

KONTRAK SUCI KALEA & AURORA

Keperawanan kami bukan barang dagangan.

Kami boleh menjual ilusi, tapi tidak tubuh.

Kami boleh menipu dunia, tapi takkan membohongi satu sama lain.

Bila satu melanggar, yang lain berhak pergi—tanpa tanya.

Kalea meletakkannya di antara kami. Tidak dilempar, tidak ditudingkan. Ia hanya… meletakkannya. Tapi seperti benda suci yang menuntut pertanggungjawaban.

“Baca.”

Dan aku membaca. Kalimat demi kalimat itu menampar kesadaranku. Tulisan kami sendiri—hasil dari malam penuh air mata dan darah masa lalu—sekarang menjadi pengingat keras bahwa aku hampir mengkhianati fondasi hidup kami.

“Kau belum melanggar, Rora,” katanya akhirnya. “Tapi kau hampir menyerah. Dan yang lebih buruk… kau hampir menyembunyikannya dariku.”

Air mata menetes, satu-satu, seperti pecahan hujan di luar sana. “Aku… lelah, Lea. Lelah pura-pura kuat. Lelah jadi pembohong. Saat dia menatapku, aku merasa seperti bisa… berhenti. Berhenti memerankan semua peran yang dunia paksa aku mainkan. Aku ingin—hanya sekali saja—jadi seseorang yang dicintai, bukan dikagumi. Bukan dimanfaatkan.”

Kalea memejamkan mata. Jemarinya mengepal. Ada gemetar di bahunya. Tapi saat ia membuka mata kembali, suaranya berubah—lebih dalam. Lebih tua.

“Kau tahu apa yang kupikirkan waktu kita tulis kontrak itu?” katanya pelan. “Aku tidak takut kehilangan keperawananku. Aku takut kehilangan satu-satunya orang yang kupercaya. Aku takut suatu hari kau jatuh terlalu dalam dan tak kembali.”

Aku tak menjawab. Tak bisa.

Dan di situlah Kalea mulai mengupas luka lama yang selama ini hanya kami simpan dalam senyap.

---

Flashback – Panti Asuhan Mawar Putih, 8 Tahun Lalu

Langit malam seperti batu arang. Hujan merintik, jatuh di atas atap seng, mengalir melalui lubang-lubang karat yang tak pernah bisa ditambal. Di lantai dingin asrama, Kalea duduk sendiri, menggenggam rapor sekolahnya—rapor dengan nilai sempurna. Tapi wajahnya bukan bahagia.

Ia menangis dalam diam. Air mata jatuh ke atas angka-angka prestasi, membasahi impian yang tak pernah cukup untuk memberi dia keluarga.

Aku turun dari ranjang tingkat, menyelimuti tubuh kurusnya dengan kain tipis yang ku punya. “Kalau mereka paksa kau ikut, kita kabur,” bisikku. “Aku tahu cara tembus pagar belakang. Aku tahu jam jaga malam.”

“Kalau aku diambil, aku tak bisa kabur, Rora…” suaranya kecil, nyaris patah. “Tapi aku bisa tetap jadi diriku, ‘kan?”

“Kau akan selalu jadi Kalea.”

Ia menoleh padaku. “Kalau dunia suatu hari memaksa kita hidup dalam kebohongan, janji satu hal: kita boleh berdusta pada dunia… tapi tidak pada diri sendiri. Tidak satu sama lain.”

Jari kelingking kami bertaut. Tepukan tiga kali di punggung tangan jadi meterai janji itu.

Malam itu, di bawah suara hujan dan tangis diam-diam, kami jadi dua gadis yang bersumpah untuk bertahan hidup tanpa kehilangan jiwa.

---

Kembali ke Sekarang

Tangis meledak dari dadaku, tak bisa ku tahan lagi. Bukan karena luka malam ini, tapi karena luka delapan tahun yang ikut menganga kembali.

“Aku tak lupa,” Kalea berkata, suaranya retak. “Aku masih gadis enam belas tahun itu, yang takut dijual jadi boneka hidup. Aku pagar terakhirmu, Rora. Jangan robek aku hanya karena satu tatapan pria.”

Aku meraih tangannya. Kali ini bukan sebagai sahabat. Tapi sebagai seseorang yang tahu aku bisa hilang… kalau tidak menahan tangan ini.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanyaku, hampir berbisik.

“Kita tarik diri. Tak ada misi. Tak ada Violetta. Kita susun ulang peta. Dan kalau kau masih ingin tahu siapa Tristan sebenarnya, temui dia sebagai Aurora—bukan boneka, bukan jebakan.”

“Kalau dia hancurkan kita?”

“Kalau dia bermain bersih, kita belajar jadi manusia lagi. Tapi kalau dia bermain kotor… kita hancurkan dia duluan.”

Lama kami saling menatap. Sampai akhirnya aku mengulurkan kelingkingku.

Dan ia menyambut.

Tiga ketukan. Satu napas bersama. Dan malam yang dingin itu, kami jadi gadis panti lagi—dengan janji baru yang sama kuatnya.

Hujan mereda. Tapi aku tahu badai sesungguhnya baru akan datang.

Dan kali ini… aku tidak akan pergi tanpa membawa seluruh diriku kembali.

.

.

.

Bersambung

Episodes
1 Bab 1.Langit Malam yang Tap Pernah Terang
2 Bab 2 . Kontrak di Malam Hujan
3 Bab 3.Kontrak Gelap Antara Sahabat
4 Bab 4.Lelaki Salah Target
5 Bab 5.Tertangkap Basah
6 Bab 6.Malam Penyerahan
7 Bab 7.Rasa Bersalah yang Membara
8 Bab 8. Investigasi Kalea
9 Bab 9 . Lamaran Bernada Ancaman
10 Bab 10.Istana Tanpa Pintu
11 Bab 11.Taman Tanpa Gerbang.
12 Bab 12. Percakapan yang Membuka Luka dan Rasa
13 Bab 13. Seribu Satu Cara Menggagalkan Malam Pertama.
14 Bab 14.Obsesi Tanpa Batas
15 Bab 15.Vidio Malam Terlarang
16 bab 16.Pelarian Besar.
17 Bab 17.Kalah Di Gerbang Bandara
18 Bab 18. . Resepsi untuk Luka yang Belum Sembuh
19 Bab 19.Ciuman tak terduga
20 Bab 20. Malam Pertama Tanpa Sentuhan
21 Bab 21. Luka yang Tak Berbunyi.
22 bab 22
23 Bab 23..Bayangan Diam
24 Bab 24.Janji Di Tengah Kebisingan
25 Bab 25.Rasa yang Belum Bernama
26 Bab 26.Nama yang Di Sembunyikan Waktu
27 Bab 27.Jejak tidak pernah Hilang
28 Bab 28.Percaya Yang Perlahan Tumbuh
29 Bab 29.Cahaya di Antara Rahasia
30 Bab 30.Cahaya Rahasia
31 Bab 31.Ketika Cinta Tak Lagi Menyembunyikan Diri
32 bab 32.Di Antara Bayang Dan Pelukan
33 Bab 33.Bayangan yang Menyeret Terang
34 bab 34.Cahaya yang Menyisakan Luka
35 Bab 35.Luka Terbuka, Segalanya Tersingkap
36 Bab 36.Kebenaran Di Tepi Jurang.
37 bab 37.Api Menyala Di Dalam Dada
38 Bab 38.Di Hari Segala Cinta Di Terima
39 bab 39.Yayasan Cahaya Jalanan
40 Bab 40.Cahaya Yang Tak Pernah Padam
Episodes

Updated 40 Episodes

1
Bab 1.Langit Malam yang Tap Pernah Terang
2
Bab 2 . Kontrak di Malam Hujan
3
Bab 3.Kontrak Gelap Antara Sahabat
4
Bab 4.Lelaki Salah Target
5
Bab 5.Tertangkap Basah
6
Bab 6.Malam Penyerahan
7
Bab 7.Rasa Bersalah yang Membara
8
Bab 8. Investigasi Kalea
9
Bab 9 . Lamaran Bernada Ancaman
10
Bab 10.Istana Tanpa Pintu
11
Bab 11.Taman Tanpa Gerbang.
12
Bab 12. Percakapan yang Membuka Luka dan Rasa
13
Bab 13. Seribu Satu Cara Menggagalkan Malam Pertama.
14
Bab 14.Obsesi Tanpa Batas
15
Bab 15.Vidio Malam Terlarang
16
bab 16.Pelarian Besar.
17
Bab 17.Kalah Di Gerbang Bandara
18
Bab 18. . Resepsi untuk Luka yang Belum Sembuh
19
Bab 19.Ciuman tak terduga
20
Bab 20. Malam Pertama Tanpa Sentuhan
21
Bab 21. Luka yang Tak Berbunyi.
22
bab 22
23
Bab 23..Bayangan Diam
24
Bab 24.Janji Di Tengah Kebisingan
25
Bab 25.Rasa yang Belum Bernama
26
Bab 26.Nama yang Di Sembunyikan Waktu
27
Bab 27.Jejak tidak pernah Hilang
28
Bab 28.Percaya Yang Perlahan Tumbuh
29
Bab 29.Cahaya di Antara Rahasia
30
Bab 30.Cahaya Rahasia
31
Bab 31.Ketika Cinta Tak Lagi Menyembunyikan Diri
32
bab 32.Di Antara Bayang Dan Pelukan
33
Bab 33.Bayangan yang Menyeret Terang
34
bab 34.Cahaya yang Menyisakan Luka
35
Bab 35.Luka Terbuka, Segalanya Tersingkap
36
Bab 36.Kebenaran Di Tepi Jurang.
37
bab 37.Api Menyala Di Dalam Dada
38
Bab 38.Di Hari Segala Cinta Di Terima
39
bab 39.Yayasan Cahaya Jalanan
40
Bab 40.Cahaya Yang Tak Pernah Padam

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!