Kegelisahan Wira

“Berikutnya: Wira dan Nala!”

Dua orang yang namanya dipanggil segera menaiki arena dalam sesi latih tanding harian itu. Nala melangkah tenang dengan membawa tongkat kayu sebagai senjatanya. Dari sisi lain arena, Wira pun naik dengan langkah agak lebih lambat dan membawa senjata yang sama.

Seperti juga dirinya, Nala berada di tingkat murid senior. Namun, jika Wira berada di daftar akhir peringkat, Nala adalah yang teratas. Di antara saudara seperguruan yang seangkatan dengannya, Nala memang memiliki keterampilan bela diri yang paling menonjol. Selain karena bakatnya yang bagus, Nala juga sangat tekun dalam latihan dan pembelajarannya.

Jika mengesampingkan faktor bakat, Wira tak kalah dalam hal ketekunan. Sayangnya, masih ada satu faktor yang juga sangat penting dalam menentukan perkembangan dan peningkatan kemampuan seorang pendekar, yaitu sumber daya. Sebagai putra sulung dari keluarga terpandang, Nala selalu mendapatkan asupan sumber daya yang berkualitas sejak usia dini, seperti pil dan ramuan kelas atas yang sangat menunjang kemajuan ilmu bela dirinya.

Sementara itu, Wira hanya mampu mendapatkan sumber daya kelas bawah dalam jumlah yang terbatas pula. Maka, meskipun pemahaman keduanya dalam seni bela diri bisa dibilang sama bagusnya, dalam hal kecepatan perkembangan praktis, Wira pun jauh tertinggal dari saudara-saudara seperguruan yang lainnya. Akan tetapi, pertarungan antara keduanya selalu menjadi tontonan yang menarik bagi banyak murid walaupun untuk alasan yang berbeda-beda.

“Mulai!”

Nala menyerang. Sikap dan gerakannya penuh percaya diri. Wira pun mengambil posisi bertahan. Keduanya mulai bertukar serangan. Bunyi benturan tongkat yang beradu dengan cukup cepat mulai menarik murid-murid lain untuk menonton hingga kerumunan-kerumunan pun terbentuk di sana-sini. Sorakan dan tepuk tangan berangsur-angsur terdengar lantaran dua petarung di arena itu tak ingin mengalah.

Wira telah memperhitungkan bahwa Nala akan mengincar bagian bawah tubuhnya, tetapi reaksinya terlalu lambat hingga dirinya kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Namun, bukan Wira namanya jika menyerah begitu saja.

Dengan cepat Wira berbalik, menggeser pegangan pada tongkatnya dan mengayunkan tongkat tersebut layaknya orang yang melakukan tebasan horizontal. Gerakan tak terduga ini sempat mengejutkan Nala, tetapi pemuda itu dengan tangkas melompat dan bersalto ke belakang.

Nala mengira Wira sekadar ingin menjaga jarak, tetapi saat ia baru saja mendarat, Wira telah berada dekat di hadapannya dan melancarkan serangan balik. Gerakan tongkat Wira menjadi begitu cepat, seolah tongkat itu terbuat dari bambu atau bahan yang lebih ringan. Ketika Nala menyadari cara Wira memegang tongkat telah berubah lagi, ia memutuskan untuk mengambil jarak terlebih dahulu.

Pada saat inilah jurang antara keduanya mulai terlihat. Saat Nala masih tampak prima, napas Wira mulai memburu. Wira sendiri menyadari hal itu. Inilah konsekuensi yang harus ditanggungnya setelah melakukan serangan cepat seperti tadi.

Di sisi lain, meskipun juga telah menyadari hal ini, Nala tetap waspada. Sejak awal, ia tak pernah meremehkan Wira. Baginya, pemuda itu adalah sosok lawan yang tangguh, tak peduli bagaimana pendapat orang lain terhadapnya, diam-diam Nala sangat mengagumi ketekunan dan kegigihan Wira.

Setelah menarik napas panjang, Wira memutuskan menyerang lebih dulu. Ia melakukan serangan cepat seperti sebelumnya untuk memaksa Nala bertarung dalam jarak dekat, tetapi Nala tak mau termakan permainan lawannya dan terus memanfaatkan setiap jarak yang bisa dicapainya.

Intensitas serangan Nala memang lebih sedikit, tetapi pengaturan kekuatan dan kecepatannya sangat efektif. Sementara itu, terus menyerang membuat ritme dan dinamika gerakan Wira yang tadinya selaras pun mulai tak beraturan.

Dalam satu kesempatan, Nala membuat Wira tersentak dan kehilangan keseimbangan, lalu memakai tenaga dalamnya untuk bergerak cepat dan memperkuat tusukan tongkatnya.

Wira hendak mengerahkan segenap tenaga dalamnya untuk bertahan, tetapi ia lebih dulu kehilangan momentum. Serangan Nala pun membuatnya terdorong mundur hingga keluar arena.

“Pertarungan selesai! Pemenangnya, Nala!”

Tepuk tangan riuh dan teriakan nama Nala menggema di udara. Sebaliknya, seruan-seruan yang mencemooh Wira pun terdengar, tentunya dari Barda, Mahendra, Sularsa, serta segelintir orang yang kerap mengikuti mereka. Namun, baik Nala maupun Wira seolah tak terganggu akan hal itu.

Alang Ganendra, sosok guru berbadan kekar yang memimpin jalannya pertarungan tadi, menghampiri Wira dan membantunya berdiri.

“Lumayan, Nak. Perkembanganmu bagus juga!” katanya sambil menepuk punggung Wira.

“Wira!” panggil Nala yang melompat turun dari arena dan langsung mendatanginya, “Kau tak apa-apa? Aku terkejut, gerakan tongkat yang tadi itu … bagaimana kau melakukannya …?” tanyanya beruntun sambil merangkul Wira.

“Haaah … tetap saja aku yang kalah kan,” ujar Wira sambil nyengir.

“Ah, kebetulan saja. Sudahlah, ayo ke kedai. Aku traktir.”

“Ha? Serius?”

“Hmm, yuk ….”

“Heeei …! Kalian tidak mengajakku?” menyelinap menembus kerumunan, Ratnasari bergabung dengan keduanya.

Tiga murid senior itu pun meninggalkan arena latih tanding menuju kedai perguruan. Sejak saling kenal saat masih menjadi murid junior, ketiganya memang cukup akrab. Mungkin, hal itu terjadi karena beberapa kali mereka berada dalam satu satu tim saat menjalani misi dan rasa cocok satu sama lain.

Meski demikian, di dalam hatinya, Wira tak jarang merasa minder saat bersama kedua temannya itu. Di satu sisi, Nala adalah sosok pemuda tampan, pandai, dan berkarisma. Di samping latar belakangnya ternama, kepiawaian dan kecerdasannya bisa dibilang yang teratas di angkatan mereka.

Sementara Ratnasari, selain cantik dan ramah, kemampuannya jauh di atas rata-rata murid seangkatannya. Statusnya yang tak sembarangan, yaitu putri tunggal Ki Damar yang merupakan wakil ketua perguruan pun membuatnya berpotensi menjadi seorang pendekar wanita dengan pencapaian yang hebat dan di masa depan.

Lalu, bagaimana dengan dirinya sendiri? Walaupun kedua temannya itu tak pernah mempermasalahkan siapa dia dan bagaimanapun keadaannya, Wira kerap merasa kurang percaya diri saat di tengah keduanya. Bahkan, hingga kini pun ia masih canggung, khususnya jika berhadapan dengan Ratnasari. Keduanya adalah teman yang baik, tetapi Wira meragukan apakah kehadirannya cukup baik untuk mereka.

...***...

Malam itu, Wira sulit memejamkan matanya. Ia memutuskan untuk duduk-duduk santai di sebuah bangku panjang di dekat dinding depan kamarnya. Langit begitu bersih sehingga kerlip bintang-bintang terlihat sangat jelas bagai corak pada selembar kain yang menyimpan banyak rahasia. Semilir angin malam yang sejuk membuat pikiran Wira melayang ke mana-mana.

Kalau ia ingat-ingat kembali, sejak Ketua Raksala memberitahukan asal-usul keberadaan dirinya di perguruan ini, sekitar sepuluh tahun lalu, seolah ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Sebelumnya, ia adalah anak yang senang bermain selain berlatih seni bela diri dan bermimpi dapat menjadi seorang pendekar yang hebat seperti sosok ketua perguruan yang dikaguminya.

Namun, kenyataan akan jati dirinya itu seolah perlahan memupuskan mimpinya. Setelah berlatih seni bela diri, alih-alih bermain, ia lebih sering menyendiri dengan membaca berbagai buku di perpustakaan perguruan. Itu memang bukan hal yang buruk, tetapi yang banyak dibaca oleh Wira bukanlah buku tentang ilmu bela diri dan semacamnya, melainkan buku-buku tentang sastra, berbagai disiplin ilmu, dan kehidupan.

Hal yang kemudian menjadi kebiasaannya itu membuat Wira menjadi sosok yang lebih dewasa dibandingkan dengan mereka yang seusianya. Di samping itu, wawasan dan pengetahuannya yang semakin luas seakan membuatnya tak lagi berambisi untuk menjadi pendekar yang hebat. Ia hanya bersyukur masih memiliki tempat untuk hidup dan menjalani kehidupannya hingga saat ini.

Saat usianya hampir sepuluh tahun, Wira meminta pada Ketua Raksala agar dirinya bisa ikut membantu dalam pekerjaan harian di perguruan. Sebenarnya Ketua Raksala menolak permintaan itu, tetapi melihat Wira yang terus memohon, beliau pun mengizinkannya dengan syarat Wira tetap berlatih seni bela diri. Beliau juga berpesan, tak apa-apa jika Wira tak ingin menjalani hidup sebagai pendekar, tetapi Wira akan membutuhkan seni bela diri agar bisa menjaga dirinya sendiri.

Wira menghela napas panjang. Walaupun ia tak pernah menyesali keputusannya itu, entah mengapa kini ia malah merasa bahwa saat itu dirinya telah mengecewakan orang yang sangat ia hormati.

Menurut kabar yang beredar kurang lebih lima hari yang lalu, Ketua Raksala tengah dalam perjalanan kembali ke perguruan dari wilayah barat pulau Daksina. Artinya, seharusnya beliau akan tiba dalam waktu satu atau dua hari lagi jika tak ada hambatan yang berarti.

Kini, Wira mempertimbangkan untuk mencoba kembali menekuni seni bela diri. Mungkin, ketua Raksala akan menganggapnya plin-plan, tetapi Wira sudah menyiapkan misi perburuan tahunan sebagai alasan untuk itu. Jika ada alasan yang lain, selain misi tersebut dan sekadar menjaga dirinya, mungkin ia hanya ingin dapat melindungi perguruan sekaligus rumahnya ini.

Wira bangkit dan berjalan menuju sebuah area yang cukup tinggi di mana ia bisa melihat sebagian besar kompleks perguruan yang lebih mirip seperti sebuah kota kecil itu. Tanpa disadarinya sama sekali, dari suatu tempat di kejauhan, Raksala tengah mengamatinya dan seolah bisa membaca kegelisahan yang dirasakan oleh Wira, pria tua itu pun tersenyum.

Terpopuler

Comments

Kaede Fuyou

Kaede Fuyou

Ceritanya bikin saya ketagihan, gak sabar mau baca kelanjutannya😍

2025-06-23

1

Abdus Salam Cotho

Abdus Salam Cotho

baru nemu, awal cerita menyenangkan dengan alur dan penulisan yang apik serta mudah dipahami, semoga lanjut dengan lancar dan sampai akhir, semangat kak thor 😊👍👍💪💪💪

2025-08-08

0

y@y@

y@y@

⭐👍🏿👍🏾👍🏿⭐

2025-08-20

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Lima Belas Tahun Kemudian
3 Kegelisahan Wira
4 Pengumuman Penting
5 Pernapasan Nirvana
6 Pembagian Kelompok Misi
7 Tanpa Senjata
8 Pengeroyokan
9 Dewi Andini
10 Yang Terima dan Yang Tak Terima
11 Mengejar Barda
12 Pil Darah Monster
13 Kembali Ke Perguruan
14 Pusaka Tingkat Dua
15 Perasaan Nala
16 Misi Perburuan Tahunan Dimulai
17 Desa Danpa
18 Harimau Putih
19 Beban Seorang Pendekar
20 Membuang Keraguan
21 Membasmi Para Bandit
22 Reuni
23 Permintaan Ki Damar
24 Rute yang Berbeda
25 Penghancuran Markas Kala Hitam
26 Penghancuran Markas Kala Hitam II
27 Kenaikan Tingkat
28 Sukma Buana
29 Krajan Asura
30 Bayusaka
31 Perjalanan
32 Akhir Lima Golok Setan
33 Penyakit Aneh
34 Pawang Mayat Hidup
35 Pawang Mayat Hidup II
36 Pawang Mayat Hidup III
37 Meninggalkan Slaka
38 Kerajaan Monster dan Siluman
39 Fenomena dari Tubuh Monster
40 Siluman Seribu Tahun
41 Inti Monster dan Mestika Siluman
42 Rawaja Bomantara
43 Kitab Sabda Alam
44 Empat Elemen Dasar
45 Meninggalkan Krajan Asura
46 Sekte Lembah Neraka
47 Keributan di Suranaga
48 Kematian Lainnya
49 Hasil-Hasil Latihan
50 Pendekar-Pendekar Muda
51 Potensi Tak Terbatas
52 Keputusan Raksala
53 Intrik Istana Suranaga
54 Balai Misi
55 Misi
56 Graha Candra Mestika
57 Altar Ungu
58 Peringatan
59 Kemelut Suranaga
60 Kemelut Suranaga II
61 Kemelut Suranaga III
62 Kemelut Suranaga IV
63 Kemelut Suranaga V
64 Kemelut Suranaga VI
65 Kemelut Suranaga VII
66 Kemelut Suranaga VIII
67 Kemelut Suranaga IX
68 Kemelut Suranaga X
69 Rahasia Raja Satya
70 Akhir Pertempuran Suranaga
71 Makna Dunia Persilatan
72 Kakak Beradik
73 Kau Sudah Melewatinya
74 Dalam Terpaan Senja
75 Awal Mula Perubahan Suranaga
Episodes

Updated 75 Episodes

1
Prolog
2
Lima Belas Tahun Kemudian
3
Kegelisahan Wira
4
Pengumuman Penting
5
Pernapasan Nirvana
6
Pembagian Kelompok Misi
7
Tanpa Senjata
8
Pengeroyokan
9
Dewi Andini
10
Yang Terima dan Yang Tak Terima
11
Mengejar Barda
12
Pil Darah Monster
13
Kembali Ke Perguruan
14
Pusaka Tingkat Dua
15
Perasaan Nala
16
Misi Perburuan Tahunan Dimulai
17
Desa Danpa
18
Harimau Putih
19
Beban Seorang Pendekar
20
Membuang Keraguan
21
Membasmi Para Bandit
22
Reuni
23
Permintaan Ki Damar
24
Rute yang Berbeda
25
Penghancuran Markas Kala Hitam
26
Penghancuran Markas Kala Hitam II
27
Kenaikan Tingkat
28
Sukma Buana
29
Krajan Asura
30
Bayusaka
31
Perjalanan
32
Akhir Lima Golok Setan
33
Penyakit Aneh
34
Pawang Mayat Hidup
35
Pawang Mayat Hidup II
36
Pawang Mayat Hidup III
37
Meninggalkan Slaka
38
Kerajaan Monster dan Siluman
39
Fenomena dari Tubuh Monster
40
Siluman Seribu Tahun
41
Inti Monster dan Mestika Siluman
42
Rawaja Bomantara
43
Kitab Sabda Alam
44
Empat Elemen Dasar
45
Meninggalkan Krajan Asura
46
Sekte Lembah Neraka
47
Keributan di Suranaga
48
Kematian Lainnya
49
Hasil-Hasil Latihan
50
Pendekar-Pendekar Muda
51
Potensi Tak Terbatas
52
Keputusan Raksala
53
Intrik Istana Suranaga
54
Balai Misi
55
Misi
56
Graha Candra Mestika
57
Altar Ungu
58
Peringatan
59
Kemelut Suranaga
60
Kemelut Suranaga II
61
Kemelut Suranaga III
62
Kemelut Suranaga IV
63
Kemelut Suranaga V
64
Kemelut Suranaga VI
65
Kemelut Suranaga VII
66
Kemelut Suranaga VIII
67
Kemelut Suranaga IX
68
Kemelut Suranaga X
69
Rahasia Raja Satya
70
Akhir Pertempuran Suranaga
71
Makna Dunia Persilatan
72
Kakak Beradik
73
Kau Sudah Melewatinya
74
Dalam Terpaan Senja
75
Awal Mula Perubahan Suranaga

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!