Atha terperangah mendengar perkataan papanya yang mengatakan kalau mamanya ingin menjodohkan dirinya dengan Shandra. Sementara itu, ia sama sekali tidak kepikiran untuk menikah lagi, apalagi menikahi Shandra. Kakak dari istri yang dicintainya, sedangkan di hatinya masih sangat mencintai Alika dan mungkin tidak akan pernah tergantikan, apalagi melupakan cintanya kepada Alika.
Big no!
Mana mungkin ia bisa menikahi kakak dari istrinya. Shandra, wanita itu sangatlah jauh berbeda dengan Alika, mengingat wanita itu sangatlah tertutup. Selain itu ia tidak tahu seperti apa wajah Shandra, karena selama menikah dengan Alika, ia belum pernah melihat wajah Shandra.
Apa dia Cantika atau jelek?
Namun yang pernah ia dengar dari mulut Alika, kalau Shandra itu dulunya banyak jerawat dan tidak terawat.
Sudah pasti wajah Shandra jelek. Itu adalah gambarannya Atha.
Makanya, kenapa sampai sekarang ini dan di usianya yang sudah hampir tiga puluh tahun tidak ada lelaki yang mau dekat dengannya. Namun anehnya kenapa mamanya ingin menjodohkan dirinya dengan Shandra? Kehidupannya juga biasa saja dan membosankan, tidak seperti Alika yang mampu membuatnya menyenangkan. Ceria, humoris dan pastinya cerewet.
"Kenapa harus Shandra?" tanya Atha.
Ya ... kenapa harus Shandra? Wanita yang dipilih oleh mamanya. Kenapa bukan yang wanita lain? Meskipun ia juga tidak bisa menerima begitu saja wanita yang ingin dijodohkan dengannya.
"Kamu bisa tanyain ke mama kamu, alasannya apa. Yang pasti mama ingin kamu menikah dengannya," jawab Pak Ishaq seraya mengedikan bahunya.
Atha menghela napasnya sekaligus di hatinya ingin sekali segera bertanya kepada mamanya. Namun, untuk saat ini ia tahan dulu. Ia akan bertanya jika nanti mamanya sudah sadar.
Atha kemudian menggenggam tangan sang mama dan menatap sendu wajah mamanya itu.
"Ma, cepatlah sembuh," kata Atha yang sangat khawatir dengan kondisi sang mama.
Bayang-bayang kehilangan Alika berputar lagi di pikirannya, ia tidak mau kalau harus sampai kehilang wanita yang ia sayangi untuk kedua kalinya. Cukup sudah ia kehilangan Alika, tapi jangan kehilangan sang mama. Akan seperti apa hidupnya jika kehilangan lagi orang yang ia sayangi.
Bisa-bisa semakin terpuruk hidupnya.
Hari pun semakin larut, tapi Bu Cici sampai detik ini belum juga sadarkan diri. Rasa cemas mulai menggelayuti hati dan pikirannya. Atha tidak bisa tidur barang sejenak pun, sementara Pak Ishaq dan Tya sudah tidur dari dua jam yang lalu.
"Ma, cepat bangun. Jangan buat aku khawatir," ucap Atha dengan suara yang sangat pelan.
Lagi dan lagi Atha membuang napas panjang, kemudian ia menatap langit-langit kamar yang berwarna putih. Kembali Atha memikirkan perkataan papanya tadi, tentang keinginan mamanya yang ingin menjodohkan dirinya dengan Shandra.
Lagi, di hatinya bertanya, kenapa harus Shandra, wanita yang ingin dijodohkan dengannya.
"A-Atha ...." Suara lirih terdengar dari mulut Bu Cici.
Atha tersentak sekaligus lega karena kini sang mama sudah sadar. Segera Atha mengucap rasa syukur. Kemudian Atha menggenggam tangan Bu Cici.
"Alhamdulillah, Mama sadar juga," ucap Atha.
"Mama dimana?" tanya Bu Cici bingung.
"Mama di rumah sakit. Tadi Mama terpeleset di kamar mandi," jawab Atha menjelaskan.
"O iya, Mama baru ingat," ujar Bu Cici yang baru teringat kalau ia terpeleset di kamar mandi.
"Iisssshh ...." Bu Cici mendesis merasakan sakit di kepalanya. "Sakit sekali kepala Mama?" ucapnya lirih.
"Jangan banyak gerak dulu, Ma," ucap Atha sedikit mencemaskan mamanya itu. Lalu, Atha mengelus kepala Bu Cici dengan lembut. Siapa tahu dengan begitu rasa sakit di kepala mamanya sedikit berkurang.
Keduanya saling diam, Atha belum berani bertanya tentang perjodohan yang diinginkan mamanya. Lagi pula ia sangat malas jika membahas tentang perjodohan yang diinginkan mamanya.
"Atha ...."
"Iya, Ma," sahut Atha.
"Mama punya permintaan sama kamu. Apa kamu mau mengabulkan permintaan Mama?" ujar Bu Cici.
"Permintaan apa?" Atha yakin mamanya memintanya untuk menikahi Shandra.
"Kamu mau kan Mama jodohkan dengan Shandra," ucapnya penuh harap. Ya ... berharap Atha tidak menolaknya, semoga saja.
Atha terdiam dan membuang wajahnya ke arah lain. Ia tidak mau melihat tatapan penuh harap dari mata sang mama. Terkadang ia tak kuasa menolak permintaan mamanya, jika tatapannya sudah seperti itu.
"Tha ...," panggilnya lagi.
Atha membuang napasnya dan mau tidak mau menatap wajah sang mama.
"Ma, aku ...."
"Mama mohon. Kamu mau kan nikah sama Shandra." Bu Cici langsung memotong perkataan Atha. Bu Cici sedikit mendesak Atha agar mau menerima Shandra untuk dia nikahi.
Sekali lagi Atha membuang napas kasar.
"Ma, aku belum kepengen nikah lagi. Aku juga belum siap nikah lagi. Bisa kan Mama gak paksa aku," ucap Atha menolak secara halus permintaan sang mama.
"Jadi kamu nolak Shandra," ucapnya sedih. Bu Cici merengut manyun lantaran Atha tidak mau dijodohkan dengan Shandra. Padahal ia sangat berharap Atha mau dijodohkan dengan Shandra.
Kemudian Bu Cici memasang wajah sesedih mungkin dan memasang wajah penuh kecewa.
"Mama tahu kalau kamu masih sangat mencintai Alika, tapi mau sampai kapan kamu seperti ini terus. Hidup itu harus terus berjalan dan jangan terus berpangku ke masa lalu yang membuatmu sedih. Kamu juga harus belajar membuka hati kamu untuk wanita lain, bukan berarti kamu melupakan Alika atau pun menggantikan posisi Alika di hati kamu."
Bu Cici kemudian menyentuh tangan Atha dan menggenggam tangan putra kesayangannya itu.
"Mama hanya ingin hidup kamu seperti dulu lagi. Jujur, Mama sangat sedih lihat kamu sering mabuk-mabukan dan hidupmu tidak tertata dengan baik. Maka dari itu Mama ingin kamu menikah lagi agar hidup kamu tidak berantakan seperti ini." Bu Cici berbicara dengan suara bergetar menahan sedih.
"Dan menurut Mama, Shandra lah perempuan yang pantas buat kamu. Selain itu kita juga sudah kenal dekat dengan keluarga Shandra," sambung Bu Cici seraya menggenggam tangan Atha lembut.
Sebagai seorang ibu, ia ingin melihat anaknya hidup bahagia dan ibu akan melakukan apapun jika menurutnya itu yang terbaik, termasuk meminta Atha menikah lagi. Lagi pula ia tidak meminta Atha untuk melupakan Alika di hidupnya.
Atha tidak langsung menjawabnya. Ia merasa butuh waktu untuk memutuskan keinginan mamanya. Hatinya masih sangat berat jika ada wanita lagi di hidupnya selain Alika, istri tercintanya.
"Beri aku waktu, Ma," ucap Atha setelah beberapa saat terdiam.
Bu Cici mengangguk. Semoga saja hati Atha terbuka dan mau menerima Shandra sebagai pengganti istrinya.
"Tapi jangan lama-lama. Mama ingin lihat kamu seperti dulu lagi."
Atha tak menjawabnya, Atha tidak ingin memberikan janji kepada mamanya. Semoga saja permintaan mamanya hanya sesaat karena tak ingin lihat dirinya yang terpuruk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments
🌺 Tati 🐙
kalau banyak.uang mah yg tadinya jelek bisa cakep,modalin dong sandranya biar cantik
2024-09-26
1