Sejak di hentikan pencarian oleh tim SAR, hidup Atha terasa tidak bergairah dan semangat menjalani hari-harinya. Hampa, begitulah hidup Atha saat ini, yang ada kesedihan yang terus mengukung hatinya. Keluarga juga sudah mengikhlaskan Alika, walau sampai saat ini jasad Alika tidak diketemukan. Semua keluarga sudah menganggap kalau Alika sudah meninggal, tapi tidak bagi Atha yang meyakini kalau Alika masih hidup, kecuali ia melihat sendiri jasad Alika.
Tiga bulan setelah hari naas itu, hidup Atha semakin terpuruk dan kacau tanpa Alika di hidupnya. Dunianya sudah tak berwarna lagi dan Atha kini berubah menjadi sosok yang pendiam. Atha yang dulu selalu ceria dan kini benar-benar telah berubah. Dulu Atha tak pernah menyentuh minuman haram, tapi sejak hilangnya Alika Atha kini gemar menkonsumsi minuman beralkohol demi menghilangkan rasa sedihnya atas kepergian Alika di hidupnya.
Sekacau itulah hidup Atha tanpa Alika. Sangat berat kehilangan Alika di hidupnya. Atha selalu berharap kalau Alika masih hidup.
Sang mama sangatlah sedih melihat hidup Atha tak ada semangatnya lagi dalam menjalani kehidupannya. Bu Cici ingin Atha seperti dulu lagi, tidak seperti sekarang. Terpuruk begitu dalam. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakan agar Atha bisa seperti dulu lagi.
"Pa, Mama sedih lihat Atha. Sejak Alika kecelakaan hidup Atha sangatlah berantakan," ucap Bu Cici dengan raut wajah yang mendung. Bu Cici sudah hampir putus asa melihat keadaan putranya itu. Sudah sering kali ia menasihati Atha, tapi tidak ditanggapi oleh Atha. Justru Atha semakin parah mengkonsumsi minuman haram itu.
"Papa juga sedih lihatnya, tapi mau bagaimana lagi." Pak Ishaq mendesah samar. Ia sama sedihnya dengan hidup Atha yang seperti ini. "Yang penting kita terus menasihati Atha untuk mengikhlaskan Alika."
Bu Cici pun kembali terdiam. Mau sampai kapan Atha terus seperti ini? Sementara hidup terus berlanjut.
Bu Cici menghela napasnya. Begitu sedihnya ia melihat anaknya yang tengah terpuruk.
Tiba-tiba Bu Cici tersenyum tipis, sebuah ide melintas di kepalanya.
"Gimana kalau kita jodohkan Atha dengan Shandra," ucap Bu Cici memberi saran.
Siapa tahu jika Atha menikah lagi, hidup Atha tidak sedih lagi dan yang menurutnya pantas bersanding dengan putra kesayangannya itu adalah Shandra.
Itu menurut pandangan Bu Cici.
Shandra yang ia kenal adalah sosok perempuan yang baik dan lemah lembut. Walau usianya selisih tiga tahun lebih tua dari Atha, ia yakin Shandra bisa membuat Atha melupakan Alika.
"Papa sih setuju aja. Tapi bagaimana dengan Atha sendiri, apa dia juga setuju kalau kita jodohkan dengan kakaknya Alika?" sahut Pak Ishaq sambil melepaskan kacamatanya.
Bu Cici pun terdiam. Benar juga apa yang dikatakan suaminya itu. Apa Atha bersedia dijodohkan dengan Shandra? Sementara hatinya Atha masih terpaut akan cinta Alika.
Sejenak, Bu Cici pun berpikir keras. Mencari cara agar Atha mau menikah dengan Shandra.
Bu Cici membuang napas panjang. Sampai sekarang ia belum mendapatkan solusi agar Atha mau dijodohkan dengan Shandra dan otaknya buntu mencari caranya.
"Nanti Mama cari cara deh," pungkas Bu Cici pada akhirnya.
Sesaat, keduanya saling diam dengan pikirannya masing-masing. Kemudian sebuah notif masuk ke ponsel Pak Ishaq. Segera Pak Ishaq membuka pesan tersebut.
Helaan napas terdengar sangat berat dari mulut Pak Ishaq. Bu Cici menatap suaminya dengan tatapan penasaran, lalu Bu Cici pun bertanya kepada suaminya itu.
"Kenapa, Pa?"
Pak Ishaq tak menjawabnya, tapi justru ia menyodorkan ponselnya ke sang istri. Memperlihatkan isi pesan tersebut.
Sejurus kemudian, Bu Cici pun menggelengkan kepala sekaligus menghela napas panjang.
Sebuah foto di mana Atha terbaring di atas sofa dalam keadaan mabuk berat. Bu Cici semakin gusar saja dengan hidup Atha. Kehilangan Alika benar-benar sudah mengubah hidup Atha menjadi sosok yang sangat berbeda.
Sangat-sangat hancur dan terpuruk.
"Mama tak bisa membiarkan Atha seperti ini terus. Dia harus bisa melupakan Alika bagaimanapun caranya," ujar Bu Cici yang terdengar seperti putus asa.
Pak Ishaq tak menimpalinya, ia bingung gimana caranya agar hidup Atha kembali seperti dulu.
Seketika sebuah ide brilian hinggap di otak Bu Cici. Ia yakin dengan cara itu Atha mau menikah lagi dan pastinya Atha tidak bisa menolak permintaannya, dijodohkan dengan Shandra.
"Pa, Mama punya ide," tukas Bu Cici sambil tersenyum menyeringai.
"Ide apa?"
Kemudian Bu Cici membisikkan sesuatu ke telinga suaminya dan Pak Ishaq mendengarkan dengan seksama bisikan sang istri.
"Mama yakin kalau ini akan berhasil?" tanyanya sedikit ragu.
"Coba dulu, tapi Mama sih yakin. Ya ... dari pada Atha terus seperti itu."
"Ya sudah Papa ikut saja apa kata Mama."
***
Beberapa hari sudah berlalu. Atha yang sedang bersiap-siap untuk pulang kerja di kejutkan dengan kabar buruk dari orang tuanya. Sebuah pesan dari adiknya yang mengatakan kalau sang mama masuk rumah sakit.
Atha mengusap wajahnya kasar. Jelas terlihat kalau ia sangat gusar, khawatir dan panik mengetahui sang mama masuk rumah sakit.
Secepat kilat Atha berlalu dari ruang kerjanya dan segera pergi ke rumah sakit guna melihat kondisi sang mama yang kata Tya mama pingsan di kamar mandi.
Tidak sampai setengah jam Atha sudah sampai di rumah sakit di mana sang mama di rawat. Gegas Atha berjalan cepat memasuki rumah sakit.
"Mama ...," ucap Atha saat membuka pintu dengan tergesa-gesa.
Pak Ishaq dan Tya menoleh melihat kedatangan Atha. Wajah penuh mendung terlihat dari Pak Ishaq dan Tya. Jelas terlihat kalau mereka sangat sedih dengan kondisi Bu Cici yang tergolek tak berdaya di atas ranjang.
"Bagaimana keadaan Mama?" tanya Atha dengan raut wajah cemas.
Pak Ishaq mendesah panjang dan menatap sedih wajah sang istri yang sampai saat ini belum sadarkan diri.
"Kata dokter Mama terkena geger otak akibat terjatuh. Tapi untung saja pembuluh darahnya tidak pecah, kalau sampai pecah ...." Pak Ishaq menjeda kalimatnya dan lagi-lagi membuang napas panjang. "Bisa fatal akibatnya dan bisa saja kita kehilangan Mama," sambungnya dengan suara lirih. Matanya berkaca-kaca menahan rasa sedih. Pak Ishaq begitu sangat khawatir melihat keadaan istri tercintanya.
Atha diam membeku mendengar perkataan sang papa. Namun, disisi hatinya yang lain, ia bersyukur karena sang mama masih di beri keselamatan walau harus keadaannya seperti itu.
"Terakhir sebelum mama jatuh di kamar mandi, mama sempet bilang kalau mama sangat sedih lihat kamu sering mabuk-mabukan dan mama ingin lihat kamu seperti dulu lagi. Mama juga bilang kalau mama ingin kamu nikah lagi dengan perempuan pilihan mama," ucap Pak Ishaq.
"Siapa perempuan pilihan Mama?" tanya Atha.
Pak Ishaq tidak langsung menjawabnya, ia sedikit ragu untuk mengatakannya, namun ia harus menyampaikan apa yang dikatakan istrinya.
Pak Ishaq berdehem dulu sebelum mengatakannya. Semoga apa yang akan ia sampaikan bisa diterima oleh Atha.
"Pa ...," desak Atha.
"Mm ... Sha-ndra ...."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments
🌺 Tati 🐙
naik ranjang ceritanya
2024-09-26
1