NovelToon NovelToon
Obsesi Papa Mertua

Obsesi Papa Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dark Romance / Cinta Terlarang
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10.

Ruang tamu yang megah itu mendadak hening setelah sambungan telepon diputus sepihak oleh Sean. Freya masih terpaku, memegangi ponselnya dengan jemari yang memutih. Kalimat ancaman Sean yang begitu keji masih terngiang jelas di kepalanya, membuat dadanya sesak hingga ia harus bersusah payah menarik napas.

​Di hadapannya, Rafael Ravindra tidak bergemir secenti pun. Pria itu berdiri tegak, memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana bahan mahalnya. Sepasang matanya yang tajam bak elang memperhatikan bagaimana bahu kecil Freya naik turun dengan tidak stabil, pertanda wanita itu sedang menahan tangis yang amat hebat.

​"Apa yang dikatakan suamimu hingga kau gemetar seperti ini, Freya?"

​Suara bariton Rafael memecah keheningan. Nadanya terdengar datar, dingin, namun mengandung penekanan yang menuntut jawaban jujur.

​Freya tersentak, cepat-cepat mendongak dan memaksakan sebuah senyuman tipis yang justru terlihat sangat getir. "A-ah... tidak ada, Tuan Besar. Sean... Sean hanya terkejut mendengar Anda sudah pulang. Dia bilang akan segera kembali dari kantor sekarang juga."

​Rafael menyipitkan matanya. Sebagai pria yang telah memimpin gurita bisnis di luar negeri selama puluhan tahun, ia tidak bisa dibohongi dengan mudah. Ia melihat bagaimana Freya melirik ke arah lain, menghindari kontak mata langsung dengannya.

​"Kau memanggilku 'Tuan Besar'?" tanya Rafael, melangkah satu kali lagi hingga jarak mereka mengikis. Aura dominasi yang dipancarkannya begitu pekat, membuat Freya merasa semakin terhimpit. "Aku adalah ayah dari suamimu. Panggil aku Papa, seperti yang Sean lakukan."

​"B-baik... Papa," bisik Freya parau. Mengucapkan kata itu rasanya aneh, mengingat pria di hadapannya ini adalah orang yang sama yang telah menolongnya di jalanan semalam dalam kondisi paling terhina.

​"Dan satu hal lagi," Rafael mengulurkan tangannya yang kokoh, lalu dengan gerakan perlahan namun tegas, jemarinya menyentuh dagu Freya. Ia mengangkat wajah wanita itu agar menatapnya langsung.

​Freya membeku, napasnya tertahan. Sentuhan Rafael tidak kasar seperti Sean, namun genggamannya begitu mutlak dan tidak bisa dibantah.

​Mata Rafael menatap lekat-lekat pada sudut bibir Freya. Meskipun tertutup polesan lipstik, ia bisa melihat sedikit tekstur kulit yang pecah dan bengkak yang samar. Begitupun dengan pipi kirinya yang tampak sedikit lebih tebal karena riasan bedak yang berlebih.

​"Riasanmu terlalu tebal untuk ukuran wanita yang hanya berada di dalam rumah, Freya," ucap Rafael dingin, dengan nada penuh teka-teki. "Apa yang sedang kau sembunyikan dariku? Wajah pucatmu semalam saat di jalanan, atau... sesuatu yang lain?"

​Jantung Freya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau copot. Ia melepaskan wajahnya dari sentuhan Rafael dengan halus, lalu mundur selangkah sambil menunduk. "T-tidak ada yang saya sembunyikan, Papa. Saya... saya hanya ingin menyambut kedatangan Papa dengan penampilan terbaik. Semalam... semalam itu hanya kecelakaan kecil."

​"Begitu?" Rafael menarik kembali tangannya, seringai tipis yang dingin terukir di wajah tampannya. "Aku harap begitu. Karena aku tidak suka dibohongi, terutama oleh orang-orang di dalam rumahku sendiri."

​Hampir tiga puluh menit berlalu dalam ketegangan yang sunyi. Rafael memilih duduk di sofa tunggal, menyesap kopi hitam yang disuguhkan oleh Bi Sofi dengan khidmat, sementara Freya berdiri canggung tidak jauh dari sana, tidak berani duduk sebelum dipersilakan.

​Brak!

​Pintu utama mansion terbuka dengan kasar. Sean melangkah masuk dengan napas yang sedikit memburu. Setelan jasnya tampak sedikit berantakan, menandakan ia mengemudikan mobilnya dengan sangat kesetanan untuk sampai ke rumah.

​Begitu matanya menangkap sosok Rafael yang sedang duduk tenang, ekspresi keras di wajah Sean langsung berubah drastis. Ia memasang senyuman lebar yang tampak sangat ramah dan penuh kerinduan—sebuah topeng yang sempurna.

​"Papa! sudah sampai? Kenapa tidak memberi kabar pada Sean sebelumnya agar Sean bisa menjemput Papa di bandara?" ujar Sean dengan nada suara yang dibuat sehangat mungkin. Ia melangkah mendekati ayahnya dan membungkuk hormat.

​Rafael meletakkan cangkir kopinya di atas meja kaca dengan bunyi dentingan yang pelan namun tegas. Ia mendongak, menatap putra tunggalnya dengan pandangan dingin yang tak terbaca. "Jika aku memberitahumu, aku tidak akan bisa melihat bagaimana caramu mengelola rumah ini, Sean."

​Sean terkekeh canggung, lalu pandangannya beralih pada Freya yang berdiri kaku di sudut ruangan. Kilat peringatan yang mematikan langsung terpancar dari mata Sean, mengingatkan Freya pada ancaman di telepon tadi.

​Sean melangkah mendekati Freya, lalu dengan sengaja merangkul pinggang kecil istrinya dengan sangat erat. Cengkeraman tangan Sean di pinggang Freya begitu kuat hingga menekan tulang rusuknya, membuat Freya menahan rintihan sakit di tenggorokan.

​"Maafkan kami, Papa. Freya pasti belum menjamu Papa dengan baik, ya?" ucap Sean sambil menatap Freya dengan pandangan yang dibuat seolah penuh cinta, lalu mengecup pelipis Freya di depan ayahnya. "Sayang, kenapa kau berdiri saja di sana? Sini, duduk di sampingku."

​Freya hanya bisa mengangguk kaku, tubuhnya bergetar di bawah kungkungan tangan Sean. "I-iya, Sean..."

​Rafael memperhatikan setiap detail interaksi itu. Ia melihat bagaimana tubuh Freya menegang sempurna saat Sean menyentuhnya. Ia melihat bagaimana sepasang mata bulat menawan milik menantunya itu memancarkan ketakutan yang amat sangat, bukan kenyamanan seorang istri.

​"Kalian terlihat sangat serasi," sahut Rafael datar, suaranya terdengar begitu tenang namun menyimpan misteri yang mendalam. Ia menyandarkan punggungnya pada sofa, menatap Sean dengan tajam. "Pernikahan yang bahagia. Persis seperti yang aku syaratkan untuk menurunkan seluruh hak waris keluarga Ravindra kepadamu, Sean."

​"Tentu saja, Papa. Sean sangat mencintai Freya. Dia adalah wanita terbaik yang pernah Sean temui," jawab Sean tanpa ragu, bohong dengan begitu lancar di depan ayahnya sendiri. Sambil berbicara, tangan Sean yang berada di pinggang Freya sengaja mencubit kulit wanita itu dengan keras di balik gaunnya, memaksa Freya untuk tetap tersenyum.

**

Freya merasa cengkeraman tangan Sean di pinggangnya kian menyiksa, seperti remasan besi yang siap mematahkan tulang rusuknya. Udara di ruang tamu itu terasa semakin menipis. Ketegangan antara ayah dan anak di hadapannya membuat Freya merasa tercekik dalam sandiwara busuk ini.

​"P-Papa, Sean... jika tidak ada lagi yang diperlukan, saya mohon izin ke dapur untuk melanjutkan memasak makan malam," sela Freya lirih. Suaranya bergetar, matanya menatap lantai, tak berani menatap langsung ke arah Rafael maupun Sean.

​Sean melepas cengkeramannya dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin di depan ayahnya. "Tentu, Sayang. Masaklah yang enak untuk Papa, ya?" Namun, di balik senyuman itu, matanya berkilat memberi peringatan keras.

​"Silakan, Freya," sahut Rafael tenang. Sepasang matanya yang tajam mengawal setiap langkah terseok-seok Freya yang berjalan tergesa-gesa menuju dapur.

​Di dapur, Freya bersandar pada konter dengan napas terengah-engah. Air matanya luruh satu demi satu, namun ia segera menyekanya dengan kasar. Ia tidak punya waktu untuk menangis. Dengan sisa tenaga yang ada, dibantu oleh Bi Sofi dan Bi Tina yang menatapnya dengan pandangan luar biasa iba, Freya menyelesaikan masakan malam itu.

​Satu jam kemudian, makan malam dihidangkan di meja makan mewah yang panjang. Suasana makan malam itu berlangsung dalam keheningan yang mencekam. Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen.

​Sean berkali-kali berlagak menjadi suami yang penuh perhatian. Ia mengambilkan lauk ke piring Freya sambil melemparkan pujian palsu.

​"Masakan Freya selalu yang terbaik, Papa. Aku beruntung memilikinya," ujar Sean, tersenyum bangga.

​Rafael hanya menyesap minumannya, lalu meletakkan gelasnya perlahan. Sifat tegas dan penuh teka-tekinya kembali mendominasi atmosfer ruangan. "Jika kau merasa beruntung, pastikan kau menjaganya dengan baik, Sean. Wanita yang baik adalah cerminan dari pria yang memimpinnya."

​Sean mengangguk cepat, meski rahangnya sedikit mengeras. "Tentu, Papa. Itu pasti."

​Setelah semua makanan di piring tandas, Rafael menyeka bibirnya dengan sapu tangan kain. Ia menatap bergantian ke arah Sean dan Freya sebelum melontarkan sebuah kalimat yang seketika meruntuhkan ketenangan Sean.

​"Mulai hari ini, aku memutuskan untuk menetap di Indonesia. Dan aku akan tinggal di mansion ini, bersama kalian."

​Takk.

​Garpu di tangan Sean mendadak terlepas, membentur piring dengan bunyi yang cukup keras. Wajah tampannya seketika memucat, matanya membelalak tak percaya.

​"P-Papa... Anda akan tinggal di sini?" tanya Sean, suaranya sedikit meninggi akibat rasa terkejut yang luar biasa.

​"Kenapa? Kau keberatan jika ayahmu tinggal di rumahnya sendiri?" tanya Rafael, nadanya merendah, dingin dan mengintimidasi.

​"B-bukan begitu, Papa. Hanya saja... aku terkejut. Tentu saja aku dan Freya sangat senang," sahut Sean gagap, otaknya langsung berputar liar memikirkan konsekuensi dari keputusan ayahnya.

​Artinya, Bianca tidak akan bisa menginjakkan kaki atau tinggal di mansion ini lagi. Hubungan gelap mereka harus disembunyikan sedalam mungkin. Dan yang paling mengerikan bagi Sean, ia harus terus-menerus bersandiwara menjadi suami yang baik dan penuh kasih sayang di depan mata elang ayahnya yang siap mengintai kapan saja.

​Berusaha mengalihkan rasa paniknya, Sean berdeham dan menatap ayahnya dengan pandangan menuntut. "Lalu, Papa... karena aku sudah memenuhi syarat untuk menikahi wanita pilihan yang baik-baik... kapan seluruh aset, perusahaan, dan hak waris itu sepenuhnya dibalik nama atas namaku?"

​Suasana di meja makan mendadak membeku. Freya yang duduk di samping Sean bahkan menahan napasnya.

​Rafael diam. Ia tidak langsung menjawab. Sepasang matanya yang hitam pekat menatap Sean dengan pandangan yang sarat akan kekecewaan yang mendalam, sekaligus penghinaan atas ketamakan putranya sendiri. Rafael tidak menyangka, di malam pertama kepulangannya, hal pertama yang dikejar oleh darah dagingnya adalah harta.

​"Nanti," jawab Rafael singkat. Wajahnya begitu dingin, sedingin es yang membeku di kutub. "Semua ada waktunya, Sean. Jangan terburu-buru seolah kau sedang dikejar hutang."

​Rafael bangkit berdiri dari kursinya, merapikan jasnya tanpa menatap Sean lagi. "Aku lelah. Aku akan ke kamar atas untuk beristirahat. Freya, terima kasih untuk makan malamnya."

​"S-sama-sama, Papa," bisik Freya lembut.

​Setelah langkah kaki Rafael menghilang di koridor lantai atas, topeng ramah di wajah Sean luruh seketika. Ia menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi, lalu menatap Freya dengan pandangan yang dipenuhi kebencian yang murni.

​"Sialan! Kenapa orang tua bangka itu harus tinggal di sini?!" umpat Sean kasar, memukul meja makan hingga vas bunga kecil di atasnya bergetar.

​Freya hanya diam mematung, meremas jemarinya di bawah meja.

​Sean tiba-tiba mencengkeram lengan Freya, menarik wanita itu agar berdiri dari kursinya. "Dengar baik-baik, Freya! Mulai malam ini, kau tidur di kamar utama atas bersamaku."

​Freya tersentak, matanya membelalak ketakutan. "S-Sean... tapi—"

​"Jangan memotong kalimatku!" bentak Sean, menekan suaranya agar tidak terdengar sampai ke atas. "Kau tidur di kamar atas karena Papa tinggal di sini! Kalau dia tahu kau tidur di kamar pelayan bawah, kepalaku bisa habis! Tapi jangan harap kau bisa menyentuh ranjangku. Kau tidur di lantai bawah ranjang, pakai selimut tipis!"

​Freya menunduk, air matanya menetes lagi. "Iya, Sean..."

​"Satu lagi," Sean menunjuk wajah Freya dengan penuh intimidasi. "Bianca tidak akan ke mansion ini lagi selama Papa ada di sini. Pergi ke kamar Bianca sekarang juga, kemaskan semua barang-barang dan pakaiannya ke dalam koper! Besok pagi, aku sendiri yang akan membawa barang-barangnya ke apartemen."

​Sean mendekatkan wajahnya yang kejam, mencengkeram dagu Freya hingga wanita itu meringis. "Dan ingat ancamanku semalam, Freya. Tetap tutup mulut sialanmu itu di depan Papa. Jangan bertingkah seolah kau tersiksa, atau detik ini juga aku akan memastikan ayahmu membusuk di penjara sebelum hak waris itu jatuh ke tanganku! Paham?!"

​"P-paham, Sean... lepas, sakit..." rintih Freya lemah.

​Sean menghempaskan wajah Freya dengan kasar. "Kerjakan sekarang! Jangan membuatku semakin muak melihat wajah menyedihkanmu itu!"

*

*

*

JANGAN LUPA LIKE, COMENT, GIFT, DAN VOTE 🙏

🌺🌺🌺

1
MissSHalalalal
sesuai tema ya kak.. dark romance. tapi tenang saja. pasti akan ada kebahagiaan yang tak terduga untuk si Freya.
Mita Paramita
siksaan Mulu yang Freya alami... kasian Thor 😭😭😭
Reni Anjarwani
freya kamu jadi wanita kok bodoh bgt sfh tau dihianati dan disiksa kok masih dibela mati2 an 🤭🤭
ina
buatlah freya rafael happy end
MissSHalalalal
mau doubel up gak nih ... hehehe
+1: mau! tripel juga boleh!
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
+1
uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu 🌚🌚🌚 gelap malamku
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
bongkar kebusukan ibu & adik tiri Freya. . udah sabar bgt nih Freya di bully dan diselingkuhi tinggal cerai aja 🔥🔥🔥
ina
kak plss bikin freya cinta sama rafael saling mencintai
ina: semangat bikin freya rafael bucin 🤭
total 2 replies
Kamsia
kasian freya hdp sendiri dan udh hncr.bnt kak thor buat freya bisa jatuh cinta sama rafael
MissSHalalalal: sudah terlalu sakit hati kak.
total 1 replies
MissSHalalalal
siap, di tunggu ya 🙏😍
ina
up
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Norahsikin Ismail
lanjutkan lg🙏🙏👍
ina
bikin freya cinta sama rafael min
Fifi Afifah
👍
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
semoga aja Freya Nerima Rafael setelah dicerai sean
Mita Paramita
tragisnya nasib Freya terjebak diantara ayah dan anak yang bikin hidup nya kacau
Mita Paramita
Freya di terkam mertua nya🤣🤣🤣 gimana reaksi Sean kalo ketahuan 🤨 Thor novel nya ganti judul ya .
MissSHalalalal: iya nih. 🙏 yang kemaren kepanjangan 🤭
total 1 replies
Mita Paramita
Freya istri lemah ngapain belain suami laknat begitu 🤨jadi gemes liatnya. lanjut Thor 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!