NovelToon NovelToon
Penaklukan Sang Asisten

Penaklukan Sang Asisten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?

"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."

Kisah tentang Ben Arganza, asisten dingin dan merupakan bayangan Baron Frederick yang sedang menjadi target penaklukan seorang gadis ceroboh bernama Lala Narayan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Alasan Ben

Setelah Baron dan Gita meninggalkan ruang rapat, Lala tidak langsung bergegas pergi. Ia masih berdiri di sana, mengumpulkan keberaniannya yang tersisa. Tiba-tiba, sebuah suara tawa kecil yang renyah menarik perhatiannya.

Alba, putri kecil yang sempat ia "sapa" dengan tumpahan teh tadi, ternyata masih ada di sana. Balita itu sedang duduk di atas karpet tebal, sibuk memutar-mutar mainan kayu berbentuk robot—ironisnya, robot yang sangat mirip dengan gaya kaku Ben Arganza.

"Dada!" seru Alba sambil menunjuk ke arah Lala dengan tangan mungilnya yang gemuk.

Lala tersenyum lebar, rasa tegang di bahunya perlahan menguap. Ia tidak peduli lagi soal formalitas atau tatapan staf yang mungkin mengintip dari balik pintu. Ia berjongkok di depan balita itu, mengabaikan fakta bahwa rok kerjanya mungkin akan kusut.

"Halo, Alba," sapa Lala lembut. "Kamu cari siapa? Cari robotnya?"

Alba tertawa dan menyodorkan mainan itu pada Lala. "Beb... Beb..." ucapnya terbata-bata, mencoba menirukan panggilan orang-orang untuk Ben.

Lala tergelak. "Wah, dia benar-benar mirip ya? Kaku dan dingin?"

Selama lima belas menit berikutnya, ruang rapat yang biasanya dingin itu berubah menjadi arena bermain. Lala, yang biasanya ceroboh dan selalu merasa dirinya "bencana", mendadak berubah menjadi sosok yang sangat tenang di depan Alba. Ia membiarkan Alba memakaikan gelang mainan ke pergelangan tangannya, dan mereka berdua sibuk menyusun balok-balok kayu menjadi menara yang berantakan.

Ben, yang sebenarnya sudah masuk ke lift dan berniat langsung pergi, tiba-tiba merasa ada yang kurang. Ia teringat bahwa ia harus memberikan instruksi terakhir pada Lala soal jadwal besok. Dengan alasan "efisiensi waktu", ia memutuskan untuk kembali ke ruang rapat.

Namun, saat ia membuka pintu, langkahnya terhenti tepat di ambang pintu.

Pemandangan di depannya benar-benar meruntuhkan pertahanannya. Lala tidak terlihat seperti desainer yang gugup atau "bencana berjalan". Gadis itu sedang tertawa lepas, wajahnya tampak segar dan sangat hangat, sementara rambutnya sedikit berantakan karena ditarik-tarik oleh tangan kecil Alba.

Alba sedang memeluk leher Lala, menempelkan pipinya yang tembam ke pipi Lala.

"Alba sayang, menaranya hampir jatuh!" Lala berseru tertawa, berusaha menahan balok-balok kayu agar tidak roboh.

Ben terpaku. Selama dua tahun menjadi tangan kanan Baron, ia jarang melihat sosok yang bisa membuat suasana mansion menjadi sehangat ini. Biasanya, semua orang di sekitar keluarga Frederick berjalan dengan langkah tertahan, takut melakukan kesalahan.

Tapi Lala? Gadis itu justru membuat suasana menjadi "berantakan" dengan cara yang begitu manis.

Ben merasa ada sesuatu yang berdenyut di dadanya. Itu bukan rasa kesal, bukan pula rasa frustrasi. Itu adalah perasaan asing yang hangat—sebuah rasa iri, mungkin? Atau justru sebuah pengakuan bahwa ia mendambakan kehangatan yang sama di hidupnya yang monokrom.

Ia berdeham keras, mencoba memecah keheningan.

Lala menoleh, wajahnya masih berseri-seri. "Oh, Tuan Ben! Lihat, Alba pintar sekali menyusun balok, kan?"

Ben melangkah masuk, namun langkahnya tidak lagi sekuat tadi. Ia berhenti di samping mereka, menatap Alba yang kini menatapnya dengan tatapan polos yang sama sekali tidak takut.

"Waktumu sudah habis, Lala," ucap Ben, suaranya kini terdengar jauh lebih lembut dari yang ia maksudkan. "Kita harus kembali ke kantor. Nyonya Gita sudah menunggu untuk mengambil Alba."

Lala menghela napas, tampak sedih harus berpisah dengan teman kecilnya. "Iya, aku tahu."

Ia mengecup kening Alba sekilas. "Sampai jumpa lagi, Alba kecil."

Ben memperhatikan gerakan itu. Sebuah gestur yang sederhana, namun bagi Ben, itu terlihat sangat intim dan tulus. Tanpa sadar, ia mengulurkan tangan dan mengusap puncak kepala Alba dengan kaku, sebuah aksi yang membuat Alba tertawa girang.

"Dia menyukaimu," gumam Ben, hampir berbisik.

Lala berdiri, merapikan kemejanya yang masih sedikit kebesaran. "Siapa? Alba?"

Ben menatap mata Lala, mencoba mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah kejujuran yang menenangkan. "Ya. Alba. Dan..." Ben terdiam sejenak, lalu membuang muka sebelum ia mengatakan sesuatu yang tidak akan bisa ia tarik kembali.

"Dan... kurasa dia punya selera yang bagus," lanjut Ben singkat, lalu berbalik memunggungi Lala.

"Ayo. Jangan membuatku menunggu lebih lama lagi."

Lala tersenyum, mengikuti langkah lebar Ben menuju pintu. Hari ini, sang robot benar-benar kehilangan pegangannya, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus memperbaiki kerusakan itu.

"Terimakasih banyak tuan Ben," ucap Lala saat baru mendudukkan pantatnya di kursi penumpang di samping Ben.

"Boleh saya minta gaji sekarang?" lanjut Lala seraya menengadahkan tangannya di samping wajah Ben yang sedang menatap ke depan.

"Saya mau bayar kontrakan, saya janji akan bekerja dengan baik," cerocos Lala tanpa henti.

"Dan kemeja tuan, akan saya cuci pakai tangan sendiri, aroma saya akan hilang, dan tuan bisa memakainya lagi, hehehe."

Ben yang tadinya sedang fokus mengatur navigasi di layar dasbor, seketika mematung.

Kata-kata Lala tentang "aroma kemeja" yang akan hilang seolah menjadi pemicu yang membuat sistem sarafnya menegang.

Ia tidak langsung menjalankan mobil. Tangannya yang biasanya cekatan di atas kemudi kini terkunci di posisi jam sepuluh dan dua. Ben menoleh perlahan ke arah Lala.

Tatapan mata abu-abunya yang dingin kini tampak lebih dalam, seolah sedang mencoba menelaah apakah gadis di sampingnya ini benar-benar polos atau justru sedang sengaja memancingnya.

"Kamu pikir saya meminjamkan kemeja itu karena saya butuh kemeja itu kembali secepatnya?" suara Ben rendah, bergetar tipis di ujung kalimatnya.

Lala berkedip polos, tangannya yang masih menengadah perlahan turun karena merasa suasana mendadak jadi sangat serius. "Eh? Bukan? Maksudnya, kemeja itu kan mahal, Tuan... saya cuma tidak mau dianggap tidak tahu terima kasih."

Ben mendengus kasar, lalu dengan gerakan cepat, ia meraih tangan Lala yang tadi menengadah. Bukannya menaruh uang atau cek, ia justru menutup telapak tangan gadis itu dengan jemarinya yang hangat dan kuat.

"Pertama," Ben memulai dengan nada otoriter, "soal gaji, saya akan transfer ke rekeningmu sore ini. Penuh. Tanpa potongan. Anggap itu investasi awal agar kamu tidak berakhir tidur di halte bus karena diusir ibu kost."

Lala membelalak. "Benarkah? Terima kasih, Tuan! Anda benar-benar malaikat!"

"Kedua," Ben memotong dengan cepat, matanya mengunci mata Lala dengan intensitas yang membuat napas gadis itu tertahan. "Jangan pernah cuci kemeja itu."

Lala terdiam, bingung. "Kenapa?"

Ben mendekat, memangkas jarak di antara mereka di dalam kabin mobil yang sempit itu hingga aroma kayu cendana dari tubuhnya mendominasi ruang gerak Lala. "Karena itu perintah. Kamu tidak perlu mencucinya, kamu tidak perlu menghilangkan aromanya, dan kamu tidak perlu mengembalikannya."

Ia melepaskan tangan Lala, lalu segera menyalakan mesin mobil dengan satu sentakan yang menunjukkan bahwa ia sedang berusaha keras menahan diri.

"Tapi kenapa, Tuan?" tanya Lala, suaranya kini terdengar lebih kecil, penasaran.

Ben tidak menjawab. Ia menginjak pedal gas, membawa mobil itu meluncur membelah jalanan Jakarta dengan kecepatan yang sedikit lebih tinggi dari biasanya—sebuah pelampiasan dari rasa frustrasi yang tak lagi bisa ia atur dengan logika.

"Karena," gumam Ben, hampir tidak terdengar oleh Lala, "setidaknya itu satu-satunya hal yang bisa membuatmu tetap berada di dekatku—bahkan saat kamu tidak sedang bersamaku."

Ben menatap spion tengah, melihat Lala yang kini terdiam menatapnya dengan pandangan baru. Sang asisten yang perfeksionis itu kini menyadari satu hal: ia baru saja melakukan langkah yang sangat tidak efisien bagi ketenangannya sendiri.

Ia baru saja memberi alasan pada gadis itu untuk terus berada dalam dunianya. Dan anehnya, untuk pertama kalinya, Ben Arganza merasa itu adalah keputusan terbaik yang pernah ia ambil.

***

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sakit kerasnya itu pegangan hingga memutih itu buku"
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
darrrr derrrr dorrrr derrrr durrrrr pasti itu suara harinya ben.... uhhhhhh kayak mau turun hujan badai donk bun
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
karna semuanya di luar kendalimu...
jadi nikmati aja alurnya
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
aisssstttttt mulai menghayal yang tidak" dehhh lala
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
makanya la sedia air sebelum terbakar
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
berarti selama ini setiap keputusan nya selalu salah donk dalam hidupnya
nur annisa
tarik nafas huffft
nur annisa
baru muncul Thor 💪
Bubu
harus update pokoknya😄
Bubu
Ben pokoknya aku padamu🤭
Raffi975
update lagi dong Thor pliss😍
Raffi975
waduhh
Raffi975
lanjut Thor, kayaknya Mas Ben udah jatuh cintrong nih 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
Servis donk biar top cer lagi arus listriknya.... hihihi
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
tidak di pecat.. tapi di pikat... 😇🤭😃😄
Raffi975
kacian mas Ben, pertemukan lagi dong Thor
Raffi975
lanjut Thor
Raffi975
oh tidak
Raffi975
waduhhh plot twist nya keren
Raffi975
jangan mau dipengaruhi sama Nadya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!