"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10. Ingin egois
Pagi hari tiba dengan kilatan cahaya matahari yang menembus celah gorden ruang tengah. Suara kicau burung di pohon mangga depan rumah kontrakan berpadu dengan deru mesin kendaraan yang mulai ramai di luar.
Di lantai dua, Ameera menggeliat, melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam pagi. Dengan langkah riang, gadis itu turun ke bawah untuk memulai tugas pertamanya sebagai calon menantu dan anak yang berbakti di rumah baru mereka.
Namun di lantai satu, panggung sandiwara sudah siap digelar kembali dengan tensi yang tak kalah menjerat leher.
Sejak pukul setengah enam, Habibah sudah menyibukkan diri di dapur. Ia sengaja bangun lebih awal demi menghindari kemungkinan berpapasan lagi dengan Imam di koridor sempit seperti semalam. Mengenakan gamis harian berwarna biru pudar dan jilbab instan yang rapi, jemarinya lincah mengiris bawang merah dan cabai untuk membuat nasi goreng.
Klek.
Suara pintu kamar sebelah kiri terbuka. Jantung Habibah langsung melompat ke tenggorokan. Ia meremas sudip di tangannya, berusaha memfokuskan matanya pada wajan yang mulai panas.
Imam keluar dengan kemeja koko casual dan sarung rapi, aroma minyak wangi cendana khasnya langsung memenuhi ruangan. Ia melangkah menuju meja makan yang menyatu dengan dapur mungil itu. Langkah kakinya sempat melambat saat melihat punggung Habibah yang tampak tegang di depan kompor.
"Selamat pagi, Jeng Habibah," sapa Imam, suaranya terdengar begitu formal dan terkendali, sangat berbeda dengan nada parau penuh keputusasaan yang ia gunakan beberapa jam lalu di kegelapan koridor.
Habibah membalikkan badan sekilas, memaksakan segaris senyum sopan. "Selamat pagi, Mas Imam. Silakan duduk. Ini nasi gorengnya sebentar lagi matang."
Imam duduk di salah satu kursi kayu, mengambil koran pagi yang sengaja ia beli di depan komplek tadi subuh untuk menutupi kegugupannya. Ia berpura-pura membaca, padahal matanya sama sekali tidak fokus pada deretan huruf di kertas itu. Fokusnya sepenuhnya tersita oleh siluet Habibah.
"Wah, harum banget! Ibu masak nasi goreng ya?"
Suara riang Ameera yang turun dari tangga memecah keheningan yang mencekam itu. Di belakangnya, Rayhan menyusul dengan wajah yang masih mengantuk namun dengan tersenyum hangat.
"Eh, Papa sudah bangun? Rajin banget sudah baca koran," goda Ameera sambil mengecup pipi ayahnya, lalu beralih menghampiri Habibah di dapur. "Tante Bibah, biar Ameera yang pindahkan nasi gorengnya ke piring."
"Tidak usah, Meer, ini sudah selesai kok," ujar Habibah lembut, membawa semangkuk besar nasi goreng hangat ke tengah meja.
Mereka berempat akhirnya duduk mengitari meja makan mungil tersebut. Rayhan memimpin doa, dan sarapan pun dimulai.
Imam menyendokkan nasi goreng itu ke mulutnya. Begitu kunyahan pertama mengecap di lidahnya, gerakan tangan Imam mendadak berhenti. Matanya melebar, menatap butiran nasi di piringnya dengan pandangan tak percaya.
Rasa ini... bumbu ini...
Nasi goreng ini dibuat dengan ulekan bawang merah yang dominan, sedikit terasi bakar, dan irisan daun bawang yang kasar. Ini adalah resep nasi goreng persis seperti yang sering dibuatkan Habibah untuknya tiga puluh tahun lalu saat mereka masih kuliah dan sering belajar bersama di taman kota. Habibah tidak pernah mengubah takaran seleranya, dan Imam tidak pernah melupakan rasa itu.
"Gimana, Om Imam? Nasi goreng buatan Ibu enak, kan?" tanya Rayhan bangga melihat calon mertuanya mendadak melamun. "Ibu kalau bikin nasi goreng memang juara."
Imam menelan nasi itu dengan susah payah, tenggorokannya mendadak terasa emosional. Ia melirik Habibah, yang saat itu juga sedang menatapnya dengan mata yang menyiratkan rasa bersalah sekaligus kerinduan yang mendalam. Habibah tahu, ia telah tidak sengaja membuka kotak pandora masa lalu lewat masakan paginya.
"Iya... enak sekali. Masakan Jeng Habibah... rasanya sangat familiar di lidah Om," jawab Imam parau, memberikan penekanan tipis pada kata 'familiar'.
Ameera tersenyum lebar. "Wah, syukur deh kalau Papa suka! Oh iya, sesuai jadwal yang kita buat kemarin, siang ini Papa dan Tante Bibah bebas ya. Rayhan dan Ameera mau pergi ke tempat vendor undangan sampai sore. Jadi orang tua silakan istirahat di rumah." ucap Ameera sambil tertawa.
*
*
Pukul sepuluh pagi, rumah kontrakan itu kembali sepi setelah mobil Rayhan bergerak membelah jalanan kota membawa Ameera pergi.
Imam berdiri di ruang tengah, menatap pintu kamar Habibah yang tertutup rapat. Jadwal siang hari mengatakan mereka memiliki privasi masing-masing. Namun, mengetahui bahwa hanya ada mereka berdua di dalam rumah dua lantai ini, membuat udara di sekitar mereka terasa semakin menipis.
Imam melangkah ke halaman depan, duduk di kursi teras di bawah pohon mangga yang rindang. Ia membawa cangkir kopinya, mencoba mencari ketenangan di luar rumah.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu kasa depan terbuka. Habibah keluar membawa keranjang kecil berisi baju-baju yang baru dicuci untuk dijemur di sudut pekarangan. Langkahnya sempat terhenti melihat Imam berada di sana, namun ia tidak bisa mundur lagi.
Mereka berdua diam. Hanya ada suara gesekan gantungan baju besi pada tali jemuran.
Imam menatap punggung Habibah yang bergerak ritmis menjemur pakaian. Matahari siang mulai naik, membuat keringat tipis nampak di pelipis wanita itu. Tanpa sadar, Imam meletakkan cangkir kopinya, bangkit dari kursi, dan berjalan mendekat ke arah jemuran.
"Biar aku bantu, Bah," ujar Imam pelan, mengambil selembar kemeja milik Rayhan dari dalam keranjang sebelum Habibah sempat mencegahnya.
Habibah tertegun, menoleh menatap Imam yang kini berdiri sangat dekat di sampingnya. "Mas... jangan. Nanti kalau ada tetangga kontrakan yang lihat bagaimana?"
"Tetangga tidak akan peduli pada dua orang tua yang sedang menjemur baju, Bah," balas Imam dengan senyum getir yang dipaksakan. Ia menggantung kemeja itu, lalu beralih menatap Habibah dengan intens. "Nasi goreng tadi pagi... kamu sengaja membuatnya?"
Habibah menunduk, meremas ujung jemuran yang belum basah. "Aku... aku tidak sengaja, Mas. Tanganku bergerak sendiri mencampur bumbu-bumbu itu. Aku lupa kalau... kalau aku tidak boleh memasak dengan cara lama lagi."
"Jangan diubah," potong Imam cepat, suaranya merendah, sarat akan permohonan yang egois. "Jangan ubah apapun, Bah. Biarkan setidaknya rasa nasi goreng itu tetap sama, karena hanya itu satu-satunya hal dari masa lalu kita yang diizinkan tinggal di rumah ini."
Habibah mendongak, matanya berkaca-kaca di bawah terik matahari siang.
"Mas Imam nggak ke kantor hari ini?" tanya Habibah setengah berbisik, matanya melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Tangannya yang memegang jepitan baju sempat tertahan di udara.
Biasanya jam-jam begini Imam pasti sudah sibuk di balik meja kerja atau meninjau proyek di lapangan.
Imam menghembuskan napas pendek, lalu menggantungkan selembar handuk terakhir ke tali jemuran dengan gerakan perlahan. "Hari ini aku ambil cuti, Bah. Sengaja. Pikiran dan badanku rasanya terlalu lelah kalau harus dipaksa mengurus urusan kantor minggu-minggu ini."
Ia membalikkan tubuh, menyandarkan punggungnya pada tiang jemuran besi, lalu menatap Habibah yang masih berdiri canggung di samping keranjang baju yang sudah kosong.
"Lagipula... bagaimana aku bisa konsentrasi kerja di kantor," lanjut Imam, suaranya merendah hingga nyaris tenggelam oleh deru angin siang, "kalau aku tahu di rumah ini kamu sendirian? Pikiran gila ini pasti akan terus membawaku pulang ke kontrakan ini, Bah."
Habibah langsung memalingkan wajahnya ke arah pohon mangga, mencoba menghindari sorot mata Imam yang terlalu jujur memancarkan kerinduan. Dadanya bergemuruh hebat mendengar pengakuan itu. Ada rasa manis yang menyelinap di hatinya, namun buru-buru ia tepis dengan rasa takut yang jauh lebih besar.
"Mas, tolong... jangan mulai lagi," lirih Habibah, buru-buru mengangkat keranjang plastik kosongnya, bersiap untuk kembali masuk ke dalam rumah demi menyelamatkan jantungnya yang sudah lemas sejak tadi subuh. "Jadwal dari anak-anak kan jelas, siang ini kita harus punya privasi masing-masing. Mas Imam di ruang baca, aku di dalam kamar."
Imam hanya bisa menatap punggung Habibah yang berjalan setengah terburu-buru masuk ke dalam rumah. Ia tersenyum getir, meratapi cangkir kopinya di atas meja teras yang kini sudah mendingin.
Imam tidak bohong soal badannya yang lelah. Tapi alasan utamanya tidak masuk kerja hari ini sebenarnya sangat sederhana: ia hanya ingin egois menikmati waktu beberapa jam saja di bawah atap yang sama dengan Habibah, tanpa perlu berbagi perhatian wanita itu dengan anak-anak mereka. Meski pada akhirnya, mereka hanya bisa saling melempar kalimat canggung di sela-sela tali jemuran.
****