NovelToon NovelToon
PARTNER SIALAN!

PARTNER SIALAN!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Enemy to Lovers / Komedi
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.

Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Sagitarius Beraksi, Aquarius Bergetar

Gua bener-bener nggak percaya sama apa yang baru aja gua iyain.

Jam menunjukkan pukul sebelas malam lewat sedikit. Udara di Desa Pinus ini rasanya kayak es batu yang ditempelin langsung ke kulit.

Kabut turun tebel banget, bikin jarak pandang motor bebek Dedik cuma sekitar tiga meter ke depan. Lampu depannya yang agak kuning itu berjuang keras nembus kegelapan jalanan setapak menuju hutan bambu belakang desa.

"Ded... lo yakin kita nggak bakal ketemu pocong atau babi hutan lagi?" bisik gua kaget, tangan gua meluk erat pinggang Dedik. Kali ini gua nggak pake gengsi, sumpah, dingin sama takutnya udah level maksimal.

"Logikanya, Rey... hantu itu nggak masuk dalam variabel penelitian gua," sahut Dedik tenang. Suaranya datar kayak biasanya, tapi gua ngerasa dia sengaja bawa motornya pelan biar gua nggak terlalu kegoncang.

"Dan soal babi hutan, mereka biasanya lebih takut sama suara mesin motor daripada sama teriakan lo yang cempreng itu."

"Dih! Masih sempet-sempetnya ngehina suara gua!"

Kita berenti di pinggir jalan setapak yang paling deket sama rumpun bambu kuning. Dedik matiin mesin motornya. Klik.

Seketika, sunyi senyap langsung nyergap kita. Cuma ada suara jangkrik yang sahut-sahutan sama suara daun bambu yang gesekan kena angin malem.

Srek... srek... srek... Kedengerannya kayak suara orang lagi bisik-bisik.

"Turun, Rey. Bawa senter ini," Dedik nyerahin senter kecil ke gua, sementara dia sendiri mulai ngebongkar tas gitarnya.

Gua turun dengan kaki gemeteran. Gua arahin senternya ke arah pohon-pohon bambu yang tinggi menjulang kayak raksasa item. "Ded, cepetan ya. Gua beneran ngerasa ada yang ngeliatin kita dari balik pohon itu."

"Itu namanya efek pareidolia, otak lo nyoba nyiptain pola wajah dari objek yang nggak beraturan karena lo ketakutan," kata Dedik sambil nyampirin tas gitarnya.

Dia narik tangan gua, lagi-lagi dia narik tangan gua buat masuk lebih dalem ke area hutan.

Kita nyampe di sebuah tanah lapang kecil yang dikelilingi bambu-bambu kuning paling gede. Dedik masang alat rekamnya di atas tripod kecil, terus dia duduk di akar pohon yang nonjol.

"Sini duduk, Rey. Jangan berdiri terus kayak manekin, ntar lo makin kedinginan."

Gua duduk di sampingnya, bener-bener nempel. Jaket denim dia masih gua pake, dan bau parfumnya sekarang kecampur sama bau embun malem. Anehnya, bau itu bikin gua ngerasa sedikit lebih tenang.

"Kenapa harus malem-malem begini sih, Ded? Emang suaranya beda?" tanya gua pelan, nyoba mecah kesunyian yang bikin merinding.

"Beda banget. Pas fajar atau tengah malem begini, kelembapan udara tinggi. Molekul air di udara bikin rambatan suara bambu jadi lebih padat. Resonansinya lebih dapet,"

Dedik mulai ngeluarin gitarnya. Dia nyetem senarnya sebentar. Ting... ting...  Suara petikan gitar itu kedengeran jernih banget di tengah hutan yang sepi.

"Rey," Dedik nengok ke gua. Mukanya cuma kelihatan separuh karena kena cahaya senter yang gua taruh di tanah.

"Gua butuh lo nyanyiin melodi yang tadi di hutan siang tadi. Tapi kali ini, gua mau lo bayangin nggak ada siapa-siapa di sini. Cuma ada lo, gua, dan suara angin."

"Ded, gua nggak bisa..."

"Bisa. Gua udah rekam frekuensi dasarnya. Sekarang gua butuh harmoni manusia buat ngelengkapi datanya. Kalau proyek ini gagal karena lo nggak mau nyanyi, lo mau liat gua gagal dapet gelar sarjana gara-gara lo?"

"Dih! Kok jadi gua yang disalahin?!" gua protes, tapi dalem hati gua tau dia lagi mancing ego Sagitarius gua.

"Makanya, nyanyi. Satu bait aja. Gua bakal iringin pakai kunci G major yang lembut."

Dedik mulai metik gitarnya. Melodinya beda sama yang tadi siang. Kali ini lebih melankolis, lebih dalem. Seolah-olah gitarnya lagi cerita soal perjuangan kita nyampe ke tempat ini, soal bensin abis, soal Arlan yang rese, dan soal dinginnya malem ini.

Gua narik napas dalem-dalem. Gua tutup mata gua. Gua bayangin gua lagi di kamar mandi kostan, sendirian, nggak ada Dedik, nggak ada hutan.

“I heard that you're settled down... That you found a girl and you're married now...” 

Suara gua pelan banget di awal. Tapi begitu petikan gitar Dedik masuk dan ngisi celah-celah napas gua, gua ngerasa ada kekuatan yang muncul.

Suara gua makin stabil, makin tinggi, dan menyatu sama desau angin di antara pohon bambu.

Pas gua nyampe di bagian chorus, gua ngerasa ada harmoni yang ajaib. Bambu-bambu di sekitar kita kayak ikut bergetar, ngeluarin suara nguuuung rendah yang selaras sama nada yang gua keluarin.

"Terusin, Rey. Jangan berhenti," bisik Dedik tanpa mutus petikan gitarnya.

Gua lanjutin nyanyi sampai akhir lagu. Pas nada terakhir gua ilang ditelen malem, Dedik langsung neken tombol stop di alat rekamnya.

Dia diem lama banget. Tangannya masih megang senar gitar, matanya natap gua intens.

"Tuh kan, lo diem... pasti suara gua fals ya?" tanya gua panik, ngerasa malu lagi.

Dedik geleng-geleng kepala. "Enggak. Justru sebaliknya. Datanya... sempurna. Resonansinya dapet frekuensi yang gua cari selama ini."

Dia narik napas panjang, terus nyimpen gitarnya balik ke tas. "Makasih, Rey. Lo baru aja nyelametin masa depan riset gua."

"Sama-sama, Ded. Lagian lo juga udah belain gua tadi pas di depan pengacara Arlan."

Suasana mendadak jadi canggung lagi. Kita duduk diem di tengah kegelapan, cuma ditemenin cahaya senter yang mulai redup.

"Ded..."

"Ya?"

"Lo beneran nggak ada niatan buat jadi musisi beneran? Skill gitar lo itu sayang kalau cuma buat neliti bambu."

Dedik senyum tipis. "Gua suka musik, tapi gua lebih suka ngerti gimana musik itu bekerja secara logis. Tapi setelah denger suara lo barusan... kayaknya ada beberapa hal yang emang nggak bisa dijelasin cuma pakai logika."

Gua baru mau bales, tapi tiba-tiba senter di tanah mati total. Pret. 

"Loh? Ded! Senternya mati!" gua langsung panik dan meluk lengan Dedik kenceng banget.

"Tenang, baterainya abis kayaknya. Tunggu bentar, gua ambil HP di saku."

Dedik ngerogoh sakunya, tapi pas dia ngeluarin HP-nya... layar HP-nya item. Dia nyoba pencet tombol power berkali-kali tapi nggak nyala.

"HP gua mati juga. Kayaknya gara-gara kena ujan pas nolongin Arlan tadi, korslet."

Gua mau nangis rasanya. Di tengah hutan bambu, tengah malem, gelap total, nggak ada senter, nggak ada HP. "Terus gimana kita baliknya, Ded?! Gua nggak bisa liat jalan!"

"Kita nggak bisa jalan ke motor dalam kondisi gelap total begini, Rey. Terlalu bahaya kalau kita nyemplung ke jurang."

"Terus?! Kita diem di sini sampe pagi?!"

Dedik diem sebentar. "Logikanya, iya. Kita harus nunggu fajar kalau mau selamat."

"DEDIK! GUA DINGIN BANGET!" gua bener-bener mau nangis sekarang. Badan gua udah gemeteran hebat.

Tiba-tiba, Dedik narik gua ke dalam pelukannya. Dia meluk gua erat banget, nyoba bagiin panas tubuhnya ke gua.

"Tahan, Rey. Pake jaket gua, terus deketin badan lo ke gua. Ini satu-satunya cara biar suhu tubuh kita tetep stabil."

Gua nggak protes. Gua nyembunyiin muka gua di dadanya. Gua bisa denger detak jantung Dedik yang ternyata... cepet banget. Jauh lebih cepet daripada suara detak jantung orang yang lagi tenang.

"Ded... jantung lo kok kenceng banget?" bisik gua di balik jaketnya.

"Itu... itu respon biologis terhadap suhu dingin, Rey. Aliran darah meningkat buat jaga metabolisme," jawab dia, tapi suaranya agak serak.

Gua senyum dikit. "Bohong lo. Lo deg-degan ya meluk gua?"

Dedik nggak jawab. Dia malah makin ngeratin pelukannya, terus dia nyandarin dagunya di atas kepala gua. "Diem, Rey. Tidur aja. Gua jagain."

Di tengah kegelapan hutan bambu itu, gua ngerasa ini adalah momen paling 'sialan' sekaligus paling indah yang pernah gua alami. Gua benci dia, tapi gua nggak mau dia ngelepasin pelukan ini.

Tapi baru aja gua mau merem, tiba-tiba kedengeran suara langkah kaki yang berat dari arah semak-semak. Bukan suara anjing, bukan suara Arlan.

Tapi suara langkah yang banyak... kayak sekelompok orang yang lagi ngepung kita.

"Ded... ada orang..." bisik gua panik.

Dedik langsung sigap berdiri, narik gua di belakang punggungnya. Dia ngambil satu batang bambu kering yang ada di tanah.

"Siapa di sana?!" teriak Dedik ke arah kegelapan.

Tiba-tiba, puluhan cahaya senter terang banget langsung nyorot ke arah mata kita, bikin kita buta sesaat.

"ITU MEREKA! TANGKAP!" teriak sebuah suara berat yang asing.

***

Siapa orang-orang yang ngepung mereka di tengah hutan bambu tengah malem begini? Apakah warga desa yang salah paham, atau ada hubungannya sama sabotase sponsor Arlan?

Dan gimana nasib Dedik dan Reyna yang terjebak di tengah hutan tanpa alat komunikasi?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!