NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pamit sang pemilik tubuh

Salju mulai mencair di sudut-sudut kompleks militer, meninggalkan genangan air yang memantulkan sinar matahari musim semi yang pertama. Udara masih dingin, tapi tak lagi menusuk tulang seperti sebulan lalu. Tanda-tanda kehidupan mulai muncul: tunas-tunas hijau kecil di ranting-ranting pohon, kicauan burung yang lebih ramai di pagi hari, dan warga yang mulai berani beraktivitas di luar rumah tanpa mantel tebal.

Di rumah keluarga Su, suasana juga berubah. Su Weiguo dan Su Jianguo telah kembali ke asrama mereka masing-masing seminggu setelah Imlek. Su Weimin kembali sibuk dengan sekolah dan teman-temannya. Dan Jinyu... Jinyu kembali pada rutinitasnya: bangun pagi, sarapan, lalu entah menghilang ke gunung atau duduk diam di kamar membaca buku-buku pemberian Ibu Liu.

Hari itu, Ibu Liu mendapat kabar bahwa Bibi Xiu Wei—istri Paman Su Zhiming—akan berkunjung. Ada urusan keluarga di kota, dan ia mampir sambil membawa beberapa oleh-oleh khas Beijing.

"Jinyu, tolong bantu Ibu di dapur," panggil Ibu Liu dari ruang tengah. "Bibi Xiu Wei sebentar lagi datang. Kita siapkan kue musim semi."

Jinyu yang sedang berbaring membaca buku di kamarnya menghela napas, lalu beranjak. Di dapur, Ibu Liu sudah menyiapkan adonan tepung, kacang hijau tumbuk, dan gula merah, bahan-bahan untuk membuat chun juan, kue gulung musim semi tradisional.

"Ayo, Ibu ajari," kata Ibu Liu sambil menaburi tepung di atas talenan. "Ini tradisi keluarga kita setiap menjelang musim semi. Nenek Jiang dulu yang mengajari Ibu, sekarang Ibu ajari kamu."

Jinyu mencuci tangan mungilnya, lalu berdiri di kursi kecil agar bisa mencapai meja dapur. Ia memperhatikan gerakan Ibu Liu yang lincah membentuk adonan, lalu mencoba meniru.

Tangannya yang terampil bekas ratu iblis yang biasa memegang pedang ternyata cukup cekatan membentuk adonan. Dalam beberapa menit, ia sudah bisa membuat gulungan yang rapi.

Ibu Liu tertegun. "Kamu cepat belajar sekali, Jinyu."

Jinyu tersenyum tipis. "Kebetulan saja, Bu."

Satu jam kemudian, Bibi Xiu Wei tiba. Wanita paruh baya dengan senyum hangat dan menatap Jinyu dengan penuh makna juga dia membawakan oleh-oleh: manisan khas Beijing, beberapa meter kain sutra, dan sebuah buku bekas untuk Jinyu.

"Ini untukmu, Nak," kata Xiu Wei sambil menyerahkan buku itu. "Paman Zhiming bilang kamu suka membaca. Ini buku cerita rakyat, lumayan untuk hiburan."

Jinyu menerima dengan sopan. "Terima kasih, Bibi."

Mereka bertiga lalu duduk di ruang tamu, ditemani teh hangat dan kue musim semi buatan Jinyu. Xiu Wei memuji rasa kue itu, membuat Ibu Liu tersenyum bangga.

Saat Ibu Liu ke dapur mengambil teh tambahan, Xiu Wei menatap Jinyu dengan pandangan berbeda. Matanya yang tajam sebagai istri peneliti, ia terbiasa mengamati detail menelisik gadis kecil di hadapannya.

"Jinyu," panggilnya pelan. "Bibi ingin tanya sesuatu."

Jinyu menatapnya tenang. "Iya, Bibi?"

"Cara kamu memegang pisau tadi... waktu bantu Ibu Liu motong adonan. Kamu pegangnya seperti orang yang sudah terbiasa. Bukan seperti anak kecil baru belajar."

Jinyu diam sejenak. Dalam hati, ia menyadari kesalahan kecilnya. Tapi wajahnya tetap datar.

"Aku sering lihat Ibu masak, Bibi. Jadi meniru saja."

Xiu Wei tersenyum, tapi matanya masih menyelidik. "Begitu ya... pintar sekali."

Tak lama Ibu Liu kembali, dan percakapan beralih ke topik lain. Tapi Jinyu tahu, Bibi Xiu Wei tidak sepenuhnya percaya. Wanita itu terlalu cerdas.

Sore harinya, Xiu Wei pamit pulang. Sebelum pergi, ia memeluk Jinyu dan berbisik, "Jaga rahasiamu baik-baik, Nak. Dunia ini tidak selalu ramah pada yang berbeda."

Jinyu menatapnya terkejut. Tapi Xiu Wei sudah berbalik, melambai pada Ibu Liu, lalu masuk ke mobil jip yang menjemputnya.

Sepanjang malam, Jinyu merenungkan kata-kata itu. Apakah Xiu Wei tahu sesuatu? Atau hanya menebak?

Malam semakin larut. Jinyu berbaring di ranjang sutranya, menatap langit-langit yang kini tak lagi lapuk. Yoyo melingkar di sampingnya, sesekali mendesis pelan.

"Jinyu Shshsss~, kamu kenapa? Dari tadi diam saja."

"Aku kepikiran, Yoyo. Bibi Xiu Wei... dia curiga., atau seharusnya ku bunuh saja dia" nadanya kembali dingin dan aura membunuh nya semakin kuat.

Shshsss~ "Manusia cerdas memang berbahaya. Tapi selama tidak ada bukti, dia hanya bisa curiga. Lebih baik jangan bertindak gegabah, sepertinya dia hanya curiga kamu yang bersikap dewasa"

Jinyu yang mendengar itu hanya menghela nafas dan menghilangkan aura membunuhnya. "Kamu benar, aku seharusnya tidak bertindak gegabah untuk saat ini"

Jinyu memejamkan mata. Perlahan, rasa kantuk datang. Tapi tidurnya malam itu tidak nyenyak.

Jinyu... Jinyu...

Sebuah suara, samar dan jauh.

Tolong... dingin...

Jinyu membuka mata. Ia berdiri di tengah kegelapan. Bukan di kamarnya. Bukan di kompleks militer. Di sekelilingnya, hanya kabut tebal dan hawa dingin yang menusuk.

Jinyu...

Di kejauhan, samar-samar, ia melihat sesosok kecil. Seorang gadis, usia sekitar 4 tahun, dengan gaun biru lusuh. Rambutnya hitam, tidak cokelat seperti Jinyu. Ia duduk meringkuk di sudut gang, sama persis seperti saat Jinyu pertama kali sadar di dunia ini.

Kamu... siapa? Jinyu mencoba bertanya, tapi suaranya tak keluar.

Gadis itu menoleh. Wajahnya buram, tak jelas. Tapi matanya, mata itu menyiratkan kesedihan mendalam.

Tolong jaga tubuhku... baik-baik...

Jangan biarkan mereka... menyakitimu lagi...

Dan... terima kasih... sudah menemukan keluarga yang baik...kita sama-sama bahagia Jinyu

Gadis itu tersenyum—senyum perpisahan—lalu perlahan menghilang dalam kabut.

Jinyu tertegun. Ia ingin berlari, ingin bertanya lebih banyak. Tapi kabut semakin tebal, dingin semakin menusuk, dan—

"Jinyu! Jinyu, bangun!"

Jinyu tersentak. Matanya terbuka lebar. Ibu Liu duduk di sampingnya, wajah penuh cemas. Di luar, matahari sudah tinggi.

"Kamu teriak-teriak dalam tidur, Nak. Mimpi buruk, ya?"

Jinyu terdiam. Dadanya berdegup kencang. Ia meraba tubuhnya—masih utuh, masih hangat, masih di kamar ini.

"Ibu... aku mimpi apa?"

"Kamu teriak 'jangan pergi', gitu. Mimpi apa, sih?"

Jinyu menggeleng pelan. "Tidak... tidak apa-apa, Bu. Hanya mimpi biasa."

Ibu Liu mengusap kepalanya lembut. "Kalau mimpi buruk, ingat Ibu dan Baba selalu di sini, ya. Kamu tidak sendiri."

Jinyu mengangguk, meski pikirannya masih kacau.

Setelah Ibu Liu keluar, Jinyu duduk di ranjang merenung. Yoyo muncul dari balik bantal.

"Jinyu Shshsss~, aku rasakan energi aneh semalam. Kamu bertemu dengan... pemilik tubuh ini kan?"

Jinyu mengangguk pelan. "Sepertinya begitu. Dia... pamit."

Shshsss~ "Berarti jiwanya sudah tenang. Selama ini mungkin dia masih tersisa, menunggu waktu tepat untuk pergi."

"Tapi kenapa baru sekarang?"

Shshsss~ "Mungkin karena dia lihat kamu sudah punya keluarga yang sayang. Mungkin dia merasa aman sekarang, jadi bisa pergi dengan damai."

Jinyu terdiam. Ia ingat senyum gadis kecil itu. Senyum perpisahan yang tulus.

"Terima kasih," bisiknya pelan, entah pada siapa. Mungkin pada pemilik tubuh asli. Mungkin pada takdir. Mungkin pada dirinya sendiri.

Hari-hari berikutnya, Jinyu merasa berbeda. Tubuhnya terasa lebih ringan, lebih "miliknya". Mungkin karena jiwa asli sudah benar-benar pergi. Mungkin karena ia akhirnya benar-benar diterima di dunia ini.

Ia kembali ke rutinitasnya. Pagi-pagi membantu Ibu Liu di dapur, siang membaca buku, sore kadang main dengan Weimin atau pergi ke gunung bertemu burung-burung pipitnya. Kabar tentang kejeniusannya sudah mereda digantikan gosip lain yang lebih segar.

Tapi ia tak pernah lupa pada mimpi itu. Pada gadis kecil yang tersenyum pamit.

Suatu sore, saat duduk di bawah pohon waru di gunung, Jinyu mengeluarkan sepotong kue musim semi dari sakunya. Ia letakkan di atas batu nisan, sebagai persembahan.

"Ini untukmu," bisiknya. "Terima kasih sudah meminjamkan tubuhmu. Aku akan menjaganya sebaik mungkin."

Angin berdesir lembut, seolah menjawab. Jinyu tersenyum.

"Aku akan pergi, semoga kamu mendapatkan keluarga yang indah di kehidupan selanjutnya, Tian Jinyu" bisik nya dengan lembut sebelum berbalik pergi.

Mungkin, pikirnya, mungkin ini awal yang benar-benar baru.

Bukan hanya sebagai Su Jinyu, anak angkat Komandan Su.

Tapi sebagai dirinya yang utuh, yang membawa kenangan dua dunia, dan siap menjalani hidup di dunia baru ini.

Sehangat musim semi yang baru tiba.

1
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Dewiendahsetiowati: Karena biasanya ikut Jinyu kemana2 apalagi Yoyo selalu ada disekitar Jinyu
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
Ellasama
terus up y Thor jangan putus ditengah jalan /Determined/
Marsya
kk udah kirim kopi biar smangat nulis novelnya y!.😉😉😉😉😉
Marsya
ceritanya keren,👍👍👍👍👍👍👍
Ellasama
suka banget, akhirnya yg satu ini si fl punya ruang angkasa/ dimensi, semangat /Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!