ajil seorang suami yang ditinggal istrinya meninggal dunia setelah kelahiran anak keduanya.
sampai pada suatu ketika dia berjalan dijalan raya tanpa melihat kanan kiri menyebrang jalan, lalu ia tertabrak kendaraan.
tapi seketika ia berada ditempat dimana keadaan yang jauh dari planet bumi dan bertemu seorang Dewi yang akan memberikan kehidupan dan petualangan baru disdimensi lain diplanet yang bernama ridokan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Reruntuhan Keangkuhan dan Mata Pedang Cahaya Suci
Matahari tunggal Ridokan akhirnya tenggelam sepenuhnya di balik cakrawala Benua Barat, menyisakan semburat jingga kemerahan yang menyerupai tumpahan darah di atas kanvas langit malam. Di dalam tembok Kerajaan Valeria, lentera-lentera jalan yang ditenagai oleh Kristal Sihir Tingkat Rendah mulai menyala, memendarkan cahaya kekuningan yang hangat dan mengusir bayang-bayang di gang-gang sempit.
Ajil melangkah melewati gerbang kota tanpa hambatan. Para penjaga gerbang malam yang mendengar rumor tentang 'Dewa Kematian Berjaket Hitam' dari Garret dan Kael sore tadi, secara refleks menundukkan kepala dan membuang muka saat Ajil lewat. Langkah sepatu bot Ajil yang senyap membawanya kembali membelah lautan manusia menuju gedung Guild Petualang.
Saat ia mendorong pintu kayu ek ganda raksasa itu, aroma malam Guild Valeria langsung menyergap indranya. Suasananya jauh lebih liar dibandingkan siang hari. Di meja-meja bundar, para petualang sedang berpesta merayakan keselamatan mereka. Para pelayan hilir mudik membawa nampan kayu berisi Iga Wyvern Panggang Saus Beri Merah yang dagingnya tebal dan berair, serta tong-tong kecil berisi Bir Hitam Dwarf yang busanya tumpah ruah. Asap dari cerutu daun tembakau peri mengepul tebal di langit-langit.
Namun, saat sosok berjubah hitam legam itu melangkah masuk, keributan di sepertiga ruangan bagian depan mendadak mereda. Para petualang Kelas C dan D yang menyaksikan bagaimana pria ini membuat Rino dan Richard berlutut beberapa jam lalu, tanpa sadar menahan napas mereka. Mereka menyingkir, memberikan jalan selebar dua meter layaknya membelah lautan.
Ajil berjalan tanpa menoleh ke kiri maupun ke kanan. Pandangannya lurus mengunci meja resepsionis yang kini telah diganti dengan meja kayu mahoni baru akibat insiden ledakan kristal siang tadi.
Di balik meja itu, Karin sedang menunduk, sibuk merekap gulungan perkamen dengan pena bulu angsanya. Ia tampak kelelahan, kacamata berbingkai tipisnya sedikit melorot ke ujung hidung.
Ajil berhenti tepat di depan meja. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengangkat tangan kanannya, menyambungkan pikirannya dengan Cincin Ruang Tak Terbatas.
BRUKK! KLINTING... KLINTING...
Sebuah karung kain kasar berukuran besar material monster jatuh dengan suara berat di atas meja kayu mahoni, membuat botol tinta Karin terguling. Tali pengikat karung itu terlepas, menumpahkan isinya. Empat puluh dua buah Inti Besi Orc—bongkahan logam magis sebesar kepalan tangan bayi yang memancarkan pendaran hijau busuk—menggelinding memenuhi meja. Dan sebagai penutup, sebuah kepala raksasa dengan kulit hijau kelam, bertaring patah, dan memiliki pelat baja yang tertanam di tengkoraknya, menggelinding keluar dan berhenti tepat di depan wajah Karin. Itu adalah kepala Pemimpin Kawanan Orc Besi Level 45. Bau belerang dan darah kental langsung menyengat udara di sekitar meja resepsionis.
Karin mendongak perlahan. Matanya membulat sempurna di balik lensa kacamatanya. Wajahnya yang sebelumnya kelelahan kini berubah seputih kertas perkamen. Bibirnya bergetar hebat.
"T-T-Tuan... Ajil..." Karin terbata-bata, suaranya nyaris seperti cicitan tikus. Jari-jarinya yang lentik menunjuk ke arah tumpukan Inti Besi Orc yang masih berlumuran darah segar itu. "I-Ini... ini..."
"Bukti penyelesaian misi. Ngarai Putus Asa," ucap Ajil datar, memotong kepanikan resepsionis itu. Suaranya sedingin angin gletser. "Selesaikan administrasinya. Aku butuh uangnya, dan aku butuh informasi."
Karin menelan ludah paksa. Ia adalah resepsionis senior, ia tahu persis apa yang ada di depannya. "T-Tapi Tuan Ajil... Misi ini baru diambil tiga jam yang lalu! Jarak ke Ngarai Putus Asa saja membutuhkan waktu satu jam berkuda cepat! B-Bagaimana Anda bisa membasmi seluruh kawanan—empat puluh dua ekor Orc Besi Kelas B—dalam waktu sesingkat itu?! D-Dan Anda sendirian! Tidak ada bekas luka sedikit pun di pakaian Anda!"
Keributan di lantai satu seketika meledak menjadi bisik-bisik yang riuh.
"Dia membasmi Kawanan Orc Besi? Sendirian?"
"Mustahil! Kelompokku yang berisi enam orang Kelas C saja hampir mati di sana bulan lalu!"
"Lihat kepala Orc Pemimpin itu! Kepalanya hancur dari dalam, seolah ada ledakan petir yang menembus tengkoraknya!"
Di tengah keributan itu, suara tepuk tangan yang lambat namun berat terdengar dari arah tangga utama lantai dua. Tepukan itu bergema, dilapisi oleh fluktuasi mana tingkat tinggi yang memaksa seluruh petualang di lantai satu kembali tutup mulut.
[SISTEM: Peringatan. Entitas Kelas Atas terdeteksi.]
Ajil memutar tubuhnya perlahan. Matanya menyipit, menatap ke arah tangga kayu jati yang lebar.
Berjalan menuruni tangga adalah seorang pria paruh baya dengan postur tubuh yang sangat tegap, memancarkan aura wibawa seorang raja dan ketegasan seorang jenderal perang. Pria itu memiliki rambut pirang keemasan yang disisir rapi ke belakang, dengan cambang tipis yang mulai memutih di rahangnya yang tegas.
Ia mengenakan zirah lempeng (Plate Armor) berwarna putih mutiara yang dihiasi ukiran sayap malaikat dari emas murni. Zirah itu tidak terlihat berat, melainkan memancarkan pendaran cahaya suci yang menenangkan. Di pinggang kirinya, tergantung sebuah pedang panjang bersarung putih dengan gagang berbentuk salib emas.
Di sebelah kiri pria itu, berjalan menyertai dengan wajah tegang adalah Reyna, sang Master Guild dari kota tetangga, si Gadis Panah Kilat Kuning yang siang tadi sempat menodongkan senjatanya pada Ajil.
[Nama: Leon]
[Ras: Manusia (Diberkati)]
[Level: 250]
[Kelas: SS (Master Guild Valeria / Ksatria Pedang Cahaya Suci)]
Leon berhenti di anak tangga terakhir. Matanya yang berwarna biru langit menatap tumpukan bukti di atas meja resepsionis, lalu perlahan beralih menatap Ajil dari ujung rambut hingga ujung sepatu botnya.
"Tiga jam," suara Leon bergema berat dan berwibawa di seluruh aula. "Reyna melapor padaku sore tadi bahwa ada seorang anomali yang menghancurkan Kristal Penilai Roh Tertinggi hanya dengan sentuhan pasif. Aku mengira dia hanya melebih-lebihkan karena amarahnya. Tapi melihat tumpukan Inti Besi Orc ini... sepertinya Valeria baru saja kedatangan seekor naga yang menyamar menjadi manusia."
Leon melangkah mendekati Ajil. Meskipun level Leon adalah 250—sangat jauh di atas Ajil yang saat ini baru menginjak Level 35—Aura Ksatria Suci Leon sama sekali tidak mampu menembus apalagi mengintimidasi kekosongan mutlak di mata Ajil.
Leon berhenti berjarak dua meter dari Ajil. "Namaku Leon. Master Guild dari cabang Valeria. Aku menyambutmu di kotaku, Ajil. Meskipun cara pendaftaranmu... cukup meledak-ledak."
Ajil menatap Leon dengan pandangan kosong yang sama seperti saat ia menatap Garret si penjaga gerbang, atau Orc Besi di ngarai. Tidak ada rasa hormat kepada otoritas, tidak ada ketakutan pada kekuatan level 250.
"Aku tidak butuh sambutan. Aku hanya butuh misiku dicairkan," jawab Ajil singkat.
Reyna yang berdiri di belakang Leon menggeram pelan. "Jaga nada bicaramu di depan Master Leon, Gelandangan! Beliau adalah pahlawan yang pernah membelah lautan monster dalam Perang Bulan Merah sepuluh tahun lalu!"
Leon mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan Reyna untuk tenang. Sang Master Guild itu cukup bijak untuk menyadari bahwa pria berjaket hitam di depannya ini memiliki mentalitas yang tidak terikat oleh aturan duniawi. Ada dinding es yang sangat tebal di sekeliling jiwa pria itu.
"Tenanglah, Reyna. Kekuatan membuktikan segalanya di Guild ini," ucap Leon tenang. Ia kemudian menoleh pada Karin yang masih gemetar memegang pena bulunya. "Karin, proses hadiah misinya sekarang. Berikan dia lima puluh keping perak ditambah bonus sepuluh keping emas atas efisiensi waktu penyelesaian."
"B-Baik, Master Leon!" Karin dengan sigap memasukkan bukti-bukti itu ke dalam peti penyimpanan sihir dan mengetukkan jari-jarinya ke sebuah tablet kristal untuk mentransfer saldo ke cincin Guild Ajil.
[SISTEM: Transaksi Berhasil. Saldo Guild ditambahkan. Total: 12 Keping Emas, 67 Keping Perak.]
Leon menatap Ajil kembali. "Aku telah mendengar laporan tentang ledakan kristal itu. Sistem Guild memasukkanmu ke Kelas F karena malfungsi hardware. Namun, menaklukkan empat puluh dua Orc Besi Kelas B sendirian tanpa luka dalam waktu tiga jam adalah sebuah rekor yang tak terbantahkan. Sebagai Master Guild Valeria, aku memiliki otoritas penuh untuk melakukan Override pada sistem kelas."
Leon menyentuh Cincin Guild emas di jarinya sendiri, lalu mengarahkannya ke arah cincin perak Ajil. Seberkas cahaya putih melesat dari cincin Leon dan masuk ke cincin Ajil.
[SISTEM: Otoritas Master Guild Diterima. Peringkat Kelas Guild Diperbarui.]
[Kelas Guild saat ini: C (Petualang Menengah Elite)]
"Aku menaikkanmu tiga kelas sekaligus, dari F melewati E dan D, langsung ke Kelas C," ucap Leon tegas. "Itu adalah batas maksimal yang bisa kuberikan tanpa persetujuan dari Dewan Guild Pusat di ibu kota benua. Dengan Kelas C, kau bisa mengambil misi tingkat tinggi secara legal, mengakses perpustakaan rahasia Guild, dan mendapatkan potongan harga di seluruh fasilitas benua barat."
Para petualang di lantai satu saling berpandangan tak percaya. Naik tiga kelas dalam satu hari di hari pertama pendaftaran adalah sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah Guild Valeria.
"Bagus. Itu akan mempermudah urusanku," Ajil merespons dengan nada monoton, sama sekali tidak terlihat senang atau berterima kasih. Ia memutar tubuhnya, bersiap pergi mencari penginapan. Tubuhnya mungkin tidak lelah karena Mana tak terbatas, tapi pikirannya butuh keheningan untuk mencerna informasi tentang Prasasti Dimensi yang sempat ia baca sekilas di benaknya siang tadi.
Melihat respons Ajil yang begitu dingin, Leon tak kuasa menahan rasa penasarannya. Ia telah melihat ribuan petualang; yang mencari uang, kejayaan, wanita, hingga yang haus darah. Tapi Ajil tidak memiliki satupun dari ambisi itu di matanya.
"Tunggu, Ajil," panggil Leon. Langkah pria berjaket hitam itu terhenti, namun ia tidak menoleh.
"Kau memiliki kekuatan yang sangat mengerikan, namun matamu seolah menatap dunia ini seperti sebuah kuburan. Apa sebenarnya yang kau cari? Kehormatan? Kekuatan mutlak? Atau kau lari dari masa lalumu?" tanya Leon, suaranya mengandung empati seorang veteran perang.
Di lantai tiga, Erina yang tengah duduk santai menyandarkan punggungnya di pagar balkon, menajamkan pendengarannya. Matanya yang indah menatap intens ke arah punggung Ajil. "Katakan padaku, Algojo. Apa yang membuat naga sepertimu merangkak di dunia fana ini?"
Ajil terdiam selama beberapa detik. Lampu lentera guild memantulkan bayangan panjang dari tubuhnya ke lantai pualam. Kepalan tangannya di dalam saku jaketnya mengeras hingga buku-buku jarinya memutih.
Dengan wajah yang masih membelakangi Leon dan seluruh isi aula, Ajil menjawab. Suaranya tidak keras, namun mengalir dengan kejelasan yang mengiris hati, bergema di setiap sudut Guild Valeria.
"Kehormatan dan peringkat di mata manusia hanyalah sehelai kertas yang mudah terbakar. Apa gunanya gelar pahlawan, harta, atau kekuatan mutlak, jika kau tidak memiliki rumah untuk pulang, dan tidak ada lagi tangan mungil yang menyambutmu di depan pintu?" Ajil memiringkan wajahnya sedikit, menatap Leon dari sudut matanya dengan kilatan yang teramat dingin dan hancur.
"Aku tidak mencari kejayaan di duniamu, Master Guild. Aku hanya sedang membakar jalan di tengah kegelapan, demi kembali ke dunia satu-satunya yang berarti bagiku."
Hening. Sunyi senyap.
Kata-kata itu menghantam dada Leon seperti palu godam. Sang Ksatria Pedang Cahaya Suci itu tertegun, kehilangan kata-kata. Reyna yang sebelumnya meremehkan Ajil, kini menundukkan kepalanya dengan raut wajah rumit, merasakan beban keputusasaan yang baru saja diutarakan pria itu.
Di balkon lantai tiga, Erina menahan napasnya. Tangan putih pualamnya tanpa sadar meremas ujung jubah hijaunya dengan kuat. Mata zamrudnya yang biasanya sinis dan penuh perhitungan, kini sedikit berkaca-kaca. Jantungnya berdetak liar, bukan lagi karena ketertarikan pada kekuatan Ajil, melainkan karena sebuah resonansi empati yang aneh.
"Rumah untuk pulang... Tangan mungil yang menyambut..." Erina membatin, menggigit bibir bawahnya. "Dia adalah seorang ayah yang kehilangan segalanya. Di balik kekuatan monster itu, dia hanyalah seorang pria yang menangis dalam keheningan yang absolut."
Tanpa menunggu balasan dari siapa pun, Ajil kembali melangkah menembus lautan petualang yang membisu, mendorong pintu ganda Guild, dan menghilang ke dalam pelukan malam Valeria.
Malam itu, legenda sang Algojo Dimensi bukan hanya dikenal karena kekuatannya yang tak masuk akal, tapi juga karena duka yang ia sandang sebagai senjatanya yang paling mematikan.