Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.
Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
...«----------------🍀{DIMAS}🍀----------------»...
Pagi ini Jakarta terasa lebih gerah dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaan ku yang mulai terbebani oleh daftar belanjaan "logistik kehamilan siluman" yang ditulis Linda di atas secarik kertas wangi melati. Aku melangkah menyusuri trotoar Jalan Surabaya, sebuah kawasan pasar barang antik yang biasanya hanya aku kunjungi jika sedang mencari dekorasi retro untuk kantor. Namun hari ini, misi ku jauh lebih krusial.
“Susu ibu hamil? Sudah. Bantal penyangga tulang belakang? Sudah. Daging wagyu mentah kualitas premium? Sudah di dalam tas pendingin,” Keluh ku sembari mengecek catatan di ponsel. “Tapi ada satu hal yang tidak bisa aku beli di supermarket manapun: kepastian. Aku butuh tahu apa yang akan terjadi ketika benih manusia seperti ku bercampur dengan darah ratu rubah sembilan. Apakah Elkan akan lahir dengan popok atau dengan bola api?”
Linda semakin agresif belakangan ini. Bukan hanya soal nesting atau menumpuk bantal, tapi energinya mulai tidak stabil. Tadi malam, saat dia bermimpi buruk, lampu di kamar kami pecah begitu saja tanpa ada yang menyentuh. Itulah yang membawa ku ke sini, ke deretan toko buku tua yang pengap, berharap ada secercah literatur kuno yang tersisa tentang persilangan ras.
"Cari apa, Mas? Keris? Patung perunggu? Atau gramofon tua?" seorang pedagang tua dengan kacamata tebal yang melorot menyapa ku dari balik tumpukan buku yang nyaris roboh.
"Saya cari buku tentang... legenda kuno. Lebih spesifiknya, tentang perawatan atau fisiologi makhluk... non-manusia," kata ku setengah berbisik, merasa konyol karena harus menanyakan hal semacam ini di tengah kota metropolitan tahun 2026.
Si kakek menatap ku lama, seolah sedang memindai jiwa ku. "Oh, cari 'Buku Merawat Akar', ya? Jarang ada anak muda yang cari itu. Biasanya mereka cuma cari komik atau buku motivasi bisnis."
Dia merangkak ke sudut toko yang paling gelap, menggeser tumpukan ensiklopedia berdebu, dan mengeluarkan sebuah buku kecil bersampul kulit binatang yang sudah menghitam. Tidak ada judul di sampulnya, hanya ada simbol melingkar yang mengingatkan ku pada pola ekor Linda saat dia sedang bermeditasi.
"Ini bukan buku motivasi, Mas. Ini buku peringatan," kata si kakek dengan nada yang mendadak serius.
Aku membayar buku itu dengan harga yang tidak masuk akal, setara dengan gaji lembur ku seminggu, dan segera bergegas menuju sebuah kafe kecil di pojok jalan untuk membacanya. Begitu aku membuka halaman pertamanya, bau kemenyan dan kertas lapuk langsung menyeruak.
“Bab 4: Masa Pertumbuhan di Dalam Rahim Semu,” aku membacanya perlahan. “Janin campuran (Han’yo) tidak tumbuh dengan nutrisi fisik semata, melainkan mengonsumsi mana dari ibunya dan stabilitas emosional dari ayahnya. Sang ayah harus waspada, karena pada bulan ketiga, sang janin akan mulai menguji kekuatannya.”
"Menguji kekuatan?" gumam ku. "Maksudnya apa?"
Aku terus membalik halaman hingga menemukan sebuah ilustrasi yang membuat kopi ku hampir tumpah. Ada gambar seorang pria manusia yang perutnya tampak memar kebiruan, dan di sampingnya ada teks kuno yang sudah diterjemahkan secara kasar dengan coretan tangan di pinggir kertas:
"Tendangan janin siluman tidak hanya menggerakkan otot, tapi melepaskan gelombang kinetik spiritual. Waspadalah jika sang ayah merasakan hangat di telapak tangannya saat menyentuh perut sang ibu, karena itu adalah tanda bahwa sang janin sedang melakukan 'Sihir Tendangan Pertama' (Kekkai Kick)."
“Sihir tendangan?” Keluh ku panik. “Linda bilang tendangan Elkan kemarin hanya membuat lampu berkedip. Tapi buku ini bilang tendangan itu bisa memecahkan tulang rusuk jika sang ayah tidak memiliki perlindungan energi. Gila. Aku membesarkan seorang jagoan kecil yang bisa menghancurkan apartemen sebelum dia sempat melihat dunia.”
"Mas, kopinya sudah dingin. Mau dipanaskan?" tanya seorang pelayan kafe, mengejutkan ku.
"Eh, tidak, terima kasih. Saya... saya sedang sibuk belajar cara bertahan hidup," jawab ku asal, membuat pelayan itu menatap ku dengan tatapan 'kasihan, orang ini pasti korban PHK yang stres'.
Aku menutup buku itu dan segera kembali ke apartemen. Pikiran ku berkecamuk. Aku harus memberitahu Linda, tapi di sisi lain, aku tidak ingin membuatnya semakin cemas. Dia sudah cukup menderita dengan mual dan hormonnya yang naik-turun.
Begitu sampai di apartemen, bau harum masakan Linda menyambut ku. Namun, ada yang aneh. Kursi ruang tamu kami bergeser sekitar dua meter dari posisi aslinya. Dan ada retakan halus di meja kayu jati yang baru saja aku beli bulan lalu.
"Linda? Kau di mana?" teriak ku sambil meletakkan belanjaan.
"Di sini, Dimas... di sarang bantal kita," suara Linda terdengar sedikit lemas.
Aku menemukannya di tengah tumpukan selimut. Dia tampak cantik meskipun wajahnya terlihat sedikit pucat. Dia sedang mengelus perutnya dengan ekspresi yang campur aduk antara bahagia dan bingung.
"Dimas, Elkan sedang sangat aktif hari ini," katanya sambil menarik tangan ku. "Sini, coba rasakan. Dia sepertinya merespons kedatangan mu."
Aku ragu sejenak, teringat ilustrasi pria yang memar di buku kuno tadi. Namun, melihat mata hijau Linda yang penuh harap, aku tidak bisa menolak. Aku berlutut di sampingnya dan perlahan menempelkan telapak tangan ku ke perutnya yang mulai menonjol secara nyata.
Awalnya tenang. Hangat. Namun tiba-tiba...
DUM!
Bukan suara tendangan biasa. Rasanya seperti ada sebuah meriam kecil yang meledak tepat di telapak tangan ku. Sebuah gelombang panas merambat dari tangan ku, naik ke bahu, hingga membuat rambut di tengkuk ku berdiri. Aku terlempar ke belakang, punggung ku menghantam rak buku yang untungnya sudah aku pasang pengait keamanan di dinding.
"Dimas! Kau tidak apa-apa?!" Linda berteriak panik, mencoba bangun dari tumpukan bantalnya.
Aku terengah-engah, menatap tangan ku yang masih terasa kesemutan. "Apa... apa itu tadi?"
"Aku sudah bilang, dia sangat aktif!" Linda tampak sangat bersalah. "Maafkan aku, aku lupa memberitahu mu kalau sejak pagi tadi, setiap kali dia menendang, ada energi yang keluar. Aku mencoba menahannya dengan sihir ku, tapi saat kau datang, dia sepertinya terlalu bersemangat."
Aku teringat isi buku kuno itu. “Tanda bahwa sang janin sedang melakukan Sihir Tendangan Pertama.” Elkan bukan sekadar menendang; dia sedang menyapa ayahnya dengan cara yang paling 'siluman'.
"Ini luar biasa," kata ku sambil tertawa getir, mencoba menyembunyikan rasa sakit di bahu ku. "Anak kita... dia baru berumur beberapa bulan tapi sudah bisa memukul ayahnya sampai terpental. Sepertinya dia tidak akan butuh kelas bela diri saat sekolah nanti."
Linda menarik ku kembali ke pelukannya. Dia mengusap tangan ku yang kesemutan dengan energi penyembuhnya yang dingin dan menyejukkan. "Genta benar, Dimas. Anak campuran memiliki kekuatan yang sulit dikendalikan. Aku takut... aku takut aku tidak cukup kuat untuk menjadi wadah baginya."
"Jangan bicara begitu," aku memegang wajahnya, menatapnya dengan penuh keyakinan yang aku paksakan. "Kita punya buku panduan sekarang. Aku menemukan sebuah teks kuno di pasar antik tadi. Buku itu bilang, aku sebagai ayahnya harus memberikan stabilitas emosional. Jadi, kalau Elkan menendang, aku harus tetap tenang agar energinya tidak meledak."
"Buku kuno? Kau sampai mencarinya ke pasar antik?" Linda menatap ku dengan rasa haru yang mendalam. "Kau benar-benar serius melakukan ini, ya?"
"Tentu saja. Aku manajer logistik, ingat? Tugas utama ku adalah memastikan 'paket' sampai ke tujuan dengan selamat tanpa ada kerusakan," aku mencoba melucu untuk mencairkan suasana. "Mulai besok, aku akan memakai pelindung dada di balik baju ku kalau mau memeluk mu. Hanya untuk berjaga-jaga kalau Elkan ingin latihan karate lagi."
Linda tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat lega. "Dasar manusia konyol. Tapi Dimas... terima kasih. Aku merasa jauh lebih aman sekarang karena tahu kau tidak lari ketakutan melihat kekuatannya."
“Lari?” Keluh ku sambil memeluknya erat. “Bagaimana aku bisa lari dari keajaiban ini? Elkan mungkin punya kekuatan yang bisa menghancurkan gedung, tapi dia juga bagian dari ku. Dia memiliki DNA ku. Jika dia adalah badai, maka aku akan menjadi jangkar yang menahannya agar tidak tersesat.”
Malam itu, kami duduk di tengah "sarang" bantal, membaca buku kulit binatang itu bersama. Ada banyak hal konyol sekaligus menyeramkan di sana. Misalnya, fakta bahwa bayi siluman bisa mendengar bisikan dari jarak satu kilometer, atau fakta bahwa mereka bisa ngidam logam mulia, yang membuat ku langsung menyembunyikan jam tangan mahal ku.
"Lihat ini, Dimas," Linda menunjuk sebuah halaman. "Katanya, untuk menenangkan janin yang terlalu aktif, sang ayah harus membisikkan janji-janji setia ke perut sang ibu. Suara frekuensi rendah pria manusia sangat efektif untuk menidurkan saraf siluman yang bergejolak."
"Janji setia? Seperti gombalan?" tanya ku.
"Iya. Coba lakukan sekarang. Elkan mulai berputar-putar lagi di dalam sini."
Aku menghela napas, mendekatkan mulut ku ke perut Linda, dan berbisik dengan nada yang paling berat dan serius yang bisa aku buat. "Hai, Elkan. Ini Papa. Papa janji, Papa akan belikan kamu mainan paling keren, Papa akan jaga Mama selamanya, dan Papa tidak akan marah meskipun kamu menghancurkan semua perabotan kita. Sekarang, tidur ya? Biarkan Mama istirahat."
Ajaib. Perut Linda yang tadinya bergejolak dan tampak tegang, perlahan-lahan menjadi tenang. Linda mendesah lega, tubuhnya merileks di pelukan ku.
"Berhasil," bisiknya. "Kau punya bakat menjadi penjinak siluman, Dimas."
"Atau mungkin dia hanya bosan mendengar suara ku yang membosankan," balas ku sambil mengecup keningnya.
“Ini memang bukan main,” Keluh terakhir ku saat kami mulai terlelap. “Dari CCTV, ngidam lintas provinsi, hingga menghadapi tendangan sihir. Hidup ku sebagai manusia biasa sudah resmi berakhir, digantikan oleh petualangan yang tidak masuk akal ini. Tapi saat aku merasakan Elkan tenang di bawah tangan ku, dan Linda bernapas damai di samping ku, aku sadar bahwa buku panduan kuno itu salah satu hal: ini bukan 'buku peringatan', ini adalah buku tentang cara mencintai sesuatu yang luar biasa.”
Aku akan bekerja lebih keras besok. Aku butuh uang lebih untuk membeli pelindung dada yang lebih kuat, atau mungkin untuk mulai menabung guna membangun rumah di hutan yang tahan ledakan kinetik. Karena keluarga kecil ku ini pantas mendapatkan dunia, seberapa pun hancurnya perabotan yang harus aku korbankan.
semangat terus up nyaaa👍👍👍😍😍