Renata seorang istria dan ibu rumah tangga, dia mengabdikan hari-harinya untuk sang suami tercintanya Raditya dan anak semata wayang mereka Rindiani.
Dulunya Renata merupakan seorang direktur diperusahaan yang saat ini dipegang oleh suaminya tapi karena dia sudah memiliki anak jadi memilih untuk menyerahkan jabatan ke Raditya suaminya dan akan mengurus anaknya saja dirumah.
Tapi sepertinya keputusan dia salah, karena sang suami ternyata berselingkuh dibelakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atul Maronge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Bercerai
Kini mas Raditya dan Ratih digiring oleh warga keluar keluar dari dalam rumah, sempat terbesit rasa kasihan dari benakku tapi biarlah agar mereka merasakan hukum sosial dengan dikarak keliling komplek oleh warga sekitar.
"Ampun jangan karak kami, akan kami denda saja" Ucap Raditya dengan lantang.
"Enak saja bayar denda doang, kalian harus tetap di karak agar merasakan jera...!! Lagian udah punya anak dan istri kok zina, dirumah sendiri pula..!!" Jawab pak Rudi.
"Udah gak usah banyak cingcong langsung saja sereeeettt...!!" Teriak salah satu warga.
"Enggak mau, kalian bisa saya laporkan ke polisi karena berbuat seenaknya..!!" Umpat Ratih.
"Silahkan saja bu, lagian kami juga cuma mengarak keliling komplek agar kalian tahu akibat dari perbuatan zina yang kalian lakukan di lingkungan kami...!"
Mas Raditya kini berjalan dengan menggandeng tangan Ratih yang wajahnya menunduk ke bawah karena malu banyak para yang menyorotkan kamera kearah mereka berdua, meskipun ini malam hari lampu penerangan disepanjang jalan cukup terang jadilah terlihat jelas wajah siapa yang sedang dikarak itu.
"Wah gak nyangka ya pak Raditya suami idaman kita-kita ternyata tak lebih dari seorang baj*ngan..!" Umpat ibu yang sedang menonton aksi arak itu dari depan rumahnya.
"Sabar ya bu Renata laki-laki kayak gitu gak usah ditangisin..! Buang aja ke laut sekalian" Sahut ibu-ibu lainnya.
Aku hanya bisa tersenyum saja kearah mereka, bagaimanapun juga ini aib keluargaku. Tapi mau bagaimana lagi kalau tidak seperti ini mereka tak ada jeranya.
Setelah berkeliling komplek kini kami semua berada dirumah pak RT karena harus memusyawarahkan hal ini semua dengan matang.
"Bagaimana ini kelanjutannya pak Rudi, kita nikahkan saja mereka karena sudah berbuat zina disini" Ucap semua bapak dengan lantang.
Sontak aku menoleh kearahnya, mungkin dia lupa kalau ada istri sahnya disini
"Bagaimana mbak Renata apa mbak rela kalau mereka dinikahkan?" Kini pak Rudi menatap kearahku.
"Terserah bapak saja pak, saya ikhlas jika mas Raditya harus menikahi Ratih" Jawabku.
"Mbak Ratih apa ada keluarga yang bisa dijadikan wali?" Tanya pak Rudi ke Ratih.
"Ada pak, ayah saya tapi beliau berada di kota sebelah" Jawab Ratih.
"Bagaimana pak RT apa menunggu besok saja agar pernikahan ini sah karena bagaimanapun mbak Ratih masih ada walinya" Ucap pak Roy seorang ustad yang ada disini.
Pak Roy tadi tidak ikut menggerebek karena beliau masih ada kajian di komplek sebelah, jadilah beliau datang saat musyawarah sekarang.
"Bagaimana bapak-bapak apa setuju jika mereka dinikahkan besok pagi?" ujar pak Rt.
"Setuju pak, tapi mereka harus dijaga agar tak kabur dari sini"
"Baiklah nanti akan ada yang menjaga dirumah pak Raditya dan bi Rahmi artnya juga sebentar lagi kerumah pak Raditya jadi sudah dipastikan mereka tak akan berbuat zina lagi" ucap pak Rt.
Satu jam kemudian kami sudah kembali ke kediaman masing-masing begitupun dengan mas Raditya dan Ratih yang kembali kerumahku.
Mereka duduk disofa bersanding layaknya seorang pengantin baru karena jari-jari tangannya tetap bertautan mulai dari keliling komplek tadi. Bahkan dia gak malu ada istri sahnya disini masih aja seperti itu.
"Paa..." Kini mas Raditya membuka suara karena sedari tadi hanya hening.
"Hmm jelaskan apa alasan kamu menyakiti anak saya..!" Jawab papa dengan mulai mengontrol emosinya.
"Maaf pa, Raditya khilaf selama ini" Ucapnya dengan menunduk.
"Alasan kamu khilaf apa?"
"Bak ada alasan lain pa, Ratih ini mantan pacar Raditya sewaktu di bangku kuliah. Maafkan kelakuan kami yang sudah bermain dibelakang Rena" Mas Raditya terlihat menjeda ucapannya dan mengambil nafas dalam-dalam serta menghembuskan perlahan.
"Raditya akan menikahi Ratih secara siri pa, sebagai bentuk tanggung jawab karena warga komplek juga menyarankan seperti itu" Lanjut Raditya.
"Silahkan saja kamu nikahi wanita itu mas..! Tapi talak aku sekarang juga, aku gak sudi di madu" Ucapku dengan lantang.
"Maafkan mas Ren, tapi bagaimanapun juga sesuai musyawarah warga tadi. Besok pagi kami harus menikah" Ujar Raditya.
"Iya mas..! Talak aku sekarang juga kumohon mas" Ucapku.
"Gak Ren, mas sangat mencintai kamu. Apa kamu gak kasihan sama Rindiani kalau kita berpisah?"
"Sebelum kamu menghianati pernikahan kita harus kamu mengingat Rindiani mas..!"
"Maaf Ren, aku mohon jangan minta talak" Kini mas Raditya berjalan kearahku dan duduk dikarpet tepatnya dibawahku dengan memegang lututku.
"Lepaskan mas, bangunlah jangan seperti ini.
Bagaimanapun juga kita tetap bercerai karena aku sudah meminta pengacara untuk mengurus semuanya" Ucapku.
"Enggak Ren, mas mohon kasihan Rindiani"
"Sudahlah Raditya..! Talak anak saya sekarang, dan kalian berdua bebas melakukan apa saja tanpa terbebani oleh kehadiran Renata" Kini papa sudah tak bisa lagi menahan emosinya.
"Baiklah kalau memang ini yang terbaik aku ikhlas. Renata Indah Bramantyo binti Ronald Bramantyo aku jatuhkan talak tiga ke kamu, mulai saat ini kita bukan suami istri lagi" ucap Raditya dengan lantang.
Tess..!!
Tak terasa air mataku tiba-tiba jatuh, memang aku menginginkan perpisahan ini tapi entah mengapa terselip sedikit rasa sakit di hatiku apalagi ketika mengingat putri kecilku yang pastinya lebih terluka dengan perceraian kedua orangtuanya.
"Terimakasih mas atas waktunya selama enam tahun kita berumah tangga" Ucapku dan menyalaminya untuk yang terakhir kali.
"Maafkan mas Ren, mas benar-benar menyesal. Sampaikan maaf mas untuk Rindiani" Ucapnya dengan suara seraknya, aku yakin kini mas Raditya juga sama terlukanya seperti diriku. Terbukti dengan air matanya yang keluar itu.
"Iya mas, untuk malam ini Silahkan kalian menempati rumah ini karena besok pagi pernikahan kalian. Aku akan pulang kerumah papa, ingat jangan kabur..! Karena diluar akan ada orang yang berjaga agar kalian tak bisa kemana-mana dan juga jangan berbuat zina dirumah ini, paham..!!" Aku memperingati mereka karena aku gak mau rumahku dijadikan tempat zina untuk kesekian kalinya.
"Kami akan terus disini mbak..! Kamu dan Rindiani yang harus angkat kaki dari sini karena aku akan menjadi nyonya dirumah ini" Ucap Ratih yang sedari tadi hanya berdiam saja.
"Jangan halu..!" Kini papa yang menjawab.
"Heh..! Apa maksudmu pak tua? Aku halu? Hello aku besok akan menikah dengan mas Raditya otomatis aku akan menjadi nyonya dirumah ini dan putri kesayangan anda yang harus keluar dari rumah ini..!" Ucap Ratih dengan mata berapi-api menatap kearah papa.
"Sudah pa ayo pulang" Ucapku karena tak mau papa meladeni setan wanita ini.
Kami berdua lantas meninggalkan rumah dan berjalan kearah halaman dimana ada pak satpam dan pak polisi yang berjaga tapi ini beda dengan yang tadi karena saat ini sudah pergantian shift.
"Nyonya Renata.." teriak bi Rahmi dari luar pagar.
Aku menoleh kearahnya dan melambaikan tanganku agar bi Rahmi segera mendekat.
"Bi Rahmi dari mana?" Tanyaku saat beliau sudah berada disebelahku.
"Maaf nyonya tadi tuan menyuruh saya untuk menginap dirumah saudara, katanya tuan ingin quality time bersama nyonya dan non Rindiani" Ucap bi Rahmi.
"Jadi tadi mas Raditya pulang sendirian tadi bi?"
"Iya nyonya, tapi saat saya baru saja naik taksi ada mobil yang berhenti didepan sini dan seorang wanita turun dari mobil, saya kira rekan nyonya atau tuan"
"Ohh gitu, yaudah bibi segera masuk kerumah ya. Jangan sampai mereka berbuat hal tak senonoh lagi dirumah saya" Ucapku.
"Baik nyonya, maafkan saya karena sudah membiarkan tuan berbuat zina dirumah nyonya"
"Sudah bi gak apa, ini bukan salah bibi. Aku permisi ya bi, ingat pesan saya tadi" Ucapku dan segera naik ke mobil karena papa sudah menunggu.