Danu merasa hidupnya benar-benar di kutuk oleh Lila gadis kecil yang dulu dia rawat, empat kali sudah dia gagal memiliki pasangan hidup hingga dia di juluki Perjaka Tua di kampus di mana dia mengajar.
"Siang Pak Dosen" Suara itu benar-benar Danu hafal, siapa lagi kalau bukan Lila si Pengutuk kecil.
"Ada apa?"
"Pak saya ada masalah, mohon bantuan"
"Bantuan apa? apa ada materi yang sulit di fahami?" Danu mencoba bersikap professional.
"Ada pak"
"Materi apa?"
"Materi tentang bagaimana cara menjadi istri Pak Danu Pramana"
'Uhuk uhuk'
Danu sampai tersedak mendengar Lila kembali berulah.
"Lila ....."
Lila langsung berlari keluar setelah menaruh buku tugasnya di meja kerja Danu.
Akankah Lila berhasil mendapatkan cinta sang Dosen? yuk kepoin cerita serunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
"Mas?"
"Hemmmmmm"
"Kapan kita nikah?"
Lila tersenyum begitu manis di sebelah Danu, mereka masih di ruang guru. Lila masih betah menatap Danu yang tengah mengoreksi tugas pada mahasiswa nya.
"Nunggu matahari terbit dari barat"
Lila langsung manyun, sejak kapan Mas Danu bermuka dua begini? kemarin saja dia begitu menikmati suasana berdua mereka. Sekarang kembali mode semula lagi.
"Ibu Marni sudah setuju Mas, mas tinggal bilang Iya"
"Sudah berapa kali mas bilang, kamu masih muda, perjalanan hidup kamu masih panjang"
Selalu saja begitu jawabannya, Lila sampai bosan,mungkin para pembaca di seluruh Indonesia ini juga ikut bosan dengan jawaban Danu.
"Kenapa sih mas Danu selalu jawab begitu? Lila beneran cinta banget sama Mas Danu, kadang Lila lelah, Lila butuh kepastian mas, mas sudah mengambil ciuman pertama Lila, kenapa masih tidak mau bertanggung jawab?"
Danu sama sekali tidak menggubrisnya, rasanya Lila ingin sekali kembali ke masa lalu, dia ingin kembali ke kandang ayam itu lagi.
Lila menatap jam di tangannya, sudah waktunya masuk, jadi dia terpaksa pergi dari ruangan itu.
Di depan pintu, sudah ada Rania teman Lila menunggunya.
"Lama banget sih? Gue sampe ketiduran disini tau!"
Rania langsung memeluk bahu Lila, dia adalah sahabat sekaligus saksi bisu cinta Lila pada Pak Danu. Sejak SMA Lila selalu menceritakan Danu padanya. Sampa Rania bosan. Kini dia juga ikut jadi kacung Lila, meski bolak balik di abaikan Lila tak juga menyerah, membuat Rania bosan juga.
"Pantes aja iler kamu kemana-mana"
Sahut Lila.
Rania buru-buru mengusap area bibirnya,namun tidak ada apapun.
"Sial, lu bohongin gue!"
Lila menoleh sambil nyengir, sahabatnya ini mudah sekali di prank, padahal ini bukan yang pertama kalinya.
"Salah sendiri percaya" Kekeh Lila. Mereka berjalan ke kelas. Saat keduanya sampai, di meja Lila sudah ada setangkai bunga mawar dan juga coklat di sana.
Lila duduk dan menggeser bunga itu ke sebelah Rania.
"Terima kasih, kenapa sih lu nggak berima salah satu cowok di kampus kita? Banyak yang ganteng Lila, ada yang konglomerat juga, lu kenapa nggak milih salah satu? Kenapa lu justru ngejar pak Danu? Dia bahkan nggak suka lu deket-deket dia"
Lila merebahkan kepalanya di meja, jika saja Rania tahu kalau kemarin dia sudah berciuman dengan Mas Danu. Pasti dia syok berat.
"Gue mau gimana lagi nie, di hati gue cuma ada Mas Danu seorang. Kalau saja gue bisa milih, gue juga pengennya suka dengan lelaki yang juga suka sama gue, tapi mau gimana lagi, hati gue cuma bergetar jika sama Mas Danu"
"Ck lebay lu"
******
Begitu mata kuliah hari ini selsai, Lila buru-buru menarik Rania ke parkiran, dia mau nebeng di mobil Mas Danu lagi.
"Dih pelan-pelan Lil"
"Buruan! Nanti Mas Danu nya keburu pulang"
Sampai di tempat parkir si pemilik mobil masih belum sampai, Lila menunggu di sana bersama Rania.
Mereka ngetem di dekat mobil Danu, seperti sedang mau narik angkot saja.
"Tanah Abang,tanah Abang" Kekeh Rania yg sedang cosplay jadi kernet.
"Cocok banget lu"
"yaelah mana ada kernet secantik gue? Nanti penumpangnya lelaki semua"
"Iya kebanyakan bapak-bapak buaya darat yang kurang kasih sayang, terus lu di samperin sama istri-istri mereka" Tawa Lila meledak saat membuangnya itu benar-benar terjadi.
"Lu apaan sih! Suka banget bayangin sahabat sengsara"
"lagian lu duluan yang mulai, tahu ini mobil pribadi, ngapain pakai cosplay jadi kernet segala"
"Ye kan seru Lil, kapan-kapan kita naik angkot yuk? Penasaran gue"
"Idih ogah, kecuali naik angkotnya bareng Mas Danu heheheh"
Rania langsung mendorong tubuh Lila pelan, memang dasar di kepala temannya ini hanya ada Danu dan Danu.
"Eh eh Lil, lihat tuh. Ada pelakor"
"Pelakor?"
"Arah jam dua belas"
Lila langsung memutar badan dan menatap Danu yang tengah berjalan dengan seorang dosen perempuan.
Mata Lila mendelik, tangannya mengepal erat melihat wanita itu sengaja menyenggol kan tubuhnya ke Danu.
Meski perjaka tua, ternyata banyak juga janda-janda muda yang suka dengan Mas Danu. Mas Danu memang terlalu ramah pada mereka.
Kenapa sih Mas Danu tidak menghindar? Kurang apa coba dirinya? Lila kan cantik, aduhai, periang dan lagi dia ini kembang kampus, banyak cowok yang ingin mengejarnya. Kenapa Mas Danu tidak bisa melihat itu?
"Saingan lu sepertinya sudah suhu"
"Suhu? Bu Dian biasa aja, cantikan gue!" Kesal Lila.
"Bukan itu, lihat tuh, dia pura-pura lemah di sebelah Pak Danu, Lo tahu kan di kelas dia gimana?
"Judes!"
"hehehe betul sekali, sepertinya Bu Dian juga sedang mengejar Pak Danu"
Lila tidak akan membiarkan itu, Lila akan melakukan segala cara agar Mas Danu mau menikah dengannya. Restu orang tua sudah dia dapat, hanya tinggal merayu Mas Danu lagi, agar dia bersedia.
"Lu jangan diam aja, nanti ke buru di rebut. Gue denger, Bu Dion adalah dosen yang sering Keluar bersama Pak Danu, mereka sering bersama sebelum lu masuk kampus ini, Dulu lu sempat bikin heboh satu kampus karena lu sering ke ruang dosen, tapi untunglah Pak Danu bilang lu adeknya"
Lila tak mendengar Rania, matanya terus tertuju menatap Bu Dian yang tengah tersenyum manis di depan Danu.
Lila menggertak kan giginya, dia kesal karena Danu diam saja saat lengannya di colek Bu Dian.
'Mas Danu sengaja mau bikin aku kesal atau memang dia polos? sudah tahu di deketin wanita gatel, tapi dia diam saja. Bu Dian bahkan pura-pura keseleo di depan Mas Danu. Mas Danu memapah Bu Dian membuat hati Lila makin sengsara.
"Gue lebih cantik dari dia kan Nie?"
"Tentu saja"
"Gue lebih fresh can segar kan?"
"Yo i"
"Kulit gue lebih putih dan mulus dari Bu Dian kan?"
"Itu pasti"
"Bibir gue lebih menggoda dari dia kan?"
"Betul itu"
"Terus Mas Danu mau jadi suami aku kan Nie?"
"Hehehe kalau itu gue mana tahu juga Lil,tanya aja langsung"
"Lu kanapa nggak jawab Iya aja sih? Tadi juga jawab iya terus"
Rania hanya bisa garuk-garuk kepala, dia salah apa coba?
"Lo harus tahu, kemarin kami sudah......"
"Sudah apa?"
"Dia sudah cipok gue di mana-mana, di leher, di bibir bahkan di dada juga" Batin Lila.
"Woy sudah apa?" Tanya Rania lagi.
"Enggak apa-apa"
Di tengah ke galau an Lila, mendadak Rania melihat Pangeran tampan mendekat ke arah mereka. Rania bahkan tersenyum dan beberapa kali merapikan rambut dan pakaiannya, memastikan dia dalam keadaan cantik.
"Sssssttttttt ada mas ganteng Lil"
"Siapa yang ganteng? bagi gue cuma mas Danu yang ganteng" Jawab Lila. Dia kesal sekali karena Danu sama sekali tidak melihat keberadaannya. Dia justru duduk kursi di bawah pohon besar untuk memijat kaki Bu Dian.
Rania langsung memutar kepala Lila, Lila awalnya cuek namun saat melihat lelaki itu, dia sangat syok.
"Ryan?"
Lila sangat terkejut melihat Ryan di sini, bukankah lelaki itu sedang melanjutkan studinya di luar negeri?
Nb. Ryan adalah teman sekolah Lila di bangku SMA dulu, dia pernah menembak Lila saat hari perpisahan siswa.