NovelToon NovelToon
The Emerald And Her Four Mates

The Emerald And Her Four Mates

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:951
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.

Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.

Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. BLUE WAVES DAN MUTIARA TAKDIR

Evelyn menyunggingkan senyum getir, menatap bergantian foto kedua orang tuanya yang kini telah tiada. "Maaf karena aku belum sempat membahagiakan kalian berdua. Sekarang, aku hanya meminta satu doa dari Ayah dan Ibu di sana. Semoga di sisa hidupku yang tinggal tiga bulan ini, aku bisa merasakan apa itu kebahagiaan... walaupun hanya untuk sebentar saja."

Evelyn menghirup napas panjang untuk menguatkan hatinya yang rapuh, lalu berbalik dan melangkah keluar dari rumah sewa tersebut.

Dengan tas ransel yang bertumpu di pundaknya, ia berjalan tegap menuju halte bus terdekat, siap menghadapi apa pun takdir yang menantinya hari ini.

Begitu tiba di depan gerbang sekolah, Evelyn disambut oleh pemandangan lima bus besar yang telah berjejer rapi, siap mengangkut seluruh siswa kelas tiga.

Evelyn merapatkan jaket cokelat tebalnya, mencoba menghalau hawa dingin yang mendadak terasa lebih menusuk kulit daripada biasanya. Di dekat pintu bus, salah satu guru tampak sibuk mengabsen satu per satu murid sekaligus mengumpulkan lembar kertas persetujuan orang tua.

"Pagi, Eve!" sapa seorang siswa perempuan berambut keriting gantung dengan kulit sawo matang yang eksotis.

Dia adalah Sofia, satu-satunya teman yang Evelyn miliki sekaligus orang yang paling memahami kondisinya di Vesperanian High School ini.

"Hai, Sofia. Selamat pagi juga," balas Evelyn seraya memaksakan seulas senyum tipis di wajahnya.

Sofia menyipitkan mata, menatap lekat-lekat wajah sahabatnya itu dengan gurat kecemasan yang jelas. "Eve, kau kenapa? Wajahmu tampak pucat sekali hari ini. Apa kau benar-benar baik-baik saja?"

"Hmm... aku tidak apa-apa, hanya sedikit kurang tidur," dusta Evelyn pelan.

Ia melangkah maju untuk menyerahkan berkas tanda tangan persetujuan palsu kepada guru yang berjaga. Beruntung bagi Evelyn, sang guru sama sekali tidak menaruh curiga. Antrean murid yang masih mengular panjang membuat sang guru hanya memeriksa berkas sekilas agar perjalanan mereka menuju Kota Blue Waves—yang memakan waktu sekitar tiga jam—bisa segera dimulai.

"Eve, ayo kita duduk di sana saja," ajak Sofia sambil menunjuk ke arah kursi baris paling belakang di dalam bus.

Evelyn hanya mengangguk patuh, lalu berjalan beriringan bersama Sofia menyusuri lorong bus yang mulai riuh oleh candaan murid-murid lain.

"Tubuhmu juga tampak semakin kurus, Eve. Aku sungguh khawatir melihatmu seperti ini," ucap Sofia lirih setelah mereka berdua mendudukkan diri di kursi yang empuk.

Tatapan mata Sofia dipenuhi rasa iba, menyadari bahwa sahabat di sampingnya ini sedang memikul beban berat yang tidak pernah mau ia bagikan pada siapa pun.

****

Tiga jam perjalanan berlalu dengan cepat. Bus rombongan kelas tiga akhirnya memasuki kawasan pantai Kota Blue Waves. Deru ombak yang menghantam tebing karang dan aroma asin laut yang khas langsung menyapa indra penciuman para murid.

Begitu bus berhenti, Sofia dengan antusias menarik tangan Evelyn untuk berkeliling menikmati pemandangan pantai. Namun, baru beberapa menit mereka berjalan di atas pasir putih yang hangat, langkah Evelyn mendadak melambat.

Rasa pening yang teramat sangat secara brutal menghantam kepalanya. Pandangan Evelyn berputar hebat, dan jantungnya berdesir ngeri saat merasakan ada cairan hangat yang mengalir keluar dari rongga hidungnya.

"Eve! Astaga, hidungmu berdarah!" jerit Sofia panik. Ia terbelalak mendapati darah segar mulai membasahi bibir dan menetes ke jaket Evelyn.

Evelyn meraba wajahnya, menatap noda merah di jemarinya dengan tubuh gemetar. Gumpalan darah di otaknya kembali bergejolak di saat yang paling tidak tepat. Ia buru-buru meraba kantong jaket cokelatnya untuk mencari botol obat.

Kosong.

Sial! Obatku tertinggal di rumah sewa! batin Evelyn menjerit panik.

"Eve, kau sakit apa? Apa kau membawa obat?!" Sofia semakin histeris melihat tubuh Evelyn yang mulai lemas dan bersandar di balik sebuah batu karang raksasa.

"K-ketinggalan, Sof..." bisik Evelyn parau, napasnya mulai terputus-putus. "Tolong... ambilkan obat pereda nyeri di kotak P3K milik guru..."

"I-iya! Kau tunggu di sini, jangan ke mana-mana! Aku akan segera kembali!"

Sofia berlari kencang menuju area parkir bus dengan air mata yang mulai mengalir. Ia sama sekali tidak tahu jika sahabatnya itu mengidap penyakit mematikan.

Di tengah kondisi sekarat dan kesadaran yang kian menipis, Evelyn menyandarkan kepalanya ke dinding karang yang dingin. Sayup-sayup, telinganya menangkap suara percakapan sepasang pria dan wanita di balik karang tempatnya bersembunyi.

"Aku mencintaimu. Menikahlah denganku, Alana," ucap sebuah suara bariton yang terdengar sangat familier di telinga Evelyn.

Evelyn sedikit mengintip dari celah karang. Matanya yang sayu mendapati sesosok pemuda berambut hitam ikal dan bermata biru safir segelap samudra terdalam sedang berlutut di depan seorang gadis cantik berambut pirang.

Evelyn tersentak. Pria itu adalah Kaelen Marine, teman sekelasnya dulu saat di Luminara High School sebelum ia diasingkan. Kaelen, yang ternyata adalah seorang Merman, kini tengah membuka sebuah kotak beludru kecil.

Di dalam kotak itu, pendaran magis berwarna hitam berkilau pekat. Itu adalah The Heart Pearl—mutiara hitam suci milik klan Merman yang menyimpan separuh jiwa mereka. Sesuai tradisi kuno, sepasang mate harus memakan mutiara itu bersama-sama untuk meresmikan ikatan takdir mereka.

Namun, respons si gadis pirang justru membuat suasana mendadak dingin. Gadis itu melangkah mundur, menatap Kaelen dengan pandangan sinis.

"Menikah denganmu? Jangan konyol, Kaelen! Aku tidak sudi terikat selamanya dengan monster laut sepertimu. Hubungan kita selesai!" tolak gadis itu kejam, lalu berbalik dan melangkah pergi begitu saja meninggalkan pantai.

Kaelen membeku di tempatnya berlutut. Rasa kecewa dan amarah yang meluap-luap membuat matanya yang biru mendadak berkilat tajam.

Dengan emosi yang tak tertahankan, ia mencengkeram kotak beludru itu, lalu melemparkan mutiara hitam miliknya ke udara hingga mendarat di atas pasir basah di tepi karang.

"Persetan dengan takdir!" geram Kaelen murka, sebelum akhirnya ia berbalik melompat ke dalam gulungan ombak dan menghilang di balik lautan, membiarkan mutiara jiwanya tergeletak tak bertuan.

Tepat saat itu, Sofia datang dengan napas terengah-engah. Wajahnya pucat pasi memegang sebotol obat yang baru ia minta dari guru. "Eve! Ini obatnya—eh! Astaga!"

Karena panik dan terburu-buru, kaki Sofia tersandung gundukan pasir di bibir pantai. Tubuhnya terjerembap, dan botol obat di tangannya terlempar, menggelinding jatuh ke dalam sela-sela air laut dangkal dan langsung tersapu ombak.

"Tidak! Obatnya hilang!" Sofia menangis histeris. Ia meraba-raba pasir di sekeliling tebing karang yang temaram dengan panik, mencari apa saja yang bisa menyelamatkan Evelyn yang kini sudah kejang-kejang menahan sakit di kepala dan hidung yang terus mengucurkan darah.

Jemari Sofia yang gemetar mendadak menyentuh sebuah benda bulat keras di atas pasir basah. Di tengah kepanikan mutlak dan penglihatan yang remang, Sofia sama sekali tidak mengecek benda apa itu. Ia mengira itu adalah salah satu butir obat Evelyn yang terjatuh dari botol.

"Eve, telan ini! Cepat telan!"

1
Eka Putri Handayani
Semangat thor lebih bnyk up lg dong, gayamu kael tunggu aja evelyn bertransformasi jadi lebih kuat uh bakal kelepek-klepek deh
Soobin Chan: makasih ya supportnya. maaf author cuma bisa up 1× sehari😄
total 1 replies
Soobin Chan
aslinya emang kuat ko dia, tahan banting pula🤣
Eka Putri Handayani
sumpah gak suka banget sm kael kasar, thor buat evelyn segera ninggalin raganya yg sakit² itu deh
Soobin Chan: iya di tunggu aja ya nanti di bab-bab selanjutnya🙏
total 1 replies
Eka Putri Handayani
thor lebih baik langsung buat evelyn kembali pada raga aslinya deh kesian bngt klo dia hrs menderita kya gtu🥺
Soobin Chan: sabar ya😄 nanti juga sembuh sendiri.
makasih banyak ya udah mampir dan mau baca cerita gaje dari author ini/Smile/
total 1 replies
Soobin Chan
masih sepi hihi/Sob/
Soobin Chan: komen dong guys🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!