mira seorang istri dari pandu, mira hanya seorang ibu rumah tangga dulu nya ia bekerja di salah satu perusahaan menjadi staf biasa . tetapi setelah menikah dengan pandu, ia di larang untuk bekerja.
***
pandu dan mira masih tinggal bersama kedua orang tua pandu dan adik nya. ibu nya melarang pandu untuk pergi dari rumah nya, gaji pandu juga kebanyakan ibunya yang ngatur. mira selalu bersabar dengan sikap pandu dan keluarganya. namun saat mira tahu pandu mengkhianatinya dengan tetangga barunya yang berstatus janda. Mira tak lagi memperdulikan pandu, ia juga tidak lagi meminta uang dan mira juga tidak menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isy_yuli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan
Pagi itu. Mira di sibukkan di dapur, setelah sarapan selesai disiapkan, Mira masuk ke kamar mereka. Ia membuka lemari dan mengambil kemeja biru favorit Pandu.
Handphone Pandu tergeletak di samping bantal. Layarnya tiba-tiba menyala disertai bunyi notifikasi.
Mira awalnya tak berniat melihat. Namun nama yang muncul membuatnya tanpa sadar berhenti melipat pakaian.
Adi.
Namun isi pesan yang muncul membuat dada Mira terasa sesak.
“Aku kangen kamu mas. Tadi malam rasanya kurang lama ngobrol sama kamu.”
Jantung Mira berdegup keras. Tangannya mendadak dingin. Ia menatap layar itu beberapa detik, berharap matanya salah membaca. Tapi notifikasi berikutnya muncul lagi.
“Nanti malam video call lagi ya. Aku suka lihat kamu senyum.”
Mira perlahan duduk di tepi kasur. Kepalanya terasa penuh. Kata-kata itu bukan pesan biasa antar teman kerja. Terlalu lembut. Terlalu intim.
"apa kamu main di belakang ku mas" lirih mira tatapannya kosong
Pintu kamar mandi terbuka.
“Bajuku udah siap belum, Mir?” tanya Pandu santai sambil mengeringkan rambut dengan handuk.
Mira buru-buru meletakkan handphone suaminya itu kembali.
“Udah.” jawab singkat mira
Pandu tak menyadari perubahan wajah istrinya. Ia langsung memakai kemeja sambil bersiul pelan. Mira memperhatikannya diam-diam. Lelaki yang sudah merebut hatinya dulu.
“Kamu kenapa?” tanya Pandu akhirnya sadar Mira terus diam.
“Enggak apa-apa.” jawab mira
Pandu mendekat. “Kamu sakit?” tanya pandu
Mira menggeleng pelan. Mulutnya ingin berteriak di hadapan suaminya itu, namun nyatanya ia tidak kuat untuk mengatakan sesuatu.
"aku harus cari tau kebenarannya terlebih dahulu, tapi darimana aku harus cari" batin mira
****
siang harinya, mira berada di kamar mengerjakan novelnya. ia menyampingkan masalah tadi pagi terlebih dahulu.
"miraaa" teriak bu denok dari ruang tamu
"huff apalagi ibu ini" keluh mira, mira lalu beranjak menuju keluar.
di ruang tamu bu denok sedang menonton TV sambil memegang toples yang berisi cemilan.
"ada apa bu? " tanya mira
"kamu budek ya, gak denger apa kalau token itu bunyi terus. bentar lagi pasti mati ini lampu" omel bu denok
"mira denger kok bu" ucap mira
"kalau denger kenapa diam aja di kamar. beli sekarang tokennya keburu mati , ibu gak bisa lihat sinetron ibu" omel bu denok
"mau beli pakai apa bu, kan uang mas pandu ada di ibu" kata mira
"emang gak ada gunanya kamu ya. nih beli 50rb . buruan" ujar bu denok sambil mengeluarkan uang di kantong nya.
Mira menerima uang tersebut, ia langsung keluar ke depan untuk membeli token. sebenarnya bisa saja mira pakai uangnya sendiri toh dia baru gajian dari hasil novel namun ia urungkan karena keingat pesan tadi pagi di handphone pandu.
Setelah keluar dari konter. mira ingin beli bakso untuk dirinya. hitung hitung menikmati hasil kerja kerasnya.
Saat masuk ke dalam tenda penjual bakso mira melihat seseorang yang familiar.
"mas pandu" lirih mira
dia tidak salah lihat , bangku di pojok terdapat pandu dan seorang wanita. mira belum bisa melihat siapa perempuan tersebut karena kehalangan tubuh pandu.
hati mira bergemuruh namun ia berusaha untuk tidak mengamuk. ia jalan pelan, mira memilih duduk di bangku belakang milik pandu.
DEG
"mbak tari" batin mira dengan tatapan kosong
bersambung...
...****************...
Hay para kawand kawand jangan lupa di like dan komen ya, biar tambah semangat nulis nya. hehehe. terimakasih sudah membaca