Emma Taylor terpaksa harus melunasi hutang pamannya kepada seorang pria asing kaya raya yang tinggal di rumah besar Anggrek Residen.
Jatuh tempo pembayaran sudah sangat dekat bagi paman Broeri untuk membayar hutang tersebut namun dia tidak mempunyai uang sepeser pun saat dia ditagih oleh pria asing kaya raya itu yang bernama Noah Jones.
Terpaksa Emma yang harus menanggung hutang tersebut kepada Noah Jones pemilik rumah Anggrek Residen.
Karena Emma Taylor juga tidak mempunyai uang buat melunasi hutang paman Broeri maka dia dipaksa membayar dengan rahimnya.
Bagaimana nasib Emma Taylor selanjutnya, sanggupkah dia melunasi hutang milik paman Broeri Goldman atau dia memilih melarikan diri.
Mari kita simak kelanjutan kisah ini dalam novel berjudul Rahim Bayaran Milik Emma.
Salam buat semua pemirsa 🎂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Makan Malam Milik Emma
Emma Taylor telah bersiap-siap, ia berdiri di tempat, mengenakan gaun rancangan Dior.
Sebagai bagian dari koleksi kapsul Dioriviera, gaun pendek ini menampilkan motif Toile de Jouy Floral Garden berwarna putih dan biru tua, menawarkan sentuhan baru pada pola ikonik rumah mode ini dengan desain bunga yang elegan dan penuh warna, dipadukan dengan garis-garis grafis.
Dibuat dari katun poplin, gaun ini memiliki kerah sayap, kancing penutup, dan kerutan di pinggang yang memperlihatkan bagian bawah yang melebar. Gaun ini dapat dipadukan dengan kreasi Toile de Jouy Floral Garden lainnya untuk melengkapi tampilan Dioriviera.
Emma benar-benar tampak cantik serta elegan dalam balutan gaun Jouy Floral Garden berwarna putih dan biru tua.
"Anda sangat cantik, Nona Emma. Tidak salah jika Tuan Noah Jones memilih anda."
Terdengar pujian Ava yang bertugas malam ini untuk melayani Emma sebelum acara makan malam bersama Noah Jones.
Emma tersenyum malu-malu, ia menunduk sembari menatap gaun Dioriveria-nya.
"Terimakasih atas pujianmu, kuharap aku pantas mengenakan gaun ini. Sebab aku tidak tahu lagi harus berpenampilan seperti apa buat acara makan malam dengannya." kata Emma tersipu malu.
"Gaun ini lebih dari apapun dan pantas untuk anda kenakan, bahkan anda benar-benar terlihat cantik sekali, Nona Emma."
Sekali lagi Ava memuji penampilan Emma Taylor yang tampak bercahaya.
"Apa gaun ini cocok kukenakan buat makan malam?" tanya Emma agak ragu.
"Tuan Noah Jones sendiri yang memilihkan gaun ini untuk anda. Tentu saja, pilihan tuan bukan sembarangan." sahut Ava.
"Oh, iya?!" ucap Emma menangkupkan telapak tangannya ke wajah cantiknya yang merona merah.
"Tinggal berangkat sekarang. Tuan Noah sudah menunggu anda di ruang makan. Biar saya antarkan anda kesana." lanjut Ava.
"Baiklah, kita pergi sekarang juga." sahut Emma.
Emma mengangguk paham lalu berjalan ke depan dengan langkah ringan lalu diikuti Ava di belakangnya.
"Apa yang harus aku lakukan jika bertemu dengannya. Ini makan malam kami pertama kalinya?!" ucap Emma.
Emma terlihat gugup ketika ia melenggang anggun, menoleh ke Ava.
"Rileks kan pikiran anda. Anggap saja ini sebuah acara biasa, makan malam biasa, dengan orang yang telah lama anda kenal, jadi and tidak akan canggung." Ava memberi saran.
"Oh, ya. Benarkah?" sahut Emma. "Tapi itu akan sulit buatku sebab aku belum terbiasa dengannya."
"Anggap Tuan Noah adalah sahabat baik anda sehingga anda tidak grogi bertatap muka dengannya." kata Ava.
"Sahabat baik?" tanya Emma tertegun sembari melangkah maju.
Ava mengangguk pelan, tersenyum tipis lalu menatap serius.
"Yah, dengan begitu, anda akan terlihat santai berhadapan dengan tuan. Seakan anda telah lama bersamanya. Sikap canggung tidak disukai oleh Tuan Noah, ia lebih suka sesuatu yang natural." kata Ava.
"Oh, yah?!" kata Emma. "Benarkah?"
"Ya, Nona Emma." sahut Ava lalu tersenyum.
"Hmm... Baiklah, akan aku ikuti saranmu itu. Semoga saja aku bisa beradaptasi dengan benar dan santai meski itu tidaklah mudah." kata Emma.
"Percayalah pada saya, Nona Emma!" sahut Ava serius.
"Yup... Baiklah. Aku akan mencobanya. Dan kuharap Aku mampu melakukan saranmu itu, Ava." kata Emma lantas tersenyum lembut.
"Semoga berhasil!" ucap Ava memberi semangat.
"Terimakasih..." bisik Emma pelan.
"Semangat!" kata Ava.
"Yah..." sahut Emma pelan.
Keduanya sama-sama tersenyum halus lalu tertawa renyah.
Emma benar-benar merasakan hidupnya kembali serta bersemangat dari sesudahnya ia datang ke Kediaman Anggrek Resident ini.
Awal Emma menginjakkan kaki di rumah ini, ia merasakan seluruh dunianya bagaikan di neraka. Tidak ada kehidupan yang penuh arti lagi baginya. Seakan-akan kematian telah menjemputnya lebih awal dari takdir Tuhan itu sendiri.
Bagaimana ia harus berpura-pura senang padahal hatinya takut karena ia harus menyerahkan rahimnya sebagai bayaran atas hutang Broeri Goldman, yang tak lain pamannya sendiri.
Emma berjalan beriringan dengan Ava menuju ruang makan utama di Anggrek Resident ini.
Tepat di depan sana, terdapat pintu geser kaca kristal transparan ke ruangan makan yang dipenuhi lampu-lampu bersinar gemerlap.
"Mari masuk, Nona Emma!" ucap Ava sembari menunduk hormat.
Emma mengangguk paham, lalu melangkah maju, otomatis pintu kaca bergeser terbuka saat Emma berdiri di depannya.
"Selamat datang, Nona Emma!" sapa seorang pria tua berseragam pelayan warna hitam, dengan kain serbet di lengannya tersampir rapi.
Ia tersenyum ramah sembari memberi jalan pada Emma.
"Silahkan, Nona Emma!" ucapnya. "Tuan Noah Jones telah menantikan kedatangan anda malam ini."
Pria tua itu tersenyum halus hampir tak terlihat, namun sorot matanya tajam ke Emma Taylor yang ada di dekatnya.
Tubuhnya dibungkus jas ekor hitam dari wol merino super 150s, potongannya presisi sampai setiap jahitan jatuh tepat di bahu. Kancingnya bukan plastik murahan, tapi mutiara ibu mutiara asli yang berkilau samar tiap kali dia bergerak.
Di lehernya, dasi kupu-kupu sutra hitam terikat sempurna, di bawah kemeja putih yang kaku dan bersih seperti baru disetrika sepuluh menit lalu. Rompi abu-abu arang di dadanya disulam tipis motif daun ek di ujung saku tampak simbol keluarga yang ia layani.
Celananya lurus, dengan garis setrika setajam silet, dan di saku kecilnya mengintip rantai jam saku perak tua. Tidak ada noda, tidak ada lipatan salah. Seluruh dirinya berteriak disiplin, tenang, dan berkuasa tanpa suara.
Yang paling mencolok adalah lencana kecil di kerah kirinya, huruf awal nama keluarga majikan, diukir emas. Di tempat ini, dia bukan sekedar pelayan. Dia penjaga pintu, penjaga rahasia, dan orang terakhir yang berani kau bohongi. Lencana itu tanda bahwa di ruangan ini, perintahnya setara perintah majikan.
Sepatu Oxford kulit hitam mengkilap seperti cermin. Kalau langkahnya bunyi, itu salah.
Emma mengangguk pelan, tatapannya tertuju pada meja makan mewah di tengah-tengah ruangan makan ini.
Tampak Noah Jones telah duduk di sana sembari menikmati minumannya.
"Selamat malam..." sapa Emma seraya menarik kursi makan.
Kursi itu berdiri anggun di sisi meja marmer, kaki-kakinya melengkung halus ala gaya Louis XVI, diukir motif daun acanthus yang dilapisi emas 22 karat. Sandarannya tinggi, dilapisi beludru biru tua yang empuk, dengan kancing-kancing capitone membentuk pola berlian sempurna. Saat disentuh, kainnya dingin halus, tapi begitu diduduki, busanya langsung menyangga tubuh seperti pelukan diam.
Setiap kali bergeser, terdengar gesekan pelan yang berbisik, "Disini hanya orang penting yang duduk."
Noah Jones mengalihkan pandangan matanya ke Emma Taylor, alisnya terangkat naik, sorot matanya datar seperti es.
"Kamu terlambat sepuluh menit, Emma." ucapnya.
"Maafkan aku sebab terlambat datang, sebelumnya aku minta saran pada Ava tentang gaun yang kukenakan untuk makan malam ini." sahut Emma berusaha tenang.
Noah Jones melirik ke arah gaun Dioriveria milik Emma Taylor.
"Lumayan, cocok juga saat kau kenakan. Tidak salah aku memilihkannya." ucapnya datar.
"Terimakasih telah memilihkan gaun indah ini untukku." kata Emma sembari tersenyum.
"Rupanya kau suka sekali gaun rancangan Dior, seperti nya aku harus membelinya lebih banyak lagi untuk kau kenakan." kata Noah.
Lirikan mata Noah Jones tertuju ke pria tua yang berdiri tak jauh darinya duduk saat ini.
Pria tua berseragam pelayan hitam berdiri tegak di ujung meja, nampan perak di tangan, menunggu perintah.
Noah Jones menggoyang gelas minumannya tanpa diminum, matanya ke arah Emma.
"Alfred." ucapnya.
"Ya, Tuan." sahut pria tua bernama Alfred.
"Butik Dior di Paris baru rilis koleksi Haute Couture musim gugur. Kirim katalognya besok pagi. Aku ingin Nona Emma memilih satu untuk dirinya sendiri." ucap Noah.
Alfred menunduk sedikit, suaranya datar seperti biasa.
"Dengan izin, Tuan. Koleksi terbaru belum dipamerkan untuk umum. Saya harus berbicara langsung dengan Madame Claire agar Nona Emma bisa mendapat akses privat." ucapnya.
"Kenapa kau selalu bicara seolah ini transaksi, Alfred? Seolah Aku pelanggan butik, bukan..." sahut Noah.
Alfred memotong pelan, sopan. Ia berkata. "Karena jika saya menyebutnya dengan kata lain, Tuan Noah, maka saya akan melangkahi batas saya."
"Kau benar. Kami bukan pelanggan. Dan kau alasannya." kata Noah.
Hening.
Gelas berdenting pelan di atas meja marmer.