Saat menghadiri perayaan kelulusan sang senior, Yurika dengan sengaja pura-pura mabuk dan mengakui perasaannya pada senior yang selama ini ia sukai.
Meski ia tahu bahwa ia harus menahan malu jika senior itu menolaknya, namun setidaknya ia harus menyelesaikan perasaannya.
Lalu.. tanpa di sangka..
"Oke.."
Yurika tak menyangka ia menyetujuinya, namun sesaat kemudian..
"Bisakah kita mengobrol di tempat lain? Ada banyak orang disini.."
Hari itu, saat sang senior mengantarkannya pulang, Yurika akhirnya sadar bahwa ia hanya menjaga martabatnya, tidak mungkin ia menyukai Yurika.
"Sepertinya perasaan ini memang harus berhenti disini.."
Dengan yakin Yurika memblokir seluruh kontak dari pria yang ia sukai.
Namun bagaimana jika ternyata pria itu menyukainya?
"Sial! Apa dia memblokirku setelah menyatakan cinta? Apa ia hanya bercanda?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Yurika mendengus, kalau tahu bakal berubah jadi medan perang seperti ini, lebih baik ia makan ramen instan di rumah.
Lagipula, Yurika benar-benar tidak tertarik ikut campur urusan percintaan bosnya.
Semakin banyak tahu, biasanya semakin berbahaya.
Ia buru-buru menunduk dan meminum limun di depannya seolah tidak melihat apa pun.
Di sisi lain, Austin memandang Yurika dan pria di sebelahnya dengan tenang. Bulu matanya sedikit turun, tatapannya berhenti beberapa detik pada Yurika.
Livia memperhatikan arah pandangannya dan langsung bertanya pelan, “Kau mengenal mereka?”
Austin menarik kembali tatapannya dengan santai. Ia membuka serbet putih di pangkuannya sebelum menjawab datar, “Tidak terlalu.”
Jawaban itu justru membuat Yutaka makin kesal.
Dengan wajah dingin, ia mulai memesan berbagai menu mahal khas restoran itu seolah sedang melampiaskan emosi.
Yurika yang duduk di sampingnya sampai berbisik pelan, “Sudah cukup. Kita cuma makan, bukan beli restoran.”
Namun Yutaka pura-pura tidak mendengar.
Di sisi lain, keberadaan Yutaka jelas membuat Livia tidak bisa tenang.
Akhirnya, ia meletakkan pisau dan garpunya sebelum tersenyum tipis pada Austin.
“Aku ke kamar mandi sebentar.”
Austin hanya mengangguk ringan.
“Silakan.”
Tak sampai beberapa detik setelah Livia pergi, ponsel Yutaka bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Livia.
Yutaka langsung berdiri tanpa banyak bicara dan berjalan menuju area kamar mandi.
Kini, yang tersisa hanya Yurika dan Austin di dua meja berdekatan.
Yurika diam-diam menusuk steak di piringnya sambil menghela napas dalam hati.
Tempat seperti ini benar-benar tidak cocok untuk makan dengan damai.
Sepanjang waktu, ia terus menundukkan kepala dan berpura-pura fokus pada makanannya. Ia sama sekali tidak tahu bagaimana harus menjelaskan situasi absurd ini kepada Austin.
Lagipula, setolol apa pun seseorang, pasti bisa merasakan aura perang dingin yang memenuhi udara.
Austin hanya memilih diam. Karena itu, Yurika merasa pilihan terbaik saat ini adalah berpura-pura tidak mengenalnya.
Keheningan menyelimuti meja mereka.
Sampai tiba-tiba suara gesekan kursi terdengar pelan.
Yurika langsung menegang.
Austin berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan beberapa langkah ke arahnya dan berhenti tepat di depan mejanya.
Jantung Yurika langsung berdegup kacau.
Saat otaknya sibuk memikirkan cara membuka percakapan dengan senyum paling natural, sebuah tangan ramping muncul di atas meja.
Jari telunjuk Austin mengetuk permukaan meja dua kali.
Tok.
Tok.
Suara pria itu terdengar rendah dan tenang, tetapi entah kenapa membuat telinganya memanas.
“Hei..”
Yurika perlahan mengangkat kepala dan mendapati tatapan Austin yang jatuh tepat ke matanya.
“Kenapa menghindariku?”
Pada akhirnya, Yurika tidak punya pilihan selain menatapnya sambil memasang senyum manis yang terasa sangat kaku.
“Tuan Austin.. kebetulan sekali kau ada di sini.”
Austin mengangkat alis tipis.
“Kebetulan?”
Yurika langsung terdiam. Tatapannya tanpa sadar melirik ke arah kamar mandi sebelum buru-buru menjelaskan, “Aku datang bersama kakakku.”
Austin mengikuti arah pandangannya sekilas.
Sejak awal, Yutaka memang sudah menatapnya seperti ingin melempar pisau.
Tentu saja Austin menyadarinya, namun ia sama sekali tidak peduli.
Ia melirik jam di pergelangan tangannya lalu berkata santai, “Nanti sampaikan pada kakakmu kalau aku sudah pergi duluan.”
Yurika berkedip.
“Kau mau pulang?”
Melihat ekspresi terkejutnya, sudut bibir Austin sedikit terangkat.
“Apa aku harus tetap tinggal di sini untuk menonton drama mereka?”
Yurika langsung menyentuh ujung hidungnya canggung.
Austin kemudian berkata pelan, “Aku datang hari ini karena urusan keluarga, bukan seperti yang dipikirkan kakakmu.”
“Kau bisa menjelaskannya pada dia.”
Tatapannya perlahan turun pada penampilan Yurika hari itu yang mengenakan gaun hitam elegan, rambut bergelombang lembut, pita kecil di belakang kepala.
Ia menatap beberapa detik lebih lama sebelum bertanya dengan tiba-tiba, “Anggur yang kuberikan waktu itu sudah kau coba?”
Yurika baru saja hendak menjawab ketika suara langkah terburu-buru terdengar mendekat.
Livia keluar dari arah kamar mandi dengan wajah kesal.
Jelas sekali pertengkarannya dengan Yutaka tidak berjalan baik.
Begitu kembali ke meja, ia langsung berkata dengan nada tajam, “Kau sendiri juga membawa wanita makan malam. Jadi kenapa berhak mengkritikku?”
“Kita sudah putus. Sekarang aku makan dengan siapa pun itu bukan urusanmu.”
Yutaka kembali duduk di kursinya dengan ekspresi dingin. Lalu ia mengangkat kepala dan menatap Austin tanpa basa-basi.
“Kenapa?” ujarnya sinis. “Pria ini sudah mencuri jiwamu?”
“Kak!” Yurika langsung menyela panik. “Berhenti bicara sembarangan!”
yg banyak atuhhhh kak othor update babnya 😁😁
lanjuuutttt 💪💪💪💪👍
yg banyaaakkkk banyaaakkkk 😁👍
ada mantan yg lagi sok pamer bang Austin... berasa dia cwo yg paling diminati para kaum hawa🤣🤣🤣🤣
padahal kesuksesan dia karna domplengan cwe dengan status anak manager. baru manager dah berasa CEO 🤣🤣🤣🤣🤣
gemesss liat pasangan ini
aku yg cengengesan 🤣🤣
kok aku loh yg malah jadinya baperan 😁😁😁
modus mu austin😄😄
makanya kali suka yonthe poin aja
gasssssssss
ntar Embay cwo lain murka lagi😁😁😁
🤭
terlalu kaku🙏