NovelToon NovelToon
Sisi Misterius Salsa

Sisi Misterius Salsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10.Pertemuan dengan calon adik ipar.

Belum sempat Salsa melangkah pergi dari depan tangga, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang cepat dan tegas dari lantai atas.

"HEH!! SIAPA KAU?! BERANI-BERANINYA KAU BERKELIARAN DI LANTAI INI?!"

Suara itu melengking tajam, penuh dengan kemarahan dan ketidaksukaan. Salsa mendongak dan melihat seorang gadis remaja berwajah cantik yang seumuran dengan Salsa namun tatapannya sangat tajam, mengenakan seragam sekolah yang rapi tapi terlihat kusut karena berjalan tergesa. Itu pasti Rani, adik bungsu keluarga Wijaya.

Rani berjalan naik dengan langkah lebar, matanya menelusuri tubuh Salsa dari ujung kaki sampai ke ujung kepala dengan tatapan merendahkan.

"Maaf... aku cuma..." Ucap Salsa mencoba menjelaskan.

"Jangan banyak alasan! Ini wilayah pribadi keluarga Wijaya! Orang luar tidak boleh sembarangan naik ke atas!" potong Rani ketus. Ia berdiri tepat di hadapan Salsa, dagunya diangkat tinggi.

"Aku bukan orang luar kok, Non. Aku Salsa, cucunya Kakek Tio. Aku di sini karena..."

"Kakek Tio? Oh... jadi kau itu gadis yang mau dijodohin itu ya?" Rani memotong lagi, kali ini dengan senyum miring yang sangat menyakitkan. Ia melirik cincin di jari Salsa seolah melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. "Halah... cuma orang desa yang beruntung dapat rezeki nomplok. Jangan merasa hebat ya cuma karena mau masuk keluarga ini. Statusmu masih di bawah kami!"

Salsa tertegun. Ia tidak menyangka akan disambut dengan sikap seburuk ini.

"Dan dengar ya!" Rani mendekatkan wajahnya, suaranya dingin. "Kau pikir kau siapa sampai bisa berdiri di sini seenaknya? Pelayan-pelayan di rumah ini memang tidak becus kerja! Membiarkan orang tak dikenal berkeliaran! Dasar sampah masyarakat!"

BRAAK!!

Rani membanting pintu kamarnya dengan sangat keras hingga dinding seakan bergetar. Suara teriakannya masih terdengar samar dari balik pintu tertutup, memaki pelayan yang membiarkan orang asing masuk.

Salsa berdiri mematung di lorong itu. Wajahnya memerah, bukan karena malu, tapi karena hatinya terasa perih dan panas.

Sampah masyarakat? Orang desa?

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Salsa, tapi ia menahannya kuat-kuat. Ia mengangkat dagunya, berusaha tetap tegar.

"Oke... aku mengerti," bisik Salsa pelan pada dirinya sendiri. "Jadi begini cara kalian menyambutku. Wajar sih... aku kan cuma beban yang dipaksakan lewat wasiat."

Perlahan Salsa berbalik dan berjalan turun menuju lantai dasar. Langkahnya terasa berat. Di setiap sudut rumah yang megah dan mewah ini, kini terasa begitu dingin, angker, dan tidak ramah. Tidak ada kehangatan sama sekali.

Saat ia sampai di lantai bawah, sosok Reno muncul kembali di sampingnya, wajahnya tampak sedih dan bersalah.

"Maafkan dia, Salsa..." suara Reno terdengar lemah. "Rani... dia memang berubah sejak aku tiada."

Salsa menatap Reno dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Mas Reno... aku nggak betah di sini. Serius. Saudaramu saja bohongin aku, adiknya menghinaku. Apa gunanya aku tinggal di sini?"

Salsa menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya. "Lagipula... sekarang aku tahu siapa calon suamiku. Usianya terpaut jauh banget sama aku. Dia itu... dewasa banget, kaku, dan galak. Aku ngerasa kayak mau nikah sama ayah sendiri atau bos besar, bukan sama suami."

Air mata akhirnya jatuh menetes di pipi Salsa.

"Aku lebih baik pulang ke desa. Di sana aku tenang, nggak ada yang menghina, nggak ada yang membohongi. Tabungan pensiun Kakek masih ada kok, cukup buat aku hidup sederhana sampai besar nanti. Daripada di sini makan enak tapi hati sakit terus, mending aku pulang!" tekad Salsa bulat total.

Reno menatap gadis itu dengan penuh pengertian. Ia tahu, keputusan Salsa mungkin yang terbaik untuk saat ini. Lingkungan keluarga Wijaya memang keras dan penuh tekanan.

"Baiklah... aku mengerti perasaanmu, Sal. Tapi sebelum kau pergi, tolong bantu aku satu hal lagi ya?" pinta Reno pelan.

"Apa itu, Mas?"

"Masuk ke kamar Rani. Ambil sebuah kotak kayu kecil yang tersembunyi di balik rak buku di dalam lemari. Itu barang rahasia yang membuat aku tidak bisa tenang dan selalu kembali ke sini. Bakarlah barang itu, maka aku akan bebas dan bisa pergi dengan tenang," jelas Reno.

Salsa mengangguk mantap. "Oke, aku janji akan bantu Mas Reno. Tapi setelah itu, aku benar-benar pergi."

Dengan langkah mantap, Salsa masuk ke dalam kamarnya sendiri. Ia tidak menangis lagi. Ia mengambil tas ranselnya yang masih baru, lalu mulai memasukkan semua barang-barangnya kembali. Baju-baju sederhananya, foto Kakek, surat wasiat yang belum sempat diberikan, dan cincin pertunangan yang kini terasa berat di jarinya.

Saat ia sedang melipat baju, Reno berdiri bersandar di pintu kamar sambil memperhatikannya.

"Dulu... Rani itu anaknya paling ceria, paling manja, dan paling suka ketawa," cerita Reno pelan, seakan bernostalgia. "Dia itu pelangi di rumah ini. Kalau dia tertawa, semua masalah rasanya hilang."

Reno menghela napas panjang, wajahnya sendu.

"Tapi sejak kejadian di pantai itu... sejak dia merasa dialah penyebab kenapa aku harus mati menyelamatkannya... dia berubah total. Rasa bersalah itu memakan dirinya hidup-hidup. Dia jadi pendiam, pemarah, dan menutup diri dari dunia. Tawanya hilang, senyumnya hilang. Dia menyalahkan dirinya sendiri setiap hari, sampai-sampai dia benci melihat apa pun yang mengingatkannya padaku atau masa lalu."

Salsa berhenti melipat baju. Ia menatap Reno. "Jadi dia galak bukan karena benci orang lain, tapi karena dia terluka ya, Mas?"

"Iya... hatinya hancur, Sal. Dan dia nggak tahu cara memperbaikinya. Makanya dia jadi kasar supaya orang lain menjauh dan nggak melihat betapa rapuhnya dia sebenarnya," jawab Reno.

Salsa mengangguk paham. Meski Rani tadi sangat jahat padanya, kini Salsa justru merasa kasihan.

"Sudah, ayo kita selesaikan ini," kata Salsa sambil mengangkat kepala.

Ia keluar kamar dan berjalan kembali menuju pintu kamar Rani yang masih tertutup rapat. Dengan hati-hati, Salsa memutar gagang pintu. Beruntung, Rani ternyata menguncinya dari dalam tapi kunci pengamannya tidak aktif, atau mungkin dia lupa mengunci.

Kriuk...

Pintu terbuka pelan.

Di dalam, kamar Rani terlihat sangat rapi, terlalu rapi hingga terasa kaku. Tidak ada hiasan lucu, tidak ada boneka, hanya warna-warna gelap dan dingin. Rani sedang duduk di meja belajarnya, punggungnya membelakangi pintu, sepertinya sedang mendengarkan musik dengan headset sehingga tidak menyadari kedatangan Salsa.

Salsa berjalan pelan seperti kucing, matanya mencari rak buku yang disebut Reno.

Di sana!

Di sudut kamar, ada lemari buku yang tinggi. Salsa menyelinap masuk, lalu membuka pintu lemari bagian dalam. Benar saja, di bagian paling belakang, terselip sebuah kotak kayu kecil berwarna cokelat tua yang terlihat sudah agak usang.

Salsa mengambilnya perlahan. Ia melirik ke belakang, Rani masih tidak sadar.

Salsa pun berjalan keluar mengendap-endap dari kamar Rani, yang membuat salah satu pelayan memperhatikan nya.

Pelayan itu masuk ke kamar Rani dan melaporkan apa yang dia lihat dan lakukan Salsa tadi di kamarnya.

Rani pun marah mendengar laporan pelayan itu, dia berdiri dari kursinya dan pergi keluar mencari Salsa.

1
💝F&N💝
lanjut.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
💝F&N💝
ini kapan up lagi
paijo londo
thor mampir kyaknya seru nih🤭🤭
💝F&N💝
up lagi
💝F&N💝
good👍👍👍👍👍 aku suka alurnya.
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍
Sahabat Oleng
aku mampir thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!