NovelToon NovelToon
Pergi Sakit Bertahan Sulit

Pergi Sakit Bertahan Sulit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?

Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.

"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya

Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 08

Suasana di dalam bus pariwisata itu sangat ramai dan meriah. Lampu-lampu kota mulai terlihat indah lewat kaca jendela saat bus mulai melaju meninggalkan stasiun. Aroma parfum dan camilan memenuhi ruangan.

Aletta, Tamara, dan Ruby beruntung bisa mendapatkan tempat duduk yang bersebelahan di barisan tengah yang cukup lega.

"Yeyyy akhirnya jalan juga!!" seru Aletta sambil meregangkan tangannya. Dia langsung memakai bantal leher pemberian Meldi dan menyelimuti kakinya dengan selimut kecil yang sama. Rasanya empuk dan hangat banget.

"Wih cakep banget tuh bantal Al, baru beli ya?" tanya Tamara sambil memperhatikan.

"Ih apaan sih, ini hadiah dari Jonathan tadi," jawab Aletta sedikit tersipu, senyumnya tidak bisa ditahan. "Dia baik banget ya gak?"

"Halah, perhatian banget sih si Jo sama loh. Sampe beliin segalanya," ledek Tamara sambil mencubit pelan lengan Aletta, meskipun di dalam hati dia masih mikirin Dilan yang mungkin lagi cemberut di bus lain atau di belakang mereka.

"Bilang aja loh sirik kan gara gara gak di beliin juga sama Candra" Ucap Aletta membalas kedepannya.

"Apaan sih gue gak suka yah sama dia" Ucap Tamara memalingkan wajahnya ke jendela bus.

Mereka bertiga pun asyik membuka bungkusan makanan yang dibawakan oleh Yuda tadi. Banyak banget camilan enak, buah, sampai roti-roti.

"Ternyata keluarga Jonathan baik banget ya," komentar Ruby sambil mengambil sebuah apel. "Terus gimana perasaan loh sekarang Al? Loh jadi suka gak sama dia?"

Aletta terdiam sejenak, pipinya memerah. "Jujur... gue jadi nyaman banget ada dia. Dia perhatian, lembut, dan keluarganya juga baik. Gue... gue mulai suka lah sama dia. Rasanya tenang aja kalau sama dia."

"Wahh maju terus Al!" seru Tamara mencoba ikut senang demi sahabatnya, meski hatinya sedikit perih mengingat Dilan.

Tiba-tiba Ruby menutup mulutnya, terlihat gelisah tapi senyum-senyum sendiri. Dia memainkan ujung jilbabnya dengan malu-malu.

"Eh guys... gue ada cerita penting nih..." bisik Ruby pelan, matanya berbinar-binar.

"Cerita apa Rub? Cepetan ceritain!" desak Aletta penasaran.

Ruby menarik napas panjang, lalu berteriak kecil menahan senang.

"GUE SAMA KAK ANWAR UDAH JADIAN!!!"

Brak!!

Aletta dan Tamara langsung kaget dan langsung memekik senang. Mereka berdua langsung memeluk Ruby erat-erat.

"HAH?! SERIUSSS?!! Yeyyy ALHAMDULILLAH!!" teriak mereka berdua kompak, sampai bikin penumpang di depan menoleh ke belakang.

"Kapan?! Kok bisa?! Ceritain dong detailnya Rub!" tanya Aletta heboh, rasa kantuknya langsung hilang.

"Iya tadi malem!" cerita Ruby dengan wajah bersemu merah.

"Dia nembak gue pas kita mau berangkat ke Jogja. Dia bilang dia udah suka lama sama gue, dan dia janji bakal jaga gue. Gue... gue iyain dong Al! Akhirnya gue punya pacar juga!"

"YA AMPUN BAHAGIA BANGET DAH!" seru Tamara ikut senang.

"Akhirnya Ruby yang selama ini cuek bebek sekarang udah punya someone special! Kak Anwar itu baik kok Ruby, dia sopan dan rajin.

" Makasih yah kalian semua, gue do'ain juga deh buat kalian berdua semoga cepet punya pacar biar kita bisa Triple date ya kan" Ucap Ruby dan di anggukan oleh mereka berdua.

Sepertinya mereka sedang menghayal tentang menghabiskan waktu bersama sama dan pacar mereka nantinya pasti sangat menyenangkan.

Tak buat waktu lama mereka pun sampai di res area lalu mereka turun dan mandi di wc umur.

Setelah mereka mandi tak lupa mereka sarapan ditempatnya yang sudah disediakan berbagai makanan yang bisa ambil sepuasnya.

Aletta tengah mencari tempat duduk yang kosong sampai pada akhirnya Dilan melambaikan tangan kepadanya, jujur saja dia sedang menghindarinya tetapi tak ada pilihan lain karena kursi sudah terisi penuh dan Aletta duduk di samping Dilan.

"Makan yang banyak jangan sampai sakit" Ucap Dilan memberikan sayur kepada Aletta tentu saja Aletta tidak menyukai sayur dan mau tak mau dia harus memakannya.

Setelah mereka selesai makan perjalanan pertama mereka pun di mulai dan singgah di kawasan Malioboro dan pusat oleh-oleh. Suasananya sangat ramai, hangat, dan penuh warna. Mereka berkeliling melihat-lihat kerajinan tangan, batik, hingga aksesoris cantik khas Jogja.

Aletta, Tamara, dan Ruby asyik memilih-milih gelang manik-manik yang lucu-lucu. Tiba-tiba, Dilan muncul di belakang mereka. Dia membawa beberapa kantong belanjaan, lalu mendekati Aletta.

"Al, sini," panggil Dilan pelan.

Dilan mengulurkan tangan, memberikan sebuah gelang kayu ukir yang sangat cantik dan unik. Warnanya hitam mengkilap dengan ukiran nama "Aletta" yang halus.

"Ini buat loh. Cendera mata. Biar inget sama gue terus," ucap Dilan sambil memasangkan gelang itu di pergelangan tangan Aletta dengan lembut.

Aletta tersenyum senang, "Makasih ya Dilan... bagus banget."

Tapi kemudian Aletta menoleh ke arah Tamara dan Ruby yang sedang memperhatikan mereka dengan senyum kecut. Hati Aletta tergerak, dia tidak mau sahabatnya merasa dikucilkan atau sedih.

"Eh Dilan... boleh minta tolong gak?" tanya Aletta manja.

"Apa?"

"Beliin juga dong buat Tamara sama Ruby. Kasihan mereka gak dapat. Kita kan bertiga sahabat baik," pinta Aletta sambil memelas menatap Dilan.

Dilan mendengus kesal, sebenarnya dia cuma mau kasih ke Aletta doang. Tapi melihat tatapan memohon Aletta, akhirnya dia luluh juga.

"Yaaah... iya deh!" gerutu Dilan tapi tetap berjalan ke penjual lagi dan membelikan gelang yang senada untuk Tamara dan Ruby.

"Nah ini buat kalian, udah jangan pada bete gitu gue juga ingat kok sama kalian" ucap Dilan singkat.

"Makasih banyak Dilan!! Aku akan jaga baik-baik gelang ini" Tamara senang. Tamara memegang gelang itu erat-erat, setidaknya ada barang pemberian Dilan di tangannya juga.

"Eh kita juga beli baju kopel yuk" Ajak Ruby melihat baju kasi yang lucu lucu.

"Bagaimana kalau kita beli yang ini aja warna pink ada gambar candi Borobudur nya" Ucap Aletta merai baju yang tergantung di sisiNya.

"Bagus banget gue suka" Ucap Tamara semangat.

Mereka akhirnya membeli baju kopel dengan sangat riang Aletta bahagia sekali memiliki sahabat seperti mereka dia cuma bisa berharap senyum itu akan selalu ada bersamanya sampai kapanpun.

"Eh Al malah bengong itu mbak kasirnya ngasih uang kembalian tuh" Ucap Tamara menyadarkan lamunannya.

"Eh iya maaf yah mbak" Ucap Aletta mengambil kembaliannya dan pergi dari toko tersebut.

"Loh lagi mikirin apaan sih, dari tadi bengong terus" Ucap Tamara penasaran dan Ruby pun segera memperhatikan temannya itu karena memang dari tadi dia sibuk membalas pesan dari Anwar.

Aletta tersenyum kepada Tamara dan Ruby "gak kok gue cuma merasa bahagia aja punya kalian, gue harapan kita akan sama sama terus yah" Ucap Aletta antusias.

"Loh ngomong apaan sih Al emang kita mau ke mana kan kita bakal tumbuh bareng bareng sampai kapanpun... Iya kan Ruby" Ucap Tamara memeluk Aletta.

"Iya Al loh jangan mikir yang aneh aneh ah" Ucap Ruby menasehati.

Dia tau arah pembicaraan Aletta kemana pasti saat ini dia sedang mencemaskan hubungannya dengan Tamara dan Dilan.

Tour get yang membimbing mereka sudah memberikan arahan untuk pergi ke tempat yang lainnya.

Dan merek pun ikut dengan rombongan yang lain karena takut tertinggal karena terlalu dalam kesedihan.

Selanjutnya mereka akan pergi ke Museum dan Taman Pintar. Tempatnya luas, berkelok-kelok, dan penuh dengan wahana edukasi.

Saat asyik melihat-lihat koleksi museum, tiba-tiba Dilan menarik tangan Aletta pelan namun kuat.

"Ikut gue," bisik Dilan.

"Lah kemana? Tamara sama Ruby gimana?" tanya Aletta kaget.

"Biarin mereka jalan sendiri. Gue mau ngobrol bentar sama loh," jawab Dilan santai tapi memaksa.

Dilan dengan sigap memisahkan Aletta dari kerumunan dan dari kedua sahabatnya. Dia mengajak Aletta ke sudut taman yang lebih sepi dan teduh di area Taman Pintar.

"Heh loh ngapain sih culik gue? Nanti mereka nyariin, kalau kita hilang gimana" protes Aletta mencari cari rombongan yang lainnya

"Gue kangen... dari tadi loh sibuk sama Meldi sama yang lain. Gue pengen waktu berdua dikit aja sama loh gak boleh?" jawab Dilan menatap Aletta dalam.

"Sorry yah gue bukan lupa sama loh tapi gue gak enak sama Tamara, gue pikir mending kita jangan nunjukin kedekatan kita di sekolah" Ucap Aletta ikut duduk bersama dengan Dilan.

"Ya udah gak papa gue maafin, mending kita cari es krim yuk" Ajak Dilan menarik tangan Aletta sebelum dia ngomong apapun.

Dilan sedang memesan es krim sedangkan Aletta tentang duduk menikmati pemandangan candi Borobudur yang indah.

"Nih es krim nya" Ucap Dilan memberikan eskrim stoberi kesukaannya Aletta sejak kecil.

"Makasih yah" Ucap Aletta dia memakan es krim nya perlahan sambil menikmati keindahan alam disambut dengan sejuknya angin yang mengayunkan rambutnya.

"Mau gue foto gak" Ucap Dilan membuyarkan lamunannya Aletta.

Tentu saja dia mau karena memang hasil karya Dilan sangat bagus dalam memotret makanya dia tidak melewatkan kesempatan ini.

Aletta mengeluarkan gaya posenya yang terbaik karena memang kapan lagi dia bisa ketempat seindah ini.

"Dilan foto bareng yuk masa gue mulu sih yang loh foto" Ucap Aletta mengajaknya karena tak enak dari tadi hanya dia yang di potret.

Mereka bergaya dengan sangat manis, Dilan merangkul Aletta dengan penuh sayang dan Aletta menampilkan senyum terbaiknya.

"Gue kirim ke bunda yah" Ucap Dilan sangat senang telah menghabiskan waktu dengan Aletta.

"Boleh dong sekalian aja video call" Ucap Aletta antusias, Aletta belum pernah merasa seseneng ini bersama Dilan tanpa beban.

Biasanya dia selalu memikirkan Tamara yang akan cemburu ketika dia bersama Dilan, rasa Aletta ingin kembali lagi ke masa masa dia selalu menghabiskan waktu bersama dengan Dilan.

Jantung Aletta berdegup kencang. Di tempat asing ini, rasanya kedekatan mereka makin terasa. Mereka menghabiskan waktu berdua, tertawa, dan mengobrol sampai lupa waktu.

"Gak di angkat Al mungkin Bunda lagi keluar, tapi tentang aja gue. Udah kirim kok fotonya" Ucap Dilan.

"Iya deh gak papa, eh lan loh tanya teman loh dong lagi pada di mana gue takut mereka nyariin kita" Ucap Aletta

"Udah kok, mereka lagi pada di mesjid, mau ke sana sekarang" Tanya Dilan karena tak mau menahannya terlalu lama karena memang dia tidak mau yang lainnya menyadari keberadaannya yang hilang.

"Yuk kita pergi" Ucap Aletta menggandeng tangan Dilan tanpa sadar dan Dilan pun menggenggamnya dengan erat seakan tak ingin melepaskannya

Sementara Tamara dan Ruby akhirnya mencari tapi cuma bisa geleng-geleng kepala tahu kalau mereka pasti lagi berduaan.

"Udah lah Ruby, mungkin sekarang Aletta sedang bersama dengan Dilan, loh gak usah khawatir" Ucap Tamara menenangkan Ruby karena memang Ruby yang diberi kepercayaan oleh puspa dan Baskara untuk menjaga Aletta.

"Nah tuh Aletta" Ucap Tamara menunjuk Aletta yang sedang mengobrol dengan Erik dan Diego.

Sedangkan Dilan dia sedang melakukan ibadah soal dhuhur karena Aletta sedang datang bulan dia hanya menunggunya di luar.

"Kalian kemana aja sih kok ninggalin gue, untung aja ada Erik sama Diego" Ucap Aletta menghampiri mereka.

"Yang harusnya nanya tuh kita tahu, loh tiba-tiba aja hilang di taman Pintar" Ucap Ruby kali ini dia seperti mengomeli adiknya sendiri.

"Dia berdiri sendirian di akuarium trus gue ajak deh, kayanya kalian gak sadar deh" Ucap Erik membantu menutupi Aletta yang sudah jalan dengan Dilan.

Sedangkan Diego hanya diam saja karena memang dia juga tidak tahu apa apa dan melihat Aletta sedang bersama dengan Erik.

"Iya loh sih sibuk sama handphone loh, dan Tamara sibuk sama selfienya gue bingung karena langkah gue lambat jadi ketinggalan.... Gue panggil panggil malah gak ada yang dengar" Ucap Aletta kesal.

"Iya deh iya kita minta maaf, kita pegangan tangan aja yah biar gak ke pisah lagi" Ucap Tamara memegang tangan Aletta.

Mereka pun pergi meninggalkan Erik karena tadi Diego pamit mau beli air minum dulu.

"Thank yah berkata loh gue jadi punya momen bareng Aletta walaupun cuma sebesar" Ucap Dilan berdiri dibelakang Erik menyaksikan kepergian Aletta bersama teman-temannya.

"Yah santai aja, kapan pun loh butuh gue, pasti gue bantu" Ucap Erik merangkul Dilan.

Erik merasa senang melihat kawannya sekarang sudah tidak sedih lagi, dia tahu ini berat tapi kisah cinta Dilan dan Aletta memang sangat rumit.

Sore harinya, mereka mengunjungi Candi Prambanan yang megah dan indah. Matahari mulai terbenam, memberikan warna oranye cantik di langit, membuat latar belakang foto mereka jadi sangat estetik.

"Guys sini sini! Kita foto bertiga dong!" ajak Aletta semangat.

"Biar gue bantu foto yah" Ucap Dilan bersih mengambil kamera kesayangannya.

"Boleh foto yang bagus yah" Ucap Aletta sangat antusias.

Tamara sedikit gugup karena akan difoto oleh Dilan tetapi dia berusaha untuk tetap tenang dan menghilangkan kegugupan nya.

Aletta, Tamara, dan Ruby pun berpose cantik di depan candi yang megah itu. Mereka saling bergandengan tangan, tersenyum lebar mengabadikan momen indah persahabatan mereka.

"Senyum... Cheeeese!" teriak Dilan yang sukarela jadi fotografer dadakan.

KLIK!

Hasil fotonya bagus banget. Tiga sahabat yang cantik di depan candi yang megah. Momen yang bakal mereka ingat selamanya.

"Sini gue lihat foto nya" Ucap Aletta merebut kamera Dilan dan dia berikan dengan senang hati.

"Kalau lagi di foto tuh rileks aja jangan tegang" Ucap Dilan kepada Tamara, sedangkan Aletta dan Ruby sibuk melihat lihat hasil foto mereka.

"Iiiya" Ucap Tamara gugup, ingin sekali dia berbicara banyak hal tetapi rasanya sangat susah, lidahnya tiba-tiba terkucil begitu saja.

Hari yang panjang dan banyak berjalan akhirnya membuat fisik mereka menurun. Aletta memang dari tadi sudah terlihat agak lesu, apalagi kondisinya belum terlalu fit setelah kejadian sakitnya Dilan dan drama sebelumnya.

"Hah... capek banget ya guys..." keluh Aletta sambil memegang pinggangnya, kakinya terasa berat dan pegal.

Belum sempat Aletta duduk, Dilan sudah langsung sigap.

"Sini gue bawa tasnya!" Dilan langsung menyambar tas ransel berat yang ada di punggung Aletta dan memanggulnya sendiri di bahunya, ditambah tasnya sendiri.

"Lo duduk sini! Jangan banyak jalan dulu!" Dilan menarik tangan Aletta lalu mendudukkannya di bangku taman dengan hati-hati. Dia bahkan mengelap keringat di dahi Aletta dengan tisu, lalu memberikan minum dan membukakan tutup botolnya untuk Aletta.

"Minum dulu... jangan dipaksa jalan terus kalau capek. Denger gue gak?" omel Dilan tapi nada suaranya penuh perhatian dan sayang banget.

Semua perlakuan manis itu terekam jelas oleh mata Tamara yang berdiri tidak jauh dari situ. Hati Tamara terasa perih sekali.

"Gue suka sama loh Dilan, apakah gue bisa seperti Aletta yang loh perlakuan dengan sangat baik dan penuh perhatian"

Tamara tersenyum menyaksikan kedekatan mereka berdua, bukan ini bukan rasa kebahagiaan tetapi di mana Tamara tidak akan mendapatkan ke sampean untuk Dilan. Dia membuang nafasnya kasar, Ruby yang melihatnya hanya bisa mengelus punggung Tamara pelan sebagai tanda simpati.

Malam harinya, mereka sampai di Hotel tempat menginap. Suasana sedikit ramai saat guru sedang mengumumkan pembagian kamar satu per satu.

"Baik anak-anak, sekarang saya bacakan pembagian kamarnya. Kamar nomor 1 diisi oleh..."

Aletta berdiri di antara Tamara dan Ruby. Kepalanya terasa pusing berputar, pandangannya mulai kabur. Udara di dalam lobi terasa pengap dan panas. Dia mencoba bertahan, tapi rasa lelah dan kurang istirahat akhirnya menguasai tubuhnya.

"...dan Kamar nomor 5, Aletta, Tamara, Ruby..."

Begitu nama mereka disebut, Aletta baru saja ingin mengangkat tangan, tapi tiba-tiba...

"Ugh..."

"ALETTA?!!"

Tanpa aba-aba, tubuh Aletta lemas dan langsung ambruk ke depan. Matanya terpejam, pingsan tak sadarkan diri.

"ALETTA!!" teriak Tamara dan Ruby panik setengah mati.

Refleks paling cepat datang dari Dilan. Dalam sekejap mata, Dilan langsung menangkap tubuh Aletta sebelum membentur lantai keras.

"AL! HEY ALETTA! SADAR AL!" teriak Dilan panik, wajahnya pucat pasi dan suaranya bergetar hebat. Dia menggendong tubuh Aletta yang lemas itu dengan panik. "DOKTER! SIAPA YANG BAWA P3K! CEPETAN!"

Suasana lobi hotel langsung ricuh dan panik. Dilan memeluk tubuh dingin Aletta, rasa takut yang luar biasa menyelimuti hatinya.

~back to continuous~

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!