NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Pelakor / Tamat
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.

Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~

Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.

Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.

Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.

Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.

Rana tahu.

Rana melihat.

Ia menyadari.

Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.

Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?

Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26

Selamat membaca
please komen, subscribe, vote, dan like🫶

°°°°°

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pucuk 9

Malam turun dengan tenang di kawasan Hyarta residence, Yogyakarta. Lampu-lampu taman menyala temaram, memantul halus di kaca jendela rumah besar bergaya klasik modern milik keluarga Dipta. Mobilnya berhenti pelan di halaman, mesin dimatikan, dan untuk sesaat ia hanya duduk diam di balik kemudi, menghela napas panjang setelah hari yang padat, pertemuan panjang dengan Pak Tobing soal persiapan sidang Laras di Jakarta.

Begitu pintu rumah terbuka, kelelahan itu seolah luruh begitu saja.

Aroma masakan hangat langsung menyambutnya, harum tumisan bawang putih bercampur kaldu yang lembut, mungkin sup ayam kesukaan anak-anak, dan sedikit wangi mentega dari dapur. Aroma yang selalu sama, selalu ada, seperti rumah itu sendiri: tenang, hidup, dan menunggu.

Dipta melangkah masuk, melepas sepatu kulitnya di dekat pintu. Dari dalam, suara televisi terdengar pelan- acara anak-anak dengan tawa ceria dan lagu yang mudah diingat. Jam di dinding menunjukkan pukul enam lewat empat puluh lima menit.

Belum sempat ia memanggil, langkah-langkah kecil berlari menghampirinya.

"Ayah pulang!"

Alaric lebih dulu datang, dengan langkah cepat khas anak lima tahun yang penuh semangat. Disusul Masayu di belakangnya, lebih kecil, tapi tak kalah antusias, kedua tangannya terangkat seolah ingin segera digendong.

Dipta tersenyum, senyum yang berbeda dari yang ia kenakan di luar rumah.

Ia berjongkok, membuka kedua tangannya, dan dalam sekejap dua tubuh kecil itu sudah menabraknya. Alaric memeluk lehernya, sementara Masayu memeluk pinggangnya dengan erat.

"Kangen ayah..." gumam Masayu dengan suara lembutnya.

Dipta mengusap rambut putrinya, lalu mengecup pelan puncak kepala Alaric. "Ayah juga kangen."

Suasana itu sederhana, tapi hangatnya terasa utuh, seolah dunia luar sana tak pernah benar-benar masuk kedalam rumah ini.

Dari arah dapur, sosok Rana muncul. Ia tidak terburu-buru, hanya berdiri sejenak di ambang ruang makan, memperhatikan pemandangan di hadapannya. Rambutnya di ikat sederhana, mengenakan pakaian rapi, tanpa kesan berlebihan- namun justru di situlah letak keanggunannya.

Perempuan dari keluarga priyayi itu bisa saja memilih hidup yang lebih praktis, menyerahkan segalanya pada asisten rumah tangga. Tapi tidak. Ia memilih hadir- secara utuh, untuk rumah ini.

Untuk anak-anaknya.

Untuk suaminya.

"Cuci tangan dulu," ucap Rana pada akhirnya, suaranya tenang namun hangat, seperti biasanya.

Alaric langsung mengangguk patuh. "Ayo, Ayu!" katanya, menarik tangan adiknya.

Masayu sempat menoleh lagi ke arah Dipta, seolah berat melepas pelukan, sebelum akhirnya ikut berlari berlari kecil bersama kakaknya menuju wastafel.

Dipta berdiri, pandangannya beralih ke arah Rana. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap- tidak canggung, tidak juga terlalu dramatis. Hanya...cukup.

"Baru pulang?" tanya Rana pelan.

Dipta mengangguk. "Iya. Dari Pak Tobing."

Rana tidak langsung bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk kecil, seolah memahami bahwa pembicaraan itu bisa menunggu.

"Makan malam udah siap."

Kalimat sederhana, tapi cara ia mengatakannya membuat terasa seperti sesuatu yang lebih bersar, sebuah kepastian bahwa, apapun yang terjadi di luar sana, di rumah ini semuanya tetap berjalan dengan tenang.

Dipta melangkah mendekat. Tangannya terulur, secara refleks merapikan helaian rambut Rana yang sedikit terlepas dari ikatannya. Gerakan kecil yang dulu mungkin tak pernah ia lakukan.

"Capek, ya?" tanya Rana.

"Lumayan," jawab Dipta jujur. Lalu, setelah jeda singkat, ia menambahkan. "Tapi pulang ke rumah...cukup."

Rana tersenyum tipis. Tak berlebihan, tapi cukup untuk menghangatkan suasana.

Dari ruang makan, suara Alaric terdengar, "bunda! Sabunya habis!"

Rana langsung berbalik. "Tunggu. Bunda ambilkan."

Masayu terkikik kecil, entah karena apa, suaranya mengisi rumah itu dengan riang yang ringan.

Dipta berdiri di sana sejenak, memperhatikan semuanya, anak-anaknya yang sehat dan ceria, suara televisi yang masih menyala, aroma masakan yang semakin kuat, dan sosok istrinya yang bergerak sigap di antara semuanya.

Sederhana.

Tapi justru itu yang membuatnya terasa sempurna.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah itu tidak hanya terlihat utuh.

Ia benar-benar terasa utuh.

~

Malam semakin larut, ketika jam dinding menunjukkan pukul setengah sepuluh. Rumah yang tadi riuh kini berubah tenang. Suara televisi sudah dimatikan, lampu-lampu utama diredupkan, menyisakan suasana hangat yang nyaman.

Di kamar anak-anak, Rana baru saja merapikan selimut Masayu yang sedikit bergeser. Gadis kecil itu tertidur pulas, napasnya teratur. Sementara di ranjang sebelah, Alaric sudah lebih dulu terlelap, satu tangannya masih memeluk boneka kesayangannya.

Rana mengamati keduanya sejenak, pandangan yang selalu sama setiap malam, penuh rasa lega dan syukur. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, ia mematikan lampu kamar anak-anak dan menutup pintu perlahan.

Langkahnya ringan saat berjalan menuju kamar utama.

Begitu pintu dibuka, ia mendapati Dipta belum tidur. Pria itu bersandar di kepala ranjang, lampu tidur menyala temaram, wajahnya diterangi cahaya layar ponsel. jemarinya bergerak cepat, seolah sedang membalas sesuatu yang cukup penting.

Rana menutup pintu pelan, lalu berjalan mendekat.

"Masih kerja?" tanyanya lembut, sambil melepas jepit rambutnya.

Dipta menoleh. Untuk sesaat, ekspresinya tampak kaku, sebelum pada akhirnya tersenyum tipis. "Nggak. Teman...lagi tanya soal sidang perceraian."

"Perceraian?" Rana sedikit mengernyit, tertarik tanpa bisa menahan penasaran. "Kenapa memang-"

"Cuma tanya-tanya biasa," potong Dipta halus, nadanya tidak keras, tapi cukup jelas untuk menghentikan arah pembicaraan. Ia lalu mematikan layar ponselnya dan meletakkannya di atas nakas.

Rana menangkap perubahan itu. Ia tidak melanjutkan pertanyaannya. Hanya mengangguk kecil, memilih diam.

"Udah sini," ujar Dipta kemudian, menepuk pelan sisi ranjang di sebelahnya. "Tidur."

Rana menurut. Ia naik ke ranjang, menarik selimut lalu berbaring membelakangi lampu. Belum sempat ia benar-benar memejamkan mata, sebuah tangan sudah melingkar di pinggangnya.

Dipta menariknya mendekat.

Seperti sepasang suami istri pada umumnya- sederhana, tapi terasa begitu dekat.

Rana sedikit terkejut, tapi tidak menolak. Tubuhnya menyesuaikan, punggungnya bersandar pada dada bidang suaminya. Hangat.

Namun kemudian, suara pelan Dipta terdengar di dekat telinganya.

"Kamu bau."

Rana langsung membuka mata. Ia berbalik cepat, menatap wajah suaminya dengan kaget. "Hah? Bau?"

Ekspresinya berubah serius. Tanpa sadar, ia mencium bahunya sendiri, lalu pergelangan tangannya, seolah benar-benar memastikan.

Gerakan itu justru membuat Dipta terkekeh kecil.

Rana menatapnya lagi, sedikit kesal. "Serius, Mas. Bau apa nggak?"

Dipta tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya ke leher Rana, menarik napas pelan.

"Aroma kamu," ujarnya akhirnya, suaranya rendah. "Yang ini."

Rana terdiam sesaat, menyadari maksudnya. Wajahnya memerah tipis.

Belum sempat ia membalas, Dipta sudah kembali memeluknya, kali ini lebih erat. Tangannya menahan tubuh Rana agar tetap dekat, seolah tidak ingin memberi jarak sedikit pun.

Suasana menjadi lebih hening, tapi justru terasa lebih hidup.

Perlahan, tanpa banyak kata, kedekatan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Gerakan mereka tetap pelan, hati-hati, seolah tidak ingin merusak ketenangan malam. Ada kehangatan yang mengalir, rasa rindu yang tanpa disadari terjawab.

Namun tepat ketika momen itu mulai terasa semakin utuh, ponsel Dipta berdering.

Suara nyaring itu memecah keheningan dengan tiba-tiba.

Dipta terdiam sesaat, napasnya tertahan. Rana juga berhenti, refleks menoleh ke arah suara.

Layar ponsel yang tadi ia letakkan kini menyala.

Nama yang tertera di sana jelas.

Laras.

Rana memilih diam. Ia tidak mendekati, dan tidak juga melihat lebih jelas.

Pandangannya hanya sekilas, lalu menarik diri perlahan, merapikan piyamanya, memberikan ruang.

Dalam pikirannya, itu hanyalah salah satu panggilan terkait pekerjaan.

Sementara di sisi lain, Dipta masih menatap layar ponselnya, ekspresinya berubah, tidak lagi setenang beberapa detik lalu.

Dipta meraih ponselnya, menelan ludah seraya menoleh ke arah istrinya. "Mas, angkat teleponnya dulu."

Rana mengangguk, "iya."

Perlahan Dipta bangkit, turun dari ranjangnya sembari mengancingkan piyamanya dan keluar dari kamar meninggalkan Rana yang menatap punggung suaminya.

...****************...

Bersambung...

1
Gemuruh riuh
akhirnya happy ending 😍
Gemuruh riuh
pelakor pelakor😄
Gemuruh riuh
idih si najis
Gemuruh riuh
Laras laras🤣
Gemuruh riuh
bab ini dikit banget
Gemuruh riuh
untung belum sempat hujat Mas Dipta 😭
Ma Em
Akhirnya Rana bahagia dgn Dipta setelah melalui banyak cobaan yg menimpa rumah tangganya , dan Laras serta Bram menuai hasil yg dia tanam sekarang Laras dan Bram dapat hukum penjara karena sdh menyebarkan fitnah dan melakukan kecurangan , yg berbuat baik berakhir dgn kebahagiaan dan yg selalu berbuat jahat seperti Laras dan Bram berakhir dihotel prodeo.
Ma Em
Rana langsung saja terima permintaan maaf Dipta hrs biar saja dulu agar Dipta benar2 menyesal dan tdk akan mengulang lagi .
Ma Em
Dipta tdk cinta sama Laras tapi dia bilang menyesal dan mau menebusnya pada Laras dan bilang pada Laras bahwa Dipta tdk mencintai Rana .
Gemuruh riuh
hadeuh, aku jdi penasaran
mama
tau km dipta,buka mata mu lebar2 klu km itu jdi brebgsek semenjak laras muncul.. klu rana yg deket sm arsen aj km lngsung emosi.. to klu km jln dan dekat sm laras okee2 aj gituuuu. enk bner km mau menang sendiri.suami macam dipta buang aj lah kering sampah kelaamaa n km rana..jgn hanya demi ank2 sakit hati trs.. ank2 klu dijlsn pelan ngerti lah
Ma Em
Rana tdk usah dipertahankan lagi Dipta untuk apa pertahankan kamu hanya untuk disakiti .
Ma Em
Rumah tangga Rana dgn Dipta sepertinya malah semakin parah keributan terus saja berlanjut dan Laras semakin berani terang2 an untuk melawan Rana .
Gemuruh riuh
di tunggu thor
ana
lanjut thor
Gemuruh riuh
sebenarnya Dipta ini selingkuh gak sih sama si Laras?
Gemuruh riuh
duh apa nih
mama
kelaaam km rana,mau ngancurin suami dan jalang ny aj lamaa amat,harusnya sat set🤣
Ma Em
mungkin yg asli yg dipake Laras yg imitasi yg ada dirumah agar Rana tdk curiga .
Gemuruh riuh
gara-gara pelakor Laras
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!