Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Mark Smith—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di Universitas of Oxford tanpa sedikit pun memberi kabar.
Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Mark pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Mark bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.
Mark tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Babi Kecil di Ruangan CEO
Rapat lanjutan sore itu terasa lebih singkat bagi Mark. Pikirannya tidak fokus pada grafik saham, melainkan pada gadis kacamata yang ia tinggalkan di ruangannya. Begitu rapat selesai dengan keputusan yang memuaskan (atau lebih tepatnya, karena Mark ingin cepat-cepat kembali), ia melangkah lebar menuju ruang pribadinya.
Ceklek.
Mark tertegun. Di sofa kulit panjang miliknya, Sheena sudah terkapar pulas. Tas ranselnya yang berat tergeletak di lantai, sementara jurnal medis tebalnya menutupi perutnya. Kacamata bulatnya sudah miring, hampir jatuh ke hidung.
"Benar-benar... dia pikir ini kamarnya apa?" Gumam Mark, geleng-geleng kepala.
Mark melirik kotak bekal di meja. Aroma dimsum itu sangat menggoda. Ia mengambil sepasang sumpit dan mulai mencicipinya. Sheena tahu betul cara memanjakan lidah; dimsumnya lembut dan gurih. Mark sengaja menjauhkan chili oil yang terlihat membara itu karena lambungnya yang sensitif, lalu memilih mencocolnya ke saus mentai keju yang creamy.
"Enak," bisiknya singkat. Dalam sekejap, kotak itu kosong melompong.
Merasa kenyang dan sedikit usil karena merasa "diremehkan" oleh istri yang malah tidur saat suaminya bekerja, Mark melihat sebuah spidol permanent kecil di meja kerjanya. Seringai nakal muncul di wajah dinginnya.
Sambil menahan napas agar tidak membangunkan Sheena, Mark mendekat. Perlahan, ia membuka tutup spidol itu.
Sret... sret...
Ia menggambar bingkai kacamata tambahan di sekitar mata Sheena, lalu menambahkan kumis kucing tipis di pipi kanan dan kiri gadis itu.
"Ini hukuman karena kamu sudah berani tidur di wilayah kekuasaanku," bisik Mark pelan sambil menahan tawa yang hampir pecah.
Langit Makati mulai berubah jingga, matahari sore menembus kaca jendela besar, memberikan efek cahaya keemasan pada wajah Sheena. Mark yang tadi ingin kembali bekerja, malah berakhir jongkok tepat di depan sofa.
Ia memperhatikan lekat-lekat wajah Sheena. Tanpa kacamata yang menutupi (karena sudah ia lepaskan pelan-pelan tadi), bulu mata Sheena terlihat panjang dan lentik. Bibirnya yang mungil bergerak kecil seolah sedang mengunyah sesuatu di dalam mimpi.
Entah dorongan dari mana, Mark mengulurkan telunjuknya yang panjang, lalu menusuk-nusuk pipi gembul Sheena dengan gemas.
"Hei, bangun. Apakah kamu ini babi kecil, hah?" Panggil Mark dengan suara rendah yang serak. "Sudah sore, Babi Kecil. Ayo bangun."
Sheena melenguh kecil. Ia merasa pipinya seperti ditekan-tekan oleh sesuatu yang keras tapi hangat. Matanya yang sleepy eyes terbuka perlahan, mengerjap-ngerjap berusaha menyesuaikan cahaya sore. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Mark yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.
"Tiang... Gapura?" Gumam Sheena, suaranya masih serak khas orang bangun tidur.
Mark langsung berdiri tegak, berusaha memasang kembali wajah datarnya seolah tidak terjadi apa-apa. "Akhirnya bangun juga. Aku hampir memanggil petugas keamanan untuk mengangkutmu keluar karena kusangka kau sudah mati."
Sheena duduk sambil mengucek matanya, tidak sadar ada mahakarya spidol di wajahnya. "Enak saja! Aku mengantuk karena semalam tidak bisa tidur gara-gara seseorang yang menjadikanku bantal!"
Mark berdehem keras, menyembunyikan rasa malunya. "Dimsumnya sudah habis. Lumayan untuk ukuran amatir. Sekarang ayo pulang, aku tidak ingin lembur hanya untuk menjagamu tidur."
Sheena berdiri, menyampirkan tasnya. "Sama-sama! Dasar tidak tahu terima kasih!"
Ia melangkah keluar ruangan dengan kepala tegak, melewati Rei dan para staf kantor yang mendadak diam seribu bahasa saat melihat wajah Nyonya mereka. Mereka bukannya ingin tertawa malah langsung menunduk takut,–takut dipecat oleh Mark yang berjalan di belakang Sheena dengan wajah seserius mungkin, padahal hatinya sedang tertawa puas.