NovelToon NovelToon
Di Jual Kepada Mafia Rusia

Di Jual Kepada Mafia Rusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

"Sepuluh tahun lalu, ayahku menjualku. Dan malam ini, sang pembeli datang menjemputku."
Alana mengira hidupnya sempurna, sampai ia diseret ke Rusia oleh Alexei Dragunov seorang Tsar mafia yang dingin dan berbahaya. Alana bukan datang sebagai pengantin, melainkan sebagai aset yang telah dibayar lunas oleh Alexei untuk menutupi hutang ayahnya.
Di tengah badai salju Saint Petersburg, Alana terjebak di antara dua pria paling berkuasa, Ayah kandung yang menjadikannya barang dagangan, dan suami mafia yang menjadikannya tawanan obsesi.
Saat rahasia darahnya mulai terungkap, Alana menyadari, Di dunia Alexei, tidak ada jalan keluar. Ia harus memilih, hancur sebagai korban, atau bangkit menjadi Ratu di samping sang iblis.

"Kau adalah milikku, Alana. Hidup atau mati, kau tetap dalam genggamanku."
-Alexei Dragunov-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. KELAHIRAN SANG MAWAR HITAM

Kehancuran memiliki suara yang sunyi. Bagi Alana, suara itu adalah detak jantung Alexei yang stabil saat pria itu memeluknya di gudang Helsinki semalam. Pagi ini, Alana terbangun bukan sebagai putri Wira Naratama yang malang, melainkan sebagai wanita yang telah membakar jembatan menuju masa lalunya.

​Ia berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Matanya sembab, namun ada sesuatu yang berbeda di sana, sebuah binar yang redup namun tajam, seperti bara api di balik tumpukan abu. Ia mengambil gunting kecil di atas meja rias, lalu dengan gerakan tanpa ragu, ia memotong sejumput rambut panjangnya yang berantakan, merapikannya menjadi potongan yang lebih tegas dan elegan.

​Cukup dengan air mata, Alana. Air mata tidak akan membangkitkan ibumu, dan air mata tidak akan menghukum ayahmu, batinnya dingin.

​Pintu kamar terbuka. Alexei masuk membawa nampan sarapan, sebuah gestur yang sangat tidak biasa bagi pria sekelas dia. Ia berhenti saat melihat Alana berdiri tegak dengan tatapan yang tidak lagi menghindari matanya.

​"Kau sudah bangun," ucap Alexei, suaranya mengandung nada kehati-hatian yang jarang terdengar. Ia meletakkan nampan itu dan mendekat, mencoba menyentuh pipi Alana.

​Kali ini, Alana tidak menghindar, namun ia juga tidak luluh. Ia membiarkan tangan Alexei menyentuhnya, namun matanya tetap sedingin es. "Aku ingin daftar aset keluarga Volskaya yang saat ini dikuasai oleh Vadim dan Sergei, Alexei."

​Alexei tertegun. Ia menarik tangannya kembali. "Kau baru saja mengalami malam yang mengerikan, Alana. Istirahatlah. Biarkan aku yang mengurus sisanya."

​"Tidak," potong Alana tajam. Ia berbalik sepenuhnya menghadap Alexei. "Kau bilang aku adalah kunci menuju kekuasaan itu. Kau bilang kau adalah pedangku. Sekarang, aku ingin memegang gagang pedang itu sendiri. Berikan aku data logistik, daftar informan di Rusia, dan akses ke rekening ibuku yang kau bekukan."

​Alexei menatap Alana dengan intensitas yang baru. Ada percikan kebanggaan di matanya, namun juga ada gurat kecemasan. Ia melihat Alana yang ia ciptakan sendiri, seorang predator yang kini mulai menunjukkan taringnya.

​"Kau yakin bisa menangani kegelapan ini, Milaya(sayang)?" tanya Alexei, suaranya merendah.

​"Kegelapan ini sudah ada di darahku sejak aku lahir, Alexei. Aku hanya baru menyadarinya sekarang," Alana melangkah maju, memperkecil jarak hingga ia bisa merasakan panas tubuh Alexei. Ia meletakkan tangannya di dada pria itu, tepat di atas jantungnya. "Kau ingin aku menjadi Ratu Volskaya, bukan? Maka berhentilah memperlakukanku seperti pajangan. Aku akan mengambil kembali apa yang menjadi hakku, dengan atau tanpamu."

​Alexei tersenyum, senyum yang benar-benar gelap dan penuh gairah. Ia meraih tengkuk Alana, menariknya hingga hidung mereka bersentuhan. "Kau tidak akan pernah melakukannya tanpaku, Alana. Karena hanya aku yang tahu seberapa besar api yang kau simpan di dalam sana."

​Minggu-minggu berikutnya di vila Inari berubah menjadi kamp pelatihan yang intens. Alana tidak lagi menghabiskan waktunya di perpustakaan untuk membaca, ia menghabiskan waktu di ruang bawah tanah, berlatih menembak dengan Mikhail sebagai instruktur atas perintah Alexei.

​Mikhail, yang awalnya skeptis, mulai melihat perubahan pada Alana. Gadis itu tidak pernah mengeluh meski bahunya biru lebam karena hentakan senjata. Alana belajar cara mencekik tanpa suara, cara membaca manifes kapal yang dipalsukan, dan cara mengenali racun dalam minuman.

​"Kenapa kau melakukan ini, Nona?" tanya Mikhail suatu sore saat mereka sedang membersihkan senjata. "Tuan Dragunov bisa memberimu segalanya tanpa kau harus mengotori tanganmu."

​Alana mengisi peluru ke dalam magazin dengan bunyi klik yang memuaskan. "Karena pria yang memberi segalanya juga bisa mengambil segalanya, Mikhail. Aku tidak ingin lagi menjadi orang yang kehilangan."

​Mikhail terdiam, ia melihat sekilas ke arah Alexei yang sedang memantau dari balkon atas. Di sana, Alexei menatap Alana dengan tatapan yang sangat kompleks. Alexei mencintai Alana dia mulai mengakui itu dalam hatinya namun dia juga mulai menyadari bahwa Alana yang sekarang adalah wanita yang suatu saat nanti mungkin akan mengarahkan senjata itu ke jantungnya sendiri jika ia melakukan kesalahan sedikit saja.

​Malam harinya, Alexei mengadakan jamuan kecil di vila untuk beberapa anggota dewan yang mulai goyah kesetiaannya pada Vadim Sokolov. Alana muncul dengan gaun hitam ketat yang menunjukkan lekuk tubuhnya, namun yang paling menonjol adalah auranya yang sangat dominan.

​Di tengah pembicaraan bisnis yang alot, Alana menyela dengan informasi yang membuat seluruh ruangan terdiam. "Vadim Sokolov telah kehilangan dukungan dari kartel di Belarus karena dia gagal membayar bunga pinjamannya bulan lalu. Jika kalian tetap bersamanya, kalian akan ikut tenggelam saat dia jatuh."

​"Bagaimana kau tahu itu, Nona?" tanya salah satu anggota dewan dengan nada ragu.

​Alana menyesap anggur merahnya perlahan. "Karena akulah yang membekukan aliran dananya melalui jalur pencucian uang di Siprus pagi ini."

​Seluruh mata tertuju pada Alexei, yang hanya mengangkat gelasnya dalam sebuah penghormatan tanpa kata. Alexei bangga, namun hatinya bergejolak. Alana telah melakukan langkah itu tanpa berkonsultasi dengannya. Alana mulai memiliki "suara" sendiri.

​Setelah para tamu pulang, Alexei menarik Alana ke ruang kerjanya. Suasana mendadak tegang.

​"Kau bergerak sendiri, Alana," ucap Alexei, suaranya mengandung peringatan. "Menutup jalur Siprus adalah langkah besar. Itu bisa memancing Vadim untuk menyerang kita secara langsung."

​"Memang itu tujuannya, Alexei," Alana duduk di kursi kebesaran Alexei, sebuah tindakan yang sangat berani. "Aku ingin dia menyerang. Aku ingin dia keluar dari lubangnya agar kita bisa menghabisinya sekali dan untuk selamanya. Kenapa? Kau takut?"

​Alexei tertawa getir, ia mendekati Alana dan mengurung wanita itu dengan kedua tangannya di sandaran kursi. "Aku tidak takut pada Vadim. Aku takut pada apa yang akan terjadi padamu jika kau terus membuang sisi kemanusiaanmu, Alana."

​Alana mendongak, matanya menatap tajam ke dalam mata Alexei. "Kemanusiaanku mati di gudang Helsinki bersama ayahku, Alexei. Jangan berpura-pura peduli pada jiwaku sekarang, setelah kau yang pertama kali merusaknya."

​Alexei terdiam. Ia melihat luka yang sangat dalam di balik ketangguhan Alana. Ia ingin memeluknya, ingin mengatakan bahwa ia mencintai Alana lebih dari kekuasaan mana pun, namun ia tahu Alana tidak akan mempercayainya. Alana telah membangun tembok yang lebih tebal dari salju Finlandia.

​"Aku akan mendukungmu," bisik Alexei akhirnya. "Tapi ingat satu hal, Alana. Jangan pernah mencoba mengkhianatiku. Karena jika kau melakukannya, aku tidak tahu apakah aku bisa menahan monster di dalam diriku untuk tidak menghancurkanmu."

Alana tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata. Ia menarik dasi Alexei, membawa wajah pria itu sangat dekat. "Dan ingatlah satu hal, ​"Jangan memberi celah bagiku untuk kecewa padamu, Alexei," bisik Alana, suaranya kini terdengar seperti seruling perak yang tajam. "Karena jika itu terjadi, aku akan memastikan bahwa kau adalah orang terakhir yang kusingkirkan dari takhta Volskaya."

​Alexei tidak membalas dengan kemarahan. Sebaliknya, ia menatap Alana dengan rasa lapar yang selama ini ia kunci rapat di balik jeruji besi harga dirinya. Ia melihat Alana yang berdiri tegak, yang baru saja menghancurkan aliran dana musuh, dan yang kini menatapnya dengan api yang sama dengan yang ia miliki.

​"Kau pikir kau bisa menyingkirkanku, Alana?" Alexei merendahkan suaranya, tangannya perlahan berpindah dari sandaran kursi ke sisi wajah Alana. "Kau baru saja membuktikan bahwa kau adalah satu-satunya orang yang pantas berada di sisiku. Bukan di bawahku. Bukan di depanku. Tapi bersamaku."

​Malam itu, di dalam ruang kerja yang hanya diterangi oleh bara api di perapian dan cahaya bulan yang pucat, Alexei tidak lagi melihat Alana sebagai sandera yang harus dijaga. Ia melihat seorang ratu yang telah siap dinobatkan. Dan bagi Alexei, penobatan itu tidak lengkap tanpa penyerahan diri yang total.

​Ia mencium Alana bukan ciuman paksaan yang penuh klaim seperti bulan-bulan lalu. Ini adalah ciuman yang haus akan pengakuan. Alana membalasnya dengan intensitas yang mengejutkan, tangannya merengkuh leher Alexei, menarik pria itu masuk ke dalam badai yang ia ciptakan sendiri.

​Tanpa kata-kata, Alexei mengangkat tubuh Alana, membawanya menuju ranjang besar di kamar utama. Di sana, di bawah selimut sutra yang dingin, penyatuan itu terjadi. Bagi Alexei, ini adalah momen yang telah lama ia impikan saat di mana ia tidak lagi perlu menebak-nebak apakah Alana akan menikamnya saat ia tidur. Ia merasakan setiap tarikan napas Alana, setiap detak jantung yang kini selaras dengan iramanya.

​Bagi Alana, ini adalah bentuk penyerahan diri yang paling berisiko sekaligus paling berkuasa. Saat ia merasakan kulit Alexei bersentuhan dengan kulitnya, ia tidak merasa kalah. Ia merasa sedang menyatukan dua kekuatan besar. Ia membiarkan Alexei memilikinya, namun di saat yang sama, ia memastikan bahwa ia memiliki setiap inci dari jiwa pria itu.

​Tidak ada kata "aku mencintaimu" yang terucap. Kata-kata itu terlalu dangkal untuk apa yang mereka rasakan. Yang ada hanyalah keringat, napas yang memburu, dan cengkeraman tangan yang kuat sebuah perjanjian tanpa suara bahwa mulai malam ini, mereka adalah satu entitas yang tak terpisahkan.

​Saat segalanya berakhir, Alexei memeluk Alana dari belakang, membiarkan wanita itu bersandar di dadanya yang bidang. Ia mencium bahu Alana yang terdapat memar kecil bekas latihan menembak tadi sore, sebuah tanda bahwa Alana bukan lagi mawar yang rapuh.

​"Sekarang kau benar-benar milikku, Alana," bisik Alexei, suaranya serak karena emosi. "Dan aku adalah milikmu. Sampai mati."

​Alana memejamkan mata, menggenggam tangan besar Alexei yang melingkar di perutnya. "Hanya selama kau tetap berada di jalur yang sama denganku, Alexei. Jangan pernah lupa itu."

1
Mia Camelia
haduh kok jadi rumit sih😔
❖❀~ ᴍʏ__ ~❀❖: Kalau terasa rumit, berarti kamu mulia melihat potongan puzzle- nya.. 👀
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor🥰👍
Mia Camelia
cerita nya menarik
Mia Camelia
lanjut thor, cerita nya seru banget👍👍👍
putri
Alexei.. neraka yang indah itu macam mana?? 😄
❖❀~ ᴍʏ__ ~❀❖: wahh, terimakasih kehadirannya kak-
🥰
total 1 replies
putri
aku suka ceritanya.. tetap semangat kak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!