NovelToon NovelToon
Heart Blossom

Heart Blossom

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Cinta Seiring Waktu / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Romansa / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:28.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eriza Yuu

Lima tahun telah berlalu sejak Edeline putus dengan kekasihnya. Namun wanita itu masih belum mampu melupakan mantan kekasihnya itu. Setelah sekian lama kehilangan kontak dengan mantan kekasih, waktu akhirnya mempertemukan mereka kembali. Takdir keduanya pun telah berubah. Edeline kehilangan harapannya. Namun tanpa dirinya sadari ada seseorang yang selama ini diam-diam mencintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#9 Sudah Saatnya Bangun Dari Mimpi

...Bab. 9...

...SUDAH SAATNYA BANGUN DARI MIMPI...

Pagi ini aku dan Celine sengaja bangun sedikit lebih awal. Tujuannya ingin lari pagi bersama. Sudah lama tidak berolahraga, tubuh rasanya kaku semua. Memang tersedia fasilitas kebugaran dan gym di salah satu gedung Evergreen. Namun aku dan Celine lebih suka olahraga ringan di luar ruangan. Kami memulai lari pagi dari Sand-Grale menuju ke Spiral Fountain Park. Lelah berlari kami teruskan dengan berjalan santai. Ada bangku tempat duduk di sekitar taman. Kami berhenti untuk istirahat sejenak. Celine melakukan gerakan pemanasan ringan. Aku duduk saja. Seorang wanita muda sedang lewat, dia langsung menyapa Celine begitu mengenalinya. Celine dan wanita itu mengobrol akrab. Aku masih duduk dengan manis sambil celingak-celinguk kesana-kemari. Di samping fountain berdiri seorang pria. Wajahnya menunduk dengan sesuatu yang ia pegang di tangannya. Dari fisiknya sepertinya aku kenal. Aku berjalan mendekat dengan pelan. Ia tak menyadari kehadiranku. Ia sibuk dengan sesuatu di tangannya yang sekarang dapat ku lihat dengan jelas.

"Jika benda itu menggangu pikiranmu, kenapa tidak kamu buang saja?" kataku.

Dia terkejut dan mengangkat kepalanya untuk menatapku. "Edeline?!" seru Ray.

Ia kembali melihat benda berkilau yang ada di tangannya. "Ya, kamu benar. Jika benda ini hanya membawa kesedihan, kenapa aku tidak membuangnya saja, ya?!" Ray langsung membuang benda itu ke dalam fountain. Benda itu tenggelam dengan cepat ke dasar fountain. Aku hanya bisa diam membelalakkan mata. Tidak menyangka Ray benar-benar membuangnya.

"Aku tidak tahu kamu juga ke sini. Kupikir kamu akan marah padaku setelah apa yang kukatakan semalam," tutur Ray.

"Apa kamu lihat aku orang yang seperti itu?" tanyaku.

Ray tertawa. "Tidak. Kamu tidak seperti itu," jawabnya pasti.

Dari jauh terdengar suara yang memanggil Ray. Beberapa orang menunggu di sana sedangkan seorang dari mereka melambai menyuruhnya datang.

"Aku harus pergi. Keluargaku memanggil," pamit Ray.

"Sampai bertemu lagi," balasku. Ray berlari kecil menghampiri mereka. Kemudian rombongan itu pergi.

Celine sudah berdiri di belakangku tanpa aku sadari. "Jadi itu Ray?" tanyanya yang sontak membuatku terperanjat.

"Sejak kapan Kakak berdiri di sini?" tanyaku.

"Baru saja. Ayo, pergi!" jawab Celine yang langsung menarik lenganku.

"Tunggu sebentar!" Aku berhenti kemudian mendekati fountain.

Aku berdiri di tepi fountain mencari ke dasar air yang jernih. Benda berkilau itu nampak jelas terlihat.

"Apa yang kamu cari?" tanya Celine bingung.

"Sesuatu yang jatuh," jawabku.

Kemudian aku meminta bantuan penjaga taman untuk mengambil benda itu. Sebab aku tak mungkin masuk ke dalam sana. Celine menggelengkan kepalanya sambil berdecak. Setelah dapatkan gelang berkilau itu, aku dan Celine kembali ke penginapan.

Seharian ini kami berpetualang ke taman Labirin. Sebelum sore aku sudah kembali ke penginapan lebih dulu. Celine bertemu teman lamanya dan ingin menghabiskan waktu bersama sebelum liburan berakhir. Masing-masing tinggal di kota berbeda jadi jarang sekali bisa bertemu muka.

Ini malam terakhirku di sini. Besok sore sudah harus pulang. Liburan dengan Celine kali ini sangat menyenangkan. Sayangnya aku masih merasa ada yang mengganjal di hati. Pertemuan yang sama sekali tidak berkesan dengan Ray. Aku menatap gelang yang dibuang Ray tadi pagi. Gelang yang sangat indah. Dengan dua rantai kecil di sisi kiri dan kanan, di tengahnya terdapat tiga kuntum bunga dengan permata berkilauan yang tertanam di setiap kelopak. Di bagian belakang bunga terdapat ukiran sebuah nama.

"Irena?! Apakah dia yang membuatmu begitu kacau!?" Aku bertanya sendiri.

Ucapan Ray yang tidak aku mengerti malam itu kembali terngiang di telinga, begitu juga perkataan Celine. Ya, setelah lima tahun berlalu, aku tidak tahu apa yang sudah dilewatinya dan apa yang telah terjadi padanya. Selama itu pula aku terus menutup hati. Berlari dari kenyataan dan terus menenggelamkan diri dalam kubangan kenangan. Aku terus menatap gelang ini. Mungkin gelang ini adalah bukti bahwa sudah saatnya aku bangun dari mimpi. Waktu telah memberiku kesempatan untuk bertemu kembali. Waktu juga menyadarkanku bahwa ia mampu mengubah perasaan seseorang.

Aku menyimpan gelang itu ke dalam sebuah kotak kecil. Lalu menaruhnya di atas jaket hitam Ray yang sudah terlipat rapi. Aku selipkan sebuah surat di antara kotak itu. Kemudian memasukkannya ke dalam paper bag yang tertutup rapi. Aku berniat untuk pergi mengembalikannya sekarang juga.

Aku baru berjalan memasuki lobby Evergreen Resort. Tiba-tiba seorang anak kecil berlari dari arah depan menabrakku. Untung tubuhku mampu menahannya sehingga dia tidak sampai terjatuh.

"Kamu ... Bukankah anak kecil yang waktu itu!?" seruku pada anak itu. Aku masih ingat wajah anak kecil yang menabrakku di supermarket waktu itu.

"Bibi ...," rengek anak itu sepertinya sedang menangis.

Seorang wanita paruh baya datang mengejarnya. "Joan ... Ayo, sini sama Nenek! Kita ke kamar bobo dulu, ya!" bujuk wanita paruh baya itu.

"Tidak mau. Aku mau main cama papa," rengek anak kecil itu.

Wanita yang merupakan neneknya itu mengambil tangannya.

"Ayo, sini sayang! Malu sama bibi cantik ini. Papamu sebentar lagi akan datang. Kita tunggu di kamar saja ya!" bujuknya. Anak kecil itu menggeleng sambil memeluk erat pinggangku.

Saat itu Ray datang terburu-buru dari pintu masuk. Dia berjalan mendekat. Anak kecil itu langsung melepaskan pelukannya dan berlari.

"Papa ...," panggil anak kecil itu dengan girang.

Aku terkejut. Tidak pernah menyangka kalau anak kecil itu adalah anaknya Ray. Dia bahkan tidak memberitahuku.

Ray menggendong anak itu. Dan mendekati wanita paruh baya itu.

"Ibu, biar Joan denganku saja. Ibu kembalilah ke kamar dulu. Maaf, sudah merepotkan hari ini," kata Ray dengan lembut. Wanita itu mengangguk. Kemudian berkata padaku. "Maaf ya, Nona ... Joan sudah mengganggu jalanmu!"

"Tidak apa-apa, Bibi!" jawabku dengan lembut. Wanita itu masih mencium Joan sebelum ia pergi.

"Jadi, dia anakmu?" tanyaku masih agak terkejut.

Ray mengangguk pelan. "Maaf, tidak memberitahumu!" ucap Ray.

Aku terdiam. Namun aku ingat tujuanku kemari. Aku berusaha tersenyum walaupun sedikit dipaksakan.

"Aku datang untuk mengembalikan jaketmu. Terima kasih!" kataku singkat sambil menyerahkan paper bag pada Ray. Ray menerimanya.

"Aku pergi dulu, ya!" Aku ingin segera pergi tapi Joan berkata. "Bibi, jangan pelgi dulu. Kita main dulu, yuk! Cama Joan dan papa."

"Joan, bibi tidak bisa main sekarang. Bibi masih ada pekerjaan. Nanti malam kita lihat kembang api sama-sama, ya! Tapi, Joan sekarang bobo dulu!" Ray merayunya dengan lembut.

"Bibi juga ikut lihat belcama kita kan, Papa?" tanya Joan.

Ray kemudian menatapku. Aku tidak tahu bagaimana harus menolak. Melihat kepolosan di wajah Joan yang penuh harap, hatiku luluh. Aku berkata padanya. "Iya, Bibi akan datang melihat kembang api bersama Joan."

"Janji?" tanya Joan sambil mengangkat kelingking kecilnya.

"Janji!" balasku sambil melingkarkan kelingking di jari mungilnya.

Ray hanya tersenyum. Nampak lega di wajahnya. Namun aku tak berkata apa-apa padanya. Atau tepatnya tidak tahu mau berkata apa. Jadi, aku langsung pergi begitu saja.

...🌹🌹🌹...

"Kenapa kamu ingin bibi tadi ikut melihat kembang api denganmu, Sayang? Kamu kan tidak kenal dengannya?" tanya Ray begitu Edeline pergi.

"Kalena bibi tadi pelnah membelikan es klim buat Joan. Joan ingin membalasnya. Ingin bibi itu telcenyum kalena tadi dia telihat cedih," jawab Joan polos. Ray baru mengerti.

"Iya, nanti malam Papa akan jemput bibi Edeline untuk Joan, ya! Tapi, sekarang kita tidak bisa main. Joan harus bobo supaya nanti malam bisa lihat kembang api. Setuju?" Ray berkata dengan lembut. Joan mengangguk, menuruti ucapan papanya.

^^^bersambung...^^^

1
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🍫⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ●⑅⃝ᷟ◌ͩαяℓєт
hilangkan kenangan masa lalu dengan berlahan .. percayalah semua pasti akan indah pada waktunya
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🍫⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ●⑅⃝ᷟ◌ͩαяℓєт
kenangan memang tak bisa menghilang begitu saja .. tapi tetap kita harus membuka lembaran baru dan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran sama seperti kita merawat bunga memotong kisah yang tak terpakai agar tumbuh kisah yang baru dan lebih indah
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🍫⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ●⑅⃝ᷟ◌ͩαяℓєт
kenapa harus terperangkap dengan masa lalu .. sesakit apapun seindah apapun dulu jadikan semua itu pelajaran berharga karena hidup terus berjalan ke depan bukan ke belakang.
New Spirit
jalanin aja sapelan nya aja jgn asalan
karna buka kisah baru itu perlu tenaga jga hirup udara yg pas😌 utk qm edeline semangat ya buat kisah baru nya lgi😌
New Spirit
duh namanya jga wanita
ga segampang itu menjalani kisah baru dan melupakan yg lama
cari kerjaan baru mngkn akan berubah kehidupan baru dan pastinya akan bertemu dgn org yg baru
semangat
New Spirit
sepi seperti hatiku hari ini tanpa sapaan dr kekasih pujaan hati
masih nyangkut masa lalu jgn mulai buka halaman baru
bisa aja qm yg selanjutnya menyakiti perasaan nya 🙄 pahamkan itu jgn asal hdup aja🙄
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©ᶦⁿᵗᵃ꙳❂͜͡✯🏡s⃝ᴿ●⑅⃝ᷟ◌
gak pernah tahu bunga Edelweis kayak apa 🙃🙃🙃
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©ᶦⁿᵗᵃ꙳❂͜͡✯🏡s⃝ᴿ●⑅⃝ᷟ◌
perhatian dan pengertian banget ya wkwk 🤭🤭
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©ᶦⁿᵗᵃ꙳❂͜͡✯🏡s⃝ᴿ●⑅⃝ᷟ◌
bunga Edelweis Sama Edeline hampir sama namanya hehe pasti orangnya cantik ☺
❁🅢🅐🅛❁$aly
Keith grogi juga juga ya ditatap ama Edeline, mungkin sebenarnya Keith ada rasa ama Edeline 🤔
❁🅢🅐🅛❁$aly
pola pemikiran yg bijak mama Edeline. Sekalian ttp meneruskan usaha yg telah dirintis suaminya
❁🅢🅐🅛❁$aly
sudah sperti itulah klo lagi menjual pas sepi pembeli pasti lah sangat membosankan beda klo lg rame2 nya😊
percaya lah kadang ak di pikirin juga ttp muncul di mimpi🤣
entah esok bangun apa engga🤣🙊
ah elahh orang lagi buru2 juga👩‍🦯👩‍🦯🤣
kea ada hal yang gak bisa di jelaskan deh sama mama, intinya mama gak mau toko bunga itu tutup😌
mimpiin siapa cuhhh😌😌😌
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
basa basi
maybe
wehh karna apa ya mama mempertahankan 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!