DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: PESAN DARI PEMILIK TUBUH**
setelah dadang tertidur ,Mimpi itu datang pelan, seperti kabut yang menyusup dari sela jendela yang tidak pernah benar-benar tertutup rapat. Dadang merasa tubuhnya melayang, ruangan di sekitarnya putih kosong, tidak ada dinding, tidak ada langit-langit, hanya cahaya lembut yang entah datang dari mana.
Di tengah cahaya itu, berdiri seorang pemuda. Wajahnya mirip dengan yang setiap pagi dilihat Dadang di cermin sekarang, tapi versinya lebih pucat, lebih rapuh, dengan bahu yang selalu sedikit membungkuk seperti orang yang seumur hidup terbiasa meminta maaf duluan sebelum berbuat salah.
"Kamu... David?" Dadang bertanya, suaranya sendiri terdengar aneh di telinganya, bergaung seperti di dalam goa kosong.
Pemuda itu mengangguk pelan, senyumnya tipis, sedih, tapi tidak ada kemarahan di sana.
"Aku udah lama nungguin ada yang bisa gantiin aku," David berkata, suaranya lembut, hampir seperti bisikan, "Badan ini, hidup ini, udah terlalu berat buat aku tanggung sendirian. Aku capek, dan aku udah gak sanggup lagi."
"Maksudnya gimana? Loe, eh, kamu kenapa?"
David menggeleng pelan, seperti tidak ingin menjelaskan lebih jauh, "gak penting lagi diceritain semua. Yang penting, sekarang giliran kamu. Allah yang ngatur ini semua, dan walaupun ini kedengarannya mustahil, aku percaya ini emang jalannya."
Dadang ingin bertanya lebih banyak, ingin tahu kenapa, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh ini sebelum dia menempatinya, tapi David sudah melangkah mendekat, matanya berkaca-kaca.
"Aku cuma minta satu hal. Jagain Mama. Jagain Kemal. Mereka, mereka satu-satunya orang yang masih bener-bener sayang sama aku, sayang tanpa pamrih. Papa, Papa udah keracunan sama bisikan Serlina, udah jadi orang lain, bukan Papa yang aku kenal waktu kecil."
Suara David bergetar, dan Dadang, yang baru beberapa hari mengenal tubuh ini, entah kenapa merasakan beban yang sama beratnya seperti miliknya sendiri.
"Aku jaga, aku promise," Dadang berkata, lalu cepat membenarkan, "eh, aku janji."
David tersenyum, lega, lalu mengangkat tangannya, menempelkan telapaknya ke kening Dadang.
Seketika ada arus aneh yang mengalir, bukan sakit, tapi seperti ribuan informasi dijejalkan masuk dalam waktu sepersekian detik, deretan kode, jaringan, sistem keamanan digital, cara membuka pintu yang terkunci tanpa kunci, cara membaca data yang tersembunyi di balik layar mana pun.
"Ini, ini hadiah terakhir yang bisa aku kasih. Aku belajar ini diam-diam, bertahun-tahun, karena cuma ini caraku ngerasa punya kendali atas hidupku sendiri."
Dadang mengerjap, kepalanya masih berdenging, "Apa ini?"
"Kamu akan ngerti sendiri nanti."
David mulai mengabur, tubuhnya seperti tertiup angin yang tidak terlihat, dan sebelum benar-benar hilang, dia berbisik, pelan, tapi setiap katanya menancap dalam.
"Mereka udah nungguin kamu lama. Tapi jangan pernah bilang siapa kamu sebenernya."
"Tunggu, siapa yang nungguin? Maksudnya gimana?"
Tapi David sudah tidak ada. Cahaya di sekitarnya berubah, dan dari arah yang sama, muncul sosok lain. Lebih tua, badannya kekar walau sudah berumur, wajahnya teduh dengan kumis tipis yang sangat familiar.
"Bapak?"
Asep Darmawan berdiri di sana, tersenyum, senyum yang sama persis dengan yang selalu Dadang lihat di foto-foto lama di rumah.
"Dadang. Anak Bapak."
Dadang ingin lari memeluknya, tapi kakinya seperti tertahan sesuatu, hanya bisa berdiri menatap, matanya sudah penuh air mata sebelum dia sempat berkata apa-apa.
"Bapak... Bapak ke mana aja selama ini? Dadang kangen, Pak."
"Bapak selalu ada, Dadang. Cuma kamu yang teu bisa liat bapak,bapak selalu ada di hati, kalau dadang kangen bapak ingat aja pesan dari bapak."
Asep mendekat, tangannya terangkat, mengelus kepala Dadang seperti dulu waktu dia masih kecil, dipangku sambil diajari jurus pertama Cimande di halaman rumah petak yang sederhana.
"Jadilah anak Bapak yang baik, Dadang. Kemampuan silat kamu, jangan dipake buat sombong, jangan dipake buat nyakitin yang lemah. Pake buat ngelindungin yang bener-bener butuh dilindungi."
"Pak, Dadang takut. Dadang gak tau harus gimana di sini, di tubuh orang lain, di rumah yang penuh orang jahat."
Asep menggeleng, tersenyum tenang, "Allah mah teu pernah ngasih ujian yang teu sanggup dijalani umatnya, Dadang. Tapi inget, jangan lupa shalat kamu, nak. Sesibuk apapun, seberat apapun, jangan ditinggalin."
"Pak, jelasin dulu, kenapa ini semua kejadian? Kenapa Dadang yang dipilih?"
Asep hanya tersenyum lagi, senyum yang penuh kasih tapi juga penuh rahasia yang belum waktunya terbuka.
"Nanti kamu akan ngerti sendiri, Dadang. Sekarang, jaga diri kamu baik-baik."
Sosok itu mulai memudar, sama seperti David sebelumnya, dan Dadang berusaha menggapai, berusaha menahan, tapi tangannya hanya menggenggam udara kosong.
"Pak! Pak, tunggu, jangan pergi dulu, Dadang masih banyak yang mau ditanyain!"
Tapi semuanya sudah terlambat. Cahaya putih itu meledak menjadi kegelapan total, dan Dadang merasa tubuhnya jatuh, jatuh, jatuh, sampai akhirnya,
Dia tersentak bangun.
Kamar mewah itu masih sama, gelap dengan cahaya kecil dari lampu tidur yang dibiarkan menyala. Jantungnya berdebar kencang, peluh membasahi dahinya, dan dia duduk, terengah-engah, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Itu, itu cuma mimpi kan?"
Tapi ada yang aneh. Keningnya, tempat David menempelkan tangannya tadi, masih terasa hangat, seperti bekas sentuhan nyata, bukan sekadar bayangan dalam tidur.
Dia meraih ponsel di meja samping ranjang, dan tanpa berpikir panjang, jari-jarinya bergerak sendiri, cepat, lincah, mengetik kode-kode yang dia sendiri tidak pernah pelajari sebelumnya, membongkar lapisan demi lapisan sistem yang biasanya butuh keahlian bertahun-tahun.
"Anjir, ini, ini gimana caranya aku bisa..."
Dia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya sendiri, karena di layar, muncul berbagai data, dan dengan mudah dia menemukan rekaman CCTV stasiun, video yang sempat viral beberapa hari lalu.
Tangannya gemetar menekan tombol putar.
Dan di sana, dilihatnya sendiri, dari sudut pandang yang dingin dan jauh, momen di mana tubuhnya yang dulu, tubuh Dadang Hermawan, berlari menuju rel, mendorong seseorang, lalu menghilang ditelan kereta yang melaju.
Dia menutup mulutnya sendiri, menahan suara yang ingin keluar.
Di bawah video itu, ada tautan ke liputan berita. Judulnya menusuk, "Jawara Muda Lembang Wafat Selamatkan Kekasih di Rel Kereta." Dia membuka video liputan itu, dan yang muncul membuat dadanya seperti diperas habis-habisan.
Mak Inah, di layar itu, duduk lemas dikelilingi tetangga, wajahnya kosong, matanya bengkak, sesekali bergumam sendiri yang tidak jelas terdengar, tapi siapa pun yang melihat tahu, perempuan itu sedang hancur sehancur-hancurnya.
Dudung, berdiri di sampingnya, masih memakai seragam sekolah, menangis sambil memeluk lengan ibunya, mencoba terlihat kuat tapi gagal total.
Kirana muncul sebentar di sudut rekaman, dipapah dua orang, badannya lemas, matanya kosong menatap ke arah rel, seperti masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Dan yang paling membuat dada Dadang serasa diremas, adalah cuplikan singkat Ki Wirya, kakeknya, berlutut di tanah pemakaman, tongkatnya terjatuh, menangis dengan cara yang membuat siapa pun yang mengenalnya pasti langsung tahu, ini bukan tangisan biasa, ini tangisan dari sosok yang seumur hidup tidak pernah terlihat rapuh.
Dadang menatap layar itu lama, air mata jatuh satu-satu, membasahi ponsel di tangannya.
"Mak... Dudung... Kirana... Aki..."
Suaranya tercekat, dan dia memeluk dirinya sendiri, badan David yang kurus itu bergetar dalam kegelapan kamar yang mewah tapi terasa sedingin kuburan.
"Dadang di sini, Mak. Dadang masih ada, cuma, cuma ga di tubuh yang sama lagi."
Dia menatap langit-langit kamar, menatap kosong, sambil pikirannya berputar liar, antara rumah yang baru dia tinggali penuh kelicikan dan kebencian, dan rumah lama yang sekarang hanya bisa dia lihat lewat layar ponsel, lewat kenangan yang makin terasa jauh setiap detiknya.
"Aku harus bisa selesain masalah di sini," gumamnya pelan, mengusap air mata dengan kasar, "tapi aku juga harus cari cara, gimanapun caranya, biar Mak sama yang lain tau, Dadang gak bener-bener ninggalin mereka."
Di luar jendela, langit Jakarta masih gelap, lampu-lampu kota berkedip jauh di bawah sana, dan di tengah kesunyian itu, Dadang menutup matanya, mencoba menata kembali hati yang baru saja diporak-porandakan oleh kenyataan yang terlalu pahit untuk ditelan sekali jalan.
*(bersambung)*