Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NAMA YANG KEMBALI
Ada nama-nama yang tidak pernah benar-benar hilang.
Mereka hanya terkubur.
Tersembunyi di sudut paling dalam hati.
Menunggu waktu yang tepat untuk kembali.
Dan pagi itu, setelah tiga tahun yang terasa seperti seumur hidup, sebuah nama akhirnya menemukan jalan pulang.
Tiga tahun kemudian.
Matahari baru muncul dari balik pepohonan ketika suara riuh anak-anak memenuhi halaman rumah Bu Sri.
"Ayo cepat!"
"Nanti terlambat!"
Shella berdiri di depan cermin kecil sambil merapikan pita merah muda di rambutnya.
Di sebelahnya Sherly sibuk memakai sepatu.
Keduanya kini berusia lima tahun.
Sudah jauh berbeda dari dua balita yang dulu menangis mengejar mobil saat Nandin dibawa ke pondok rehabilitasi.
Tubuh mereka lebih tinggi.
Wajah mereka semakin cantik.
Dan yang paling mencolok...
Mereka semakin mirip ibunya.
"Tanteee!"
teriak Sherly.
Seline yang sedang menyuapi Raka menoleh.
"Iya?"
"Tasku mana?"
"Di kursi."
Sherly langsung berlari.
Sedangkan Shella duduk diam.
Tatapannya kosong ke arah halaman.
"Kak."
Sherly menghampiri.
"Kok diam?"
Shella menggeleng.
"Gak apa-apa."
Padahal sebenarnya ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.
Sesuatu yang hampir setiap hari muncul di kepalanya.
Mama.
Selama tiga tahun.
Pertanyaan itu tidak pernah hilang.
Siapa mama mereka?
Kenapa tidak pernah pulang?
Kenapa tidak pernah datang saat ulang tahun?
Kenapa tidak pernah mengantar sekolah?
Kenapa tidak pernah menelepon?
Semakin besar mereka tumbuh.
Semakin banyak pertanyaan yang tidak terjawab.
Bu Sri keluar dari dapur.
"Sudah siap?"
"Sudah Nek."
"Nanti pulang sekolah langsung ke rumah."
"Iya."
Shella mengangguk.
Namun sebelum berangkat ia tiba-tiba bertanya.
"Nek."
"Hm?"
"Mama masih hidup?"
Sendok di tangan Bu Sri langsung berhenti.
Ruangan mendadak sunyi.
Bahkan Seline ikut menoleh.
Pertanyaan itu seperti petir yang datang tanpa peringatan.
"Kenapa tanya begitu?"
kata Bu Sri akhirnya.
"Soalnya teman-teman bilang kalau ibu gak pernah pulang berarti mungkin sudah meninggal."
Suara Shella pelan.
Namun cukup membuat dada semua orang terasa sesak.
Seline menunduk.
Entah kenapa.
Tiga tahun terakhir membuatnya semakin sulit membenci Nandin.
Justru sebaliknya.
Ia mulai sering memikirkan perempuan itu.
Terutama saat melihat Shella dan Sherly.
Karena semakin besar anak-anak itu tumbuh.
Semakin jelas terlihat betapa besar kehilangan yang mereka alami.
"Sudah berangkat sana."
kata Bu Sri cepat.
"Mama kalian masih hidup."
"Terus di mana?"
tanya Sherly.
Bu Sri terdiam.
Lalu seperti biasa.
Ia memilih berbohong.
"Jauh."
Jawaban yang sama.
Jawaban yang sudah terlalu sering mereka dengar.
Setelah anak-anak berangkat sekolah.
Rumah kembali sepi.
Hanya ada Raka yang berlarian ke sana kemari.
Anak laki-laki itu kini berusia dua tahun.
Aktif.
Cerewet.
Dan menjadi kesayangan Bu Sri.
"Nenek!"
teriaknya.
Bu Sri langsung tertawa.
"Iya cucu ganteng."
Raka berlari memeluk kakinya.
Pemandangan yang sebenarnya hangat.
Namun entah kenapa.
Membuat Seline teringat sesuatu.
Dulu.
Bu Sri juga pernah terlihat hangat kepada Nandin.
Sangat hangat.
Sebelum semuanya berubah.
Seline menggeleng cepat.
Membuang pikiran itu.
Ia tidak mau memikirkan hal-hal buruk.
Tidak mau membandingkan hidupnya dengan Nandin.
Karena bagaimanapun.
Ia adalah pemenangnya.
Bukankah begitu?
Ia mendapatkan Wisnu.
Mendapat rumah.
Mendapat keluarga.
Mendapat semua yang dulu dimiliki Nandin.
Bukankah seharusnya ia bahagia?
Namun kenyataannya tidak sesederhana itu.
Karena beberapa bulan terakhir.
Ada sesuatu yang mulai berubah.
Wisnu semakin sulit dihubungi.
Telepon sering tidak aktif.
Pesan dibalas lama.
Video call semakin jarang.
Dan yang paling membuat Seline gelisah...
Uang kiriman mulai berkurang.
Awalnya ia mencoba memahami.
Mungkin pekerjaan sedang sulit.
Mungkin ekonomi sedang tidak baik.
Mungkin memang ada kebutuhan lain.
Namun bulan demi bulan berlalu.
Dan jumlah uang yang dikirim terus menurun.
Sementara kebutuhan rumah justru semakin besar.
Biaya sekolah.
Biaya toko.
Biaya Raka.
Biaya listrik.
Biaya makan.
Semuanya harus dibayar.
Malam itu.
Seline mencoba menelepon Wisnu.
Panggilan pertama tidak diangkat.
Panggilan kedua juga.
Baru panggilan ketiga tersambung.
"Halo."
Suara Wisnu terdengar datar.
"Kamu lagi sibuk?"
"Iya."
"Sibuk terus."
Wisnu menghela napas.
"Kamu mau ngomong apa?"
Seline menggigit bibir.
Ia mulai tidak suka dengan nada bicara itu.
Nada yang dulu sering ia dengar saat Wisnu berbicara dengan Nandin.
"Aku cuma mau tanya."
"Tanya apa?"
"Kenapa uang bulan ini berkurang lagi?"
Hening.
Beberapa detik.
Lalu suara Wisnu terdengar dingin.
"Memangnya kurang?"
Pertanyaan sederhana.
Tetapi berhasil membuat hati Seline jatuh.
Karena kalimat itu sangat familiar.
Terlalu familiar.
Di pondok rehabilitasi.
Pada waktu yang hampir bersamaan.
Seseorang sedang menangis.
Bukan karena sakit.
Bukan karena marah.
Melainkan karena sebuah kenangan yang tiba-tiba muncul.
"Nandin."
Pak Kiai duduk di hadapannya.
Perempuan itu menunduk.
Air matanya terus mengalir.
"Ada apa?"
Nandin menggenggam ujung mukenanya.
Tangannya gemetar.
"Aku mimpi."
"Mimpi apa?"
"Ada dua anak."
Pak Kiai langsung memperhatikan.
Karena selama tiga tahun.
Ini pertama kalinya Nandin bercerita tentang sesuatu yang spesifik.
"Dua anak perempuan."
lanjut Nandin.
"Mereka manggil aku."
Suara perempuan itu bergetar.
"Aku kenal mereka."
"Tapi pas bangun aku lupa."
Tangisnya pecah.
"Aku lupa..."
Pak Kiai menatapnya lama.
Lalu berkata pelan.
"Coba ingat."
Nandin memejamkan mata.
Keningnya berkerut.
Dadanya naik turun.
Seolah sedang berperang melawan kabut tebal di dalam pikirannya.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
Lalu tiba-tiba.
Bibirnya bergerak.
Sangat pelan.
Namun cukup jelas.
"She..."
Pak Kiai langsung membeku.
"Nandin?"
"She..."
Air mata semakin deras.
Lalu nama itu keluar.
Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun.
"Shella..."
Ruangan mendadak sunyi.
Bu Hesti yang berada di dekat pintu sampai menutup mulutnya.
Karena mereka semua tahu.
Nama itu bukan nama sembarangan.
Nama itu adalah salah satu alasan terbesar Nandin masih bertahan hidup.
"Shella..."
ulang Nandin.
Lalu mendadak memegang kepala.
"Aduh..."
Ingatan datang terlalu cepat.
Terlalu banyak.
Terlalu menyakitkan.
Potongan-potongan masa lalu mulai muncul.
Tangisan anak kecil.
Rumah.
Wisnu.
Pelaminan.
Dan seorang anak perempuan yang memanggilnya mama.
"Nandin!"
Pak Kiai langsung memegang bahunya.
Namun perempuan itu terus menangis.
"Shella..."
"Sherly..."
Nama kedua itu akhirnya keluar juga.
Dan saat itulah.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Nandin mengingat anak-anaknya.
Meski hanya beberapa detik.
Meski hanya serpihan.
Namun itu cukup.
Sangat cukup.
Karena itu berarti harapan masih ada.
Malam itu.
Pak Kiai langsung menghubungi satu orang.
Bu Rini.
Perempuan yang selama tiga tahun tidak pernah berhenti datang menjenguk Nandin.
Saat mendengar kabar tersebut.
Bu Rini langsung menangis.
"Benarkah Kiai?"
"Alhamdulillah."
jawab Kiai Abdul Manaf.
"Dia mulai mengingat anak-anaknya."
Bu Rini sampai tidak mampu berbicara.
Karena selama ini.
Ia selalu percaya.
Bahwa suatu hari Nandin akan kembali.
Dan mungkin.
Hari itu mulai mendekat.
Namun mereka belum tahu.
Bahwa jalan menuju kesembuhan masih panjang.
Dan di luar sana.
Kehidupan orang-orang yang pernah menghancurkan Nandin mulai berubah perlahan.
Sedikit demi sedikit.
Seperti karma yang sedang berjalan tanpa suara.
Dan ketika semuanya mencapai titiknya.
Takdir akan mempertemukan kembali seorang ibu dengan anak-anaknya.
Meski sebelum hari itu datang.
Akan ada lebih banyak air mata yang harus jatuh.
baru awal udah bikin ngilu di hati ya..
semangat trs, yah..
🥰🥰🥰