Dijodohkan karena darah keraton yang mengalir dalam tubuh mereka, Raden Danendra Adipati dan Raden Ayu Kirana Ayodya menerima pernikahan tanpa protes. Satu tahun berlalu dalam ketenangan yang nyaris membosankan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pengkhianatan, bahkan tidak ada cinta. Mereka hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan berbagi rumah dan nama belakang yang sama. Namun ketika keadaan memaksa mereka untuk saling mengenal lebih dekat, Kirana mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Danendra tersimpan perhatian yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Danendra perlahan memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Di antara tradisi keluarga, tuntutan sebagai keturunan keraton, dan perasaan yang tumbuh terlambat, keduanya harus belajar bahwa cinta tidak selalu hadir sebelum pernikahan. Terkadang cinta justru datang setelah dua hati yang asing memilih untuk saling tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SenandikaMaret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBIASAAN KECIL
Tiga hari setelah demamnya turun, kehidupan Kirana kembali berjalan seperti biasa. Ia kembali bekerja di Yayasan Cakrawala Budaya, berkutat dengan naskah kuno dan tumpukan arsip yang memenuhi meja kerjanya. Danendra pun kembali tenggelam dalam jadwal rapat korporat yang nyaris tidak pernah kosong.
Sekilas, semuanya terlihat sama persis seperti sebelum mereka merayakan satu tahun pernikahan. Namun, sejak malam ia kehujanan itu, Kirana mulai lebih sering mengamati suaminya. Ia mulai memperhatikan detail-detail kecil yang selama ini selalu luput dari pandangannya.
Pagi itu, mereka duduk berhadapan untuk sarapan. Mbak Siti baru saja meletakkan dua cangkir minuman hangat di atas meja makan. Satu kopi hitam pekat untuk Danendra, dan satu teh melati hangat untuk Kirana.
Kirana meraih cangkirnya, menghirup aroma harum yang menguar. Ia memang selalu meminum teh melati setiap pagi sejak sebelum menikah. Saat ia hendak menyesapnya, Mbak Siti yang sedang mengelap wastafel dapur tiba-tiba bersuara.
"Untung kemarin daun teh melatinya tidak jadi habis, Nduk."
Kirana menoleh, menurunkan kembali cangkirnya. "Habis?"
"Iya, Nduk. Kemarin sore waktu belanja stok dapur, merek yang biasa Kak Kirana minum kosong. Saya mau beli merek lain saja sebenarnya."
"Lcustom?"
"Pak Danendra yang melarang. Bapak bilang jangan beli merek lain, karena Bu Kirana tidak suka teh melati yang rasanya terlalu sepat dan pahit."
Tangan Kirana yang sedang memegang gagang cangkir porselen mendadak kaku. Ia berkedip sekali. "Hah?"
Mbak Siti menoleh sambil tersenyum polos, merasa tidak ada yang aneh dengan kalimatnya. "Iya, katanya beli yang biasa saja di minimarket dekat kantor Bapak. Makanya ini kotaknya baru." Perempuan paruh baya itu menunjuk kemasan teh yang bertengger rapi di atas rak.
Kirana menatap kotak teh itu selama beberapa detik. Kalimat Mbak Siti membuat dadanya berdesir ganjil. Memang benar, ia sangat pemilih soal teh dan benci rasa sepat yang pekat. Namun seingatnya, ia tidak pernah membahas selera lidah itu kepada Danendra.
Bagaimana suaminya bisa tahu?
Pikiran tentang teh itu masih mengganjal di kepala Kirana hingga sore hari. Dan kejutan kecil berikutnya kembali datang saat mereka makan malam bersama. Karena Danendra pulang lebih awal, Mbak Siti menyajikan beberapa lauk hangat; ayam bakar, tumis buncis, sup bening, dan semangkuk sambal terasi.
Kirana baru saja mengulurkan sendok hendak mengambil sambal ketika Mbak Siti menyela dengan gerakan kasual. "Oh iya, sambalnya sengaja saya pisah di mangkuk kecil begini ya, Nduk, seperti kata Bapak."
Kirana menghentikan gerakannya di udara. "Maksudnya, Mbak?"
"Pak Danendra yang minta waktu telepon siang tadi. Bapak bilang, Bu Kirana tidak suka kalau makanan pedas dicampur langsung ke dalam tumisan atau sayur."
Kirana terdiam, perlahan menarik kembali tangannya ke atas pangkuan. "Mas Danendra... bilang begitu?"
"Iya, Nduk."
"Kenapa?"
"Lha, saya juga tidak tahu. Bapak cuma berpesan begitu saja," kekeh Mbak Siti sebelum berbalik kembali ke dapur.
Kirana duduk mematung menatap mangkuk sambal di depannya. Matanya berkedip pelan. Itu benar. Ia memang tidak suka lauk yang dimasak langsung bersama cabai karena lambungnya sensitif, jadi ia selalu menyiasatinya dengan menyocol sambal secara terpisah. Masalahnya, ia tidak pernah sekali pun mengeluhkan hal itu di meja makan selama setahun ini.
Malam harinya, saat sedang membaca buku di sofa ruang keluarga, Kirana tidak lagi fokus pada halaman yang terbuka di pangkuannya. Pikirannya sibuk merangkai ingatan-ingatan yang mendadak terasa masuk akal.
Satu kejadian mungkin kebetulan. Dua kejadian masih bisa dianggap ketidaksengajaan. Namun, ingatan Kirana justru membuka fakta-fakta lain. Danendra tahu persis berapa derajat suhu AC yang membuatnya nyaman saat tidur tanpa membuatnya menggigil. Laki-laki itu juga selalu mematikan lampu balkon kamar tepat sebelum mereka tidur, karena tahu Kirana tidak bisa terlelap jika ada berkas cahaya yang menyelinap dari sela gorden.
Hal-hal kecil yang teramat remeh. Namun malam ini, semua tindakan bisu itu terasa begitu besar di mata Kirana.
Keesokan harinya, Kirana menceritakan hal itu kepada Rani saat mereka menghabiskan jam makan siang di kantin yayasan. Rani yang sedang mengunyah bakso mendadak menghentikan gerakan rahangnya.
Perempuan berambut sebahu itu meletakkan sendoknya dengan ketukan pelan di pinggir mangkuk. "Tunggu, Kak."
Kirana mengangguk. "Ya?"
"Tunggu, coba ulangi bagian sambal tadi," pinta Rani dengan mata membelalak serius.
Kirana mulai merasa canggung. "Kenapa, sih? Mas Danendra memang tipe orang yang rapi dan teliti."
"Teliti dan memperhatikan itu dua hal yang jalurnya berbeda, Kak Kirana," sahut Rani, kini menopang dagunya dengan kedua tangan.
Kirana mengernyitkan alis. "Apa bedanya?"
Rani menunjuk dirinya sendiri sebagai ilustrasi. "Kalau aku tahu nomor kendaraan Pak Totok satpam depan, atau tahu warna kemeja kerja yang sering dia pakai, itu namanya aku teliti. Mengamati objek."
"Lalu?"
"Tapi kalau aku sampai tahu bagaimana cara Pak Totok minum kopi, berapa sendok takaran gulanya, dan kebiasaan kecil yang dia lakukan setiap jam tujuh pagi, itu namanya aku memperhatikan dia sebagai manusia. Secara personal." Rani menjeda kalimatnya, memberikan senyuman penuh arti yang membuat Kirana salah tingkah. "Dan kalau seorang laki-laki sedingin Pak Danendra mengingat detail seremeh itu tentang istrinya, biasanya cuma ada satu alasan."
"Rani, jangan mulai menebak yang aneh-aneh," potong Kirana cepat, menyembunyikan rona merah yang mulai merayap di pipinya.
"Aku cuma bilang 'biasanya', Kak," kekeh Rani tanpa beban.
Sepulang kerja, rentetan kalimat Rani seolah sengaja berputar-putar di kepala Kirana. Dan semakin ia mencoba mengabaikannya, kehidupan mereka di rumah justru menyodorkan bukti baru yang membuatnya tidak tenang.
Malam itu, mereka kembali duduk di ruang keluarga dalam ritual yang sama. Danendra dengan tumpukan laporan kerja di atas pangkuan, sementara ia menggenggam sebuah buku. Sunyi yang familiar kembali menyelimuti mereka.
Tiba-tiba, Danendra meletakkan berkasnya lalu berdiri berjalan menuju area dapur tanpa pamit. Beberapa menit kemudian, laki-laki itu kembali dengan sebuah gelas kaca yang masih mengepulkan uap hangat, lalu meletakkannya tepat di atas meja kopi di hadapan Kirana.
"Minum," ucap Danendra pendek.
Kirana mengerjapkan matanya, menatap cairan berwarna cokelat kekuningan di dalam gelas. "Apa ini, Mas?"
"Seduhan jahe hangat."
"Tapi aku tidak minta."
"Kamu biasanya minum itu kalau seharian habis berkutat dengan arsip berdebu di ruangan lembap," jawab Danendra dengan nada suara yang teramat lempeng, seolah hal yang dikatakannya adalah sebuah hukum alam yang mutlak.
Kirana terpaku. Ia mendongak, menatap sepasang mata suaminya yang lurus. "Mas... tahu dari mana?"
Danendra sempat mengernyit samar, tampak bingung dengan pertanyaan istrinya. "Tahu apa?"
"Kalau aku suka minum jahe hangat setelah bekerja lama dengan naskah kuno."
"Memangnya itu sebuah rahasia?"
"Bukan. Tapi aku tidak pernah mengatakannya padamu, Mas."
Danendra terdiam selama beberapa detik. Ia tidak langsung menjawab, melainkan melangkah kembali menuju kursinya lalu duduk bersandar dengan tenang. "Aku pernah beberapa kali melihat Mbak Siti membuatkannya untukmu."
Hanya itu jawabannya. Begitu praktis dan logis. Namun bagi Kirana, kalimat pendek itu sanggup membuat ulu hatinya terasa menghangat. Alasan Danendra selalu sederhana, tetapi fakta bahwa laki-laki itu diam-diam merekam kebiasaan tersebut membuktikan satu hal: Danendra memang melihatnya. Jauh sebelum Kirana menyadari kehadiran pandangan itu.
Malam semakin larut ketika seluruh lampu rumah dipadamkan. Kirana sudah berbaring diam di bawah selimut tebal, sementara Danendra mengambil posisi di sisi lain ranjang yang terpisah jarak beberapa puluh sentimeter.
Suasana kamar berangsur-angsur senyap, hanya menyisakan dengung halus pendingin ruangan. Namun malam ini, sepasang mata Kirana menolak untuk terpejam. Pikirannya dipenuhi oleh pusaran pertanyaan yang mendesak.
Jika Danendra memperhatikan semua kebiasaannya sejak lama... sejak kapan pria itu memulainya? Apa tujuannya melakukan semua itu secara diam-diam? Dan mengapa ia memilih untuk tetap menutup mulutnya rapat-rapat tanpa pernah mengatakannya secara langsung?
Kirana memiringkan tubuhnya perlahan ke arah kanan, menatap siluet punggung kokoh Danendra yang tampaknya sudah terlelap di balik kegelapan. Danendra jarang mengucapkan apa yang ada di pikirannya. Namun, semakin hari Kirana mulai menyadari bahwa laki-laki itu tidak pernah benar-benar abai.
Selama ini Kirana mengira ia sudah mengenal suaminya. Ternyata tidak. Semakin diperhatikan, semakin banyak hal tentang Danendra yang belum ia pahami. Danendra masih menjadi teka-teki yang belum berhasil ia pecahkan.