NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:857
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Sudah ketiga kalinya Nayla dipaksa menuruti keinginan Deviana.

Tiga kali.

Angka yang mungkin terdengar kecil bagi orang lain, tapi bagi Nayla itu seperti pengulangan luka yang sama, berulang, tanpa jeda, tanpa kesempatan untuk benar-benar sembuh.

Permintaan yang sama. Tuntutan yang sama. Dan hasil yang selalu sama.

Meminta maaf.

Atas sesuatu yang tidak ia lakukan.

Itu yang paling menyakitkan. Bukan sekadar dipaksa tunduk, tapi dipaksa mengakui kesalahan yang bahkan tidak pernah ia buat. Seolah kebenaran tidak pernah penting. Seolah fakta bisa diganti hanya dengan suara yang lebih keras dan air mata yang lebih dramatis.

Nayla bisa saja meminta maaf, ia sudah terlalu sering melakukannya. Namun kali ini berbeda. Kali ini ia tahu dengan sangat jelas bahwa ia tidak bersalah.

Kemarin, yang terjadi hanyalah ledakan kecil dari kesabarannya yang sudah terlalu lama dipaksa bertahan.

Deviana terlalu banyak bicara. Terlalu sering menyindir. Terlalu sering menusuk dengan kata-kata yang seolah tidak terlihat, tapi meninggalkan luka yang nyata. Dan untuk pertama kalinya Nayla membalas.

Ia menjambak rambut Deviana. Tidak lama, tidak brutal. Bahkan sebelum situasi memburuk, orang-orang di sekitar sudah melerai mereka.

Tapi tetap saja Nayla yang disalahkan. Selalu Nayla. Dan sekarang, ia kembali berdiri di tengah kantin sekolah yang ramai, dengan situasi yang jauh dari kata nyaman. Tatapannya datar, tapi di dalamnya ada kejengkelan yang terus mengendap.

Di depannya Deviana.

Perempuan itu berdiri dengan wajah yang dibuat seolah-olah terluka, tapi justru terlihat sangat menikmati situasi ini. Dan yang paling membuat Nayla muak Deviana bergelayut manja di lengan Devan, kakaknya sendiri.

Senyum kecil Deviana terselip di wajahnya, seolah menunjukkan kemenangan kecil yang hanya dia pahami.

Nayla mendengus pelan.

Muak.

Seharusnya, seharusnya kedua kakaknya berada di sisinya.

Seharusnya mereka melindunginya.

Seharusnya mereka menjadi tempatnya bersandar.

Tapi kenyataannya? Mereka berdiri di sana di pihak yang berlawanan, selalu begitu. Dan Nayla sudah terlalu lelah untuk berharap.

Kepergian Endra ke toilet beberapa menit lalu membuat situasi ini semakin buruk. Harusnya sekarang Nayla duduk dengan tenang,.menikmati makan siangnya, meski dalam diam.

Tapi tentu saja, Deviana tidak akan melewatkan kesempatan. Ia datang dengan gaya dramatisnya. Membawa dua “penguat” di belakangnya—Devan dan Jevan. Seolah Nayla adalah musuh besar yang harus dihadapi bersama.

Lucu dan menyedihkan.

“Yaudah kalau gitu,” ucap Nayla akhirnya, suaranya ringan, seolah tidak peduli. “Lo aja yang minta maaf.” Tatapannya lurus ke arah Deviana.

Datar.

Tidak ada emosi, namun justru itu yang membuatnya terasa menusuk.

Devan langsung bereaksi, matanya membesar, rahangnya mengeras.

“Lo yang salah, ya sialan! Bukan gue!”

Nada suaranya kasar, namun bagi Nayla itu bukan hal baru. Ia sudah terbiasa, cara Devan berbicara padanya memang selalu seperti itu.

Berbeda jauh ketika berbicara dengan Deviana.

Lembut, sabar, penuh perhatian. Perbedaan yang terlalu jelas untuk diabaikan, namun Nayla tidak lagi mempermasalahkan itu atau setidaknya ia berpura-pura tidak peduli.

“Nah,” lanjut Nayla santai, “lo aja nggak mau minta maaf karena nggak ngerasa salah. Sama kayak gue, gue juga gak akan minta maaf untuk sesuatu yang gak gue perbuat.” Ia mengangkat bahu sedikit. “Sederhana kan?”

Namun kenyataannya tidak sesederhana itu karena Nayla sebenarnya sudah meminta maaf.

Kemarin, dengan suara pelan, dengan kepala menunduk, dengan hati yang tidak sepenuhnya rela. Namun Deviana tidak menerima, tidak semudah itu. Ia meminta syarat. Sesuatu yang menurut Nayla—tidak masuk akal dan tentu Nayla menolak karena kali ini ia ingin berhenti.

Berhenti menuruti.

Berhenti tunduk.

Berhenti menjadi pihak yang selalu kalah.

“Lo itu bener-bener nggak tau diri ya!” suara Devan meninggi. “Minta maaf sekarang, atau lo bakal dapat akibatnya di rumah!"

Ancaman dari kakaknya sendiri.

Nayla tersenyum kecil.

Tipis.

Kosong.

“Ya menurut gue itu lebih baik,” balasnya ringan seolah ancaman itu tidak berarti apa-apa. Padahal, ia tahu persis apa maksudnya. Rumah, tempat yang seharusnya aman, tapi bagi Nayla itu adalah tempat di mana hukuman menunggunya. Namun entah kenapa, hari ini ia tidak takut atau mungkin ia sudah terlalu sering merasakan takut sampai akhirnya kebal.

“Tuh kan, Kak,” suara Deviana tiba-tiba lembut, berubah drastis. “Nayla aja nggak bisa sopan sama Kakak, apalagi sama Devi.” Ia menunduk, nada suaranya melemah seolah benar-benar terluka.

“Padahal Devi cuma mau Nayla peluk Devi sebagai saudara…” Kalimat itu terdengar polos, lembut. Bahkan menyentuh bagi orang lain. Namun bagi Nayla itu menjijikkan.

“Ck,” Nayla berdecak pelan. “Drama banget sih lo.” Ucapan itu keluar tanpa filter.Tanpa niat untuk menahan karena ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk berpura-pura.

“Nayla!”

Suara itu datang dari arah lain, Jevan. Kakak pertamanya. Nada suaranya lebih dingin dibanding Devan, tapi tetap saja penuh teguran.

Nayla langsung menoleh, tatapannya tajam. “Lo juga!” katanya. “Apa sih mau kalian semua?!”

Nada suaranya mulai naik. Emosi yang selama ini ia tahan akhirnya mulai keluar.

“Kalian mau gue ngalah?” lanjutnya. “Gue selalu ngalah tanpa kalian minta!” Tangannya mengepal, dadanya naik turun.

“Minta maaf? Udah gue lakuin!” Suaranya mulai bergetar. “Terus sekarang apalagi?!”

Hening sejenak.

Namun bukan hening yang damai, melainkan hening yang penuh ketegangan.

“Deviana cuma mau lo peluk dia,” kata Devan lagi, lebih menekan. “Susah emang?”

Nayla tertawa kecil.

Pahit.

“Susah,” jawabnya tegas. Tatapannya kembali ke Deviana. “Karena dia cuma nyari muka.” Nada suaranya berubah.

Lebih tajam.

Lebih dingin.

“Deviana sama nyokapnya itu sama aja.” Ia berhenti sebentar. Namun bukan untuk menahan diri, melainkan untuk memastikan setiap kata berikutnya terdengar jelas. “Nenek lampir tukang caper.”

Plak!

Tamparan itu datang begitu cepat dan keras  mengenai pipi kanan Nayla. Kepalanya terlempar ke samping, tubuhnya sedikit oleng. Namun ia tidak jatuh, ia berdiri diam seolah

membeku.

Rasa panas menjalar di pipinya yang terasa berdenyut dan menusuk. Namun yang lebih terasa adalah kenyataan. Bahwa yang menamparnya adalah kakaknya sendiri. Devan, untuk pertama kalinya.

Seolah semalam belum cukup, ekarang impas.

Pipi kiri oleh ayahnya.

Pipi kanan oleh kakaknya.

Lengkap.

Devan sendiri terlihat terdiam, menatap telapak tangannya seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan, ia refleks. Atau mungkin terbawa emosi.

Namun bagi Nayla, alasannya tidak penting. Yang penting, ia tetap disakiti. Dan sebelum suasana benar-benar mereda, sebuah suara keras terdengar.

Satu pukulan, lalu diikuti yang lain. Keributan langsung pecah. Orang-orang di kantin berteriak kaget.

Nayla menoleh cepat dan di sana—Endra. Dengan wajah penuh amarah, tangannya menghantam wajah Devan. Lalu perutnya tanpa jeda, tanpa ampun.

“Maksud lo apa tiba-tiba mukul gue?!” teriak Devan, mencoba melawan.

“Dia adik lo, bangsat!” bentak Endra. Pukulan demi pukulan terus mendarat. Keras dan cepat. Laki-laki itu tidak memberi kesempatan bagi Devan untuk membalas. Semua terjadi begitu cepat.

Terlalu cepat.

“Nayla—” seseorang mencoba bersuara. Namun Nayla sudah bergerak, ia mendekat. Berusaha meraih tangan Endra.

“Udah, Endra! Berhenti!”

Namun sia-sia. Tenaga Endra jauh lebih besar, amarahnya terlalu kuat.

Jevan ikut masuk, mencoba melerai.Namun malah terkena pukulan juga.

“Lo gue diemin lama-lama makin ngelunjak!” bentak Endra lagi.

Nayla panik, situasi ini bisa jadi sangat buruk. Bukan hanya di sekolah tapi juga di rumah. Apalagi jika sampai terdengar oleh papahnya.

Nayla melangkah lebih dekat, kali ini ia tidak menarik.Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Endra dan berbisik—

“Endra… inget Papa aku.”

Seketika, semua berhenti. Seperti tombol pause ditekan, tangan Endra yang masih terangkat membeku di udara, napasnya berat, rahangnya mengeras. Namun ia tidak melanjutkan pukulan.

Ia tahu, ia sangat tahu apa arti kalimat itu.nBagus Raharja, sosok yang bisa menghancurkan segalanya. Termasuk hubungan mereka. Termasuk dirinya.

Perlahan, tangan Endra turun. Amarahnya belum hilang, namun ia menahannya dengan susah payah.

Melihat itu Devan langsung menjauh.

Dibantu oleh Jevan. Wajahnya penuh amarah. Namun juga sedikit takut.

Sementara itu Nayla berdiri di sana, di tengah kekacauan. Di antara dua dunia yang sama-sama menyakitkan.nKeluarganya dan hubungannya. Dan ia tahu apa pun yang terjadi hari ini akan ada akibatnya.

Di rumah, seperti biasa. Karena pada akhirnya Nayla selalu menjadi pihak yang harus menanggung segalanya.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!