Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.
Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.
Suaminya ke mana??
"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"
Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.
" Mas...maaf " lirih suara Arista.
Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.
Arista tergugu, tak ada air mata...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08.
Anisa tampak ragu. Ingin mengetuk pintu , tapi niatnya segera di urungkan. Tadinya dia ingin berpamitan langsung, tapi situasinya tidak memungkinkan. Akhirnya diam-diam dia melangkah mundur menjauhi kamar tersebut.
Bersamaan dengan itu ponselnya berdering. Ternyata dari suaminya, Restu. Dia meminta dirinya segera pulang, dengan alasan dia sudah pulang dari rumah orang tuanya.
Anisa mendengus kesal.
" Iya...mas, ini aku udah mau pulang. Tadi aku menjemput mbak Arista pulang dari rumah sakit. Mbak Arista sudah melahirkan."
"Oh...jadi mbak Arista udah melahirkan. Kenapa kamu nggak bilang kalau mbak Arista udah melahirkan, kan aku jadi nggak pulang ke rumah dulu. Biar aku nginap lagi di rumah ibu." kata Restu suami dari Anisa.
Anisa terdiam, dia memandangi ponselnya yang masih di posisi menerima panggilan.
" Oh...aku kira mas mau nyusul ke sini jemput aku, sekalian jenguk mbak Arista." jawab Anisa dengan suara parau menahan sedih.
" Salahnya kamu kenapa nggak dari awal bilang kalau kamu mau menemani dan menjemput mbak Arista melahirkan. Kan kamu cuma bilang, mau nengok itu aja." kata Restu datar.
Anisa menautkan ke dua alisnya. Dia merasa heran sendiri. Dia merasa sudah bilang dan sekaligus minta ijin menemani kakaknya melahirkan. Bahkan dia sendiri yang menyarankan agar dia menginap.
" Bukankah mas waktu itu yang ngasih saran agar aku nginap di rumah mbak Arista?." tanya Anisa heran.
" Baca chat dari kamu aja aku nggak lho, Nis. Apalagi nyaranin kamu supaya nginap diana. Sudah sekarang pulang dulu." kata Restu sedikit kesal.
Karena dia merasa tak pernah mengijinkan istrinya nginap di rumah iparnya, kakak dari istrinya.
Tak ingin memperpanjang ,Anisa segera berkemas. Dia ingin segera sampai rumah. Selain menanyakan apakah dia bersedia merawat anak dari kakaknya atau tidak.
Dia juga penasaran dengan chat yang dia terima.
" Mbak..aku minta maaf. Aku nggak jadi nginap, mas Restu ternyata udah pulang dan sekarang udah nungguin di rumah. Aku pulang mbak, maaf nggak sempat pamitan. Tetap semangat mbak, ada tiga jagoan yang siap pasang badan." Anisa mengetik pesan untuk kakaknya.
Dia bergegas ke depan, karena ojek online yang dia pesan sudah menunggu di sana. Jarak ke rumahnya bisa di tempuh sekitar satu jam perjalanan menggunakan kendaraan roda dua.
Beruntung hari masih belum terlalu malam, kumandang adzan isya baru berlalu beberapa waktu yang lalu.
**********
Bergegas Anisa memasuki halaman rumahnya, setelah membayar terlebih dahulu.
" Assalamualaikum..mas." Anisa mengetuk pintu sedikit kencang.
Setelah dua kali mengetuk pintu , akhirnya sesosokk laki-laki kepalanya menyembul dari balik pintu , dengan wajah kusut.
Anisa menelisik penampilan suaminya yang berantakan.
"Mas..sudah lama pulangnya?." tanya Anisa.
" Dari jam 5 sore tadi.Bagaimana keadaan mbak Arista, apa ibu dan bayinya sehat?"
"Alhamdulillah, sehat. Mas udah makan apa belum?"
"Tadi udah makan di rumah ibu. Tolong bikinin kopi aja."
Anisa mengangguk dan bergegas ke arah dapur. Segelas kopi hitam dengan gula satu sendok kecil dan setoples biskuit dia bawa ke hadapan suaminya.
" Bagaimana kabar bapak sama ibu, mas. Apa mereka sehat?."
" Yah...begitu , namanya juga udah tua jadi sering pusing katanya" jawab Restu sambil menyeruput kopi selagi panas.
" Maaf mas, aku masih penasaran dengan isi chat yang mas kirim. Tadi mas bilang katanya nggak pernah kirim chat ke aku, waktu aku minta ijin menginap di rumah mbak Arista."
Anisa memperlihatkan isi chattinganya dengan nomer suaminya. Karena merasa penasaran.
"Oh...mungkin itu kerjaan iseng ibu, yang sedang belajar pegang hp. Maklum mungkin masih bingung. Sudahlah, jangan di perpanjang. Lebih baik kita segera tidur. Badan mas pegal-pegal,nih."
Anisa menghela nafas dan segera mengikuti suaminya ke dalam kamar.