Ceritanya pindah ke judul, Tuan Black, Jangan Remehkan Menantumu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna Nellys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Permainan
0o0__0o0
Pagi hari di Mansion Black.
Ruang makan megah itu sudah di penuhi anggota keluarga, kecuali sang kepala keluarga yang belum menampakkan diri.
Suasana terasa dingin, sunyi, dan menekan—seolah setiap orang menahan sesuatu.
Mawar duduk tegap di kursinya. Di samping-nya, Ares menggenggam tangan-nya erat, seakan menjadi satu-satunya penopang di tengah tatapan tak bersahabat yang mengarah padanya.
Sarapan berlangsung tanpa suara.
Hingga—
TRIINGG!!
Suara nyaring memecah keheningan.
Garpu yang berada di tangan Mawar terlepas dan jatuh menghantam lantai. Wajah wanita itu seketika pucat. Napasnya tercekat.
Ini pertama kalinya ia duduk di meja makan keluarga Black sebagai menantu. Dan ia tahu betul—ibu mertuanya tidak pernah menyukai dan menganggap-nya.
"Kampungan."
Satu kata itu meluncur tajam, dingin, dan merendahkan.
Margaret menatap Mawar tanpa menyembunyikan rasa jijiknya. "Memegang garpu saja tidak becus. Bagaimana kalau nanti kau di undang ke pesta kaum elit ?" ucapnya pedas.
Mawar menunduk. Tangan-nya mengepal kuat di bawah meja. Ini semua bukan atas kecerobohan-nya, melainkan ulah mantan brengseknya.
'Dresto sialan…' umpatnya dalam hati. 'Dia sengaja…'
"Maaf, Ma. Aku tidak sengaja," ucapnya lirih, berusaha tetap tenang.
Di seberang-nya, Dresto menyeringai tipis. Tatapan-nya penuh kepuasan.
Perlahan, kakinya kembali bergerak—menyentuh paha dalam Mawar dengan sengaja.
Mawar tersentak halus.
Cukup untuk membuatnya kehilangan fokus… dan menjadi bahan hinaan.
'Ini hukuman kecil untukmu, Rose,' batin Dresto, puas. Dendam kecilnya belum terbalas sejak kemarin.
Margaret masih menatap tajam, belum selesai.
"Lihat itu, Ares," katanya dingin, mengalihkan pandangan pada putra keduanya. "Ini istri yang kamu pilih ?"
Nada suaranya penuh penolakan.
"Kalah jauh dengan calon menantu yang Mama siapkan dulu."
Kalimat itu menggantung di udara.
Menjadi tekanan… sekaligus penghinaan terbuka.
Mawar terdiam. Namun di balik diamnya ada sesuatu yang perlahan berubah.
0o0__0o0
Ares yang sejak tadi diam, perlahan menghentikan gerakan makannya. Rahang-nya mengeras. Tangan-nya yang sejak tadi meng-genggam tangan Mawar, justru semakin erat—seolah memberi penegasan tanpa kata.
Suasana langsung berubah tegang.
"Aku sudah bilang sebelum-nya, Ma." Suara Ares rendah, tapi penuh tekanan. "Aku yang memilih-nya. Jadi, konsekuensi-nya juga milikku."
Margaret mendengus sinis. "Memilih ? Atau sekadar di butakan oleh wajah cantik ?" Tatapan-nya kembali mengarah pada Mawar, menusuk tanpa ampun. "Perempuan seperti ini hanya akan mempermalukan keluarga Black."
Mawar diam.
Namun kali ini… bukan karena takut.
Perlahan, ia mengangkat wajahnya. Tatapan-nya tidak lagi ragu, tidak lagi goyah. Ada sesuatu yang berubah—dingin… dan tajam.
Dresto yang melihat itu, menyipitkan mata. Menyadari perubahan kecil yang berbahaya.
"Apa menurut Mama…" suara Mawar lembut, tapi memiliki nada yang tak biasa, "kelas seseorang hanya di lihat dari cara memegang garpu ?"
Semua orang terdiam.
Margaret jelas tidak menyangka Mawar akan berani membuka suara.
"Apa ?" Desisnya tidak percaya.
Mawar tersenyum tipis. Elegan. Tapi menusuk.
"Kalau begitu… sangat di sayangkan." Ia menatap lurus ke arah mertuanya itu. "Karena banyak orang berpendidikan tinggi… justru gagal menjaga etika saat berbicara."
Deg.
Ucapan itu halus.
Tapi tamparan-nya terasa keras.
"Apa kau sedang mengajari ku ?" Nada Margaret naik, jelas tersinggung.
"Mana berani saya." Jawab Mawar tenang. "Saya hanya… belajar dari apa yang saya lihat pagi ini."
Hening.
Ares menoleh ke arah istrinya. Tatapan-nya berubah—ada kilatan kepuasan yang tak bisa ia sembunyikan.
"Istriku memang bukan kaleng-kaleng," Bisik-nya di samping telinga Mawar. "Selain cantik dan pintar.... Kamu juga pemberani."
Mawar menoleh ke arah suami'nya. Bibirnya tersenyum tipis. Mengabaikan tatapan tak suka dari mertuanya.
"Ini berkat dukungan suami tampan ku."
Sedangkan Dresto… Senyumnya perlahan memudar. Matanya menggelap.
Karena untuk pertama kalinya—Mawar tidak lagi terlihat seperti mangsa.
Melainkan… lawan.
"Berani sekali kau melawan orang tua," gumam Margaret penuh amarah.
Namun sebelum situasi semakin memanas—
"Aku rasa cukup."
Suara berat itu datang dari arah pintu.
Semua kepala menoleh bersamaan.
Kepala keluarga Black akhirnya muncul.
Langkah-nya tenang… tapi auranya menekan.
Tatapan-nya menyapu seluruh ruangan… berhenti tepat pada Mawar yang masih duduk tegak dengan kepala terangkat.
Lalu, tanpa di duga, Rison mengeluarkan kata-kata yang membuat semua orang tak berkutik.
"Aku setuju dengan ucapan Mawar."
Semua orang terdiam.
"Apa maksud mu, Pa ?" Margaret menoleh cepat, tak percaya. "Kamu membela perempuan miskin itu."
Pria itu menyeringai tipis. "Tidak. Tapi setidaknya… menantu keluarga Black harus memiliki keberanian untuk melawan."
Ia duduk di tempatnya. Meminum kopinya dengan tenang. Wajahnya tetap datar. "Harga diri marga Black tidak boleh di injak oleh siapapun, termasuk keluarga sendiri."
Deg.
Kalimat itu seperti pisau bermata dua.
Margaret jelas semakin murka. Namun ia terbungkam. Tak berani mengeluarkan sepatah kata.
Sementara Dresto… justru tertawa pelan.
"Oh… jadi Mawar liarku mulai dapat dukungan, hm ?" bisiknya tanpa suara, hanya cukup di pahami oleh Mawar.
Dan di bawah meja, kakinya kembali bergerak. Menyelusuri kaki Mawar dari bawah lalu merambat naik ke atas.
Namun kali ini, Mawar langsung menahan.
Kuat.
Tanpa ragu.
Dresto terkejut.
Mawar menatap mata Dresto tenang.
Senyum-nya tipis.
Berbahaya.
'Kali ini giliran mu, Kakak ipar,' bisik Mawar dalam hati. 'Kau yang menyulut api… maka kau juga yang harus siap terbakar.'
BUG!
Tanpa ragu, Mawar mengangkat sedikit kakinya di bawah meja—lalu menghantamkan ujung heels runcing-nya tepat ke lutut Dresto.
Keras. Tepat sasaran.
"ARGH!"
Dresto langsung mengerang. Tubuhnya refleks membungkuk, tangan-nya mencengkeram lutut yang berdenyut hebat.
Suara itu memecah suasana.
Kini, seluruh perhatian beralih padanya.
"Apa kamu hidup di dalam hutan, Dresto ?" tegur Rison datar, namun penuh tekanan. "Sebagai anak tertua, seharusnya kamu memberi contoh yang baik untuk adik-adikmu."
Hening.
Udara di ruang makan terasa semakin berat.
Wajah Dresto memerah, menahan nyeri sekaligus amarah yang membuncah. Namun sorot matanya tetap terkunci pada Mawar.
Wanita itu… Masih duduk anggun. Bahkan kini menyeringai tipis, nyaris tak terlihat.
Menang—tanpa suara.
"Maaf, Pa," ucap Dresto akhirnya, berusaha menguasai diri. "Aku tidak sengaja menggigit lidahku sendiri."
Alasan yang lemah.
Tapi cukup untuk menyelamatkan harga dirinya… untuk saat ini.
Rison mengelap bibirnya dengan sapu tangan, lalu berdiri perlahan. Tatapan-nya menyapu seluruh meja, tajam dan penuh wibawa.
"Kali ini aku toleransi," ucapnya dingin. "Tapi tidak untuk yang kedua kalinya."
Tak ada yang berani menyahut.
Sorot mata Rison menajam ke arah istrinya dan juga Dresto. "Aku tidak ingin melihat keributan lagi di meja makan." Ucapnya memperingatkan dengan tegas.
Margaret mengangguk singkat. Kedua tangannya mengepal kuat di atas pahanya.
Langkah kaki Rison menjauh, meninggalkan tekanan yang masih menggantung di udara.
Dan untuk pertama kalinya, Dresto benar-benar terpukul. Bukan karena rasa sakit di lututnya. Tapi karena permainan yang ia mulai dengan penuh percaya diri…
Justru di patahkan oleh Mawar.
Dengan cara yang lebih halus.
Lebih dingin.
Dan jauh lebih mematikan.
0o0__0o0
Ruang rapat. Pukul 10.00 pagi.
Suasana hening dan formal menyelimuti ruangan luas milik Black Empire Corporation. Deretan petinggi perusahaan duduk rapi, menunggu keputusan yang akan menentukan arah bisnis selanjutnya.
Di kursi utama, Rison duduk tegak. Wajahnya datar, tanpa emosi, namun aura wibawanya menekan seluruh isi ruangan.
“Dalam rapat kali ini,” ucapnya tenang namun tegas, “saya akan menetapkan jabatan baru untuk Dresto.”
Semua mata langsung tertuju pada Dresto.
“Mulai bulan ini, kamu akan memimpin Black stone Developments.”
Beberapa anggota rapat langsung mengangguk setuju. Keputusan itu terasa logis. Selama menjabat sebagai direktur di BlackShield Hotel, kinerja Dresto memang melesat tajam.
Namun—
Alih-alih terlihat senang, wajah Dresto justru meredup. Rahangnya mengeras, bahunya sedikit turun, seolah beban tak kasat mata jatuh di sana.
Ia masih ingin bekerja lebih lama di hotel itu.
Karena di sana… ada Mawar.
“Maaf, Pak,” ucap Dresto akhirnya. Suaranya formal, namun tegas. “Saya keberatan.”
Ruangan langsung berisik pelan.
Para petinggi saling bertukar pandang, tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
Penolakan.
Dari putra pertama keluarga Black.
Di sudut meja, Ares mengernyit. Ia melirik kakaknya dengan heran.
“Kak, lo gak lagi mabuk, kan ?” bisiknya sinis.
Dresto tidak merespons. Tatapan-nya tetap lurus ke arah sang ayah—penuh tekat.
“Apa alasan mu ?” tanya Rison datar, menatap tajam.
Dresto menarik napas perlahan, menahan sesuatu di dalam dadanya.
“Saya menghargai keputusan itu,” ujarnya tenang. “Tapi jika saya meninggalkan hotel, posisi kepemimpinan akan kosong. Itu bisa berdampak langsung pada stabilitas dan saham perusahaan.”
Sejenak, ia melirik ke arah Ares. Singkat. Tajam.
“Dan Ares… belum siap menggantikan posisi saya.”
Hening.
Ucapan itu seperti tamparan halus di tengah meja.
Ares langsung menegang. Sorot matanya berubah, tersulut, meski ia menahan diri untuk tidak membalas.
Rison mengetuk meja perlahan dengan jari telunjuk-nya. Berpikir.
Ia tahu.
Ares memang masih mentah. Potensinya ada, tapi belum terasah.
“Alasan mu saya terima,” ucapnya akhirnya.
Dresto sedikit menghela napas, namun belum sempat lega...
“Tapi itu tidak berarti kamu bisa menolak keputusan saya.”
Kalimat itu jatuh berat.
Mutlak.
Tak terbantahkan.
Dresto terdiam. Kali ini, ia benar-benar tidak punya celah.
“Ares memang belum berpengalaman,” lanjut Rison tenang, “tapi bukan berarti dia tidak mampu.”
Tatapan-nya kini beralih pada putra keduanya.
“Saya yang akan menangani langsung Black Shield Hotel, sekaligus membimbing Ares sampai dia layak duduk di kursi pemimpin.”
Seketika, suasana berubah.
Keputusan telah di tetapkan.
Tidak ada ruang untuk perdebatan lagi.
Dresto mengepalkan tangan-nya di bawah meja. Tak terlihat, tapi terasa.
Ia kalah.
Bukan dalam bisnis.
Tapi dalam kesempatan.
Kesempatan untuk tetap dekat dengan satu-satunya hal yang kini mengganggu pikirannya.
Mawar.
Sementara itu, Ares perlahan menyeringai tipis. Sorot matanya menyapu ke arah Dresto, penuh arti.
Seolah berkata tanpa suara— Sekarang… giliran gue.
0o0__0o0
soalnya diumpetin sama papa mertua 🤣🤣🤣🤣