DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
**BAB 7: SULTAN YANG UDIK**
Mobil yang menjemput David dari rumah sakit itu panjangnya hampir seperti gerbong kereta mini, bagian dalamnya wangi parfum yang tidak bisa Dadang tebak mereknya, tapi jelas mahal, beda jauh dari parfum botol receh yang biasa dia pakai sebelum tarung.
"David, badan kamu udah enakan kan? Mama sengaja minta dokter izinkan pulang lebih cepat, soalnya kamu pasti lebih nyaman di rumah," Bunda Melati berkata sambil mengelus pundak Dadang yang masih mangap melihat gedung-gedung tinggi Jakarta dari kaca mobil, pemandangan yang kalau di Lembang mungkin cuma ada di mimpi paling liar.
"Iya, Bu, makasih," Dadang menjawab, masih belajar bicara sopan, padahal lidahnya kaku seperti baru disetrum.
Sampai di rumah, anjir, ini bukan rumah, ini istana. Gerbangnya saja seukuran gerbang sekolah, ada dua satpam yang langsung berdiri tegap begitu mobil lewat, halamannya luas dengan kolam ikan koi, taman rapi seperti baru disisir, dan rumahnya sendiri tiga lantai dengan kaca-kaca besar yang berkilau kena sinar matahari sore.
Mereka masuk lewat lobi yang punya lift pribadi, dan begitu pintu lift terbuka memperlihatkan kotak kaca berkilau dengan tombol-tombol berlampu, Dadang berdiri mematung sebentar.
"Ini apa, Bu? Kotak ajaib?"
"Lift, David. Masa kamu lupa lift sendiri di rumah kamu."
"Oh, lif" Dadang mengangguk-angguk, padahal di kepalanya cuma ada bayangan tangga rumah petaknya yang catnya sudah mengelupas.gak tau apa itu lif
Begitu pintu lift menutup dan kotak itu mulai naik, perutnya kaget, dan refleks tangannya langsung mencengkeram pegangan besi di dinding lift kuat-kuat, seperti orang naik komidi putar pertama kali.
"Astaga, ini geser ke atas, ini geser ke atas, Bu, ini kotak apa beneran bisa kebawa ke langit?"
Kemal yang berdiri di sebelahnya, tertawa kecil, "Aa David lucu deh, ini cuma lift biasa."
Begitu pintu lift terbuka di lantai dua, Dadang langsung melepas sepatunya, refleks kebiasaan seumur hidup sebelum masuk ruangan.
"David, ngapain sepatunya dilepas di sini?"
"Eh, ya kan, mau masuk, Bu. Biasanya dilepas dulu."
"Ini koridor rumah, David, bukan masjid," Bunda Melati menjawab sambil bingung, "lantainya marmer, kotor sedikit tidak masalah, ada yang bersihkan."
Dadang mengangguk-angguk saja, walau dalam hati berpikir, rumah doang kok lebih sayang dipijak daripada masjid agung.
Begitu jalan menuju ruang tamu utama, lantai marmer yang mengkilap itu membuat kaki Dadang, yang masih memakai kaos kaki, langsung terpeleset.
"WADUH!"
Tubuhnya meluncur, menabrak pot bunga besar yang untungnya tidak pecah, jatuh terbanting, dan Kemal yang melihat itu langsung terbahak.
"Aa David lucu banget!"
"Licin amat ini lantai, kayak baru disabunin."
Bunda Melati hanya geleng-geleng sambil tersenyum, memanggil asisten rumah tangga untuk membantu Dadang berdiri.
Belum sempat dia berdiri tegak sepenuhnya, dari arah ruang keluarga muncul tiga sosok lelaki muda dengan dandanan rapi, jam tangan berkilau, berjalan mendekat dengan langkah yang sengaja dibuat santai tapi penuh perhitungan. Di belakang mereka, seorang perempuan cantik dengan senyum yang terlalu sempurna untuk terasa tulus.
"Wah, anak Mama udah pulang," perempuan itu berkata, suaranya manis seperti madu, tapi matanya menatap Dadang dengan cara yang membuat bulu kuduk berdiri, "David sayang, gimana keadaannya sekarang? Mama Serlina udah khawatir banget tahu."
Dadang menatap balik, dan dari cara mata itu bergerak, dari senyum yang tidak pernah sampai ke mata, dia langsung bisa menebak, ini bukan orang baik. Tapi dia hanya mengangguk pelan.
"Sehat, Bu. Makasih sudah khawatir."
Reza, yang badannya paling tinggi di antara tiga bersaudara itu, mendekat sambil menyeringai tipis, "Eh, David udah bangun nih. Sekarang udah pulang, jangan sok-sok lagi ya kayak kemarin di rumah sakit, katanya ngomong ngelantur."
"Saya ngomong apa adanya kok, Kak," Dadang menjawab santai, tanpa nunduk, tanpa gugup seperti biasanya David yang asli.
Reza, Albert, dan Surya saling pandang. Selama ini David yang mereka kenal, kalau ditegur sedikit saja sudah gugup, bicaranya pelan, jarang berani menatap mata orang lain, sekarang malah menjawab tenang, mantap, tanpa nada takut sedikit pun.
Serlina ikut terkejut, senyumnya sempat hilang sepersekian detik sebelum kembali dipasang rapi-rapi.
"David, kamu kok beda banget sekarang? Lebih, hm, lebih berani."
"Mungkin efek koma, Bu. Bikin saya jadi lebih, apa ya, lebih sadar diri."
***
Selepas berbasa-basi, Dadang melangkah menuju ruang makan, dan Reza yang merasa adik tirinya kini bersikap terlalu berani, sengaja menjegal kaki Dadang dari belakang, ingin membuatnya jatuh tersungkur di depan semua orang.
Tapi refleks jawara yang sudah mengakar sejak kecil bergerak lebih dulu sebelum otaknya berpikir. Kaki Dadang menginjak kaki Reza yang menjegal itu, keras, sampai terdengar suara,
"KRAK."
"AAAAAKH!" Reza menjerit, jatuh, memegangi kakinya yang berubah bentuk aneh, "Kaki gue! Kaki gue patah!"
Dadang berdiri, menatap ke bawah dengan ekspresi paling polos sedunia.
"Maaf, gak sengaja, Kak."
Albert, melihat kakaknya tersungkur, langsung murka, badannya yang gendut bergerak maju, melayangkan pukulan ke arah muka Dadang.
Dadang hanya menggeser badan sedikit, refleks gerak Cimande, tangannya menahan pukulan itu sambil memutar pergelangan tangan Albert dengan tenaga seadanya.
"Aduh aduh aduh sakit anjeeeng!" Albert menjerit, tangannya terkilir, tubuhnya membungkuk sambil meringis kesakitan.
Kemal yang menonton dari pinggir sambil makan keripik, tersenyum lebar, mendekat ke arah Dadang dan berbisik pelan, "Aa hebat banget."
"Awas lo, David!" Surya yang sejak tadi diam, kini berbicara dengan nada penuh ancaman, "Gue aduin Papa lo!"
Dadang mengangkat bahu, "Aduin saja, Kak. Saya tidak takut,dasar anak papa"
Serlina yang melihat ketiga anaknya kalah telak, mukanya memerah menahan amarah, tapi dia hanya menarik napas dalam, berbalik, dan berjalan ke kamar sambil menggerutu pelan, merencanakan sesuatu yang Dadang sendiri belum tahu.
Pas Dadang lagi mandi di kamar yang gedenya hampir setengah rumah dia di Lembang, dia berdiri lama banget di depan keran shower yang, anjir, tombolnya banyak banget, ada yang model puteran, ada yang model tombol digital, ada layar kecil nunjukin angka derajat.
"Lah, ini mau mandi apa mau nyalain pesawat."
Dia coba puter sana sini, air gak keluar keluar, sampe dia nyerah, terus liat botol botol di rak shower, semuanya tulisannya, anjir, tulisan Jepang, hiragana, katakana, apalah itu, Dadang gak ngerti satu hurufpun.
"Dasar keluarga Sugiono," dia mendengus, "sabun aja harus pake bahasa Jepang biar keliatan mahal."
Karena bingung mana yang sabun mana yang sampo, dia akhirnya asal ambil satu botol, nuang ke tangan, terus baluri ke seluruh badan, tanpa nyala air sama sekali.
"Yah... licin amat ini sabun, kok lengket gini, kok teh bukannya berbusa malah jadi kayak minyak."
Dia gak tau, itu kondisioner.
Akhirnya dia keluar dari kamar mandi tanpa basah seinci pun, badan cuma dibaluri kondisioner doang, rambut malah lengket. Bunda Melati pas liat dari jauh langsung bingung.
"David, kamu mandi gak? Kok rambut kamu lengket gini?"
"Mandi, Bu, mandi pake, eh, sabun mewah, cuma airnya, eh, susah nyalainnya."
"ohhh... "
david masuk ke kamar nya tanpa sepatah katapun,
***
Malam harinya, suasana rumah berubah tegang. Junaedi, ayah David, pulang dalam keadaan setengah mabuk, langkahnya tidak rata, dan begitu masuk rumah, Serlina langsung berlari menyambut, mengadu sambil berakting menangis.
"Pa, David tadi kasar banget sama anak-anak kita. Reza sampai patah kakinya, Albert terkilir. David udah berubah jadi orang lain, Pa, harus ditegaskan ini malah serang secara tiba-tiba."
Junaedi yang mabuk itu, wajahnya memerah, berjalan langsung ke ruang tengah, di mana Bunda Melati sedang menemani David makan malam.
"David! Kamu berani sekarang sama kakak-kakak kamu?!"
Bunda Melati berdiri, mencoba menahan, "Pa, jangan kasar, David baru bangun dari koma, badannya masih lemah."
"DIAM KAMU JALANG!" Junaedi membentak, tangannya terangkat, hendak menampar Bunda Melati.
Tapi sebelum tangan itu mendarat, Dadang sudah berdiri, tubuhnya bergerak cepat, menahan pergelangan tangan Junaedi di udara, gerakan silat yang sudah menjadi nalurinya.
"Jangan sakiti Mama saya."
Suaranya rendah, tapi tegas, dan ada sesuatu dalam tatapan matanya yang membuat Junaedi, walau mabuk, mendadak surut, menarik tangannya pelan-pelan.
"Kamu berani sama PAPA sekarang?"
"Saya tidak berani sama Bapak. Saya cuma tidak akan biarkan Mama saya disakiti oleh siapapun camkan itu "
Junaedi mendengus kesal, bingung campur marah, lalu berjalan ke kamarnya sendiri, meninggalkan semua orang di ruang tengah dalam diam yang berat dan dingin.
***
Malam itu, di kamar mewah dengan kasur empuk yang seharusnya membuat siapa pun tertidur nyenyak, Dadang duduk di pinggir ranjang, memegang ponsel baru yang diberikan Bunda Melati, ponsel canggih yang dia sendiri masih bingung cara memakainya.
Dia mencoba memencet-mencet, mencari aplikasi untuk mencari informasi, tapi jarinya kaku, tidak biasa dengan layar sentuh secanggih ini.
"Gimana caranya cari di hape ini."
Dia mencoba mengetik, "kecelakaan kereta Lembang", tapi jarinya salah pencet berulang kali, sampai dia hampir menangis kesal sendiri.
Akhirnya dia berhenti, meletakkan ponsel itu di pangkuannya, dan tubuhnya yang sudah menahan sepanjang hari, akhirnya runtuh.
"Mak..."
Suaranya pelan, parau.
"Mak sekarang gimana? Masih nangis terus? Dudung gimana, udah makan belum? Kirana, Kirana gimana, dia pasti nyalahin diri sendiri terus, padahal itu bukan salah dia, itu sudah jalannya begitu."
Air matanya mulai menetes, satu, dua, terus tidak berhenti.
"Aki gimana, masih sehat tidak? Aki pasti sedih sekali, sudah kehilangan Bapak, sekarang kehilangan saya juga."
Dia memeluk bantal, tubuhnya bergetar, suaranya makin pecah.
"Mak, maafin Dadang. Maafin Dadang yang tidak bisa pulang lagi. Dadang kangen banget, Mak, kangen nasi goreng Mak, kangen suara Mak panggil dari dapur, kangen semuanya, Mak."
Dia menangis lama, di kamar yang asing, di tubuh yang asing, di kota yang asing, jauh sekali dari rumah petak kecil di Lembang yang sekarang hanya bisa dia lihat dalam kepala, dalam kenangan yang makin terasa seperti mimpi yang tidak akan pernah bisa dia sentuh lagi.
Sampai akhirnya, di tengah isakan yang makin pelan, matanya yang sudah berat oleh lelah fisik dan lelah hati, akhirnya tertutup juga.
Dadang, dalam tubuh David Wijayakusuma, tertidur pulas, dengan jejak air mata masih basah di pipi yang bukan pipinya sendiri.
*(bersambung)*