NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Selalu kalah

Kamar mereka terasa dingin ketika Thalia masuk.

Ia menutup pintu, tapi tidak menguncinya. Dulu ia pernah mengunci pintu setelah bertengkar dengan Rendra. Dan pria itu mengetuk keras selama hampir sepuluh menit sambil berkata bahwa dalam pernikahan tidak boleh ada pintu terkunci.

Sejak itu, Thalia tidak pernah mengunci lagi.

Ia berjalan ke meja rias dan menatap pantulan dirinya.

Lipstik merahnya masih ada, meski sedikit memudar. Maskaranya tidak luntur karena ia berhasil tidak menangis. Gaun hitamnya masih melekat indah di tubuhnya.

Dari luar, ia masih tampak sama. Istri cantik Rendra. Thalia Amradita. Wanita yang beruntung karena dinikahi pria sukses.

“Beruntung,” Thalia tersenyum getir kala mengulang satu kata yang menjadi salah satu luka di hatinya.

Thalia membuka ritsleting gaunnya perlahan, menggantinya dengan piyama, duduk di tepi ranjang, lalu mengambil plester dari laci nakas, dan menempelkannya perlahan pada tumitnya yang terluka.

Gerakan kecil itu tiba-tiba membuat dadanya sesak. Bukan karena luka di tumit, tetapi karena ia sadar, sepanjang malam ada dua pria yang melihat rasa sakitnya.

Rendra melihat, lalu menyalahkannya karena memilih heels itu.

Arkana melihat, lalu bertanya apakah tumitnya benar-benar sakit.

Perbedaan sekecil itu seharusnya tidak berarti apa-apa.

Tapi bagi Thalia, malam itu, perbedaan itu terasa seperti jurang.

Pikiran tentang Arkana kembali menyelinap masuk saat ia berada di kamar yang seharusnya menjadi ruang paling pribadi dalam pernikahannya.

Thalia mengusap wajah, berusaha mengenyahkan sosok Arkana dari pikirannya. Menyadarkan dirinya sendiri bahawa Arkana adalah bos suaminya.

Pria yang seharusnya berada jauh di luar batas hidup Thalia.

Ia merebahkan tubuh di ranjang, menarik selimut sampai dada, dan menatap langit-langit kamar yang kini berpencahayaan redup. Di sisi lain ranjang, tempat Rendra biasa tidur masih kosong.

Dulu, ia dan Rendra tidak seperti ini.

Saat pertama kali menikah, Rendra sering menariknya ke dalam pelukan sebelum tidur. Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang rencana membeli rumah. Tentang anak yang mungkin suatu hari akan mereka miliki. Tentang perjalanan ke luar negeri yang ingin mereka lakukan saat tabungan cukup.

Namun entah sejak kapan, obrolan sebelum tidur berubah menjadi laporan.

Kamu tadi salah bicara.

Kamu harus lebih rapi.

Kamu jangan terlalu dekat dengan orang itu.

Kamu jangan membantah aku di depan orang lain.

Pelukan berubah menjadi punggung yang membelakangi.

Cinta berubah menjadi kewajiban.

Dan Thalia, tanpa sadar, mulai merendahkan dirinya sendiri agar pernikahan itu tetap terjaga.

Pintu kamar terbuka sekitar dua puluh menit kemudian. Thalia segera memejamkan mata, pura-pura tidur.

Ia mendengar langkah Rendra masuk. Suara gesekan kain saat pria itu mengganti pakaian. Suara air dari kamar mandi. Lalu tempat tidur bergerak ketika Rendra akhirnya berbaring di sampingnya.

Hening.

“Kamu belum tidur.”

Thalia tidak bereaksi.

Rendra menghela napas. "Aku tahu kamu belum tidur, Lia.”

Thalia membuka mata perlahan tanpa menoleh. “Aku lelah.”

“Aku juga.”

Beberapa detik berlalu, sesaat kemudian Rendra berkata dengan suara lebih pelan, “Aku tidak suka kita bertengkar.”

“Aku juga tidak suka,” jawab Thalia datar.

“Kalau begitu jangan memancingku," sahut Rendra.

Mata Thalia memanas. Selalu begitu. Permintaan damai yang diakhiri dengan kesalahan yang diletakkan di pundaknya.

Thalia memejamkan mata lagi. “Baik.”

Rendra bergeser sedikit lebih dekat kearah istrinya. “Aku serius. Aku hanya ingin kamu mendukungku.”

“Aku mendukungmu selama ini.”

“Tidak cukup.”

Kalimat itu membuat Thalia membuka mata. Ia tidak menoleh, tapi seluruh tubuhnya terasa membeku.

Dua tahun pernikahan. Mengorbankan karier. Menyesuaikan hidup. Mengalah dalam percakapan. Diam saat dipermalukan dengan cara halus. Tersenyum saat dijadikan hiasan. Dan bagi Rendra, semuanya masih tidak cukup.

“Apa lagi yang kamu mau?” tanya Thalia sangat pelan.

Rendra tidak langsung menjawab.

Ketika pria itu kembali bicara, suaranya terdengar lebih lembut. Kelembutan yang justru membuat Thalia waspada.

“Besok ada acara makan malam."

Thalia menoleh perlahan.

Rendra berbaring telentang, menatap langit-langit. Wajahnya tenang, seolah mereka tidak baru saja bertengkar.

“Makan malam apa?” tanya Thalia.

“Dengan beberapa orang penting.”

“Orang penting siapa?” tanya Thalia lagi.

Rendra menoleh. “Pak Arkana salah satunya.”

Thalia bangkit dari berbaringnya. “Ren."

“Apa?”

“Aku tidak mau ikut," tolak Thalia.

“Kenapa?”

“Karena kamu tahu kenapa.”

Rendra ikut bangkit, menyandarkan punggung ke headboard ranjang tanpa melepas pandangan dari istrinya. “Aku tidak tahu. Jelaskan.”

Thalia menatap suaminya.

“Kamu baru saja menuduhku menikmati perhatian Pak Arkana. Kamu marah karena aku bicara dengannya. Dan sekarang kamu ingin aku ikut makan malam dengan dia?”

“Karena ini urusan profesional," jawab Rendra santai.

“Jangan gunakan kata profesional untuk sesuatu yang kamu sendiri buat kotor.”

Wajah Rendra berubah.

“Jaga mulutmu.”

“Aku tidak mau ikut.”

“Kamu akan ikut.”

“Tidak.”

“Thalia.”

Kali ini Thalia tidak menunduk.

“Aku bilang tidak.”

Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap.

Lalu Rendra tersenyum.

“Kamu tahu masalahmu?” katanya. “Kamu mulai merasa punya kuasa karena satu pria berpengaruh memperhatikanmu.”

Thalia menggeleng pelan.

“Ini tidak ada hubungannya dengan Arkana.”

“Baru sekarang kamu memanggil dia Arkana?”

Thalia tersentak, ia bahkan tidak menyadarinya.

Rendra menangkapnya. Senyum di bibirnya melebar, tapi sorot matanya sedingin es. “Menarik.”

“Jangan mulai lagi.”

“Aku tidak mulai apa-apa.” Rendra mencondongkan tubuh. “Aku hanya memperhatikan.”

Kata itu menusuk karena mengingatkan Thalia pada ucapan Arkana di koridor.

Saya tidak membuat kesimpulan. Saya mengamati.

Bedanya, pengamatan Arkana membuat Thalia merasa terlihat.

Pengamatan Rendra membuat dirinya merasa diawasi.

“Aku mau tidur,” ucap Thalia.

“Kita belum selesai.”

“Aku sudah selesai.”

Ia berbaring kembali dan menarik selimut.

Rendra terdiam lama, pandangannya

“Besok jam tujuh. Pakai sesuatu yang elegan. Jangan terlalu tertutup. Jangan juga berlebihan.”

Thalia mencengkeram selimut.

“Aku tidak bilang iya.”

“Aku tidak bertanya.”

Air mata akhirnya naik ke mata Thalia, tapi ia menahannya mati-matian.

Rendra mematikan lampu di sisinya. Kamar menjadi lebih gelap, hanya diterangi cahaya kecil dari lampu tidur di sisi Thalia.

Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara napas Rendra mulai teratur. Seolah Thalia bukan baru saja dipaksa menyetujui sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya menolak.

Thalia berbaring kaku di sisi ranjangnya sendiri.

Arkana Dirgantara.

Nama itu kembali mengisi kepalanya, bukan dengan rasa hangat seperti sebelumnya, melainkan dengan rasa takut.

Karena ia tahu, semakin sering Rendra mendorongnya mendekati pria itu, semakin sulit baginya menjaga jarak yang seharusnya tidak pernah dilanggar.

Dan tanpa Rendra sadari, pria itu sedang membuka pintu bagi sesuatu yang kelak tidak sanggup dia kendalikan.

.

.

Pagi datang terlalu cepat.

Thalia bangun dengan kepala berat dan mata perih. Di sisi lain ranjang, Rendra sudah tidak ada. Hanya tersisa bekas kusut pada seprai dan aroma sabun maskulin yang samar.

Ia duduk perlahan, memijat pelipis.

Ponselnya menyala di nakas saat notifikasi pesan terdengar.

Rendra:

Jangan lupa makan malam nanti. Aku kirim detail tempatnya siang ini.

Thalia menatap layar itu lama, lalu meletakkannya kembali tanpa membalas.

Ia turun ke lantai bawah setelah mandi. Rumah sudah sepi. Asisten rumah tangga mereka, Bu Ratmi, sedang menata sarapan di meja makan.

“Pagi, Nyonya Thalia,” sapa wanita paruh baya itu lembut. “Tuan Rendra sudah berangkat dari tadi. Beliau berpesan agar Nyonya jangan lupa sarapan.”

Thalia tersenyum kecil. “Terima kasih, Bu.”

“Tumit Ibu kenapa?” Bu Ratmi bertanya saat melihat cara Thalia berjalan sedikit hati-hati.

Thalia menunduk sekilas. “Heels yang kupakai kemarin kurang nyaman.”

Bu Ratmi menggeleng pelan. “Saya ambilkan salep, ya, Nyonya?”

“Tidak usah. Nanti saya pakai sendiri," tolak Thalia halus.

Bu Ratmi tampak ingin berkata sesuatu, tapi menahan diri.

Thalia duduk di meja makan. Di hadapannya tersedia roti panggang, telur, buah potong, dan kopi hitam yang biasa diminum Rendra, bukan dirinya. Ia lebih suka teh hangat di pagi hari, tapi sudah lama pilihan kecil seperti itu ikut menghilang dari rutinitas rumah mereka.

Ia mengambil sepotong buah, tapi tidak benar-benar ingin makan.

Ponselnya kembali bergetar. Pesan dari nomor tidak dikenal masuk.

Thalia mengerutkan dahi. Ia hampir mengabaikannya, tapi pesan itu muncul di layar.

"Selamat pagi, Nyonya Thalia. Maaf menghubungi langsung. Saya Saka, sekretaris Pak Arkana. Pak Arkana meminta saya menyampaikan bahwa clutch hitam Anda tertinggal di ballroom semalam. Kami sudah mengamankannya."

Thalia terdiam. Clutch.

Ia baru sadar tas kecilnya memang tidak ada sejak semalam. Mungkin tertinggal di meja dekat panggung saat sesi foto. Semalam ia terlalu kacau untuk menyadarinya.

Belum sempat ia membalas, pesan kedua masuk.

Saka:

"Jika berkenan, kami bisa mengirimkannya ke alamat rumah atau Bapak/Ibu bisa mengambilnya di kantor Dirgantara Group."

Thalia menatap pesan itu dengan dada mendadak berdebar.

Ia tahu seharusnya jawabannya mudah. Kirim ke rumah. Selesai. Dan ia tidak perlu lagi bertemu dengan Arkana.

Namun sebelum ia mengetik balasan, pesan dari Rendra masuk lagi.

Rendra:

"Nanti siang aku jemput kamu. Kita sekalian ke kantor sebentar sebelum makan malam. Pak Arkana ingin bicara soal proposal."

Thalia menutup mata.

Seolah semesta sedang menyempitkan jalan di depannya.

Ia menarik napas panjang, lalu membalas pesan sekretaris Arkana.

"Terima kasih. Saya akan mengambilnya nanti siang bersama suami saya."

Pesan itu terkirim. Beberapa detik kemudian, balasan masuk.

Saka:

"Baik, Nyonya. Pak Arkana sudah diberi tahu."

Thalia membaca balasan itu, entah kenapa, kalimat itu membuat denyut di dadanya bergerak tidak tenang.

Ia meletakkan ponsel di meja, lalu menatap sarapan yang belum tersentuh.

Hari ini ia harus kembali bertemu pria itu. Pria yang sudah membuat Rendra curiga sekaligus pria yang seharusnya tidak punya tempat dalam pikirannya.

Thalia mengambil cangkir kopi, tapi berhenti sebelum menyesapnya. Kopi itu terlalu pahit, seperti rumah ini. Seperti pernikahan yang dari luar tampak sempurna, tapi di dalamnya perlahan meremukkan ia sampai hampir tak bersisa.

Dan hari itu, untuk pertama kalinya, Thalia merasa takut.

Bukan karena ia harus menghadapi Rendra.

Di balik pernikahan sempurna yang selalu ia pertahankan, ada ruang kosong dalam dirinya yang sudah lama tidak disentuh siapa pun.

Dan Arkana Dirgantara telah menemukan pintunya.

. ...

. . . .

To be continued...

1
Zenun
juga ada obat penenang nya, yaitu Arkana
Zenun
daku kejar kak
Zenun
jan lupa kasih obat mencret
Patrick Khan
deg deg kan bacanya..😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq deg2an loh, kirain mau hiatus ini novel. trauma aq tuh
mery harwati
Tuan? Arkana kah itu? Atw Saka? Karena Arkana tipe orang yang bergerak di belakang layar 🤔
Dewi Payang
Blencek si Rendra......
Dewi Payang
Rwndra selingkih sama Clara?
W I 2 K
makin keren Thor ceritanya....., puas mataku dimanjakan karyamu... 😍😍😍
Zhu Yun💫
Padahal emaknya Thalia memberikan dukungan penuh, mungkin Thalianya saja yang tidak pernah mau terbuka. Dalam kasus yang lebih berat, sudah banyak tuntutan dari pihak suami dan keluarga suami, ditambah keluarga sendiri tidak memberikan dukungan... disini kewarasan benar-benar sangat diuji, belum lagi cemoohan dari lingkungan sekitar.... 🤧🤧🤧 eh malah curhat ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Lebih tepatnya tekanan batin ya, Thal...
MamDeyh
Lanjuuuutttt😁
MamDeyh
Lanjutt kak
Endah Puji Lestari
😍
Zhu Yun💫
Lanjut yuk lanjut /Determined//Determined//Determined/
Zhu Yun💫
Nanti kalau sudah cerai dari Rendra, jangan langsung mau sama Arkana ya, Thal 🤭🤭🤭 Biar si Ar punya gebrakan dulu 🤧🤧🤧
Zhu Yun💫
Semakin kesini aku malah lebih kepincut dengan sosok Rendra... meskipun dia licik, jahat dan endingnya sudah pasti tidak enak buat Rendra... tapi dia lebih banyak gebrakannya 🤭🤭💃💃💃
Dewi Payang
Berkilah mulu, binimu lebih pintar Ren....
Dewi Payang
Jangan ngelak...
Dewi Payang
Gue yang oanas hati dah jadinya😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!