Sandra yang merupakan anak ke 2, ia selalu saja merasa iri dengan Kakak sambungnya Naura.
Akankah mereka akan Baikan?
Buku ke 2 dari "Naura Abyasya"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafras, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjagaan
" Kami berjanji tidak akan membiarkan ada luka sedikitpun terjadi kepada Naura, dan kami berharap Sandra juga memang berubah baik sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Leo. Sampai saat ini kami masih mengizinkan Leo bertemu dengan Naura karena menurut kami Leo juga menyayangi Naura, tapi jika Leo tetap membela Sandra yang jelas-jelas menyakiti Naura maka kami juga tidak akan membiarkan Leo untuk bertemu dengan Naura lagi." jelas Rangga dan Reza pun mengangguk.
" Sepertinya aku juga harus bertemu secara langsung dengan Leo, Sebab aku tidak ingin ada siapapun yang menyakiti Naura." ucap Karin dan Reza pun langsung menghubungi Leo.
" Assalamualaikum Leo, Kok bisa datang ke rumah Kak Rangga sekarang juga?"
( Waalaikumsalam, baiklah 15 menit lagi aku akan sampai di rumah Kak Rangga.)
" Baiklah kalau begitu kami akan menunggumu langsung di ruang belajar, nanti jika kau sudah sampai maka langsung minta arahkan saja kepada pembantu untuk pergi ke ruang belajar."
( Baik Reza) lihatnya dan sambungan telepon pun segera terputus.
Mereka bertiga pun langsung pergi menuju ruang belajar, dan mereka juga menunggu kedatangan Leo. Tentunya mereka sangat ingin tahu apa yang sering dipikirkan oleh Leo saat ini, karena Leo berniat membantu Naura untuk bertemu dengan Sandra. Padahal Leo sadar apa yang dilakukan oleh Sandra dulu sudah sangat melukai Naura, tapi sekarang Iya masih berusaha untuk mempertemukan keduanya.
Setelah beberapa menit mereka menunggu, akhirnya terdengar suara ketukan pintu. Reza pun akhirnya yang membukakan pintu ruang kerja tersebut, dan kemudian ia mempersilakan Leo yang sudah ada di sana untuk masuk. Tentunya Leo merasa tegang karena ia bukan hanya menghadapi Reza saja, tetapi dalam ruangan itu juga ada Karin dan juga Rangga.
Suasana di ruangan itu semakin tegang, tampak Leo tidak berani berkata apa-apa. Ia kan menunggu Rangga dan juga yang lainnya untuk membuka pembicaraan, Leo sebenarnya sudah tahu tapi apa yang akan dibicarakan. Dan ia sangat yakin kalau tapi tersebut pasti berkaitan dengan Naura dan juga Sandra, tetapi ia tidak berani membuka suara dan hanya menunggu percakapan dimulai.
Rangga akhirnya memulai percakapan, dan kemudian mereka pun memperdebatkan keputusan Leo yang ingin menemukan Sandra dan juga Naura. Leo mencoba menjelaskan hal tersebut pelan-pelan kepada mereka semua, karena ia tahu percakapan ini pasti bisa menjadi sebuah bom. Ia pun berusaha menguasai situasi, agar tidak akan menjadi bom sendiri untuk dirinya.
Mereka pun terus melanjutkan percakapan itu, tanpa disadari orang yang sejak tadi mereka bicarakan sedang tertidur. Mereka terus saja melanjutkan percakapan itu, dan mereka berharap kalo Leo akan memberikan jawaban yang memuaskan. Sebab mereka semua khawatir akan terjadi sesuatu kepada Naura, dan Leo la orang yang paling bertanggung jawab jika terjadi sesuatu.
...🕳️🕳️🕳️...
Pasangan suami istri saat ini sedang khawatir karena tidak mendapatkan kabar dari putrinya, mereka tahu kalau putrinya saat ini sudah tinggal bersama dengan saudara kembarnya. Tapi biasanya putrinya itu masih sempat memberikan kabar kepada mereka, tapi hari ini tidak ada kabar yang diberitakan oleh putrinya itu. Tentunya mereka khawatir dan akhirnya menghubungi putrinya, karena mereka tidak ingin terjadi sesuatu kepada putrinya itu.
" Kalian dimana?"
( Lagi di rumah kak Rangga.)
" Lalu kenapa tidak memberitahu kalau kalian masih berada di sana, kami sangat khawatir karena kalian tidak memberi kabar."
( Mami dan juga Papi tidak perlu khawatir ya, aku dan juga Naura baik-baik saja saat ini berada di rumah Kak Rangga. Dan saat ini juga kami sedang bermain bersama dengan Ulfa dan Umaira.)
" Ya sudah kalau begitu kalian lanjutkan saja bermain bersama bocah kembar itu, Tapi nanti kalau misalnya kalian pulang ataupun menginap di sana tolong beritahu kabar ya. Mami dan juga Papi sangat khawatir kalau kalian tidak memberi kabar, kami berdua takut akan terjadi sesuatu pada kalian seperti kejadian sebelumnya."
( Baik kami akan melaksanakan perintah dari mami dan juga Papi, jadi Mami serta Papi tidak perlu khawatir kepada kami ya. Kayaknya malam ini kami akan menginap di rumah Kak Rangga, dan besok kami baru akan kembali ke rumah kami.)
" Ya sudah kalau begitu." ucapnya yang kemudian mematikan sambungan telepon karena ia sudah mengetahui kabar mengenai Naura dan juga Naira.
Sang suami yang berada di sampingnya tentunya sudah terbiasa dengan tingkah sang istri, ya tahu kalau saat ini pasti putrinya sedang marah besar karena istrinya itu mematikan sambungan telepon dengan semena-mena. Ya sudah terbiasa dengan hal tersebut, dan Ia juga sudah mengenal tabiat dari istri dan juga anaknya itu. Ia sebenarnya juga sudah pernah menasehati istrinya untuk tidak mematikan sambungan telepon secara sepihak seperti itu, karena pastinya Putri mereka akan sangat marah besar.
Tetapi perkataan pria paru baya itu tidak pernah didengarkan oleh istrinya, sehingga akhirnya ia pun memutuskan untuk tidak ikut campur lagi dalam hal tersebut. Dan dia hanya menyimak saja jika nanti keduanya akan bertengkar, menurutnya pertengkaran antara istri dan juga anak angkatnya itu sangatlah menyenangkan. Karena momen tersebut adalah pengisi hari-hari yang tampak sunyi itu, dan ia hanya bisa berharap di rumah itu akan segera dipenuhi dengan suara canda tawa lagi.
Semenjak Naira atau gadis yang mereka beri nama Maidah itu Pindah untuk tinggal bersama Naura, tentunya rumah itu terasa sepi karena jarang ada suara. Tetapi mereka berharap kalau putranya akan segera menikah, dan kemudian di rumah itu akan terdapat suara bayi kecil yang membanggakan. Tentunya mereka berharap akan ada suara bayi kecil yang membawa celotehan, Karena itu adalah keinginan mereka berdua.
Tetapi sampai saat ini Putra mereka memutuskan untuk tidak mengenal siapapun, hal itu bisa terjadi karena sebuah tragedi masa lalu yang membawanya ke sebuah titik trauma. Mereka berdua mengetahui masalah tersebut dan oleh karena itu tidak pernah memaksa putranya untuk menjalin hubungan dengan siapapun, tetapi tentunya mereka juga berharap kalau putranya akan segera menjalin hubungan dan melanjutkan jenjang pernikahan. Usia putranya itu sudah tidak muda lagi, dan oleh karena itu mereka juga menginginkan putranya sama seperti anak-anak lainnya yang juga menikah dan punya anak.
Kedua pasangan yang tidak berhasil mengganggu Putri mereka, akhirnya hari ini mereka membuka suara mengenai kehidupan pribadi Putra mereka. Tentunya Putra mereka yang melihat tatapan tajam itu sudah tahu apa yang akan dibicarakan, tetapi ia tidak bersuara dan hanya duduk diam di depan kedua orang tuanya saja. Ia pun sangat menantikan apa yang akan disampaikan oleh orang tuanya itu, walaupun sebenarnya ia sudah bisa menebak apa yang ingin disampaikan oleh orang tuanya itu kepadanya dan ia juga meyakini kalau itu adalah hal yang dia pikirkan.